Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Keluarga Rahesa
Tiga mobil sedan mewah itu perlahan menghilang dari rumah mereka, meninggalkan ketiga orang yang tidak tahu diri itu.
Mulut Ratna bahkan masih sedikit terbuka, matanya berkedip berkali-kali seolah berharap pemandangan barusan hanyalah halusinasinya saja.
Zarlin? Wanita yang selama tiga tahun ini mereka injak-injak, mereka anggap pembantu, dan mereka maki sebagai wanita miskin tak tahu diri, baru saja dijemput oleh iring-iringan mobil yang total harganya bisa membeli seluruh aset Falcon Corp?
"T-Theo..." Panggil Ratna dengan suara gemetar
"Apa yang Ibu lihat tadi? Siapa pria-pria berjas itu? Kenapa mereka memanggil si pembawa sial itu dengan sebutan Nona Muda?!"
Theo tidak menyahut. Tangannya mengepal begitu kuat hingga urat-uratnya kelihatan. Amarah, rasa syok, dan harga diri yang terinjak-injak bercampur aduk di dalam dadanya.
Pikirannya menjadi tak tenang, Perusahaan Aricia International menarik seluruh investasi, lalu sesaat kemudian Zarlin pergi dengan kemewahan yang tak masuk akal. Apakah semua ini saling berhubungan?
Melihat Theo yang mulai ragu, Bianca langsung merasa posisinya terancam. Dia tahu jika Theo sampai menyesal dan mencari tahu tentang Zarlin, posisinya sebagai calon nyonya Falcon akan sirna.
Otak liciknya langsung berpikir cepat. Dengan wajah yang dibuat syok dan sedih, Bianca perlahan mendekati Theo, menyentuh lengan pria itu dengan lembut.
"Theo, kamu jangan sampai tertipu oleh aktingnya," ujar Bianca, suaranya sengaja dibuat lembut penuh racun.
"Pikirkan secara logis, tiga tahun ini Zarlin hanya diam di rumah, tidak punya koneksi, dan keluarganya pun tidak pernah datang. Mana mungkin dia tiba-tiba menjadi anak orang kaya?"
Theo menoleh tajam ke arah Bianca. "Lalu bagaimana kau menjelaskan mobil-mobil puluhan miliar dan pengawal tadi, Bianca?!"
Bianca mendengkus remeh, memamerkan senyum sinisnya. "Theo, di dunia bisnis kelas atas, banyak wanita rumahan yang frustrasi lalu memilih jalan pintas. Bisa saja selama ini Zarlin diam-diam menjadi wanita simpanan om-om kaya atau pejabat tinggi di luar sana? Mobil-mobil itu pasti milik pria tua bangka yang menyewanya demi pamer di depanmu! Dia sengaja merencanakan ini untuk membalas dendam karena tahu kita sedang intim!"
Mendengar hasutan Bianca, mata Ratna langsung berbinar setuju.
"Benar! Bianca benar, Theo! Dasar wanita murahan tidak tahu malu! Pantas saja dia berani menuntut cerai dan menyumpahi perusahaanmu bangkrut, ternyata dia sudah menjual dirinya pada pria tua kaya! Menjijikkan sekali!" timpa Ratna.
Simpanan? Kata-kata Bianca sangat menusuk dipikiran Theo. Rasanya jauh lebih masuk akal di otak Theo yang sudah dibutakan keangkuhan. Logikanya menolak percaya kalau Zarlin adalah orang kuat yang asli. Amarah Theo mencapai puncaknya. Mengingat kemejanya yang disindir semalam, pikiran Theo seketika membayangkan Zarlin disentuh oleh pria lain.
"Kurang ajar!" teriak Theo, napasnya tersengal-sengal.
"Zarlin Rahesa... berani-beraninya kau mengkhianatiku dan memamerkan pria simpananmu di depan rumahku sendiri! Kita lihat saja, sampai kapan om-om tuamu itu mau membiayai hidupmu setelah bosan memandangi wajah mu itu!"
...****************...
Sementara itu, disebuah gerbang besi yang besar terbuka lebar menyambut kedatangan mobil mewah yang membawa Zarlin. Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah mansion megah berarsitektur Eropa klasik, tempat tinggal keluarga Rahesa.
