Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010
Hari Pertama
Sekar membacanya tujuh belas kali.
Pagi berikutnya, ia hampir membaca surat itu untuk kedelapan belas kali kalau Oma Lien tidak mengetuk pintu kamarnya.
"Sekar, nanti telat."
"Iya, Oma."
Sekar buru-buru melipat kertas itu dan menyelipkannya kembali ke halaman paling dalam buku biru gelap. Ia menekan telapak tangan di atas sampul buku sebentar, seolah memastikan tiga kalimat itu tidak akan menghilang.
Gue suka lo, lebih dari yang bisa gue jelasin.
Kalimat itu membuatnya tersenyum bahkan saat menyisir rambut.
Di meja makan, Oma Lien sudah menyiapkan bubur ayam dan satu kotak kecil bakpao mini. Wajah Oma tampak biasa saja, tetapi ketika Sekar duduk, kotak itu digeser ke arahnya.
"Bawa ini."
"Untuk aku?"
"Untuk teman sekolahmu juga boleh."
Sendok Sekar berhenti.
Oma Lien meniup teh hangatnya, pura-pura tidak melihat pipi cucunya yang langsung merah. "Anak laki-laki yang mengantar pulang kemarin itu kelihatannya belum pernah makan bakpao Oma."
"Oma melihat?"
"Oma sudah tua, bukan buta."
Sekar menunduk, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan. "Namanya Kevin."
"Kevin," Oma mengulang pelan. "Kalau dia membuatmu pulang dengan wajah sebahagia itu, Oma ingin kenal."
Dada Sekar terasa lembut. Di kehidupan sebelumnya, ia terlambat membawa Kevin ke rumah ini. Kali ini, Oma bahkan sudah membuka pintu sebelum Kevin berani mengetuk.
"Nanti aku ajak," janji Sekar.
Kevin menunggu di gerbang samping sekolah seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang berbeda pagi itu.
Biasanya ia berdiri agak jauh dari kerumunan, satu tangan di saku, wajah dingin membuat orang tidak berani mendekat. Hari ini, begitu Sekar turun dari mobil jemputan, ia langsung berjalan ke arahnya.
Di depan semua siswa yang sedang masuk sekolah, Kevin mengambil tas Sekar dari bahunya.
Sekar berkedip. "Kev?"
"Berat."
"Isinya buku."
"Makanya berat."
Ia mengaitkan tas Sekar di bahunya sendiri, lalu mengambil kotak bakpao yang hampir jatuh dari tangan Sekar.
"Ini apa?"
"Bakpao buatan Oma."
Kevin berhenti setengah detik.
Sekar melihat perubahan kecil di wajahnya. Bukan kaget besar, bukan senyum jelas, hanya sesuatu yang melembut di mata.
"Buat gue?"
"Kalau kamu mau."
"Mau."
Jawaban itu terlalu cepat. Sekar menahan senyum. "Cepat banget jawabnya."
Kevin menatapnya, lalu mengulang kalimat yang pernah ia ucapkan pada Sekar. "Jangan banyak alasan kalau mau kasih."
Sekar tertawa.
Suara tawa itu membuat beberapa siswa menoleh. Mereka melihat Kevin membawa tas Sekar, melihat kotak bakpao di tangannya, melihat Sekar berjalan di sampingnya dengan wajah cerah.
Bisikan langsung muncul.
"Mereka beneran jadian?"
"Kevin bawa tas Sekar?"
"Serius?"
Sekar mendengar semuanya. Ia sempat menegang, tetapi sebelum rasa gugup naik, tangan Kevin sudah menyentuh punggung tangannya.
Tidak menggenggam penuh. Hanya menyentuh.
"Kalau nggak nyaman, bilang," kata Kevin pelan.
Sekar menoleh. "Kamu?"
"Gue nggak peduli."
"Kalau mereka ngomong?"
"Biarin."
"Kalau guru lihat?"
"Gue bawa tas, bukan bawa kabur lo."
Sekar tertawa lagi, kali ini lebih pelan.
Di kelas, Yola langsung menyambutnya dengan tatapan seperti wartawan.
"Laporan."
"Nanti."
"Sekarang."
"Yola."
"Lo datang diantar pacar baru, tas lo dibawain, wajah lo bersinar kayak iklan skincare. Jangan suruh gue sabar."
Sekar menutup wajah dengan buku.
Saat jam istirahat, Kevin membuka kotak bakpao di meja kantin. Bryan menatap bakpao itu seperti menemukan harta karun.
"Ini dari Oma Lien?" tanya Bryan.
Sekar mengangguk. "Iya. Oma bilang untuk teman sekolah juga boleh."
Bryan langsung mengambil satu. "Mulai hari ini, Oma Lien adalah Oma gue juga."
Kevin menahan tangannya. "Cuci tangan dulu."
Bryan melongo. "Sejak kapan lo peduli kebersihan tangan gue?"
"Sejak itu makanan dari Oma Sekar."
Yola menutup mulut menahan tawa. Sekar menunduk, pipinya hangat.
Bryan akhirnya pergi mencuci tangan sambil mengomel. Kevin mengambil satu bakpao kecil, menggigitnya, lalu diam.
"Gimana?" tanya Sekar.
Kevin menatap bakpao di tangannya. "Enak."
Hanya satu kata, tetapi Sekar tahu ia bersungguh-sungguh.
Bryan kembali dan langsung duduk. "Bro, nanti kalau ketemu Oma, jangan pasang muka preman. Takutnya nggak dikasih bakpao lagi."
Kevin mengangkat mata. "Lo yang jangan banyak omong."
"Aku setuju sama Bryan," kata Sekar tiba-tiba.
Kevin menoleh.
Sekar tersenyum. "Kalau ketemu Oma, kamu harus sopan."
"Gue selalu sopan."
Bryan, Yola, dan Sekar menatapnya bersamaan.
Kevin terdiam. "Kalau perlu."
Meja itu meledak tawa.
Untuk pertama kalinya, Sekar merasa sekolah bukan tempat yang ia lalui sambil menunggu bahaya datang. Hari itu, kantin terlalu ramai, udara panas, meja sedikit lengket oleh es teh tumpah. Tetapi di hadapannya ada Kevin yang menghabiskan bakpao Oma dengan serius, Bryan yang terus menggodanya, dan Yola yang diam-diam tersenyum melihatnya bahagia.
Saat bel berbunyi, Kevin berdiri dan mengembalikan buku biru gelap yang tadi ia bawa bersama tas Sekar.
Sebelum Sekar mengambilnya, Kevin menahan buku itu sebentar.
"Suratnya masih ada?"
Sekar memeluk buku itu ke dada. "Ada."
"Jangan hilang."
"Nggak akan."
Kevin menatapnya, lalu berkata cukup pelan agar hanya Sekar yang mendengar, "Pacar gue harus jaga barang penting."
Sekar hampir lupa cara berjalan kembali ke kelas.
Begitu ia duduk, Yola langsung mencondongkan tubuh.
"Dia bilang apa?"
Sekar membuka buku biru gelap, pura-pura mencari halaman kosong. "Nggak ada."
"Sekar."
Sekar menahan senyum, tetapi gagal.
Yola menghela napas panjang, lalu menepuk meja pelan. "Oke. Resmi. Sahabat gue sudah hilang setengah akal karena pacar."
Sekar menatap tulisan miring di dalam buku, lalu berbisik, "Mungkin bukan setengah."