Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
POV ARUNA
Tidak aku sangka aku bisa kerja di perusahaan besar di negara ini meskipun aku harus mengorbankan keluargaku dan meninggalkan Kota kelahiranku, setidaknya aku bisa menghasilkan banyak uang di sini.
“Sayang...” aku memanggil kekasihku bersemangat sambil melambaikan tangan padanya yang sedang berdiri menungguku di stasiun.
“Aku kangen banget sama kamu,” ucapku memeluknya erat.
“Iya aku juga kangen,” ucapnya kemudian mencium pipiku.
Aku merasa malu karena memang di daerahku, aku tidak seberani ini, memeluk lawan jenis di depan umum. Tapi karena ini di kota, ini hal yang wajarkan? Aku malah tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Aku meminta Raka—kekasihku untuk mengantarku ke rumah susun yang sudah disediakan oleh perusahaanku bekerja. Aku baru menginjak kota ini, karena aku tidak begitu tahu daerahnya makanya aku meminta Raka untuk menjemputku dan mengantarku yang kebetulan berada di kota yang sama.
Setibanya di rusun, Raka memelukku dari belakang.
“Aku sangat merindukanmu...” ucap Raka kemudian menciumi ceruk leherku.
Aku menikmati ciuman yang terasa geli itu dengan tangan yang mulai menggerayangi dadaku, jantungku berdebar kencang karena aku belum pernah merasakan sensasi ini sebelumnya.
“Sayang...” panggilku yang mencoba untuk menghentikannya.
Dia memutar tubuhku cepat hingga berhadapan dengannya, tingginya yang seratus tujuh puluh itu menatapku kemudian menciumku kembali. Aku tidak tahu kalau dia bergairah seperti itu. Pipiku mulai memanas.
Kami terus berciuman sambil dia menggiringku sampai kasur. Kakiku mengenai sisi ranjang yang membuatku kehilangan keseimbangan membuatku terjatuh.
“Sayang tunggu...” ucapku yang dipotong olehnya karena dia mengulum bibirku lagi lebih dalam.
Tangannya mulai masuk ke dalam bajuku dan meremas dengan kasar.
“Ah...” tanpa sadar aku mendesah begitu saja.
Tangan dia kemudian turun, saat masuk ke dalam celanaku dia berhenti menciumku.
“Kamu lagi datang bulan?” tanya Raka yang setengah terkejut itu sambil menatapku yang masih berbaring.
“Iya, tadi kan aku mau bilang,” jawabku.
“Ah, shit!” umpatnya.
Tanpa sepatah kata pun lagi dia pergi meninggalkanku sendirian.
“Paling juga nanti dia bakalan hubungi aku lagi,” gumamku.
Tapi apa yang barusan aku lakukan? Kalau aku tidak datang bulan apakah hal itu akan terjadi hari ini? Pikiranku kacau sekarang. Aku tidak ingin berhubungan sekarang.
Pada akhirnya aku membereskan kamar tersebut sendiri setelah bermonolog.
...****************...
Keesokan harinya. Aku bersiap untuk bekerja di perusahaan. Gugup karena aku belum ada pengalaman dibidang ini terlebih aku juga baru kerja di perusahaan besar ini dan aku hanya memiliki pengalaman kerja sebagai kasir.
Kali ini aku berangkat sendiri tanpa di antar oleh Raka, karena tempat kerjanya dekat dengan kontrakan.
Aku gugup sekali, jemari tangan aku dingin tapi aku harus tetap tersenyum profesional. Aku melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul delapan kurang tiga menit.
Sepertinya aku bakalan telat. Enggak boleh telat di hari pertama. Beberapa saat kemudian aku memasuki gedung itu melewati pintu putar. Aku langsung berjalan menghampiri resepsionis.
“Permisi, saya Aruna Prameswari. Hari ini saya mulai bekerja di bagian admin reimbursement,” ucapku sambil berusaha tersenyum supaya tidak terlihat gugup.
Resepsionis itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar monitor selama beberapa detik, jarinya masih menari cepat di atas keyboard sebelum akhirnya menoleh padaku dengan senyum formal khas korporat.
“Aruna Prameswari... baik, sebentar ya.” Ia mengecek daftar di tabletnya. “Silakan isi buku tamu di sebelah sini dulu, lalu pakai id-card nomor 12 ini. Divisi Keuangan ada di lantai lima, kamu bisa langsung naik lift di sebelah kanan.”
Aku menelan ludah, memandangi kartu akses plastik yang disodorkannya. “Terima kasih, Mbak,” bisikku pelan.
