NovelToon NovelToon
The Aftermath

The Aftermath

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.

Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.

Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.

Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.

Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.

Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.

_🌷_

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Satu minggu berlalu sejak konfrontasi berdarah di meja makan Manhattan, namun atmosfer di dalam gedung pencakar langit Osborn Group di kawasan bisnis terpadu Fifth Avenue tidak pernah benar-benar mendingin.

Sebaliknya, ketegangan itu kian memadat, merayap di sepanjang koridor kaca dan bermuara di ruang rapat utama lantai paling atas malam ini.

Ruang rapat utama itu adalah lambang supremasi dan kekuasaan. Sebuah meja oval raksasa yang terbuat dari kayu mahoni berpelitur gelap mendominasi bagian tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi-kursi kulit ergonomis kelas premium.

Di sekeliling dinding, panel-panel kaca tebal menyuguhkan pemandangan lanskap New York yang mulai dihiasi kelap-kelip lampu kota. Malam ini, seluruh jajaran dewan direksi, komisaris, serta pemegang saham utama Osborn Group telah berkumpul untuk membahas laporan kuartalan dan kelanjutan mega proyek pengembangan pelabuhan di Brooklyn.

Namun, fokus sebagian besar pasang mata di ruangan itu tidak sepenuhnya tertuju pada grafik presentasi digital yang menyala di ujung meja. Atensi mereka terbagi oleh kehadiran sosok-sosok yang berada di dalam ruangan tersebut.

Di salah satu sudut meja, Adiba Abbey duduk dengan tegak. Mengenakan setelan blazer formal berwarna hitam dengan potongan tegas, dia tetap memancarkan aura keanggunan seorang putri dinasti Abbey yang tak tersentuh.

Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa wajah cantiknya pagi ini tampak teramat pucat. Efek morning sickness yang kian parah selama seminggu terakhir membuat lingkaran hitam samar bertengger di bawah matanya.

Kendati demikian, sorot mata hitamnya tetap tajam, dingin, dan sarat akan kalkulasi yang mematikan. Bekas luka robek di sudut bibirnya akibat tamparan Raynazh seminggu lalu kini telah menyisut, menyisakan garis tipis samar yang justru menambah kesan misterius pada wajahnya.

Tepat di seberang barisan kursi direksi, Louis Enver Osborn duduk menyandarkan punggungnya dengan santai, namun gestur tubuhnya menyiratkan kewaspadaan seekor predator. Malam ini, Louis menanggalkan jaket kulit jalanannya dan mengenakan kemeja formal hitam tanpa dasi, dengan lengan yang digulung hingga batas siku, menampilkan guratan tato yang menjalar di kulit kokohnya.

Sepasang mata elang abu-abunya bergerak konstan, sesekali melirik ke arah Adiba dengan kilat emosi yang tertahan.

Seminggu penuh dia tersiksa di Brooklyn, dihantui oleh rekaman dosa di kamar mandi dan rasa bersalah yang menggunung pada Christine, namun melihat Adiba dengan wajah pucat di depannya saat ini membuat dada Louis berdenyut oleh rasa protektif yang aneh.

Di ujung meja, Arthur Osborn selaku kepala keluarga sekaligus pimpinan tertinggi korporasi memimpin jalannya rapat dengan wibawa yang absolut. Dan di sebelah kanannya, sang putra mahkota, Raynazh Leon Osborn, duduk dengan tubuh yang kaku sempurna.

Wajah Raynazh tampak sangat layu; sorot matanya kosong, dan ada guratan frustrasi yang mendalam di dahinya.

Ancaman video dari Adiba seminggu lalu telah benar-benar menguliti sisa-sisa keberaniannya, mengubah sang pewaris utama menjadi catur mati yang tidak memiliki pilihan selain patuh.

Dua jam rapat berlangsung dalam ketegangan yang merayap. Presentasi demi presentasi disampaikan, angka-angka saham diperdebatkan, hingga akhirnya Arthur Osborn mengetukkan palu kecil di atas meja, menandakan bahwa seluruh agenda resmi rapat dewan direksi malam ini telah selesai.

"Baiklah, semua laporan dan anggaran untuk proyek Brooklyn telah disetujui. Rapat malam ini resmi ditutup," ucap Arthur dengan suara baritonnya yang tegas.

Para dewan direksi dan pemegang saham mulai berkemas, saling menjabat tangan, lalu melangkah keluar dari ruangan satu per satu dengan obrolan ringan.

Adiba tetap bergeming di kursinya, melipat kedua tangannya di atas meja sembari menatap lurus ke depan dengan senyuman misterius yang perlahan terukir di bibir pucatnya.

Louis pun tidak beranjak; dia berpura-pura memeriksa ponselnya, namun indra pendengarannya mendadak menangkap perubahan aura yang drastis di ujung meja.

