NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:795
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 5 : INSIDEN DI PARKIRAN RUMAH SAKIT

Pagi hari pasca-kejadian jahanam di rumah keluarga Wijaya meninggalkan bekas yang mendalam pada tubuh Kalea Azzahra Putri Wijaya. Di dalam kamarnya yang sunyi, ia terduduk lemas di tepi ranjang. Kepalanya terasa sangat pening berdenyut-denyut. Luka robek di dahinya semalam sudah mulai mengering, namun rasa perihnya masih sangat menyengat. Ditambah lagi, lengan kanan dan kirinya tampak memar kebiruan akibat sabetan ikat pinggang kulit milik ayahnya.

Awalnya, Kalea bersikeras untuk tetap masuk kerja ke Hotel Grand Luminance. Sifatnya yang keras kepala dan profesional membuat dirinya menolak untuk terlihat lemah di hadapan staf hotel yang ia pimpin. Namun, Bi Minah yang masuk ke kamarnya sambil membawa nampan berisi bubur hangat langsung menggelengkan kepala dengan tegas.

"Tidak, Non Kalea. Hari ini Non tidak boleh pergi ke hotel. Lihat dahi Non, plester luka semalam sudah rembes darah lagi. Bagaimana kalau lukanya infeksi? Non harus ke rumah sakit untuk menjahit luka itu dan memeriksa kepala Non yang terbentur dinding," paksa Bi Minah dengan raut wajah yang sangat khawatir.

Kalea mendengus pelan, mencoba menolak. "Kalea tidak apa-apa, Bibi sayang. Cuma luka kecil begini tidak akan membuat Kalea mati. Di hotel ada rapat penting dengan jajaran direksi pemilik saham jam sepuluh nanti. Kalea tidak bisa tinggal diam di rumah neraka ini."

"Non, dengarkan Bibi sekali saja!" Bi Minah memegang kedua tangan Kalea dengan lembut namun penuh penekanan. "Kalau Non pingsan di hotel, itu justru akan membuat karyawan Non panik. Lagipula, jika Non tetap di sini, Nyonya Sarah atau Non Shinta pasti akan kembali mengusik Non. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, setelah itu Non bisa istirahat di tempat lain. Bibi yang akan menemani."

Mendengar alasan masuk akal dari Bi Minah—terutama tentang menghindari Shinta dan ibunya—Kalea akhirnya menghela napas panjang dan mengalah. "Ya sudah, Bi. Kalea ikut kata Bibi. Tapi Kalea harus telepon Pak Surya dulu untuk minta izin tidak masuk hari ini."

Kalea meraih ponselnya, menghubungi atasan langsungnya di hotel, dan meminta izin sakit untuk pertama kalinya dalam sejarah kariernya. Setelah izin disetujui, Kalea bergegas bersiap-siap. Meskipun hatinya hancur dan fisiknya terluka, Kalea menolak untuk tampil berantakan. Ia adalah seorang General Manager, harga dirinya adalah segalanya.

Kalea memilih mengenakan setelan blazer kasual berwarna biru pastel yang senada dengan warna bola mata indahnya. Untuk menutupi rambut panjangnya, ia mengenakan jilbab segiempat berbahan voal premium yang dipasang dengan model ala anak muda zaman sekarang—lilitan rapi di leher yang menyisakan sedikit juntaian anggun di dada, sangat modis dan elegan. Wajahnya yang pucat dipoles dengan bedak tipis dan lipstik merah muda untuk menyamarkan bibirnya yang sedikit sobek di sudut kiri. Ia terlihat sangat cantik, seperti seorang profesional muda yang berwibawa namun tetap anggun dalam balutan hijabnya. Sebagai pelengkap, ia memakai high heels hitam bermodel kitten heels dengan tinggi hanya 3 sentimeter, mengingat kepalanya masih pening jika harus memakai hak yang terlalu tinggi.