Zarlin turun dari mobil. Begitu kakinya memijak lantai rumah masa kecilnya, beban berat yang menghimpit bahunya selama tiga tahun seolah terangkat sebagian.
Namun, saat pelayan membukakan pintu, Zarlin buru-buru menarik lengan blazernya ke bawah, memastikan memar kebiruan akibat cengkeraman Theo tadi pagi tersembunyi dengan sempurna.
Dia tidak ingin orang tuanya yang sudah sepuh tahu bahwa putri tunggal berharga mereka telah diperlakukan seperti binatang.
"Zarlin! Putriku!"
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan langsung berlari memeluknya. Itu adalah ibunya, Amelia Rahesa. Di belakangnya, sang ayah, Bramasta Rahesa, berdiri dengan senyum hangat yang berwibawa.
"Ayah, Ibu, Zarlin pulang," bisik Zarlin, menahan haru agar air matanya tidak jatuh.
"Kenapa mendadak sekali, Sayang? Dan kenapa membawa koper?" tanya Amelia sambil menatap wajah putrinya yang tampak sedikit pucat.
Zarlin memaksakan senyum terbaiknya.
"Aku merindukan Ayah dan Ibu. Kebetulan pekerjaan Theo sedang sangat sibuk di luar kota untuk sebulan ke depan, jadi Aku pikir ini waktu yang pas untuk liburan di rumah lama. Boleh, kan?"
Bramasta tersenyum, menepuk bahu putrinya. "Tentu saja boleh, sayang. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Lagipula, suamimu itu memang harus fokus bekerja jika ingin membesarkan perusahaannya."
Zarlin tersenyum getir di dalam hati. "Fokus bekerja meruntuhkan perusahaannya sendiri bersama selingkuhannya, maksud Ayah." batinnya.
...****************...
Setelah makan siang singkat dan mengistirahatkan tubuhnya di kamar lamanya yang mewah, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Zarlin pada sore harinya.
"Nona Muda, di bawah ada tamu agung yang ingin bertemu dengan Anda. Tuan Besar meminta Anda segera turun."
Zarlin mengernyitkan dahi. Tamu? Siapa yang tahu dia sudah kembali ke rumah Rahesa secepat ini? Dengan langkah santai, Zarlin menuruni tangga melingkar menuju ruang tamu utama.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di anak tangga terakhir saat matanya melihat sosok pria bertubuh tegap yang sedang duduk mengobrol santai dengan ayahnya.
Pria itu mengenakan kemeja kasual premium berwarna biru gelap yang lengannya digulung hingga siku, memamerkan jam tangan mewah bernilai jutaan dolar.
Garis rahangnya tegas, wajahnya tampan dengan aura kepemimpinan yang sangat pekat namun berwibawa. Pria itu adalah Tristan Avalanka.
Seolah menyadari kehadiran seseorang, Tristan menoleh. Matanya yang tajam langsung menatap pandangan pada Zarlin.
Untuk sesaat, mereka saling berpandangan sebelum akhirnya dia berdiri dan memberikan senyum tipis yang teramat menawan
"Lama tidak bertemu, Zarlin Rahesa," sapa Tristan, suaranya berat dan terdengar begitu maskulin.
Zarlin mengedipkan matanya tak percaya.
"Tristan? Kau... sedang apa di rumahku?"
Bramasta tertawa melihat kepolosan putrinya.
"Tristan ini rekan bisnis baru Ayah, Zarlin. Dan dia bilang, dia juga teman lamamu saat SMA dulu. Kenapa kamu tidak pernah bercerita kalau punya teman sehebat Avalanka Group?"
Zarlin melangkah mendekat, duduk di sofa diseberang Tristan. Pikirannya kembali ke masa-masa SMA mereka sepuluh tahun lalu, saat Tristan masih menjadi cowok pendiam yang selalu duduk di pojok kelas, namun selalu bersikap protektif padanya dari kejauhan.
"Aku hanya tidak menyangka Tristan yang dulu dingin sekarang menjadi penguasa bisnis," ujar Zarlin mencoba mencairkan suasana.
Tatapannya kemudian beralih pada jari manis Tristan yang tampak kosong.
