Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033
Pintu Masuk Dufan
Sabtu ini, mereka akan pergi ke Dufan Ancol.
Louisa mengulang kalimat itu dalam kepala saat berdiri di depan lemari pakaian.
Ia sudah lama tidak pergi ke taman bermain. Terakhir kali, mungkin saat kuliah awal bersama teman-teman UI, ketika ia masih bisa tertawa tanpa memikirkan email kantor. Sejak masuk Tanuwijaya Group, akhir pekannya lebih sering diisi revisi deck, acara keluarga, atau menunggu Kevin selesai dengan urusan yang selalu lebih penting.
Pagi itu, tidak ada Kevin.
Tidak ada kantor.
Hanya sepatu nyaman seperti pesan Stella, tas kecil, topi warna krem, dan Nathanael yang menunggu di ruang tamu dengan kaus polo navy, celana chino, serta wajah seseorang yang terlihat terlalu rapi untuk pergi ke Dufan.
Louisa berhenti di depannya.
"Kamu yakin mau pakai itu?"
Nathanael menunduk melihat bajunya. "Ada yang salah?"
"Tidak. Cuma... kamu terlihat seperti mau meeting santai dengan investor."
"Aku tidak punya pakaian taman bermain."
"Itu terdengar menyedihkan."
"Aku sedang belajar."
Jawaban serius itu membuat Louisa tersenyum sebelum sempat menahannya.
Di perjalanan ke Ancol, Stella mengirim daftar instruksi lagi. Jangan lupa minum. Jangan sok kuat. Foto yang banyak, tapi jangan foto semua makanan. Louisa membaca sebagian keras-keras. Nathanael menyetir dengan wajah tenang, tetapi telinganya memerah sedikit saat sampai pada kalimat, Ko Nath jangan kaku kayak patung kantor.
"Stella sangat mencintaimu," kata Louisa.
"Dia mengekspresikannya dengan cara yang melelahkan."
"Aku mulai paham."
Mereka tiba di Dufan menjelang siang. Udara Ancol panas, asin tipis, dan penuh suara. Anak-anak tertawa, musik dari wahana bercampur dengan pengumuman pengeras suara, penjual minuman dingin memanggil pengunjung. Matahari memantul di jalan paving sampai Louisa otomatis membuka topi.
Nathanael langsung mengeluarkan sunscreen dari tas.
Louisa menatap botol itu.
"Stella?"
"Cuaca."
"Tentu."
Ia mengoleskan sunscreen di punggung tangannya. Nathanael menunggu sampai ia selesai, lalu tanpa banyak bicara mengambil botol itu dan mengoleskan di lengannya sendiri. Gerakannya kaku, seperti orang yang membaca instruksi manual terlalu serius.
Di pintu masuk, petugas memindai tiket digital mereka.
"Selamat bersenang-senang," kata petugas.
Louisa spontan menoleh ke Nathanael. "Kita diminta bersenang-senang."
"Aku dengar."
"Kamu siap?"
"Secara administratif, iya."
Louisa tertawa.
Tawa itu keluar begitu saja, ringan, tanpa harus dipikirkan. Nathanael menatapnya sebentar, lalu ikut tersenyum tipis. Bukan senyum sosial di gala, bukan senyum sopan di depan Engkong, tetapi senyum kecil yang membuat wajahnya terlihat lebih muda.
Mereka mulai dari wahana yang aman. Louisa memilih naik ontang-anting rendah karena antreannya pendek. Nathanael duduk di sebelahnya dengan postur terlalu tegak.
"Kamu bisa santai," kata Louisa saat pengaman diturunkan.
"Aku santai."
"Punggungmu seperti presentasi laporan tahunan."
Nathanael menatap ke depan. "Itu bentuk tubuhku."
Louisa tertawa lagi.
Saat wahana berputar pelan, angin mengangkat ujung rambutnya. Ia menoleh dan melihat Nathanael memegang pegangan dengan kedua tangan. Tidak panik. Tidak pucat. Hanya terlalu fokus.
"Kamu jarang ke tempat begini ya?"
"Terakhir mungkin SMP."
"Serius?"
"Aku lebih sering diajak ke acara keluarga."
"Pantas."
"Apa?"
"Kamu bahkan duduk di wahana seperti sedang menghormati notaris."
Kali ini Nathanael benar-benar tertawa pendek.
Setelah turun, Louisa merasa hari itu mulai mungkin. Mereka membeli es teh, berbagi kentang goreng, lalu berhenti di booth permainan lempar gelang. Hadiahnya boneka kecil dan gantungan kunci. Louisa gagal tiga kali. Gelang selalu memantul keluar dari botol.
"Giliran kamu," katanya.
Nathanael mengambil satu gelang.
"Kalau aku gagal?"
"Berarti kamu manusia."
Ia melempar.
Gelang masuk tepat ke leher botol.
Louisa menatapnya. "Itu baru percobaan pertama."
"Beruntung."
Percobaan kedua masuk lagi.
Percobaan ketiga juga.
Penjaga booth bertepuk tangan kecil. "Wah, jago, Pak."
Louisa menyipitkan mata. "Kamu bilang jarang ke taman bermain."
"Aku jarang. Tapi melempar benda ke target itu prinsip fisika."
"Kamu bahkan membuat permainan jadi pelajaran."
Nathanael memilih hadiah gantungan kunci bentuk mawar kecil dari beberapa pilihan. Ia menyerahkannya kepada Louisa.
"Untuk kamu."
Louisa menerima gantungan itu, kecil, murah, plastik, tetapi anehnya membuat pipinya hangat.
"Terima kasih."
"Itu tidak mahal."
"Aku tidak bilang harus mahal."
Nathanael menatapnya, seolah kalimat itu perlu disimpan di tempat yang aman.
Menjelang sore, Louisa mulai lebih berani memilih wahana. Mereka melewati Hysteria. Louisa menengadah melihat kursi-kursi yang naik tinggi lalu jatuh cepat. Nathanael tiba-tiba berhenti setengah langkah di belakangnya.
"Yang itu?" tanya Louisa.
"Antreannya panjang."
Louisa melihat papan antrean. Dua puluh menit.
"Tidak terlalu."
"Mataharinya masih panas."
"Kita pakai sunscreen."
"Mungkin nanti."
Louisa menatapnya. Ada sesuatu di wajahnya yang terlalu tenang. Bukan penolakan biasa. Lebih seperti seseorang yang sedang melakukan negosiasi internal dengan harga diri sendiri.
Ia tidak memaksa.
"Oke. Nanti."
Mereka berjalan lagi sampai suara teriakan dari Halilintar terdengar dari kejauhan. Kereta roller coaster meluncur di lintasan, berputar tajam, lalu menurun cepat. Orang-orang berteriak, sebagian tertawa setelah turun, sebagian memegangi dada.
Mata Louisa berbinar.
"Itu."
Nathanael mengikuti arah pandangnya.
Wajahnya tidak berubah.
Hanya tangannya yang pelan-pelan masuk ke saku.
"Mau naik?" tanyanya.
"Kamu mau?"
Satu jeda kecil.
"Kalau kamu mau."
Louisa tersenyum. "Aku mau."
Mereka masuk ke antrean Halilintar.
Saat kereta berikutnya meluncur melewati lintasan atas dengan suara keras, Louisa menoleh. Nathanael berdiri di sampingnya, tegak seperti biasa, tetapi rahangnya mengeras tipis.
Untuk pertama kalinya hari itu, Louisa merasa mungkin Stella tidak bercanda saat menyuruhnya realistis.