Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 004
Gadis Kecil yang Disakiti
Pagi berikutnya, rasa sedang dijaga itu hilang digantikan oleh udara panas lokasi syuting.
Kiara berdiri di belakang set sebuah iklan minuman kesehatan di studio Jakarta Barat, memegang naskah yang baru saja dicoret tiga halaman oleh asisten sutradara. Semula ia punya lima dialog. Sekarang tersisa satu kalimat, itu pun diucapkan sambil berjalan melewati pemeran utama.
"Ini perubahan mendadak?" tanya Santi pelan di sampingnya.
Asisten pribadi itu membawa kipas kecil dan botol air mineral, wajahnya tegang sejak mereka tiba. Ia belum lama bekerja untuk Kiara, tapi cukup lama untuk tahu bahwa setiap kali nama Wenny muncul di lokasi yang sama, keadaan Kiara selalu memburuk.
Kiara menatap kertas di tangannya.
Tinta merah memenuhi naskah seperti luka.
"Tidak apa-apa," katanya. "Satu kalimat juga tetap harus dimainkan benar."
Santi membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Di ruang wardrobe, seorang staf melemparkan gaun tambahan ke arah Kiara tanpa benar-benar menatapnya.
"Pakai ini. Gaun utama dipakai Kak Wenny."
Kain itu jatuh di lengan Kiara. Bagian bawahnya sedikit lembap, entah karena baru disetrika asal atau terkena tumpahan air. Ukurannya juga kebesaran di pinggang.
Santi langsung maju. "Maaf, ini basah."
Staf wardrobe mendecak. "Kalau mau yang bagus, jadi pemeran utama dulu. Jangan bikin ribet pagi-pagi."
Kiara menahan tangan Santi sebelum gadis itu membalas.
"Ambil jarum pentul," ucap Kiara. "Kita rapikan sendiri."
Santi menatapnya dengan mata merah. "Kak Kiara selalu begini. Mereka keterlaluan."
Kiara tersenyum tipis. "Kalau aku marah sekarang, nanti yang keluar di berita bukan gaunnya basah, tapi Kiara Tanuwijaya ngamuk di lokasi syuting."
Kalimat itu membuat Santi diam.
Kiara masuk ke bilik ganti. Saat kain dingin itu menyentuh kulitnya, tubuhnya menggigil sebentar. Ia menutup mata, menarik napas pelan, lalu memaksa dirinya berdiri tegak.
Di dunia asalnya, membaca tentang Kiara yang disakiti sudah membuatnya kesal.
Mengalaminya sendiri ternyata jauh lebih melelahkan.
Ketika ia keluar, Wenny baru tiba.
Berbeda dari Kiara yang harus merapikan gaun lembap dengan jarum pentul, Wenny memakai busana utama berwarna pastel yang jatuh sempurna di tubuhnya. Di belakangnya, dua wartawan infotainment ikut masuk bersama seorang fotografer. Wenny membawa kotak kue kecil, wajahnya penuh senyum manis.
"Kiara, aku bawakan kue. Kamu belum sarapan, kan?"
Beberapa kru langsung melirik.
Kamera wartawan sudah menyala.
Kiara memandangi kotak kue itu. Cantik. Mahal. Sangat cocok untuk foto kakak baik hati yang memperhatikan adiknya.
"Terima kasih," kata Kiara. "Tapi aku tidak lapar."
Wenny mendekat satu langkah. "Kamu masih marah soal semalam? Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Mama juga kepikiran kamu terus."
Mama.
Kata itu sengaja diucapkan saat kamera dekat.
Kiara melihat lampu kecil pada kamera, lalu wajah Wenny yang tampak begitu lembut. Jika ia menolak dengan keras, ia akan terlihat tidak tahu diri. Jika ia menerima, potongan video itu akan menyebar sebagai bukti bahwa Wenny selalu lebih dewasa.
Maka Kiara hanya menunduk sedikit.
"Aku mau bersiap. Jadwal take sudah dekat."
Ia melewati Wenny tanpa menyentuh kotak itu.
Wenny berdiri kaku beberapa detik. Di depan kamera, ia masih berusaha tersenyum, tapi ujung bibirnya turun sedikit.
Sutradara iklan memanggil semua pemain ke set. Adegan pertama berjalan lancar untuk Wenny. Ia tersenyum ke kamera, mengangkat botol minuman, mengucapkan dialog dengan nada lembut. Kru bertepuk tangan kecil.
Lalu giliran Kiara.
"Kamu jalan dari titik sana, lewat belakang Wenny, lalu bilang dialogmu. Jangan terlalu mencuri perhatian," kata asisten sutradara tanpa menatapnya.
Kiara berdiri di tanda lantai.
