Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam tak terduga
“Ngurus hidup sendiri aja sana.”
“Wih galak amat.”
Shintia terkikik kecil puas berhasil menggoda kakaknya.
Ia lalu turun menuju ruang keluarga dan duduk di samping Mamanya yang sedang menonton berita malam.
Awalnya Shintia sama sekali tidak memperhatikan televisi. Ia sibuk memainkan ujung bajunya sambil sesekali membuka ponsel.
Namun beberapa detik kemudian…
“Telah terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan mobil dinas milik salah satu staf Hotel Pratama...”
Kalimat dari televisi membuat Shintia spontan menoleh cepat. Layar berita menampilkan mobil hitam yang bagian depannya ringsek parah.
Deg.
Jantung Shintia langsung berdegup keras.
Mobil itu… Mirip mobil Raffa.
Wajah Shintia seketika pucat, fokusnya buyar total saat reporter kembali menyebut kata “asisten hotel.”
Raffa.
Pikiran itu langsung muncul namanya begitu saja di kepalanya.
Tanpa sadar tangannya mulai dingin.
“Shintia?” panggil Mamanya heran melihat ekspresi putrinya berubah.
Namun gadis itu tiba-tiba berdiri cepat.
“A-aku ke kamar dulu, Ma…”
“Hah? Loh...”
Belum sempat Mamanya bertanya lagi, Shintia sudah buru-buru berlari menaiki tangga sambil membawa ponselnya erat.
Andreas yang baru keluar dari dapur langsung mengernyit bingung.
“Itu kenapa?”
Mama menggeleng pelan.
“Gak tahu. Tadi biasa aja.”
Sedangkan di dalam kamar… Shintia menutup pintu cepat lalu bersandar di sana sambil bernapas tidak tenang.
Tangannya gemetar saat membuka kontak bernama Raffa di ponselnya. Untuk beberapa detik ia hanya diam menatap nama itu.
Bimbang.
Namun rasa takut di dadanya jauh lebih besar daripada gengsi yang tadi siang masih ia pertahankan.
“Jangan sampai…” bisiknya lirih.
Dan untuk pertama kalinya… Shintia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Raffa. Tangannya bergetar pelan saat hampir menekan tombol kirim.
Shintia menatap layar ponselnya lama sekali, Nama Raffa terpampang jelas di sana.
Orang yang baru dua hari ia kenal, Orang yang seharusnya tidak perlu ia khawatirkan sebesar ini. Namun bayangan mobil hitam ringsek di televisi tadi terus berputar di kepalanya tanpa henti.
Dengan napas tidak tenang, akhirnya Shintia memberanikan diri mengetik pesan singkat.
Pesan
Raffa… itu bukan kamu kan?
Jarinyanya sempat ragu sebelum akhirnya menekan kirim.
Pesan terkirim.
Namun… Centang satu, Shintia seketika langsung membeku.
“Kenapa gak aktif…” bisiknya pelan.
Ia buru-buru mencoba menelepon. Namun suara operator langsung terdengar.
Ponsel tidak aktif.
Deg.
Jantungnya terasa makin tidak karuan, Shintia langsung duduk di tepi ranjang sambil menggenggam ponselnya erat. Kepalanya mulai dipenuhi kemungkinan buruk yang terus bermunculan.
Tadi pagi… Mobil itu masih dipakai Raffa mengajaknya pergi.
Ia bahkan masih ingat jelas bagaimana pria itu tertawa di pantai, bagaimana Raffa menggodanya tanpa henti, dan bagaimana tatapan hangat pria itu membuatnya salah tingkah sepanjang hari.
Dan sekarang… Mobil yang mirip milik Raffa muncul di berita dalam keadaan hancur.
“Enggak… jangan…” gumamnya pelan sambil menggeleng cepat.
Shintia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia mencoba berpikir jernih Mungkin itu bukan Raffa.
Mungkin hanya kebetulan.
Tapi kata “asisten hotel” tadi membuat pikirannya kacau total.
Ia ingin bercerita pada seseorang, Namun pada siapa?
Tari? Tidak mungkin. Sahabatnya itu pasti langsung heboh dan menginterogasinya habis-habisan.
Andreas? Kakaknya malah mungkin akan menggoda dirinya setengah mati.
Dan yang paling membuat Shintia kesal… Ia sendiri tidak tahu sebenarnya apa posisi Raffa dalam hidupnya.
