Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Dengan langkah yang jauh lebih ringan dan tegap dibandingkan hari-hari sebelumnya, Aruna berjalan melewati gerbang utama universitas. Seragam almamater yang dikenakannya tampak rapi, dan senyum tipis terukir di bibirnya, bukan senyum kosong seperti dulu, melainkan senyum penuh semangat dan tekad.
Dia sudah berada di semester akhir. Sebentar lagi, tugas akhirnya akan selesai, dan dia akan segera mengikuti wisuda, melepaskan statusnya sebagai mahasiswa.
Sesampainya di ruang kelas yang sudah hampir penuh, Aruna duduk di bangku yang biasa dia tempati, tepat di dekat jendela. Dia meletakkan tasnya, lalu mengeluarkan berkas-berkas tugas akhir yang sedang dia kerjakan.
Tak lama kemudian, dosen pembimbing masuk ke ruangan. Suasana kelas yang tadinya riuh menjadi hening seketika. Diskusi mengenai persiapan sidang tugas akhir dan jadwal wisuda pun dimulai.
Di tengah sesi tanya jawab, Mita, teman sebangkunya, mencondongkan badan ke arah Aruna sambil berbisik pelan.
"Aruna, katanya tempo hari kamu mengalami kecelakaan. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Mita dengan nada khawatir.
"Aku baik-baik saja kok, Mit. Lihat saja, aku ada di sini, sehat dan utuh," jawab Aruna berbisik balik sambil menepuk-nepuk pelan lengannya sendiri, meyakinkan temannya itu. "Cuma lecet-lecet ringan dan syok saja. Tidak ada luka serius kok. Tidak perlu khawatir."
Mita menghela napas lega, "Syukurlah kalau begitu. Rafael pasti selalu menjagamu dengan baik kan? Aku lihat dia sangat peduli dan mencintaimu,"
Aruna menahan napas sejenak saat mendengar kalimat itu. Senyum di bibirnya sempat membeku sekejap, namun dia segera mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi tenang.
"Kamu salah, Mit..." ucap Aruna pelan, cukup hanya terdengar oleh teman di sebelahnya itu. "Apa yang kamu lihat itu bukan rasa sayang, dan bukan pula rasa peduli. Itu hanya kepintarannya saja menyembunyikan niat aslinya."
Aruna menoleh sedikit, menatap wajah Mita yang tampak bingung dan terkejut mendengar jawabannya yang berbeda dari biasanya.
"Dia tidak pernah menjagaku, dia hanya menjaga apa yang dia kira menjadi miliknya," tambah Aruna dengan nada getir namun penuh kepastian.
Mita semakin mengerutkan kening. Dia hendak bertanya lebih lanjut, namun Aruna tersenyum tipis, senyum yang terasa lega dan bebas.
"Jangan percaya pada apa yang terlihat di luar, Mit. Banyak hal yang tidak kamu ketahui. Tapi satu hal yang pasti... mulai sekarang, aku tidak butuh dia menjagaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri." bisik Aruna, lalu kembali memusatkan perhatiannya ke depan, seolah-olah pembicaraan itu sudah selesai.
Mita terdiam, menatap wajah Aruna yang tampak begitu tegar dan berbeda. Aruna termenung, ucapan Mita tadi kembali mengingatkannya pada kenyataan pahit, betapa hebatnya kepintaran Rafael memanipulasi pandangan orang lain. Tapi tidak apa-apa. Biarkan mereka percaya apa yang mereka lihat untuk sementara waktu. Nanti, saat waktunya tiba, dia akan membongkar semuanya.
-
-
-
Sepulang kuliah, Aruna dan Mita pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Suasana disana ramai dan riuh, dipenuhi pengunjung yang berjalan hilir mudik. Aruna berjalan berdampingan dengan Mita, mendengarkan temannya itu terus mengoceh sembari menunjuk berbagai etalase toko.
Saat mereka berdua sedang berhenti sejenak di depan sebuah toko aksesoris, sesosok wanita muda berjalan mendekat dengan langkah anggun, senyum lebar terukir di bibir merahnya, sorot matanya tajam namun dipendam di balik tatapan ramah. Wanita itu berpakaian sangat modis, penuh kemewahan, dan memancarkan aura percaya diri yang tinggi.
Wanita itu berhenti tepat di depan Aruna, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik yang cepat, sebelum kembali tersenyum manis.
"Hai. Kamu pasti Aruna, ya?" sapa Tania dengan suara yang lembut namun berwibawa, seolah mereka sudah lama saling mengenal.
Aruna menahan gejolak di dalam dadanya. Di kehidupan sebelumnya, pertemuan pertamanya dengan Tania terjadi jauh di kemudian hari, tepat di pesta kelulusan universitasnya. Saat itulah Rafael memperkenalkan Tania sebagai anak dari bosnya. Saat itu dia begitu polos hingga tidak sadar bahwa wanita inilah yang diam-diam merencanakan kejatuhannya bersama kekasihnya, mereka bekerjasama menghabiskan seluruh harta warisannya.
