NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IRIK

Meysa hendak turun dari brankar, lalu dengan cepat Rangga membantunya. Tangannya meraih lengan Meysa dengan hati-hati.

Meysa berjalan dengan sangat pelan, rasa nyeri diperutnya masih sedikit terasa.

Rangga mengikutinya dari belakang. Jarak mereka sangat dekat, karena Rangga terus maju sedikit demi sedikit.

Tiba-tiba Meysa berhenti.

Dadanya menabrak punggung Meysa yang mungil. Meysa tersentak, lalu menoleh dengan mata membelalak.

"Kamu mau ngapain?" tanya Meysa.

"Ikut kamu," jawab Rangga dengan polos.

Ia mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Berkali-kali. Seolah itu gerakan paling wajar di dunia.

Meysa menghela napas panjang. Kepalang heran.

"Aku mau ke kamar mandi." ucal Meysa sambil memutarkan bola matanya.

"Iya, a-aku mau ikut, bolehkan?" ucap Rangga dengan nada memohon, seperti anak kecil yang takut ditinggal ibunya di tengah keramaian.

Meysa menatapnya. Matanya membelalak sempurna, seolah baru saja mendengar ucapan paling absurd sepanjang hidupnya.

"Mas, kamu—" Meysa menempelkan tangannya ke dahi Rangga."Kamu sakit? Sakit apa? Aku panggilkan dokter ya? Tapi, tunggu! Kamu gak demam kok"

Rangga menggeleng. Senyum lugu itu masih bertengger di wajahnya, membuat siapa pun sulit menebak apa yang sebenarnya ada di pikirannya.

"Tidak. Aku sehat Sayang, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja." ucapnya sambil menurunkan tangan Meysa.

"Hah?" wajahnya merengut, kedua pipinya mengembang seperti bayi yang baru bangun tidur. Tapi di balik semua itu, dari sudut matanya yang paling dalam, tersembunyi kilau aneh yang tidak bisa ia sembunyikan.

Rangga tidak bisa menahan diri.

Ia tertawa gemas, melihat tingkah Meysa.

"Baiklah, Tuan Putri," kata Rangga. Sembari menekuk tubuhnya sedikit, tangannya meraih gagang pintu kamar mandi, dan membukanya lebar-lebar bak pelayan di istana. "Silakan masuk."

Meysa menatapnya dengan ekspresi geli.

"Dasar manusia aneh," umpatnya

Lalu ia melangkah masuk.

Rangga masih berdiri di depan pintu itu. Senyumnya belum pudar. Matanya menatap ukiran kayu pada daun pintu seolah itu pemandangan terindah di dunia.

Di balik pintu, terdengar suara air mengalir.

Tapi di antara gemericik itu, Rangga yakin mendengar sesuatu yang lain.

Suara istrinya tertawa pelan, dan tidak terdengar, seperti rahasia kecil yang hanya ia sembunyikan dari dirinya sendiri.

"Ah", pikir Rangga sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. "Dunia Gue emang lagi gak baik. Tapi saat denger Meysa tertawa seperti itu—"Ia memejamkan matanya."Gue rasa semuanya akan baik-baik saja."

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.

Meysa keluar dengan wajah yang kembali datar, namun pipinya sekilas terlihat masih merona. Ia tidak menatap Rangga saat melangkah kembali menuju tempat tidur.

Meysa berjalan perlahan menuju tempat tidur. Setiap langkahnya terasa ringan, meskipun perutnya masih menyisakan nyeri samar seperti bekas luka yang sedang mengering.

Ia lalu merapikan meja samping tempat tidurnya.

Buah-buahan yang berserakan ia susun rapi kembali ke dalam keranjang plastik. Gelas kosong ia geser ke pinggir. Lalu matanya tertuju pada amplop.

Amplop krem milik Rangga masih tergeletak di sudut meja.

Sementara amplop putih, tidak terlihat, Meysa mengernyit. Dahi mulusnya berkerut membentuk alur kecil yang hanya muncul saat ia benar-benar bingung. Ia memeriksa kembali barang-barang yang tertera disana, ia membuka lacinya satu persatu. Tetapi tidak ada...

"Kemana ya, surat itu?" gumam Meysa, sambil mengingat-ngingat kembali suratnya.

Rangga yang baru saja menghubungi Pak Soerya untuk menjemputnya pulang, matanya sedari tadi diam-diam memperhatikan istrinya.

"Kamu cari apa?" tanya Rangga.

Suaranya datar, namun matanya tajam. Telah cukup lama ia mengenal Meysa untuk tahu bahwa perempuan ini tidak pernah gelisah tanpa alasan.

Meysa menoleh. Sekejap, tatapannya panik. Lalu cepat-cepat ia menyembunyikannya di balik senyum yang dibuat-buat.

"Eh, enggak. Enggak cari apa-apa, Mas."

"Tapi kamu bolak-balik ngaturin meja itu. Padahal tadi sudah rapi."

Meysa terdiam. Otaknya bekerja cepat, menyusun skenario, memilih kata-kata yang paling tidak mencurigakan.

"Anu... itu..." Ia tertahan. Matanya melirik ke mana-mana, mencari benda yang bisa ia jadikan alat peraga. Lalu pandangannya jatuh pada sebiji jeruk sunkist berwarna oranye terang yang baru saja ia letakkan di piring.

