Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 - Kuda Liar
Dan di ember minumnya, permukaan air bergetar walau tidak ada angin.
Peluit kedua berbunyi dari lintasan utama.
"Peserta kelompok pertama, bersiap!"
Staf klub menarik tali kendali kuda hitam nomor tujuh. Kuda itu menolak satu langkah, lalu menghentak lantai lagi. Suara tapalnya menghantam kayu kandang membuat beberapa siswa di dekat pintu menoleh.
"Kuda ini tidak siap," kata staf itu pada siswa panitia.
Siswa panitia menggigit bibir. "Daftarnya sudah final. Dokumentasi juga sudah siap."
"Dokumentasi tidak lebih penting dari keselamatan."
"Kalau berubah sekarang, jadwal kacau."
Felicia berjalan mendekat. "Berikan talinya."
Staf itu terkejut. "Nona, ini bukan kuda pemula."
"Aku tahu."
"Kalau begitu jangan naik."
Suara Jayden datang dari belakang. "Setuju. Ganti kuda."
Felicia tidak menoleh. Ia melihat kuda itu, bukan manusia di sekelilingnya. Mata kuda hitam itu terlalu liar, tetapi di balik liar ada pola. Ia tidak menyerang karena benci. Ia menyerang karena tubuhnya dipaksa menyalakan semua alarm sekaligus.
"Kalau dilepas ke pemandu lain, dia akan lari ke kerumunan," kata Felicia.
Nathan sudah tiba di sisi kandang. "Kita bisa hentikan sesi."
"Terlambat."
Di luar, gerbang kecil menuju lintasan dibuka. Kelompok pertama mulai bergerak. Beberapa siswa pemula berdiri terlalu dekat pagar, tertawa sambil menunggu giliran foto. Kuda hitam itu mendengar suara ramai dan langsung mengangkat kepala.
Lehernya menegang.
Tali kendali tertarik keras.
Staf hampir terseret.
Felicia mengambil alih tali itu.
"Feli!" Nathan bergerak maju.
"Jangan dekat," kata Felicia.
Nada suaranya membuat Nathan berhenti.
Jayden mengumpat pelan. Calvin sudah turun dari pagar, sketchbooknya terjatuh di rumput. Sebastian menatap kuda itu dengan wajah lebih putih dari biasanya.
Felicia menempelkan telapak ke leher kuda, bukan membelai, hanya memberi tekanan singkat. Kuda itu menyentak, tetapi Felicia tidak mundur. Ia memegang tali lebih pendek, mengunci jarak, lalu memutar tubuh sehingga kepala kuda menghadap dinding kandang, bukan pintu terbuka.
Binatang besar itu mengentakkan kaki depan.
Debu naik.
"Sis, pantau gerakan," kata Felicia dalam hati.
"Kekuatan Tuan Rumah nol. Sis hanya bisa bantu analisis visual."
"Cukup."
Kuda itu mencoba menggigit.
Felicia menarik tali ke samping, membuat rahangnya kosong. Pada detik yang sama, ia melangkah ke sisi kiri, memaksa tubuh kuda mengikuti lingkaran kecil. Bukan kekuatan. Sudut.
Staf klub terbelalak. "Kamu pernah dilatih?"
"Tidak."
Jawaban itu membuat Jayden tampak ingin berteriak.
Kuda hitam itu kembali menghentak. Kali ini lebih keras. Tali kendali bergetar sampai telapak Felicia perih.
Di luar kandang, seseorang berteriak. Seorang siswi yang sedang mengambil foto terlalu dekat pagar terkejut dan menjatuhkan botol minum. Botol itu menggelinding ke arah pintu kandang.
Suara plastik memantul kecil.
Kuda hitam itu meledak.
Ia menerjang pintu.
Felicia tidak punya waktu untuk memilih cara aman.
Ia melompat ke sisi pelana saat tubuh kuda melewati pintu, satu kaki menekan pijakan, tangan kiri mencengkeram surai, tangan kanan memutar tali kendali. Gerakannya tidak indah. Tidak seperti atlet berkuda. Lebih seperti seseorang yang naik ke kendaraan rusak saat kendaraan itu sudah melaju.
