NovelToon NovelToon
SENIOR,I LOVE YOU!

SENIOR,I LOVE YOU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:278
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.

Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.

Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.

Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Kaka Adik

Hik!

Suara cegukan kedua lolos lagi dari balik telapak tangan Arini yang membekap mulutnya sendiri. Rasanya Arini ingin tenggelam saja ke dalam bumi saat ini juga. Bagaimana bisa seorang Kepala Staf yang biasanya memimpin rapat koordinasi dengan tegas, mendadak cegukan seperti anak kecil hanya karena digoda oleh bawahannya?

Meningat Arini yang mendadak panik dengan wajah sewarna kepiting rebus, mode serius Rian langsung buyar. Cowok itu terbelalak kaget, lalu dengan sigap melompat berdiri.

"Eh, Bu! Ibu gak apa-apa? Sebentar, saya ambilkan air!" ujar Rian panik.

Ia langsung melesat ke area pantry apartemen Arini yang untungnya bermodel minimalis terbuka. Dengan gerakan cepat, Rian menuangkan air putih ke dalam sebuah gelas kaca, lalu kembali setengah berlari ke arah ruang tengah.

"Nih, Bu, minum dulu perlahan. Tarik napas, buang, baru minum," instruksi Rian sambil menyodorkan gelas itu dengan wajah cemas.

Arini menyambar gelas tersebut dengan tangan sedikit gemetar. Ia meminumnya dalam beberapa tegukan besar. Glek, glek, glek. Setelah gelas itu kosong setengah, Arini menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Untungnya, cegukan sialan itu akhirnya reda.

"Sudah... sudah mendingan?" tanya Rian waswas, masih berdiri membungkuk di dekat Arini dengan kedua tangan di lutut, memperhatikan wajah atasan langsungnya itu dengan saksama.

Arini meletakkan gelas ke atas meja dengan gerakan agak kikuk. Ia tidak berani menatap mata Rian secara langsung. "Sudah. Makasih, Rian."

"Aduh, maaf ya, Bu. Saya gak bermaksud bikin Ibu syok sampai cegukan begitu," sesal Rian sambil kembali duduk bersila di karpet, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Lagian kamu..." Arini menjeda kalimatnya, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa harga diri milenialnya yang sudah tercecer di lantai. Ia berdehem ketat. "Kamu kalau ngomong jangan dipotong-potong begitu. Bikin orang kaget saja."

Sebenarnya, di dalam hati, Arini sedang menjerit penasaran dan menahan napas. Tadi dia mau ngomong apa? Kita gak cocok cuma sebatas Kepala Staf dan bawahan? Terus cocoknya jadi apa?!

Rian terkekeh pelan melihat Arini yang kembali mencoba memasang mode serius, walau daun telinganya yang masih merah tidak bisa berbohong.

"Iya, maaf, Bu. Maksud saya tadi..." Rian sengaja memajukan sedikit posisi duduknya, lalu tersenyum dengan sangat tulus. "Maksud saya, kita sepertinya gak cocok kalau cuma sebatas rekan kerja yang formal banget di kantor. Hubungan kita tuh... lebih cocok kayak kakak-adik, Bu. Saya ngerasa Ibu udah kayak kakak perempuan saya sendiri. Jadi di luar jam kerja, Ibu gak perlu sungkan atau ngumpet dari dunia kalau lagi lelah. Ibu bisa bagi bebannya ke saya, kayak ke adik sendiri."

Kakak-adik.

Kaka perempuan sendiri.

Kata-kata Rian barusan rasanya seperti hantaman godam tepat di kening Arini. Detik itu juga, semua rasa hangat, debaran manis, dan rona merah di pipi Arini membeku seketika. Kepalanya mendadak berdenging.

Sebagai seorang cewek milenial matang yang berpenampilan menarik, mandiri, dan punya posisi mapan sebagai Kepala Staf, dikelompokkan ke dalam sibling-zone oleh cowok yang belakangan ini mengacaukan pikirannya adalah sebuah penghinaan besar bagi harga dirinya.

“Kakak-adik? Dia bilang gue kayak kakak perempuan?!” batin Arini berteriak, antara ingin tertawa miris atau melempar Rian pakai meja tamu. Gue kelihatan setua itu apa di mata dia?!

Aura di dalam ruangan apartemen yang tadinya hangat dan canggung menggemaskan, mendadak berubah drastis menjadi sedingin es kutub utara. Rahang Arini mengeras. Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Rian dengan tatapan paling tajam yang ia punya—mode Kepala Staf galak yang siap memotong bonus tahunan karyawan.

"Kakak-adik?" ulang Arini dengan nada suara yang rendah, datar, dan sangat dingin.

Rian yang polos dan tidak peka, mengangguk dengan semangat tanpa dosa. "Iya, Bu! Biar lebih akrab gitu kalau di luar kan—"

"Maaf, Rian," potong Arini cepat, kalimatnya memotong kata-kata Rian bagai pisau tajam. "Saya rasa kamu sudah melangkah terlalu jauh. Hubungan profesional di kantor ada batasannya, dan saya tidak tertarik untuk menambah anggota keluarga baru, apalagi seorang 'adik' di tempat kerja."

Rian langsung bungkam. Senyum di wajah cowok itu memudar, digantikan oleh ekspresi bingung dan syok melihat perubahan suasana hati Arini yang secepat kilat.

Arini berdiri dari sofanya, merapikan piyamanya dengan gerakan anggun namun kaku, lalu menunjuk ke arah pintu depan apartemen. Gengsi tingginya telah kembali menguasai kendali penuh.

"Terima kasih atas sup dan vitaminnya. Tolong sampaikan pada Dian kalau saya baik-baik saja. Dan sekarang, karena urusan kamu sudah selesai, kamu boleh pulang. Hari Senin jangan lupa serahkan laporan perkembangan vendor ke meja saya jam delapan tepat."

Rian berkedip beberapa kali, benar-benar mati kutu dan tidak mengerti kesalahan apa yang baru saja ia perbuat hingga membuat sang Kepala Staf tersinggung selevel ini. Dengan langkah gontai dan perasaan bersalah yang campur aduk, Rian akhirnya pamit, menyisakan Arini yang langsung membanting pintu apartemennya dan mengomeli dirinya sendiri karena sempat berharap lebih pada bocah polos seperti Rian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!