Pacar? Bukan, Teman? Baru kenal, Orang asing? Tapi kenapa rasanya sesak sekali membayangkan sesuatu terjadi pada pria itu?
Shintia menunduk pelan, air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja.
Satu tetes, Lalu semakin banyak. Ia buru-buru mengusap wajahnya sendiri kasar.
“Kenapa malah nangis sih…” suaranya bergetar pelan.
Namun semakin ia mencoba menahan, dadanya justru semakin sesak, Untuk pertama kalinya dalam hidupnya… Shintia merasa benar-benar takut kehilangan seseorang. Padahal bahkan belum sempat memiliki, Pikirannya kembali mengingat percakapan tadi siang.
“Kalau aku pergi… kamu gak bakal kesepian?”
Saat itu Shintia menganggap ucapan Raffa hanya bercanda. Namun sekarang kalimat itu justru membuat dadanya terasa nyeri.
Shintia memeluk lututnya sendiri di atas ranjang, Ia teringat senyum jahil pria itu. Cara Raffa memanggilnya “sayang” seenaknya.
Cara pria itu berdiri sangat dekat di pantai sampai jantungnya hampir copot.
Dan sekarang… Tidak ada kabar sama sekali.
“Raffa…” bisiknya lirih.
Entah sudah berapa kali ia mencoba menelepon lagi tetap tidak aktif. Jam di dinding kamar terus berjalan, Malam semakin larut. Namun Shintia sama sekali tidak bisa tenang.
Bahkan suara televisi dari bawah kini terdengar samar dan jauh, Pikirannya penuh.
Kalau benar itu Raffa bagaimana, Kalau pria itu terluka?
Kalau...
Tok tok tok.
Pintu kamarnya diketuk pelan, Shintia buru-buru mengusap air matanya cepat.
“Siapa?”
“Mama.”
Shintia langsung menarik napas panjang mencoba terdengar normal.
“I-iya Ma…”
Pintu terbuka perlahan.
Mamanya masuk sambil membawa segelas susu hangat.
“Kamu kenapa sih?” tanya beliau lembut.
Shintia langsung menggeleng cepat.
“Gapapa kok.”
“Tadi wajah kamu pucat.”
“Cuma pusing dikit.”
Mama menatap putrinya beberapa detik seolah tidak terlalu percaya. Namun akhirnya beliau duduk di samping Shintia pelan.
“Kamu habis nangis?”
Pertanyaan itu membuat Shintia tercekat.
“Enggak…”
“Bohong.”
Suara Mama tetap lembut. Dan justru karena itu… mata Shintia kembali terasa panas. Namun ia tetap tidak tahu harus menjelaskan apa.
Apa bilang ia menangisi laki-laki yang baru dua hari dikenalnya? Laki-laki random yang tiba-tiba datang lalu mengacaukan pikirannya?
Itu bahkan terdengar gila.
“Aku cuma capek aja, Ma.”
Mama akhirnya mengusap kepala putrinya pelan.
“Kalau ada masalah cerita.”
Shintia menunduk diam, Beberapa detik kemudian Mama berdiri lagi.
“Tidur ya. Jangan begadang.”
“Iya…”
Setelah pintu kembali tertutup, kamar menjadi sunyi lagi. Shintia langsung menatap ponselnya.
Masih tidak ada balasan, dadanya makin tidak nyaman. Dan tanpa sadar… untuk pertama kalinya sejak bertemu Raffa, Shintia mengakui sesuatu pada dirinya sendiri.
Ia benar-benar memikirkan pria itu, Sangat memikirkannya, Bahkan lebih dari yang ingin ia akui.
***
Malam di rumah mewah keluarga Raffa terasa sunyi.
Pria itu duduk termenung di sofa kamarnya dengan wajah lelah. Pikirannya penuh pada kabar kecelakaan tadi. Asistennya meninggal dunia.
Padahal siang tadi mereka masih bicara soal pekerjaan seperti biasa.
Raffa memejamkan mata pelan. Dalam hati ia bersyukur tidak jadi ikut pergi bersama asistennya. Namun di sisi lain, kehilangan orang kepercayaannya membuat dadanya terasa berat.
Tok tok.
Pintu terbuka perlahan. Mamanya masuk sambil membawa teh hangat.
“Raffa…”
Raffa menoleh pelan.
“Ma…”
Wanita itu duduk di samping putranya lalu mengusap bahunya lembut.
“Mama dengar soal kecelakaan itu, kamu yang sabar Raffa. Oke.”
Raffa mengangguk kecil.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