Jeritan pecah dari area lintasan.
Kuda hitam itu keluar seperti bayangan yang lepas dari kandang.
Felicia berhasil duduk setengah di pelana, tetapi belum punya keseimbangan penuh. Punggung kuda melontarkan tubuhnya ke atas, keras. Pinggangnya terbentur bagian depan pelana. Rasa sakit tajam naik ke rusuk.
Ia menggertakkan gigi.
Tidak jatuh.
Kalau jatuh sekarang, kuda itu akan masuk ke kerumunan.
Kerumunan itu bukan hanya siswa. Di sisi lapangan ada guru pendamping, staf dokumentasi, dan dua orang tua sponsor yang berdiri di bawah tenda putih. Kamera resmi masih menghadap lintasan. Beberapa siswa yang sebelumnya sibuk merekam langsung lupa menurunkan ponsel, tubuh mereka membeku di tempat yang paling salah.
Kuda hitam berbelok ke arah tenda.
Di sana ada meja kaca berisi botol minum dan piala sponsor.
Kalau kuda itu menabrak, pecahan kaca akan beterbangan.
Felicia menarik tali kanan, lalu segera melepas. Bukan untuk menghentikan, hanya untuk membuat kepala kuda menoleh sepersekian detik. Cukup untuk mengubah sudut lari dari tenda ke jalur rumput di sampingnya.
Meja kaca terlewati hanya sejengkal.
Botol-botol minum jatuh karena angin dari tubuh kuda.
Seseorang berteriak, tetapi tenda tidak hancur.
"Kosongkan lintasan!" Nathan berteriak, suaranya untuk pertama kali kehilangan kehalusan. "Semua mundur dari pagar!"
Jayden sudah berlari sepanjang sisi luar lintasan. "Buka pagar ujung! Jangan tutup, biarin dia ambil jalur luar!"
Calvin menarik seorang siswi yang membeku di dekat pagar. "Mundur!"
Sebastian mengambil kotak P3K dari meja staf, wajahnya dingin, tetapi tangannya terlalu cepat untuk disebut tenang.
Clarissa mundur sampai menabrak kursi lipat. Wajahnya pucat, tetapi matanya masih sempat mencari Yesika.
Yesika berdiri kaku di dekat guru, tangannya mencengkeram ponsel. Untuk pertama kalinya sejak Felicia mengenalnya, ekspresi ramah itu hilang total. Bukan karena Felicia mungkin terluka. Karena situasinya tidak lagi terlihat seperti permainan yang bisa dikontrol.
Sis menangkap wajah itu. "Tuan Rumah, Yesika panik."
"Simpan nanti."
"Tuan Rumah sedang di atas kuda liar!"
"Maka jangan ganggu sekarang."
Felicia mendengar semuanya dalam potongan pendek.
Angin.
Jeritan.
Tali kendali yang memotong telapak.
Napas kuda yang pecah.
Kuda hitam itu berlari ke arah pagar sisi penonton. Di sana ada tiga siswa yang belum sempat mundur jauh. Salah satunya jatuh terduduk.
Felicia menurunkan pusat berat. Kaki kirinya mencari tekanan, lutut mengunci. Ia tidak bisa mengalahkan tenaga kuda, tetapi ia bisa mengganggu garisnya.
Ia menarik tali kiri pendek, lalu melepaskan setengah.
Kuda membanting kepala.
Felicia hampir terlempar.
Rambutnya lepas dari ikatan, menampar wajah. Pandangannya gelap sepersekian detik, lalu kembali.
Pijakannya hilang di sisi kanan. Selama satu detik, tubuhnya hanya ditahan paha kiri dan tangan yang mencengkeram surai. Telapak tangannya panas, kulitnya terasa terkelupas oleh gesekan tali.
Di dunia lama, ia pernah bergantung di sisi truk yang terguling sambil ditembaki dari belakang.
Ini lebih kecil.
Lebih bersih.
Tetap menyakitkan.
"Tuan Rumah!" Sis menjerit.
"Diam."
Ia menarik lagi.
Kali ini bukan untuk menghentikan, tetapi memutar.
Kuda itu berbelok tajam, melewati pagar penonton dengan jarak kurang dari satu meter. Tiga siswa itu jatuh saling menindih, tetapi tidak terinjak.
