NovelToon NovelToon
Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Cintapertama
Popularitas:317
Nilai: 5
Nama Author: Ellin Puspita

Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Telepon dari Mama

...****************...

Wajahnya memang terlihat lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya, tapi hatinya masih dipenuhi banyak hal yang belum selesai.

Semalam, setelah Arka akhirnya mengizinkannya untuk mencari pekerjaan, Laura merasa sedikit lega.

Bukan karena semua masalah selesai.

Tapi karena setidaknya,

ia punya sesuatu untuk diperjuangkan selain bertahan.

Ia menata piring di meja makan sambil sesekali melirik ponselnya.

Semalam, sebelum tidur,

ia sempat menelepon mamanya.

Ia hanya ingin memberi tahu bahwa dirinya sedang berencana bekerja.

Bukan untuk mengadu.

Bukan untuk meminta pulang.

Hanya sekadar memberi kabar.

Tapi Laura tahu…

mamanya pasti merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Dan firasat itu benar.

Di ruang depan, Arka sedang bersiap berangkat kerja.

Ia merapikan jam tangan sambil mengambil kunci motor.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar membuatnya berhenti sejenak.

......................

*Mama Nisa Calling*

Arka langsung menoleh ke arah dapur.

Laura yang melihat ekspresinya langsung tahu.

Mamanya.

Dengan napas pelan,

Arka mengangkat telepon itu.

“Assalamualaikum, Ma.”

Suara lembut namun tegas terdengar dari seberang.

“Waalaikumsalam, Arka. Kamu belum berangkat kerja?”

“Belum, Ma. Baru siap-siap.”

Beberapa detik hening.

Lalu Nisa langsung bertanya,

“Arka, Mama mau tanya. Benar Laura mau bekerja?”

Arka terdiam sejenak.

Ia sudah menduga pertanyaan itu akan datang.

“Iya, Ma…”

Nada suara Nisa berubah.

“Kenapa?”

Arka mencoba menjawab hati-hati.

“Laura hanya ingin punya kesibukan, Ma.”

Namun Nisa tidak mudah percaya.

“Arka. Jujur sama Mama. Setahu Mama, setelah menikah kalian sepakat Laura fokus di rumah dulu. Kenapa tiba-tiba berubah?”

Kalimat itu membuat Arka sulit menghindar.

Ia menarik napas panjang.

Karena memang,

semuanya tidak sesederhana itu.

“Ma… sebenarnya…”

Di dapur, Laura mulai mendekat perlahan.

Ia bisa menebak arah pembicaraan itu.

Arka menunduk.

“Laura sedang tidak nyaman di rumah ini.”

Kalimat itu membuat suasana mendadak berat.

Di seberang sana,

Nisa langsung terdiam.

Beberapa detik tidak ada suara.

Lalu ia bertanya pelan,

“Maksud kamu?”

Arka menelan ludah.

“Ibu belum bisa menerima Laura sepenuhnya. Ada banyak hal yang terjadi… dan Laura terlalu sering menahannya sendiri.”

Laura memejamkan mata.

Ia tahu,

rahasia itu akhirnya terbuka.

Arka menatap Laura.

Lalu perlahan menyerahkan ponselnya.

“Bicara sama Mama.”

Laura menerima ponsel itu dengan tangan gemetar.

“Halo, Ma…”

Suara Nisa langsung berubah lembut.

“Laura… kenapa kamu tidak cerita?”

Dan hanya dengan kalimat itu,

Laura langsung kehilangan seluruh pertahanannya.

Matanya basah.

Ia duduk perlahan di kursi dekat meja makan.

“Aku cuma tidak ingin Mama khawatir…”

“Justru Mama lebih khawatir kalau kamu diam.”

Air mata Laura jatuh.

Suaranya bergetar.

“Ma… aku capek…”

Di seberang sana,

Nisa langsung menahan tangis.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Laura menutup wajahnya sebentar.

Lalu untuk pertama kalinya,

ia berhenti berpura-pura kuat.

Ia menceritakan semuanya.

Tentang Rohaya yang sejak awal tidak pernah menyukainya.

Tentang sindiran setiap pagi.

Tentang semua pekerjaan rumah yang selalu dianggap salah.

Tentang acara keluarga besar,

saat masakannya sengaja disabotase.

Tentang Bella yang diam-diam menambahkan garam.

Tentang CCTV yang membuktikan semuanya.

Dan tentang bagaimana bahkan setelah semua bukti itu ada,

Rohaya tetap membela Bella.

Semua.

Tanpa ditutupi lagi.

Tanpa kalimat,

aku baik-baik saja.

Di ruang depan,

Arka berdiri diam.

Ia tidak menyela.

Karena kali ini,

Laura memang harus didengar.

Beberapa menit berlalu.

Suara Laura mulai serak.

Di seberang telepon,

Nisa benar-benar syok.

Ia tidak pernah membayangkan anak perempuannya hidup dalam tekanan sebesar itu.

Terdengar suara lain.

Papa Laura, Dion,

rupanya ikut mendengar semuanya.

“Apa?”

Suara beratnya terdengar penuh emosi.

“Laura diperlakukan seperti itu?”

Laura langsung menghapus air matanya.

“Pa…”

Dion mengambil telepon.

Nada suaranya rendah,

tapi justru itu yang terasa lebih menekan.

“Kenapa kamu diam selama ini?”

Laura menunduk.

“Aku tidak mau Papa marah…”

Dion menjawab tegas,

“Bagaimana mungkin Papa tidak marah kalau anak Papa menangis sendirian di rumah orang?”

Laura terdiam.

Dadanya semakin sesak.

Ia tahu,

papanya sangat protektif.

Dan mendengar semua ini,

tentu tidak akan mudah baginya.

Nisa kembali mengambil telepon.

Suaranya kini jauh lebih tegas.

“Kami akan datang.”

Laura langsung terkejut.

“Ma, jangan…”

“ Mama dan Papa akan datang ke sana.”

Laura panik.

“Ma, nanti malah jadi lebih rumit…”

“Laura.”

Suara Nisa tegas.

“Kamu anak kami. Kami tidak akan diam kalau kamu terluka.”

Air mata Laura jatuh lagi.

Ia tidak bisa membantah.

Karena di balik semua ketakutannya,

ada bagian dari dirinya yang sangat ingin dipeluk oleh orang tuanya saat ini.

Nisa melanjutkan lebih pelan,

“Kami bukan datang untuk membuat masalah. Kami datang karena kami orang tuamu.”

Laura akhirnya hanya bisa menjawab lirih,

“Iya, Ma…”

Telepon itu berakhir.

Dan setelah layar ponsel mati,

rumah terasa jauh lebih sunyi.

Laura menatap kosong ke depan.

Arka duduk di sampingnya.

“Mama dan Papa akan datang?”

Laura mengangguk pelan.

“Iya…”

Arka menggenggam tangannya.

“Tidak apa-apa. Mungkin memang sudah waktunya.”

Laura menatap suaminya.

Ia tahu,

kedatangan orang tuanya akan membawa gelombang baru.

Dan dengan Rohaya yang keras kepala…

pertemuan itu tidak akan mudah.

Saat itu,

Rohaya keluar dari kamar dan melihat wajah Laura yang sembab.

Tatapannya langsung curiga.

“Ada apa lagi pagi-pagi begini?”

Laura buru-buru menghapus air matanya.

“Tidak ada, Bu.”

Namun Bella yang baru turun dari tangga menangkap semuanya.

Ia melihat wajah Laura.

Melihat Arka yang tampak tegang.

Dan instingnya langsung bekerja.

Ada sesuatu yang besar sedang terjadi.

Bella tersenyum kecil.

Diam-diam,

ia sempat mendengar sebagian percakapan tadi.

Dan kini ia tahu—

orang tua Laura akan datang.

Ia menyesap tehnya perlahan.

“Oh…

jadi sekarang orang tua Laura ikut masuk ke permainan ini.”

Tatapannya berubah tajam.

Baginya,

semakin banyak orang yang masuk…

semakin besar kekacauan yang bisa ia ciptakan.

Dan Bella…

selalu menyukai kekacauan.

(Bersambung Episode 13)

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!