Tanpa berpikir panjang, dengan gerakan yang ia harap terlihat natural, Meysa mengambil jeruk itu lalu dengan senga menjatuhkannya.

Jeruk itu menggelinding masuk ke kolong brankar, berhenti di sudut paling gelap dekat kaki tempat tidur.

"Eh, jatuh!" seru Meysa, perlahan ia membungkuk,dan memasukkan setengah tubuhnya ke kolong brankar. Walau rasa sakit diperutnya terasa."Tadi buah jeruknya jatuh. Makanya aku cari-cari."

Tangannya meraba-raba lantai, tapi matanya tidak mencari jeruk. Matanya menyusuri setiap sudut kolong, berharap menemukan amplop putih itu tergeletak di suatu tempat.

Rangga bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekat, lalu berjongkok di samping Meysa. Wajahnya hanya beberapa senti dari pinggul istrinya yang masih membungkuk.

"Cha..."

"Iya, Mas?" suara Meysa terdengar tertahan, tenggorokannya terasa kering.

"Bukannya jeruk itu tadi kamu taruh di atas piring?!"

"Iya."

Rangga menarik Meysa keluar dari kolong dengan hati-hati, kedua tangannya mencengkeram lengan istrinya, mengangkatnya perlahan.

"Kamu kan belum sembuh total, nanti perutnya sakit lagi!" omelnya, dengan penuh kekhawatiran.

Meysa tersengal. Debu halus menempel di ujung rambut dan pangkal hidungnya. Ia mendengkus kesal, bukan karena ditarik paksa, tapi karena misi rahasianya gagal total.

"I-iya, aku cuma—"

Pintu ruangan terbuka.

Lalu muncullah sosok yang membuat Meysa dan Rangga sama-sama membeku.

Pak Soerya, berdiri di ambang pintu. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah keranjang anyaman bambu bertutup, dihiasi kain batik kecil di atasnya pasti berisi sesuatu yang hangat dan harum, seperti yang selalu ia bawa setiap kali menjenguk.

Pak Soerya hanya berdiri di sana, matanya terpaku pada pemandangan di hadapannya.

Rangga sedang berlutut di lantai. Wajahnya hanya beberapa iinci dari wajah Meysa, karena sedari tadi ia masih memegangi kedua lengan istrinya usai menariknya keluar dari kolong. Meysa setengah duduk, setengah bersandar di dada Rangga, dengan tangan Rangga yang masih menggenggam erat jemarinya.

Mereka saling menatap.

"Alhamdulillah," ucap Pak Soerya, suaranya dalam dan hangat, seperti suara orang yang baru saja melihat hujan setelah musim kemarau panjang. "Anak sama mantu Ayah sudah baikan rupanya."

Sindiran itu tidak salah dengar.

Meysa dan Rangga sama-sama tersentak.

Mereka menoleh ke arah pintu, lalu saling memandang, lalu menyadari bahwa tangan mereka masih saling bertaut. Dalam sekejap, seperti terkena sengatan listrik, mereka melepaskan genggaman itu bersamaan.

"AYAH!" seru mereka berbarengan.

1
Humaira
APASIH emili dasar gak tau malu udah di buang juga sama si Rangga masih aja ngutilin 😏
Humaira
Hallo tor semangat jangan berhenti di tengah jalan
aku suka cerita nya tetap lanjutin ya 🥲
Syifa
lanjut kaka makin seru ceritanya
Alia Chans
hadir, cerita nya seru, semangat thor😉
Humaira
🤣🤣🤣🤣
ahs@
ternyata Rangga peminum Miras.. wkwkwk
ahs@
Emily merasa di beri celah dengan kedatangan Aditya untuk menjauhkan Rangga dari meysa...
MochiFlora: Huffttt, jadinya pen ngutuk jin dasim yang satu itu 😌
total 1 replies
ahs@
siapakah dia...🤣🤣
Humaira
Siapa lagi tuh Aditia 🤔
Humaira
Gawat Rangga mulai posesif
haha puas banget liat si Mak Lampir gak diterima
Emi Sudiarni
lanjut kak🤣🤣🤣
Emi Sudiarni
as nenek lampir
Emi Sudiarni
smangat buat rangga meysa untuk memulai hubungan dgn baik, wlaupun kedepan nya bnyak ujian. terutama dari mak Lampir emily
ahs@
wow,ternyata reader kena prangk C Rangga....wow,luar biasa actingmu Rangga...memuakan😡
Humaira
Lanjut
Emi Sudiarni
lanjut kak. seru
Emi Sudiarni
lah sdah thu meysa istri rangga ngapain renal dkat meyaa
partini
se Dam STUPID Rangga,aihh males Banggt aku nabung bab dulu yah Thor nanti balik lagi soalnya ada yg kaya gini ceritanya yg sama sudah mau end'
Humaira
Apa apaan ini ?
sumpah bab paling benci di sini 😭
kenapa harus begitu tor ceritanya gak sanggup aku liat Meysa kalo dia tau kebenaran tentang si Rangga dan Mak Lampir itu 😭
partini
ini siapa lagi ganggu ,renal atau di Kunti ganjen itu
jangan mau lah ga masa masih OON Mulu kapan smart nya sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!