Sorak panik berubah menjadi teriakan lega yang kacau.
Felicia tidak punya waktu menikmati.
Kuda itu belum habis tenaga. Obat atau apa pun yang masuk ke tubuhnya membuat ritme larinya patah, cepat, lalu tersendat, lalu meledak lagi. Pola seperti itu lebih berbahaya daripada lari lurus, karena pemandu tidak bisa memprediksi kapan hewan itu akan memutar atau melompat.
Felicia merasakan perubahan sebelum terlihat.
Otot punggung kuda mengeras.
Ia akan melompat.
"Turunkan kepala!" teriak staf klub dari jauh.
Felicia sudah melakukannya. Ia menarik tali rendah, memaksa kepala kuda turun tepat saat tubuh besar itu mencoba melonjak. Lompatan gagal penuh, berubah menjadi hentakan brutal yang membuat rusuk Felicia seperti dipukul papan.
Rasa mual naik.
Ia menelannya.
Di depan, lintasan luar berakhir pada pagar kayu rendah dan area pasir latihan. Kalau kuda terus lurus, ia akan menabrak pagar dengan dada. Jika Felicia memaksanya berhenti mendadak, kuda bisa jatuh dan menimpanya.
Ia memilih pilihan ketiga.
"Buka gerbang pasir!" teriaknya.
Tidak ada yang bergerak cukup cepat.
Jayden melompat ke pagar dan menendang kaitnya. Sekali. Dua kali. Kait terbuka.
Gerbang pasir bergerak setengah.
Cukup.
Felicia mengarahkan kuda ke celah itu.
Kuda masuk area pasir dengan kecepatan terlalu tinggi. Pasir memperlambat kaki depannya. Tubuh besar itu tersentak. Felicia menggunakan momen itu untuk menarik kepala kuda melingkar, memaksanya berputar dalam radius sempit.
Satu putaran.
Dua putaran.
Tenaganya mulai pecah.
Kuda itu meringkik keras, naik dengan dua kaki belakang.
Felicia tahu sebelum tubuhnya terangkat.
Ia melepaskan satu kaki dari pijakan, memindahkan berat ke samping, dan melompat sebelum kuda jatuh mundur.
Hampir berhasil.
Ujung pagar area pasir menghantam bahu kirinya.
Rasa sakit meledak putih.
Tubuhnya terguling di pasir, lalu membentur tanah keras di luar batas. Napasnya hilang. Dunia menjadi suara jauh.
Kuda hitam itu jatuh ke samping, tidak menimpa siapa pun. Staf klub langsung berlari menutup kepalanya dengan selimut, menenangkan, menahan.
Felicia mencoba bangun.
Lengan kirinya tidak mau menjawab.
Di kejauhan, ia mendengar Jayden memanggil namanya dengan suara pecah.
Nathan berlari lebih cepat daripada yang terlihat mungkin untuk orang serapi dia.
Calvin sampai di sampingnya dengan wajah kosong yang lebih menakutkan daripada panik.
Sebastian berlutut, sarung tangannya kotor pasir, kotak P3K terbuka.
"Jangan gerakkan lehernya," kata Sebastian, suaranya tajam. "Panggil ambulans."
"Sudah!" teriak Nathan.
Jayden ingin mengangkat Felicia, tetapi Nathan menahan bahunya dengan satu tangan. "Jangan. Tunggu tim medis."
"Dia berdarah, Nat!"
"Aku tahu!" Suara Nathan pecah di ujungnya, lalu ia memaksa diri menunduk ke dekat Felicia. "Feli, dengar aku. Jangan bergerak dulu."
Calvin berlutut di sisi lain, wajahnya putih bersih dari ekspresi. "Ci, lihat aku."
Felicia menatap langit pagi yang terlalu terang.
Sis terdengar seperti hampir menangis. "Tuan Rumah, tetap sadar. Tolong tetap sadar."
Felicia ingin berkata ia baik-baik saja.
Yang keluar hanya napas pendek.
Di sisi lintasan, senyum Yesika sudah hilang.
Lalu suara sirene mulai terdengar dari gerbang klub.