Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 membujuk bercerai
Nyonya Mu buru-buru menarik Nara masuk ke dalam kamar. Setelah menutup pintu dengan rapat, dia membantu Nara untuk berbaring kembali di atas ranjang kayu.
"Ara, kamu kenapa, sih? Kenapa tadi berani bicara lancang begitu sama Nenekmu? Kamu..." Nyonya Mu menatap putrinya dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Kak, tapi omongan Kakak tadi keren banget! Muka Nenek sama yang lain langsung berubah jelek," sahut Yan Ning dengan mata berbinar riang. Dia memandangi Nara seolah-olah kakaknya itu adalah seorang pahlawan.
"Ning, jaga bicaramu..." Nyonya Mu mengernyitkan alis, merasa tidak setuju dengan reaksi anak bungsunya.
"Memangnya Ibu takut sama apa, sih? Mereka itu cuma berani sama orang lemah, tapi ciut kalau dilawan," balas Yan Ning sambil cemberut.
"Semakin Ibu mengalah, mereka malah bakal makin melunjak. Ucapan Kak Ara benar kok, mereka tidak pernah menganggap kita keluarga, jadi buat apa kita capek-capek cari muka?" lanjut Yan Ning lagi.
"Kamu anak kecil tahu apa, sih?" Nyonya Mu menghela napas panjang sambil memandangi tangan Nara yang terbalut perban.
"Ibu cuma punya kalian berdua. Kalian tidak punya saudara laki-laki kandung yang bisa membela kalian nanti. Kalau kalian menikah, kalian harus bergantung pada Yan Quan dan Yan Bao untuk menjadi pelindung."
"Makanya Ibu rela mengalah terus, biar mereka tidak membenci kita. Ibu tidak masalah menderita, yang penting kalian berdua tetap sehat dan aman," ucap Nyonya Mu pelan.
"Ibu terlalu polos. Mereka itu lahir dari ibu yang beda, mana mungkin mau melindungi kami nanti?" sahut Nara dengan wajah datar.
"Kalau mereka memang menganggap kita keluarga, tidak mungkin kita ditindas sampai seperti ini. Sikap mengalah Ibu selama ini justru malah bikin Ayah makin berpaling ke wanita lain."
"Tidak akan ada yang berterima kasih pada Ibu, mereka justru menertawakan kebaikan Ibu yang sia-sia. Apa setelah bertahun-tahun menderita, Ibu masih belum sadar juga?" tanya Nara tajam.
"Ucapan Kakak benar, Bu. Biarpun tidak punya saudara laki-laki, aku dan Kak Ara bisa saling menjaga kok," timpal Yan Ning ikut mendengus kesal.
"Kita tidak butuh bantuan dari anak-anak Han Ruo itu. Masa depan siapa yang tahu, bisa jadi malah mereka nanti yang mengemis bantuan pada kita!" seru Yan Ning.
Nyonya Mu merasakan sesak yang luar biasa di dadanya, membuat matanya seketika berkaca-kaca. Dia terisak pelan sambil menatap kedua anaknya.
"Ibu tahu kalian sudah banyak menderita gara-gara posisi Ibu. Maafkan Ibu ya, semua ini karena Ibu terlalu lemah dan tidak berguna," ucap Nyonya Mu pasrah.
Yan Ning yang tersentuh langsung menghambur dan memeluk ibunya dengan erat. "Ibu jangan bicara begitu lagi, Ning tidak suka dengarnya."
Pikiran Nara langsung berputar cepat mencari celah. Setelah menimbang situasinya sejenak, dia mendongak dan melontarkan pertanyaan yang mengejutkan.
"Bu, apa Ibu pernah terpikir untuk bercerai dari Ayah?"
Pelukan Nyonya Mu seketika terlepas, tubuhnya mendadak kaku mendengar kalimat itu. Dia menatap Nara dengan pandangan tidak percaya.
"Ara, omong kosong apa yang kamu bicarakan ini?!" tanyanya dengan suara bergetar.
Bercerai? Mana pernah terlintas ide segila itu di kepala Nyonya Mu selama ini. Dia cuma seorang wanita lemah yang tidak punya apa-apa, ke mana dia harus pergi jika berpisah dari suaminya?
Apa dia harus pulang ke rumah orang tuanya? Saudara-saudaranya di sana pasti bakal menutup pintu rapat-rapat, apalagi kalau dia membawa dua anak perempuan yang masih kecil.
"Ibu, tolong dengarkan aku dulu," kata Nara sambil memperbaiki posisi duduknya di atas ranjang dan menatap ibunya dengan tatapan serius.
"Apa Ibu masih punya perasaan sama pria itu? Apa Ibu masih berharap dia bakal berubah? Buat apa mempertahankan laki-laki yang kerjanya cuma bisa memukuli dan memaki istrinya sendiri?"
"Ini bukan masalah perasaan lagi, Ara. Hatiku sudah lama mati rasa, tepatnya sejak ayahmu membawa Han Ruo masuk ke rumah ini pas umurmu belum genap sebulan," sahut Nyonya Mu dengan senyuman getir.
"Ibu bertahan di sini cuma demi kalian berdua aja. Kalian butuh tempat bernaung dan butuh sosok ayah. Kalau nanti kalian berdua sudah menikah dengan pria yang jujur dan baik, baru Ibu bisa tenang."
"Ibu..." Yan Ning kembali memeluk ibunya dengan mata yang mulai basah.
"Memangnya pria begitu pantas dipanggil ayah? Dia cuma ayah di atas kertas aja, tidak pernah memikirkan nasibku atau Yan Ning," potong Nara dengan nada tegas.
"Dia itu cuma bertingkah jadi ayah buat Yan Ran dan anak-anak Han Ruo saja. Ibu, gara-gara hampir mati kemarin, pikiranku jadi terbuka luas."
"Ibu jangan cuma mengkhawatirkan nasib kami berdua. Ke mana pun Ibu pergi, aku dan Yan Ning pasti bakal ikut. Kita tidak butuh pria itu, jadi ayo kita pergi dari sini."
"Ibu, ceraikan saja Ayah. Aku dan Yan Ning yang akan menemani Ibu berjuang di luar sana," pungkas Nara dengan tatapan mata yang mantap.