Ketika ruangan megah itu akhirnya hanya menyisakan empat orang—Arthur, Raynazh, Adiba, dan Louis—kesunyian yang mencekik seketika jatuh menyelimuti atmosfer.

Raynazh menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar teramat berat, seolah dia sedang memikul seluruh beban langit di pundaknya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia membuka tas kerja kulit miliknya yang terletak di bawah meja. Pria itu mengeluarkan sebuah map dokumen berwarna biru tua yang tebal, lalu meletakkannya di atas permukaan kayu mahoni yang mengkilap.

Tanpa sepatah kata pun, Raynazh menggeser map dokumen tersebut melewati permukaan meja, mengarahkannya tepat ke depan tempat duduk Adiba Abbey.

"Apa ini, Raynazh?" Arthur Osborn mengernyitkan alisnya yang memutih, menatap putranya dengan pandangan heran yang mendalam.

Raynazh tidak menatap ayahnya. Dia menatap lurus ke arah Adiba, dengan sisa-sisa harga diri yang telah hancur lebur menjadi abu.

"Itu adalah surat gugatan cerai dan kesepakatan pemisahan aset, Adiba. Aku sudah membubuhkan tanda tanganku di sana. Semuanya. Tanpa syarat."

Deg.

Kata-kata Raynazh laksana ledakan bom yang senyap namun menghancurkan seluruh tatanan di dalam ruangan itu.

Arthur Osborn seketika terbelalak. Wajah tuanya yang keras mendadak memerah padam akibat gelombang kekejutan yang luar biasa.

Dia mencengkeram tepi meja hingga tangannya bergetar. "Apa-apaan ini, Raynazh?! Cerai?! Pernikahan kalian baru berjalan hitungan bulan, dan ini adalah pernikahan bisnis terbesar antara Osborn dan Abbey! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?!"

Sementara itu, di sudut meja yang lain, Louis Enver Osborn membeku sempurna. Ponsel di genggamannya nyaris saja terlepas.

Sepasang mata elang abu-abunya melebar menatap lembaran kertas yang menyembul dari dalam map biru tua tersebut. Jantung Louis berdegup liar bagai genderang perang yang berantakan.

Cerai? batin Louis berteriak dalam kegelapan. Bagaimana mungkin pria se-penakut Raynazh, yang selalu mendewakan nama baik dan takhta CEO-nya, mendadak menyerah dan menandatangani surat cerai secepat ini? Apa yang telah dilakukan wanita iblis itu hingga bisa membungkam kakaknya sampai ke titik nadir seperti ini?

Louis menatap Adiba, mencoba mencari jawaban dari ekspresi wajah wanita itu. Namun, Adiba justru menunjukkan reaksi yang membuat bulu kuduk siapa pun meremang.

Di tengah kehebohan Arthur dan keterkejutan Louis, Adiba tetap tenang. Dia mengulurkan jari-jari lentiknya yang pucat, membuka map biru itu dengan perlahan, lalu menatap goresan tanda tangan Raynazh di atas meterai dengan binar kepuasan gila yang tak bertepi di dalam manik mata hitamnya.

"Raynazh! Jawab Ayah!" raung Arthur Osborn, suaranya menggelegar memenuhi ruang rapat, memecah ketenangan malam.

"Kalian tidak bisa bercerai begitu saja! Ini akan menghancurkan reputasi keluarga kita! Saham Osborn Group bisa anjlok di bursa efek besok pagi! Apa alasan di balik kegilaan ini?!"

Raynazh mengepalkan tangannya di bawah meja, giginya gemeretak menahan rasa malu yang teramat sangat.

Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan alasan sebenarnya kepada ayahnya?

Bagaimana mungkin dia sanggup berucap bahwa istrinya telah berkali-kali ditiduri oleh adiknya sendiri di Brooklyn, dan sekarang sedang mengandung anak haram hasil hubungan terlarang itu?

Jika rahasia itu terbongkar, bukan hanya reputasinya yang hancur, namun Arthur dipastikan akan langsung mencopotnya dari posisi CEO dan mengusirnya dari silsilah keluarga.

"Kami... kami sudah tidak memiliki kecocokan lagi, Ayah," kebohongan itu keluar dari bibir Raynazh dengan nada parau dan bergetar tipis. "Ini adalah keputusan bersama demi kebaikan kedua belah pihak."

"Bohong!" Arthur memukul meja mahoni dengan telapak tangannya, menimbulkan suara dentuman yang keras. "Kalian menyembunyikan sesuatu dariku! Adiba, katakan pada orang tua ini, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?!"

Adiba perlahan menutup map dokumen tersebut dengan ketukan halus.