Tepat pukul sembilan pagi, Kalea dan Bi Minah tiba di Rumah Sakit Pusat Harapan Medika menggunakan taksi online. Begitu taksi berhenti di area lobi samping yang berdekatan dengan parkiran VIP, Kalea membuka tas selempang kecilnya untuk mengambil dompet.

"Ini uangnya, Pak. Kembaliannya ambil saja," ucap Kalea dengan ramah kepada sopir taksi setelah membayar ongkos perjalanan mereka.

"Terima kasih, Nona. Semoga lekas sembuh," balas sopir taksi tersebut sambil melihat plester di dahi Kalea.

Kalea turun dari taksi, disusul oleh Bi Minah. Begitu kaki Kalea menginjak aspal parkiran, rasa pening mendadak kembali menyerang kepalanya. Tubuhnya sempat limbung ke samping, membuat Bi Minah dengan sigap langsung memapah lengan Kalea.

"Non, pelan-pelan. Pegangan sama Bibi," bisik Bi Minah sambil menuntun langkah Kalea melewati koridor parkiran mobil yang tampak cukup ramai.

Namun, di tengah suasana parkiran itu, bahaya lain rupanya sedang mengintai. Seorang pria bermotif jaket hitam dan bertopi rendah sudah mengamati tas selempang mewah yang melingkar di bahu Kalea sejak ia turun dari taksi. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tiba-tiba, pria asing itu berlari mendekat dan langsung merenggut tali tas selempang Kalea dengan paksa.

SREEEKKK!

"Eh! Copet! Tolong! Tas saya!" jerit Kalea terkejut saat tubuhnya tertarik ke belakang. Tali tasnya tidak putus, membuat terjadi aksi saling tarik-menarik antara Kalea dan pria tersebut.

Pria itu menjadi kesal karena korbannya memberikan perlawanan yang kuat. Dengan kasar, ia mendorong dada Kalea hingga pegangan tangan Bi Minah terlepas.

"Aduh!" Kalea tersungkur ke atas aspal parkiran, sementara pria itu berhasil memutus tali tas dan langsung berlari kencang membawa kabur tas selempang milik Kalea.

"TOLONG!!! ADA COPET!!! TOLONGGG!!!" Bi Minah berteriak histeris dengan suara melengking, mencoba menarik perhatian orang-orang di sekitar parkiran.

Melihat tasnya yang berisi dokumen penting hotel dan ponselnya dibawa kabur, darah bar-bar di dalam diri Kalea langsung mendidih seketika. Rasa pening di kepalanya mendadak hilang digantikan oleh amarah yang meluap-luap. Ia menolak untuk menjadi korban yang hanya bisa menangis pasrah.

Kalea langsung bangkit berdiri dengan cepat. Sambil bertelanjang kaki, ia melepaskan sepatu high heels sebelah kanan dari kakinya. Dengan pandangan mata biru yang menatap tajam ke arah punggung copet yang berjarak sekitar sepuluh meter darinya, Kalea menarik tangannya ke belakang lalu melempar sepatu itu dengan sekuat tenaga.

WUSS!

Sayangnya, lemparan pertama itu meleset tipis di samping telinga sang copet. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak, berbalik ke arah Kalea, lalu tertawa mengejek dengan sangat keras. "Hahaha! Tidak kena, cewek cengeng!" ejek copet itu sambil menjulurkan lidahnya ke arah Kalea dengan gaya yang sangat menyebalkan.

"Kurang ajar!" desis Kalea murka.

Tanpa berpikir panjang lagi, Kalea langsung melepas sepatu high heels sebelah kiri yang masih tersisa di kakinya. Ia membungkuk sedikit, mengambil ancang-ancang yang lebih mantap, lalu melemparkan sepatu kiri itu dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.

Namun, tepat di saat sepatu itu melayang di udara, sang copet mendadak merunduk untuk menghindari lemparan. Sepatu hitam berhak 3 sentimeter itu pun terbang melewati kepala copet dan terus melaju kencang ke arah deretan mobil mewah yang terparkir di area VIP.

