NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

masalalu aratala

Tepat saat nama itu meluncur dari bibirnya, isakan yang tadinya tertahan meledak menjadi sentakan napas yang tajam. Aratala terbangun dengan mata terbelalak, napasnya memburu, dan keringat dingin membasahi keningnya. Kilasan lampu sorot mobil, suara decit ban yang memekakkan telinga, dan pemandangan mobil yang ringsek saat dia umur 7 tahun lalu kembali menghantui penglihatannya dengan sangat nyata.

Tanpa sadar, saat melihat sosok Elio yang berdiri di samping kasurnya, Aratala tidak lagi melihat "CEO dingin" yang ia kenal. Ia hanya melihat seseorang yang bisa menjadi pelabuhan dari teror di kepalanya.

Dengan gerakan insting yang putus asa, Aratala bangkit dan langsung melingkarkan kedua tangannya erat ke leher Elio. Ia menarik pria itu mendekat, membenamkan wajahnya dalam-dalam ke ceruk leher Elio, berusaha mencari kehangatan yang bisa mengusir dinginnya trauma masa lalu. Tubuh Aratala gemetar hebat, isakannya kini terdengar jelas dan penuh kepedihan, meruntuhkan dinding pertahanan Elio dalam sekejap.

Elio mematung. Logika bisnisnya yang sejak tadi berteriak untuk menjaga jarak mendadak bisu. Kehangatan tubuh Aratala yang menempel padanya, ditambah dengan getaran ketakutan yang menjalar dari gadis itu, menghantam ulu hati Elio dengan kekuatan yang tidak terduga.

Perlahan, keraguan di wajah Elio menghilang. Dengan satu tangan, ia menepuk punggung Aratala dengan gerakan canggung namun lembut, sementara tangan lainnya mengusap rambut gadis itu untuk menenangkannya.

"Sudah, sudah... tidak apa-apa," bisik Elio, suaranya yang parau kini terdengar penuh proteksi. Ia tidak lagi peduli pada kontrak, pada akting, atau pada bayang-bayang kesempurnaan. Saat ini, yang ia tahu hanyalah Aratala sedang terluka, dan secara naluriah, Elio merasa bahwa ia adalah satu-satunya orang yang harus ada di sana untuk menahannya agar tidak hancur.

Tanpa memedulikan logika yang sedari tadi ia pertahankan, Elio menggeser posisi. Ia mengangkat tubuh mungil Aratala, memindahkannya ke atas pangkuannya sendiri. Ia mendudukkan diri di tepi kasur, membiarkan kepala Aratala bersandar sepenuhnya di bahunya. Posisi itu membuat Elio merasakan setiap getaran napas gadis itu yang perlahan mulai teratur.

Keheningan malam kembali menyelimuti kamar, namun kali ini terasa berbeda. Isakan Aratala perlahan mereda, digantikan oleh ritme dengkuran halus yang terdengar begitu damai.

Rasa pegal mulai menjalar ke punggung dan kaki Elio karena posisi duduk yang kaku. Pikirannya sempat berbisik untuk memindahkan Aratala kembali ke tempat tidur agar ia bisa beristirahat dengan benar dan kembali ke rutinitas dinginnya esok hari. Namun, saat tatapan Elio jatuh pada wajah Aratala yang tampak begitu polos—jauh dari kesan wanita "cegil" yang selama ini ia ejek dalam hati—Elio mengurungkan niatnya.

Ia membiarkan Aratala tetap di sana. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa "kontrak" yang mereka buat terasa sangat tidak penting dibandingkan dengan detak jantung gadis yang kini tertidur lelap di pangkuannya. Elio hanya diam, membiarkan malam berlalu, tidak lagi berusaha menjadi bos yang tak tersentuh, melainkan hanya menjadi pria yang sedang menjaga satu-satunya hal yang mampu membuat pertahanannya runtuh tanpa sisa.

🌴🌴🌴

Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari wajah Aratala yang baru saja mengerjapkan matanya. Kesadaran datang dengan lambat, namun saat ia menyadari posisinya—tengah meringkuk di pangkuan Elio dengan tangan yang masih melingkar di leher pria itu—Aratala seolah disambar petir.

"Dasar mesum!" teriak Aratala spontan. Ia langsung melompat bangkit dari pangkuan Elio, menjaga jarak sejauh mungkin dengan wajah yang memerah padam karena malu sekaligus kaget.

Elio, yang memang sudah hampir tidak tidur semalaman karena menjaga Aratala, langsung membuka matanya lebar-lebar akibat teriakan melengking itu. Ia mengerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadaran di tengah rasa pegal yang luar biasa di kakinya.