"Benar. Aku Aruna," jawab Aruna tenang, "Maaf, tapi apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya aku tidak mengenalmu."
Tania tertawa renyah.
"Tidak. Ini memang pertama kalinya kita bertemu langsung. Tapi aku sudah sering melihat fotomu," jawab Tania santai, "Fotomu ada di meja kerja Rafael. Dia sering bercerita soal kamu, Aruna. Jadi begitu aku melihatmu tadi, aku langsung yakin itu kamu. Wajahmu sama persis dengan yang ada di foto itu, cantik dan lembut persis seperti yang dia ceritakan."
Mita menaikkan alisnya, sedikit bingung namun tersenyum sopan. "Wah, berarti kamu teman dekatnya Rafael ya? Sampai bisa lihat-lihat foto di mejanya."
Tania kembali tersenyum, kali ini ada kilatan bangga yang tak disembunyikan di matanya. "Bisa dibilang begitu. Ayahku adalah pemilik perusahaan tempat Rafael bekerja. Kami sudah saling kenal sejak lama, bahkan hubungan kami sangat dekat dan akrab karena aku sering ke ruang kerjanya untuk membicarakan soal pekerjaan... dan soal kamu juga, Aruna."
Kalimat itu sederhana, namun bagi Aruna, maknanya begitu dalam dan menusuk. Hubungan sangat dekat. Itulah kata-kata penutup yang selama ini mereka gunakan untuk menutupi perselingkuhan kotor mereka.
"Begitu ya..." sahut Aruna pelan, nada suaranya tenang dan ramah, sama sekali tidak terlihat ada perubahan emosi. "Rafael memang sering bercerita tentang lingkungan kerjanya, tapi dia jarang sekali menyebut nama teman-temannya secara rinci. Jadi aku baru tahu hari ini kalau dia punya teman dekat sebaik kamu."
"Ah, panggil aku Tania. Namaku Tania." ucap Tania antusias. "Rafael benar-benar beruntung bisa memiliki kamu, gadis cantik dan baik hati seperti yang dia ceritakan."
Aruna tertawa kecil, tawanya terdengar ringan dan santai. "Aku tidak sebaik hati itu, kok. Oh ya, kebetulan kami akan pergi makan siang, apa kamu mau ikut gabung dengan kami sekalian?"
"Ah, tidak perlu." tolak Tania cepat, "Kebetulan aku juga sudah ada janji dengan teman. Ya sudah, aku mau menemui temanku dulu ya. Sampai jumpa lagi, Aruna."
Setelah Tania melangkah pergi menjauh, tubuh Aruna perlahan mengendur. Dia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh.
"Dasar wanita aneh. Apa maksudnya bilang kalau dia dekat dan akrab dengan Rafael," gerutu Mita kesal. "Aruna, kamu jangan diam saja. Wanita tadi jelas-jelas bermaksud buruk, jangan sampai dia merebut Rafael dari kamu."
Aruna merangkul lengan Mita dengan santai. "Tenang saja, Mit. Lagipula kalau Rafael macam-macam, aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Aku sudah lapar, ayo kita makan dulu baru nanti balik lagi kesini," ajak Aruna kemudian, menarik lengan Mita meninggalkan tempat itu.
-
-
-
Udara di ruangan kerja Rafael terasa panas dan penuh kepanikan. Rafael berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di atas meja, handphonenya berdering berkali-kali, nama-nama rekan bisnis dan pemasok dana berderet di layar, namun dia sama sekali tidak berani mengangkatnya.
"Sial! Proyeknya gagal, dan semua ini gara-gara Aruna! Kontraktor utama sudah menarik diri karena dana yang dijanjikan tidak kunjung masuk. Kalau begini terus, aku bisa hancur!"
Rafael meremas rambutnya frustasi, lalu berjalan mendekati meja kerjanya yang penuh berkas-berkas proyek. Dia mengambil selembar surat pemberitahuan yang baru saja dikirimkan, lalu melemparkannya dengan kasar ke lantai.
"Saat ini aku hanya bisa mengandalkan Tania. Semoga saja Tania berhasil membujuk Aruna."
Belum sempat Rafael menenangkan pikirannya, pintu ruangan itu terbuka tiba-tiba tanpa ada ketukan sebelumnya.
Tuan Hendrawan berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang biasanya dingin dan penuh perhitungan kini tampak lebih suram, matanya menatap tajam ke sekeliling ruangan yang berantakan itu, lalu jatuh tepat ke arah Rafael yang buru-buru berjalan keluar dari meja kerjanya.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang terjadi, Rafael?" suaranya rendah namun bergema, penuh otoritas yang membuat nyali siapa pun yang mendengarnya ciut seketika. "Berita tentang gagalnya proyek pembangunan pusat perbelanjaan itu sudah sampai ke telingaku sejak pagi. Dana menguap, kontraktor mundur, mitra menarik diri... Kamu benar-benar hebat dalam membuat kekacauan, ya?"
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