Di saat yang bersamaan, di dalam sebuah mobil Mercedes-Benz hitam yang baru saja terparkir rapi, Raditya Evan Baskara sedang duduk di balik kemudi. Radit sebenarnya sudah berada di dalam mobilnya sejak lima menit yang lalu. Dari balik kaca mobilnya yang gelap, mata elangnya sudah mengamati seluruh insiden perebutan tas itu sejak awal dengan pandangan bosan. Ia bahkan sempat mendengus sinis melihat kegigihan wanita berhijab yang mencoba melawan copet tersebut.

Namun, sedetik kemudian, mata Radit membelalak sempurna saat melihat sebuah objek hitam terbang lurus menuju ke arah kaca depan mobil kesayangannya.

PRRAAAKKK!!!

Suara hantaman keras menggema di area parkir VIP. Kaca depan mobil Mercedes-Benz milik Raditya retak seribu dan menyisakan lubang hancur di bagian tengah akibat hantaman ujung high heels tajam milik Kalea. Sepatu itu kini tersangkut dengan mengenaskan di sela-sela pecahan kaca mobil mewah tersebut.

Kalea yang melihat kejadian itu langsung menghentikan langkah kakinya. Matanya yang biru membulat sempurna karena sangat terkejut. Mulutnya terbuka membentuk huruf O kecil, dan ia refleks menelan salivanya dengan susah payah saat menyadari kerusakan parah yang baru saja ia perbuat pada mobil yang harganya pasti mencapai miliaran rupiah itu. Sang copet sendiri sudah berhasil melarikan diri ke luar gerbang parkiran memanfaatkan kelengahan Kalea.

Dari dalam mobil, Raditya menatap lubang kaca depannya dengan napas yang memburu menahan amarah. Ia memalingkan pandangannya tajam menembus sela-sela retakan kaca, menatap lurus ke arah wanita berhijab pastel yang kini sedang berdiri mematung sambil memegangi kedua tangan di depan dada.

Kalea, meskipun panik, berusaha menguatkan hatinya. Sifat tegasnya membuat ia menolak untuk kabur dari tanggung jawab. Dengan langkah ragu dan kaki telanjang, ia berjalan mendekati sisi pintu kemudi mobil tersebut untuk meminta maaf.

"A-Aduh, Pak... Maaf, saya benar-benar tidak sengaja..." ucap Kalea dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mengetuk kaca jendela mobil.

Raditya tidak menjawab. Pria itu perlahan membuka pintu mobilnya, lalu melangkah turun dengan gerakan yang sangat lambat namun memancarkan aura intimidasi yang sangat kuat. Begitu tubuhnya keluar sepenuhnya dari mobil, Kalea refleks melangkah mundur satu langkah karena merasa terintimidasi oleh postur tubuh pria di hadapannya.

Raditya berdiri tegak dengan tinggi badan menjulang 185 sentimeter, mengenakan jas dokter putih yang rapi di atas kemeja birunya. Sementara Kalea, dengan tinggi badan hanya 155 sentimeter dan kini sedang telanjang kaki, terlihat sangat mungil di depan sang Direktur Utama. Kalea harus mendongak tinggi-tinggi untuk bisa menatap wajah pria yang kini sedang memandangnya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi tersebut.

Kedua lesung pipi Raditya tenggelam sepenuhnya berganti dengan guratan amarah yang kaku. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Kalea dari atas sampai bawah dengan pandangan meremehkan. Suasana di antara mereka mendadak menjadi sangat sunyi dan mencekam.

Kalea kembali menelan salivanya dengan gugup melihat kebunguan pria itu. Karena merasa kesal terus-menerus diintimidasi dengan tatapan mata, Kalea yang memiliki sifat agak bar-bar mendadak melakukan tindakan yang sangat nekat demi menyadarkan pria di depannya. Kalea mengangkat kaki kanannya, menjinjit setinggi mungkin agar tubuhnya bisa sedikit menggapai wajah Raditya, lalu tangan kanannya terangkat mendaratkan sebuah tamparan yang sangat pelan—nyaris seperti sebuah tepukan gemas—di pipi kanan Raditya.