Elio menatap Aratala dengan tatapan datar—sebuah topeng yang biasa ia gunakan untuk menutupi rasa canggung dan lelahnya. "Mesum?" Elio mengulang kata itu dengan nada rendah yang dingin, meski ia tidak bisa menyembunyikan nada sedikit kesal karena "balasan" yang ia terima setelah menjaga gadis itu semalaman. "Kau yang menangis histeris, kau yang memelukku seperti orang ketakutan, dan sekarang kau menuduhku mesum? Sepertinya ingatanmu memang perlu diperbaiki, Nona Aratala."

Aratala terdiam, bibirnya terbuka sedikit, hendak membantah namun kehilangan kata-kata. Ingatan tentang mimpi buruknya mulai kembali perlahan, membuat keberaniannya sedikit menciut. Namun, sifat "cegil"-nya yang enggan kalah tidak membiarkannya diam begitu saja.

"T-tapi kau... kenapa harus memangku?! Kenapa tidak taruh saja aku di kasur!" protes Aratala, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu kencang.

Elio bangkit berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan gerakan tenang yang elegan. Ia menatap Aratala dengan tatapan meremehkan yang dibuat-buat. "Jika aku membiarkanmu di kasur, mungkin kau sudah jatuh ke lantai karena terus bergerak dalam tidurmu. Anggap saja itu biaya tambahan untuk jasa perlindungan malam ini," jawabnya dingin, lalu melangkah menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Aratala yang masih berdiri mematung dengan perasaan campur aduk.

🌴🌴🌴

Setelah pintu kamar mandi tertutup rapat dan suara gemericik air mulai terdengar, Aratala akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega. Ia segera terduduk di tepi kasur, membenamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangan dengan frustrasi.

"Bodoh, bodoh, bodoh!" rutuknya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan tertahan.

Wajahnya terasa panas saat ingatan tentang pelukannya semalam kembali membanjiri pikirannya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa ia bertindak begitu impulsif—melingkarkan tangan di leher Elio, bersembunyi di ceruk leher pria itu, bahkan sampai tertidur pulas di pangkuan pria yang selama ini ia jadikan objek "permainan" kontraknya.

Aratala meremas rambutnya sendiri dengan kesal. "Itu pasti karena mimpi itu. Sialan, kenapa harus sekarang?" gumamnya dengan nada getir.

Ia merasa harga dirinya sebagai "aktris" yang harus menjaga jarak dan tampak provokatif di depan Elio kini luntur seketika. Bagaimana mungkin ia bisa mempertahankan citra sebagai istri yang "cegil" dan tidak punya rasa, jika semalam ia justru menunjukkan sisi paling rapuh dan membutuhkannya di depan pria itu?

Di tengah rasa malu yang membakar dadanya, Aratala berusaha menata kembali ekspresinya. Ia harus segera kembali ke perannya. Ia tidak boleh membiarkan Elio melihat bahwa pria itu kini memiliki "celah" untuk masuk ke dalam pertahanannya. Ia harus segera menjadi Aratala yang ceria, provokatif, dan menyebalkan seperti biasanya—sebelum Elio keluar dari kamar mandi dengan membawa aroma sabun maskulin yang biasanya justru membuat jantungnya berdegup tidak karuan.

"Tarik napas, Aratala," perintahnya pada diri sendiri, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. "Anggap saja semalam itu tidak pernah terjadi. Itu hanya drama... ya, drama yang terlalu mendalami peran."

🌴🌴🌴

1
partini
elio kata"mu itu weleh
Nalara amora: tenang kaaa😭🙏
total 1 replies
partini
masih juga nyalahin orang lain situ tuh yg sarappp pak elio,, jangan lah unboxing kaya gitu trauma loh bukanya suka malah benci
Nalara amora: kaaaaaaa😭😭
total 1 replies
partini
good story
Nalara amora: ahhhhhh makasihh kaaa😄🤭🤭
total 1 replies
partini
busettt agresif sakleeee angel ini pura ' nih ceo ga mau di kokop 🤭
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu
Nalara amora: tebak hayoo kaa🤭🤭
total 1 replies
partini
ya elah di tuduh menggoda dasar CEO 1/2 ons ,,noh si angel datang jadikan pelampiasan emosi mu dasar CEO murahan
partini: esmosi aku thor🤭🤭 ,cegil ga boleh bersentuhan ma laki" lain eh dianya mah bebas grepek"😂
total 2 replies
Nalara amora
bagus bgt nih cerita nya, rekomendasi buat yg pengen baca yg manis manis plus ada tom and jary nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!