"Kudengar dari berita bisnis, kau masih sendiri sampai sekarang? Di usiamu yang matang ini, kau belum berniat menikah dengan salah satu putri konglomerat?" tanya Zarlin
Mendengar pertanyaan spontan dari Zarlin, Tristan tidak langsung menjawab. Dia memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke dalam mata Zarlin dengan tatapan yang begitu dalam, seolah sedang menyampaikan sebuah pesan rahasia yang telah dia simpan selama bertahun-tahun.
"Aku tidak tertarik dengan putri konglomerat mana pun, Zarlin," jawab Tristan tenang namun tegas.
"Aku hanya sedang menunggu seseorang. Seseorang yang dulu terlanjur memilih orang yang salah, dan sekarang aku di sini untuk memastikan dia kembali ke tempat yang seharusnya."
Jantung Zarlin berdetak seketika mendengar kalimat bermakna ganda itu. Dia tahu siapa yang dimaksud Tristan, namun dia memilih pura-pura tidak paham demi melindungi hatinya yang baru saja hancur.
"Jadi, asistenku sudah menyampaikan pesan tentang proyek pelabuhan itu kepadamu, Tristan? Aku tidak menyangka kau sendiri yang akan datang ke sini untuk mengurusnya." ujar Zarlin memecah ketegangan.
Tristan memberikan senyum tipis.
"Urusan kerja sama dengan Aricia International dan keluarga Rahesa selalu menjadi prioritasku, Zarlin. Apalagi jika proyek itu dilepaskan oleh perusahaan sekelas Falcon Corp. Mengambil alihnya dari tangan suamimu adalah hal paling mudah yang bisa kulakukan hari ini."
Mendengar kata "suamimu" disebut oleh Tristan, tangan Zarlin yang tersembunyi di bawah meja tampak mengepal kuat. Dengan cepat dia menata ekspresi wajahnya agar sang ayah tidak melihat gelagat aneh. Zarlin tersenyum tipis, beralih menatap ayahnya.
"Aku sengaja meminta Tristan menarik dana dan mengambil alih proyek itu, Ayah," ujar Zarlin dengan nada suara yang dibuat selembut dan sebijak mungkin.
"Selama ini Falcon Corp terlalu dimanja oleh dana pengembangan rahasia dari Aricia International. Theo mulai kehilangan insting kompetisinya karena mengira semua kesuksesan ini datang dengan mudah. Jadi, aku rasa ini waktu yang tepat untuk memotong bantuan itu sementara waktu. Aku ingin Theo belajar bagaimana rasanya memulai dari bawah dan berjuang dengan kakinya sendiri, tanpa bergantung pada rahasia kita."
Bramasta sang ayah langsung mengangguk-angguk bangga mendengar penjelasan putrinya.
"Pikiranmu sangat dewasa, Zarlin. Ayah setuju," sahut Bramasta dengan suara yang berwibawa.
"Sejak awal, alasan Ayah dan Ibu menuruti kemauanmu untuk menyamar dan tinggal di rumah kecil kita yang di pinggiran kota itu, adalah untuk melihat ketulusan Theo. Kita sengaja membuat Theo mengira bahwa mertuanya hanya pensiun biasa yang hidup sederhana, agar kita tahu bagaimana tabiat aslinya saat dia berada di puncak kesuksesan. Jika dia bisa melewati ujian kemandirian yang kau berikan ini dengan baik, barulah Ayah akan mengizinkanmu membongkar identitas asli keluarga Rahesa kepadanya."
Zarlin hanya bisa tersenyum getir di dalam hati mendengar harapan sang ayah. Ayah tidak tahu, kalau Theo bahkan sudah gagal total dalam ujian itu sebelum ujian ini dimulai, batin Zarlin perih.
Tristan yang duduk di seberang mereka hanya diam, namun sepasang matanya yang tajam tidak lepas dari pergerakan pergelangan tangan Zarlin.
Melalui celah lengan blazer Zarlin yang sedikit terangkat saat wanita itu merapikan posisi duduknya, penglihatan tajam Tristan melihat semburat warna merah keunguan di kulit mulus wanita itu.
Tristan tahu, itu bukan memar karena jatuh. Itu adalah bekas cengkeraman paksa dari jari-jari seorang pria.
Amarah seketika melintas di mata Tristan Avalanka. Dia tahu tentang rencana penyamaran keluarga Rahesa, tapi melihat memar itu, Tristan sadar ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan dirumah tangga Zarlin.
"Theo, kau benar-benar bosan hidup" batin Tristan dengan amarah.
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!