Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tak Terlihat
Pagi itu rumah terasa sunyi. Tidak ada suara Dito dan Rara yang biasanya berlarian di ruang tamu. Tidak ada tawa anak-anak yang menghidupkan suasana rumah. Yang terdengar hanya suara wajan dari dapur dan aroma bawang yang sedang ditumis. Sulis sudah bangun sejak subuh. Seperti biasa, ia menyiapkan pesanan makanan untuk para pelanggannya. Matanya masih sembab karena menangis semalaman, tetapi ia tetap bekerja. Bagaimanapun juga, hidup harus terus berjalan, meski hatinya terasa lelah dan sesak.
Sekitar pukul tujuh pagi, Irwan keluar dari kamar. Kepalanya terasa berat karena semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak setelah pertengkaran yang terjadi. Saat berjalan menuju ruang makan, dahinya langsung berkerut. Meja makan terlihat kosong. Tidak ada sarapan yang sudah tersaji seperti biasanya. Tidak ada kopi hangat yang menunggunya.
Hal sederhana itu entah mengapa langsung memancing emosinya. Padahal Sulis sedang sibuk di dapur menyelesaikan pesanan pelanggan yang harus segera dikirim. Namun Irwan tidak memikirkan hal itu. Yang ia rasakan hanyalah ketidaknyamanan yang bercampur dengan kemarahan yang selama ini terus menumpuk di dalam dirinya.
"Sulis!" teriaknya dari ruang makan.
Sulis yang sedang fokus bekerja menjawab dari dapur, "Iya?"
"Makananku mana?"
Sulis menarik napas pelan sebelum menjawab, "Aku lagi masak. Tunggu sebentar."
Jawaban itu sebenarnya biasa saja. Namun bagi Irwan yang emosinya sedang tidak stabil, kalimat tersebut terdengar seperti penolakan. Seolah dirinya tidak lagi dianggap penting.
Irwan berjalan menuju dapur dengan wajah kesal.
"Aku dari tadi nunggu."
"Aku lagi kerja, Mas," jawab Sulis sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa wadah makanan sudah tersusun rapi di atas meja. Pesanan pelanggan harus selesai tepat waktu.
"Kamu sekarang lebih peduli sama jualan daripada suami?"
Sulis menghentikan gerakannya lalu menoleh perlahan. Tatapannya tampak lelah. Sangat lelah.
"Jualan ini juga buat kebutuhan rumah."
Jawaban itu justru membuat suasana semakin panas.
Perdebatan kecil kembali terjadi. Awalnya hanya saling membalas ucapan. Namun emosi Irwan yang belum pulih dari malam sebelumnya kembali meledak. Ia merasa tidak dihargai dan diabaikan. Padahal sebagian besar perasaan itu berasal dari masalah yang ia ciptakan sendiri. Sementara Sulis sudah tidak memiliki tenaga untuk terus mengalah setelah semua yang terjadi.
Di atas meja dapur terdapat beberapa gelas yang belum sempat dibereskan. Dalam kemarahan sesaat, Irwan meraih salah satunya lalu melemparkannya ke arah dapur.
Benda itu melayang cepat.
Refleks, Sulis mengangkat tangannya untuk melindungi diri.
Terdengar suara benturan keras disusul suara pecahan yang berserakan di lantai.
Sulis langsung meringis kesakitan. Rasa nyeri menjalar dari tangannya. Pecahan kaca telah melukainya. Darah mulai mengalir dari luka tersebut dan menetes ke lantai keramik yang putih.
Beberapa detik suasana menjadi sunyi.
Bahkan Irwan tampak membeku.
Seolah baru menyadari apa yang telah terjadi.
Sulis memegangi tangannya yang terluka. Tubuhnya gemetar. Namun kali ini bukan karena takut. Melainkan karena hatinya semakin hancur.
Ia menatap darah yang mengalir dari tangannya, lalu memandang Irwan.
Pria yang dulu selalu melindunginya.
Pria yang dulu rela bekerja siang malam demi keluarga mereka.
Pria yang dulu menjadi tempatnya merasa aman.
Kini berdiri di depannya sebagai sumber luka yang terus bertambah.
Tanpa berkata apa pun, Sulis mengambil handuk kecil dan menekan luka di tangannya. Air mata perlahan jatuh membasahi luka kecil di pipinya akibat pertengkaran semalam . Namun ia tidak menangis keras. Tidak berteriak. Tidak memaki.
Diamnya justru terasa jauh lebih menyakitkan.
Karena diam itu lahir dari kelelahan yang sudah melewati batas.
Irwan membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun tidak ada kata yang keluar. Permintaan maaf terasa terlalu kecil dibanding semua yang sudah terjadi.
Sementara itu Sulis berjalan menuju wastafel untuk membersihkan darah di tangannya. Air bercampur darah mengalir perlahan ke saluran pembuangan.
Saat itulah sebuah kesadaran semakin menguat di dalam dirinya.
Luka di tangannya mungkin akan sembuh dalam beberapa hari.
Tetapi luka yang terus ditinggalkan Irwan di dalam hatinya sudah terlalu banyak untuk dihitung.
Dan semakin hari, semakin sulit baginya membayangkan masa depan bersama pria yang dulu menjadi alasan terbesar kebahagiaannya.