Lampu studio panas sekali. Gaun lembap di punggungnya mulai terasa lengket. Ia memegang naskah dengan satu tangan, mengulang dialog pendek di kepala.
"Action!"
Kiara berjalan.
Pada langkah ketiga, salah satu kabel yang seharusnya sudah dirapikan masih melintang dekat kakinya. Ia melihatnya terlambat. Ujung sepatu tersangkut, tubuhnya oleng ke depan.
Santi menjerit kecil.
Kiara berhasil menahan diri pada sisi meja properti, tapi pergelangan tangannya membentur keras. Botol kaca di meja terguling dan pecah di lantai.
"Cut!" teriak asisten sutradara. "Aduh, Kiara! Kamu bisa hati-hati tidak?"
Rasa sakit merambat dari pergelangan tangan sampai siku. Kiara menunduk, melihat kulitnya memerah.
Wenny segera mendekat, tapi bukan pada tangan Kiara. Ia berdiri di posisi yang pas untuk kamera wartawan.
"Kiara, kamu tidak apa-apa? Kamu memang sebaiknya istirahat dulu kalau kurang sehat."
Kiara mengangkat wajah.
Di balik nada khawatir itu, ia melihat kilatan puas yang sangat cepat.
"Aku tidak apa-apa."
"Tapi kamu hampir merusak properti." Asisten sutradara menghela napas kasar. "Kalau tidak siap kerja profesional, bilang dari awal."
Santi tidak tahan lagi. "Kabelnya memang belum dirapikan!"
"Kamu siapa?" bentak asisten sutradara.
Kiara menahan lengan Santi.
Sebelum situasi pecah, ponsel asisten sutradara berdering. Ia melihat layar, wajahnya yang marah tiba-tiba berubah pucat.
"Iya, Pak. Iya, saya mengerti. Sekarang juga."
Panggilan itu berlangsung kurang dari satu menit.
Setelah menutup telepon, ia langsung menoleh ke kru.
"Rapikan kabel. Ganti wardrobe Kiara. Siapkan ruang tunggu utama untuk dia. Adegan tadi diulang, dialognya dikembalikan ke versi awal."
Studio mendadak sunyi.
Wenny berkedip. "Tapi naskah revisi tadi..."
Asisten sutradara menunduk sedikit, tidak lagi berani menatap Wenny lama-lama. "Instruksi produser."
Kiara pun terdiam.
Santi menoleh padanya dengan mata membesar, jelas sama bingungnya.
Dari sudut studio, wartawan infotainment yang tadi sibuk merekam mulai saling berbisik. Wenny menggenggam kotak kue di tangannya sampai pita merahnya kusut.
Lima menit kemudian, seorang line producer masuk dengan dua orang staf medis studio. Ia meminta asisten sutradara menyerahkan clip board, lalu menyuruhnya meninggalkan set tanpa penjelasan panjang. Tidak ada bentakan. Tidak ada drama. Justru ketenangan itu membuat seluruh kru lebih takut.
"Nona Kiara, maaf atas kelalaian tim kami," ucap line producer itu dengan sopan. "Pergelangan tangan Anda harus diperiksa dulu. Setelah itu kita ulang dari adegan awal sesuai naskah kontrak."
Kiara menatap orang itu, lalu menatap kabel yang kini sedang dirapikan terburu-buru oleh kru.
Baru beberapa menit lalu, ia masih diperlakukan seperti beban yang bisa disingkirkan kapan saja. Sekarang semua orang menunduk seolah ia tiba-tiba menjadi tamu penting.
Ia tidak bodoh.
Seseorang telah menekan mereka dari luar.
Dan entah kenapa, nama pertama yang muncul di kepalanya adalah Rayhan Purnawan.
Di luar studio, sebuah Bentley hitam berhenti di area parkir belakang yang tidak boleh dimasuki kru biasa.
Rayhan duduk di kursi belakang, tablet di tangannya menampilkan rekaman CCTV lokasi syuting. Wajahnya tidak berubah saat melihat Kiara menahan pergelangan tangannya yang memerah, tapi jari-jarinya mengetuk pelan sandaran kursi.
Adi berdiri di luar pintu mobil yang terbuka.
"Bos, produser sudah menerima instruksi. Asisten sutradara itu akan diganti setelah jadwal hari ini selesai."
"Jangan setelah selesai," kata Rayhan.
Adi mengangkat mata.
Rayhan menatap layar, tepat pada gambar Kiara yang sedang berusaha tersenyum pada Santi meski tangannya sakit.
"Sekarang."
Suaranya pelan.
Tapi Adi tahu, bagi seseorang di dalam studio itu, satu kata pelan dari Rayhan Purnawan berarti karier yang baru saja retak.