Plak!

Raditya tersentak, matanya melebar sempurna karena terkejut. Sepanjang hidupnya, tidak ada satu pun orang yang berani menyentuh wajahnya dengan kasar, apalagi menamparnya di area rumah sakit miliknya sendiri. Kesadaran Raditya langsung kembali pulih sepenuhnya.

"Hei! Kamu berani sekali menampar saya?!" bentak Raditya dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat beberapa perawat yang lewat di kejauhan sempat menengok kaget.

Kalea langsung menurunkan kembali tumitnya ke aspal, lalu tersenyum tanpa dosa dengan wajah yang sangat polos seolah tidak baru saja melakukan kesalahan besar. "Habisnya dari tadi Bapak cuma diam saja seperti patung pameran! Saya kan sudah minta maaf dari tadi, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja melempar sepatu saya ke kaca mobil Bapak. Saya tadi sedang mengejar copet yang mengambil tas saya!"

"Saya tidak peduli kamu sedang mengejar copet, mengejar hantu, atau mengejar alien sekalipun!" ketus Raditya, suaranya terdengar sangat sarkastik dan tajam. "Yang saya tahu, kaca mobil Mercedes-Benz saya hancur karena sepatu murahanmu itu! Kamu tahu berapa harga kaca depan mobil ini, hah?! Gajimu selama satu tahun bekerja mungkin tidak akan cukup untuk membayar biaya gantinya!"

Mendengar kata "sepatu murahan" dan penghinaan tentang masalah gaji, harga diri Kalea sebagai General Manager hotel bintang lima langsung terusik. Sifat tegas dan beraninya kembali muncul ke permukaan, menghapus rasa bersalahnya yang tadi sempat ada.

"Heh, Tuan yang arogan!" balas Kalea sambil berkacak pinggang, menatap lurus ke dalam mata Raditya tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Jaga ucapan Anda ya! Sepatu saya ini bukan sepatu murahan! Dan jangan menghina masalah gaji saya! Saya ini General Manager di Hotel Grand Luminance, saya sanggup membayar ganti rugi kaca mobil Anda ini! Jadi tidak usah berlagak sok kaya di depan saya!"

Raditya menaikkan sebelah alisnya, merasa agak terkejut sekaligus tertarik mendengar jabatan wanita di depannya. Namun, egonya yang setinggi langit menolak untuk mengalah begitu saja pada wanita bar-bar ini. "Oh, jadi seorang General Manager hotel bersikap tidak beradab seperti ini di tempat umum? Bagus sekali citra hotel Anda kalau tahu manajernya suka melempar sepatu ke mobil orang lain."

"Anda—" ucapan Kalea terhenti saat Bi Minah akhirnya berlari mendekat sambil membawa sepatu kanan Kalea yang tadi meleset.

"Non Kalea! Non tidak apa-apa? Ya Allah, dahi Non berdarah lagi!" seru Bi Minah panik saat melihat ada tetesan darah segar kembali merembes dari balik plester di dahi Kalea akibat emosinya yang meluap-luap tadi.

Mendengar ucapan Bi Minah, pandangan mata Raditya refleks beralih menatap dahi Kalea. Dari jarak yang cukup dekat ini, ia baru menyadari adanya luka robek yang cukup dalam di dahi wanita bermata biru tersebut. Lukanya tampak memerah dan sedikit bengkak, menunjukkan bahwa itu adalah luka baru yang didapatkan belum lama ini.

Raditya tertegun sejenak. Entah mengapa, melihat mata biru jernih Kalea yang sedang menatapnya dengan amarah yang berkaca-kaca menahan rasa sakit, ingatan Raditya langsung melayang kembali pada kebohongannya di meja makan bersama ibunya tadi pagi. Mata biru... cantik... tegas... Karakter wanita yang ada di depannya saat ini benar-benar sangat mirip dengan bidadari fiktif yang ia karang sendiri di depan sang Mommy beberapa jam yang lalu.