Tanganku yang sedikit basah oleh keringat dingin menerima kartu itu, lalu melangkah menuju deretan lift yang berjejer. Saat pintu lift berbahan stainless steel yang mengilat itu terbuka, pantulan diriku yang memakai kemeja putih polos tampak sangat mencolok di antara orang-orang berblazer mahal yang sibuk dengan ponsel mereka.
Selamat datang di dunia kerja yang sesungguhnya, Aruna, batinku, berusaha menyemangati diri sendiri sambil meremas tali tas erat-erat.
Ding!
Suara denting lift memecah lamunan ketakutanku begitu lantai lima tercapai. Pintu stainless steel di depanku bergeser terbuka, dan hal pertama yang tertangkap oleh mataku adalah sepasang sepatu pantofel kulit hitam yang mengilat sempurna.
Aku mendongak, dan napas otomatis tertahan di tenggorokan.
Seorang pria bertubuh jangkung dan tegap sedang berdiri di sana, bersiap untuk masuk ke dalam lift. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang melekat pas di tubuhnya yang atletis. Wajahnya tampan, tipe ketampanan yang tegas dengan rahang kokoh dan sepasang mata tajam yang sanggup membuat orang langsung menunduk ngeri.
Aku yang masih mematung di dalam lift sukses membuat pria itu mengernyitkan alis. Matanya melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya, lalu menatapku dengan tatapan tidak sabar.
“Kamu telat lima menit,” ucapnya dengan suara bariton yang dingin dan berwibawa.
“Hah? Eh... maaf, Pak?” cicitku bingung, refleks melangkah mundur memberi jalan. Namun, pria itu justru masuk ke dalam lift dan langsung berbalik menghadap pintu, membuatku terpaksa berdiri di sampingnya.
“Kenapa malah melamun? Cepat pegang ini,” perintahnya tanpa menoleh, sambil menyodorkan sebuah tablet komputer dan sebuah map kulit tebal ke arah dadaku.
Tanganku bergerak cepat mendekap map dan tablet itu sebelum sempat jatuh.
Pria itu menekan tombol lantai tujuh. “Jadwal rapat dengan investor dari Singapura dimajukan jadi jam sepuluh. Kamu sudah siapkan rangkuman laporan keuangan kuartal dua yang saya minta semalam, kan? Siapa namamu tadi? Sekretaris lama saya bilang namanya... Ar...”
“Nama saya Aruna, Pak,” jawabku terbata-bata. Jantungku berdegup kencang, separuh karena pesona pria di sampingku, separuh lagi karena otakku sedang loading keras.
Tunggu. Laporan keuangan semalam? Aku, kan, baru menginjakkan kaki di kantor ini lima menit yang lalu!
“Ah, ya, Aruna. Bagus. Setelah dari lift, langsung ikuti saya ke ruang rapat utama. Jangan sampai ada dokumen yang tertinggal.”
Pintu lift kembali berdenting terbuka di lantai teratas. Pria itu melangkah keluar dengan langkah lebar dan angkuh, meninggalkan aroma parfum maskulin yang mahal di udara.
Sementara itu, aku masih berdiri membatu di dalam lift. Tanganku mendekap erat tablet komputer dan map kulit tebal itu ke dada, seolah benda-benda itu adalah pelampung darurat di tengah badai. Otakku mendadak mogok kerja.
Tunggu... dia tadi bilang apa? Majuin jadwal? Buka tablet maksudnya?
Jangankan membuka tablet untuk membenarkan jadwal rapat, untuk menggerakkan jari jemariku saja rasanya kaku sekali. Aku bahkan tidak tahu kata sandi tablet ini! Selama menjadi kasir, layar yang kusentuh hanyalah mesin kasir POS yang menunya itu-itu saja, bukan tablet canggih milik CEO perusahaan multinasional.
Pria itu mendadak menghentikan langkahnya di koridor yang sepi. Ia berbalik, mendapati aku yang masih mematung di ambang pintu lift yang hampir tertutup kembali. Alisnya menukik tajam, menatapku dengan tatapan mengintimidasi.
“Aruna? Kenapa kamu masih di sana? Dan kenapa tabletnya belum kamu buka?” tanyanya, suaranya terdengar mulai tidak sabar. “Saya minta kamu cek ulang jadwalnya sekarang. Kenapa malah melamun?”
“Eh... i-itu, Pak...” Tenggorokanku mendadak sekering padang pasir. Suaraku mencicit pelan. Aku melangkah keluar lift dengan ragu.