Dia mendongak, menatap Arthur Osborn dengan senyuman paling manis namun sarat akan racun yang mematikan. Wajah pucatnya mendadak tampak begitu berkuasa di bawah pendar lampu ruang rapat.

"Ayah Mertua..." Adiba berucap, suaranya begitu lembut, laksana alunan melodi yang menenangkan namun menghanyutkan. "Raynazh benar. Hubungan kami sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Dan kurasa... ini adalah jalan terbaik agar nama baik Osborn tetap suci di mata publik New York."

Adiba sengaja menjeda kalimatnya, lalu memutar pandangannya ke arah Louis yang masih duduk mematung di seberang meja.

Tatapan mata Adiba pada Louis malam ini begitu intens, penuh dengan kepemilikan dan obsesi gila yang tidak lagi dia sembunyikan di hadapan dua pria Osborn lainnya.

Lihat, Louis... batin Adiba bersorak dalam kegilaan, matanya berkilat indah menatap rahang tegas Louis yang menegang.

Jalanmu sudah terbuka. Aku telah membebaskan diriku dari ikatan dengan kakakmu. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangi kita untuk bersatu dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu.

Louis, yang menangkap arti tersembunyi dari tatapan gila Adiba, merasakan sensasi dingin yang merayap di sepanjang tulang belakangnya. Pikirannya mendadak melompat kembali di kamar mandinya seminggu lalu—ke video rekaman yang mereka buat bersama.

Sial... Louis memaki di dalam hatinya sendiri, napasnya memburu berantakan. Wanita ini benar-benar menggunakan video itu untuk memeras Raynazh. Dia mengancam kakaknya dengan bukti Penyatuan kami demi mendapatkan kebebasannya.

Rasa heran, takjub, sekaligus ngeri seketika bercampur aduk di dalam dada Louis.

Dia tidak pernah menyangka seberapa jauh Adiba bersedia melangkah demi dirinya.

Wanita ini menghancurkan pernikahannya sendiri, menginjak-injak harga diri pewaris utama Osborn, dan menantang kemurkaan Arthur Osborn... semuanya hanya untuk memastikan dirinya bisa keluar dari kungkungan Raynazh dan bergerak mendekat ke arah Louis di Brooklyn.

"Ini gila! Aku tidak akan mengizinkan perceraian ini diproses sebelum aku mendapatkan alasan yang logis!" Arthur Osborn bangkit dari kursinya, napasnya tersengal-sengal oleh amarah yang membakar dadanya.

Dia menunjuk Raynazh dengan jarinya yang gemetar. "Kau... ikut ke ruanganku sekarang! Kita selesaikan kegilaan ini di dalam!"

Raynazh berdiri dengan tubuh lemas, melangkah mengekor di belakang ayahnya seperti seorang pesakitan yang siap menerima hukuman mati.

Sebelum keluar dari pintu ruang rapat, Raynazh sempat menoleh ke belakang, memberikan tatapan kebencian yang teramat pekat sekaligus ketakutan yang mendalam kepada Adiba dan Louis yang masih tertinggal di dalam ruangan.

Pintu kaca besar itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang teramat tebal di antara Louis dan Adiba.

Louis langsung bangkit dari kursinya, melangkah lebar mengitari meja mahoni, lalu berhenti tepat di depan tempat duduk Adiba.

Dia menumpukan kedua tangannya di atas meja, membungkuk hingga wajah tegasnya berada sangat dekat dengan wajah pucat Adiba. Sepasang mata elang abu-abunya berkilat penuh dengan intrik dan kegeraman yang tertahan.

"Apa yang telah kau lakukan, Adiba?!" desis Louis, suaranya begitu rendah dan berbahaya. "Kau memeras Raynazh dengan video itu, bukan? Kau menggunakan dosa kita di Brooklyn untuk memaksanya menandatangani surat cerai ini?!"

Adiba tidak mundur. Dia justru mendongak, menikmati kedekatan wajah mereka yang begitu intim di dalam ruangan yang sepi ini.

Aroma parfum mawar milik Adiba kembali mengepung indra penciuman Louis, membangkitkan memori panas tentang penyatuan gila mereka seminggu lalu.

"Mengapa kau tampak begitu terkejut, Louis-ku?" bisik Adiba lembut, tangannya bergerak perlahan di bawah meja, mengusap permukaan perutnya sendiri dengan kebahagiaan terdistorsi yang tersembunyi.

"Bukankah ini yang kau inginkan? Kau ingin menghancurkan kakakmu, bukan? Kau ingin membalas dendam atas apa yang mereka berikan padamu? Lihat... sekarang istrimu... ah, maksudku mantan istri kakakmu ini, telah menyerahkan kemenangan pertama ke tanganmu secara sukarela."

"Kau gila, Adiba! Kau benar-benar wanita iblis yang tidak punya urat takut!" Louis mengerang, rahangnya mengeras ekstrem mendengar jawaban santai dari wanita di hadapannya.

"Aku memang gila, Louis... Aku sudah gila karenamu sejak sepuluh tahun lalu di New York Academy," Adiba berdiri, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga tubuhnya yang terbalut blazer formal bersentuhan dengan dada bidang Louis.

Dia menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu Louis dengan binar obsesi yang kian pekat di bawah kegelapan malam Manhattan.

"Surat cerai ini baru permulaan. Setelah ini, aku akan memastikan seluruh dinasti Osborn bertekuk lutut di bawah kakimu... karena kau, Louis... adalah satu-satunya pria yang berhak memiliki aku dan seluruh dunia ini."

Louis membeku di tempatnya berdiri, terjebak di antara pusaran gairah terlarang, rasa ngeri pada kegilaan Adiba, dan bayang-bayang kehancuran besar yang kini telah resmi dimulai di atas meja rapat Osborn Group.

1
Agus Hidayat
ya pada perang sendiri padahal bayinya udah ma daddynya🤣🤣🤣
Ros 🍂: wkwkw🤭
Ma'apin Author ya kak🙏🏻 dua hari ini Up satu bab terus, Karena author Sedang kurang sehat 🙏🏻🫶🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Semoga lekas sembuh,, 😊
Ros 🍂: ma'aciww ka🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
semoga lekas sembuh kak😍😍
Ros 🍂: ma'aciww kakak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Gaskennn,bang gio,, segera sah kan mbk adibanya,, biar louis ketar ketir anak yg di kira miliknya punya calon bpk,, 🤭
Ros 🍂: Ku kira anakku, ternyata bukan anakku😭🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya ketemuan juga gasken bang gio gercep sekali babang yg satu ini😍😍😍
Ros 🍂: Ahahaha 🤭
total 1 replies
Agus Hidayat
next😍😍😍
Ros 🍂: siap kak🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Plotwist yg sangat mengejoet kn,,?? Diatas si gila adiba masih ada yg lbh gila,, babang giogio,, 😌
Ros 🍂: Reader aman ? 🤭🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wauuu aku sungguh tergiorgio Giorgio ini ma sama kayak yg aku haluiin Thor kerennn pakai kebangetan thanks kak udah datengin makhluk yg sama GK warasnya kayak Adiba😍😍👍👍👍
Ros 🍂: Huhuhu Ma'aciww ya kak 🫶🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
😍😍😍😍😍
Ros 🍂: uhuhuyyy🥰🫶
total 1 replies
Debu Nakal
sungguh diluar nurul 😱😱😱
Ros 🍂: biar Author lanjutkan 🤭🤣
total 3 replies
Agus Hidayat
sorry kak typo othor maksudnya bukan tohir🙏🤣🤣🤣
Ros 🍂: santai kak hehehe😅
total 1 replies
Agus Hidayat
wauu sungguh plot twist yg sangat sangat😍👍 GK bisa berkata kata kerennnnn pakai banget suka semua karya Tohir semuanya best😍😍😍😍😍
Ros 🍂: iiiih thankyou kak🫶 sehat-sehat ya 🥰
total 1 replies
Agus Hidayat
next kak👍
Ros 🍂: siap kak
total 1 replies
Agus Hidayat
absen 😍😍😍😍
Ros 🍂: ya huuuuu Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aku mendukungmu 1000 persen Adiba jadilah perempuan yg tangguh dan Badas, bukan kamu yg tidak pantas tapi dia yg tak pantas untukmu💪😍😍😍
Ros 🍂: nah iya 🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
huh rasain jangan balikan lagi Thor kasih Adiba jodoh yg lain aja👍
Ros 🍂: okay kak🫶🥰
total 1 replies
Bellz
kapan up thor nungguin banget suka sama karhanya😍
Ros 🍂: Malam ini dua bab dulu ya kak🫶 besok Author Up banyak 🙏🏻🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Q rela louis nyumpah nyerampahin adiba,, tp q gk rela baby di kandungan adiba di hina bpknya sendiri sprti itu sakit bangettt itu,, plisss jangan balikan,, jd single mom aja adiba,,
Ros 🍂: siap sesuai Maunya reader 🥰 Maafkan author yaa 😭
total 1 replies
Bellz
semangat Thor, suka sama karyanya😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🥰 semoga tetap Singgah 🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
huuaaaaa nangis aku thor nyesek banget, tapi i am so happy akhirnya Adiba jadi waras jangan buat balikan sama Louis Thor nek banget sama cowok modelan gitu kasih jodoh yg lain baru kali ini baca novel othor spaneng Mulu aku jangan kasih bawang terus thor
Ros 🍂: huhu maafkan author 🙏🏻🤭🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!