Sebuah rencana gila yang penuh spekulasi mendadak melintas di otak jenius Raditya. Lesung pipinya muncul sekilas sebelum ia kembali menyembunyikannya dengan wajah datar.

"Dengar, Nona Manajer bermata biru," ucap Raditya dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi lebih tenang namun penuh dengan intrik. Ia melangkah satu maju, mempersempit jarak di antara mereka. "Saya tidak punya waktu untuk berdebat denganmu di sini. Saya ada rapat penting lima menit lagi. Karena kamu bilang kamu sanggup membayar, sekarang berikan nomor ponselmu kepada saya."

Kalea mengernyitkan dahinya yang terluka, menatap Raditya dengan pandangan penuh kecurigaan. "Nomor ponsel? Untuk apa? Kalau mau ganti rugi, panggil saja pihak asuransi Anda atau berikan nomor rekening Anda sekarang, saya bisa langsung transfer uangnya!"

Melihat penolakan Kalea, Raditya mendengus geli. Tanpa diduga oleh Kalea, Raditya mengangkat tangan kanannya, lalu dengan gerakan yang sangat cepat namun lembut, ia menyentil dahi Kalea tepat di samping plester lukanya yang berdarah.

Tuk!

"Aw! Sakit, bodoh!" pekik Kalea sambil memegangi dahinya, menatap Raditya dengan pandangan yang siap membunuh pria itu sekarang juga.

"Itu hukuman karena kamu sudah merusak mobil saya dan bersikap tidak sopan," ujar Raditya dengan senyuman sarkastik yang menawan di wajah tampannya. "Asuransi mobil saya tidak menerima pembayaran dari sembarang orang tanpa data yang jelas. Berikan nomor ponselmu sekarang, atau saya akan langsung memanggil pihak keamanan rumah sakit ini untuk menahanmu atas tuduhan perusakan barang milik Direktur Utama!"

"Direktur Utama?" Kalea mengulang kata-kata itu dengan wajah melongo. Ia baru menyadari bahwa pria arogan berbaju dokter di depannya ini adalah pemilik dari rumah sakit besar tempatnya berdiri saat ini.

"Iya, saya Raditya Evan Baskara, Direktur Utama rumah sakit ini. Jadi, pilihan ada di tanganmu, Nona Manajer. Berikan nomor ponselmu, atau kita selesaikan masalah ini di kantor polisi sekarang juga?" ancam Raditya dengan nada mengintimidasi yang sangat mutlak.

Kalea mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa sangat kesal karena merasa kalah telak dalam adu mulut kali ini akibat posisinya yang sedang tidak membawa ponsel atau dompet karena dicopet tadi. Ia menoleh ke arah Bi Minah. "Bi, tolong sebutkan nomor ponsel Kalea ke orang sombong ini."

Bi Minah yang ketakutan melihat wibawa Raditya langsung menyebutkan deretan nomor ponsel Kalea dengan lancar, yang langsung dicatat oleh Raditya di dalam ponsel pintarnya.

"Bagus," ucap Raditya setelah menyimpan nomor tersebut dengan nama 'Manajer Bar-bar Mata Biru'. Ia menatap Kalea untuk terakhir kalinya sebelum berbalik. "Masuklah ke dalam dan obati dahimu itu sebelum darahnya mengotori lantai rumah sakit saya. Saya akan menghubungimu nanti malam untuk urusan ganti rugi mobil ini."

Raditya membalikkan tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan area parkir VIP menuju ke gedung utama dengan senyuman penuh kemenangan yang mengembang di bibir tampannya. Lesung pipinya terlihat sangat jelas sore itu. Sementara Kalea, hanya bisa berdiri di parkiran sambil menghentakkan kakinya ke aspal dengan penuh amarah, memandangi punggung menjulang sang Direktur Utama yang baru saja berhasil membelenggu takdirnya ke dalam sebuah permainan baru yang penuh dengan intrik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!