Sulis sempat mencoba menghentikan pendarahan sendiri. Ia membungkus tangannya dengan handuk bersih dan menekannya kuat-kuat. Namun darah masih terus merembes keluar. Rasa nyeri mulai menjalar hingga ke lengan dan kepalanya terasa sedikit pusing.
Sementara itu, Irwan sudah berangkat bekerja sejak pagi tanpa banyak bicara. Tanpa menawarkan untuk mengantar ke dokter. Tanpa memastikan apakah kondisi Sulis baik-baik saja.
Sikap itu membuat hati Sulis semakin kosong.
Akhirnya ia memutuskan pergi sendiri ke rumah sakit. Dengan tangan yang masih dibalut seadanya, ia memesan ojek dan berangkat.
Sepanjang perjalanan, pikirannya melayang ke mana-mana.
Tentang anak-anak.
Tentang rumah tangganya.
Tentang hidup yang terasa semakin berat.
Namun ia berusaha menahannya. Ia tidak ingin menangis lagi. Setidaknya tidak di depan orang lain.
Sesampainya di rumah sakit, Sulis langsung menuju ruang penanganan luka. Seorang perawat pria menghampirinya. Usianya sekitar awal tiga puluhan dengan wajah yang tenang dan ramah.
Namanya tertulis jelas di papan identitas yang menempel di seragamnya.
Arman.
"Mari, Bu. Saya lihat lukanya dulu."
Sulis mengangguk pelan.
Ketika balutan sementara dibuka, Arman langsung mengernyit. Lukanya cukup dalam.
"Ini harus dijahit."
Sulis hanya mengangguk. Seolah sudah terlalu lelah untuk merasa terkejut.
Beberapa saat kemudian proses penanganan dilakukan. Arman bekerja dengan hati-hati. Ia membersihkan luka terlebih dahulu sebelum dokter melakukan penjahitan.
Empat jahitan diperlukan untuk menutup luka tersebut.
Selama proses itu berlangsung, Arman beberapa kali memperhatikan wajah Sulis. Ada sesuatu yang mengganggunya.
Bukan hanya luka di tangan.
Melainkan memar samar dan luka kecil di pipi.
Sudut bibir yang tampak pernah terluka.
Dan sorot mata yang terlihat sangat lelah.
Sebagai tenaga kesehatan, ia pernah melihat tanda-tanda seperti itu sebelumnya.
Setelah penanganan selesai, Arman memberikan beberapa obat dan salep.
"Salep ini untuk membantu penyembuhan luka yang lain juga."
Sulis menatapnya bingung.
"Luka yang mana?"
Arman tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjuk pelan ke arah pipi dan bibir Sulis.
Sulis langsung menunduk.
Refleks.
Seolah bagian itu adalah sesuatu yang ingin ia sembunyikan.
"Maaf kalau saya salah," kata Arman dengan hati-hati. "Tapi sepertinya Ibu sedang melalui masa yang berat."
Kalimat sederhana itu membuat pertahanan Sulis yang selama ini kokoh mulai retak.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang bertanya tanpa menghakimi. Tanpa menyalahkan. Tanpa menuntut apa pun.
Sulis berusaha tersenyum.
Namun bibirnya justru bergetar.
"Aku nggak apa-apa."
Kalimat itu terdengar begitu lemah. Bahkan dirinya sendiri tidak mempercayainya.
Arman tidak memaksa. Ia hanya duduk di kursi sebelahnya. Memberikan ruang dan waktu.
Dan terkadang, itulah yang paling dibutuhkan seseorang yang sedang terluka.
Entah karena terlalu lama memendam semuanya, terlalu lelah berpura-pura kuat, atau karena untuk pertama kalinya ada orang yang benar-benar memperhatikan keadaannya, air mata Sulis akhirnya jatuh.
Awalnya hanya setetes.
Lalu semakin banyak.
Hingga ia tidak mampu menahannya lagi.
"Aku capek..."
Suara Sulis pecah.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Diikuti tangisan yang selama ini tertahan bertahun-tahun.
Tentang perselingkuhan.
Tentang kebohongan.
Tentang ketakutan anak-anak.
Tentang rasa kecewa yang terus menumpuk.
Tidak semua ia ceritakan secara rinci. Namun cukup untuk menggambarkan betapa berat beban yang selama ini ia pikul sendirian.
Arman mendengarkan tanpa memotong pembicaraan. Tanpa memberikan nasihat yang tidak diminta. Ia hanya mengambil segelas air putih dan meletakkannya di depan Sulis.
"Minum dulu pelan-pelan."
Sulis menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Setelah beberapa teguk, napasnya mulai sedikit lebih tenang.
"Terima kasih sudah mau cerita."
Arman tersenyum tipis.
"Kadang seseorang cuma butuh didengar."
Kalimat itu kembali membuat mata Sulis berkaca-kaca.
Karena selama ini ia merasa sendirian.
Benar-benar sendirian.
Bahkan ketika rumahnya penuh oleh orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya.
Untuk beberapa menit berikutnya mereka hanya duduk dalam keheningan. Tangisan Sulis perlahan mereda. Meski masalah yang ia hadapi belum selesai, setidaknya untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sedikit rasa lega di dadanya.
Beban itu memang belum hilang.
Namun tidak lagi terasa sepenuhnya ia tanggung seorang diri.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .