NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : One Millions Bounty On Dexter Hendrick's Head

Setelah penyatuan yang panas di private dressing room itu. Mereka terkulai lemas tak berdaya. Hampir sejam mereka di dalam sana bersandar pada dinding remang-remang.

Kaelric terlebih dahulu bangkit dari duduknya. Melihat Veliora masih nampak lemas, di gendongnya keluar dari ruangan itu. Kemudian diletakkan pelan-pelan di atas tempat tidur.

Kemudian Kaelric ke kamar mandi. Dia membersihkan diri yang lengket karena keringat dan cairannya sendiri waktu penyatuan tadi.

Pagi itu, Kaelric tidak mengenakan jasnya.

Hanya kemeja hitam dengan lengan tergulung santai.

Tapi mobil yang keluar dari garasi tetap sama.

Cullinan hitam itu melaju perlahan seolah memberi tahu siapa pun di jalan, bahwa hari ini bukan hari untuk membuat kesalahan.

Sampailah di tempat yang mereka sepakati. Yaitu sebuah gudang milik Kaelric sendiri.

Sebuah bungkusan kain warna hitam tergeletak di depan pintu gudang. Nampak noda darah di kain hitam itu.

"Buka kain itu. Aku ingin tahu, apa benar itu kepala Dexter Hendrick?"

Tanpa ragu, Gerard membuka bungkusan kain hitam itu. Kaelric memperhatikan dengan seksama.

Setelah bungkusan itu terbuka, menyembullah sepotong kepala manusia di dalamnya. Kaelric nampak puas dengan hasil kerja Gerard. Namun, dia sudah memberi keputusan. Kalau Gerard harus meninggalkan rumah yang dia tempati saat ini. Dan, Gerard pun menerima keputusan Kaelric dengan lapang.

"Baiklah, aku akan kembali ke rumahku saja, Bos. Maaf jika selama ini aku sudah banyak melakukan hal yang sangat bodoh. Hingga aku tak bisa melihat kebaikanmu."

Kaelric diam saja.

"Sebenarnya, aku bingung juga Bos."

"Jika kamu merasa bingung, lantas kenapa kau lakukan itu?"

"Berulang-ulang kau melakukan kesalahan yang sama. Dan aku diam saja, seolah tak terjadi apa-apa."

"Lantas, apa yang harus aku ceritakan pada Ibumu tentang dirimu?"

Gerard diam tak berani menjawabnya. Karena memang benar yang dikatakan Kaelric. Dan dia harus segera merubah perilakunya itu. Bagaimana pun juga, kalau tidak Kaelric, entah bagaimana nasib hidupnya. Apalagi dengan ibunya.

"Ini uang yang aku janjikan. Segera pergi dari hadapanku. Sebelum aku berubah pikiran."

Gerard akhirnya pergi dari tempat itu.

Setelah kepergian Gerard, dari semua sisi yang tersembunyi, muncullah beberapa orang dengan berpakaian hitam. Mereka mendekati Kaelric.

Mereka adalah anak buah Kaelric. Dia segera memberi perintah pada anak buahnya. Untuk segera membawa kepala Dexter dari hadapannya.

"Enyahkan benda ini dari hadapanku. Aku benar-benar tidak suka."

"Baik Bos."

Begitulah Kaelric, dari satu sisi yang tak diketahui semua orang. Bahkan, karyawan di Vorn Aegis Consortium pun tak ada yang tahu sisi gelapnya.

Kaelric Vorn tidak pernah mencampur dua dunianya yang berbeda. Apa yang terjadi di Vorn Aegis Consortium tetap bersih, terukur, dan terlihat oleh semua orang.

Sementara satu pekerjaan yang lain, berjalan dalam bayangan.

Tanpa jejak.

Tanpa nama.

Bahkan, mendiang Kaeden tidak pernah mengetahui bahwa Kaelric bergerak di dunia bawah yang hitam dan kelam.

Dering telpon terdengar.

"Bos, sekarang ada dimana?"

"Aku ada di suatu tempat, Ravian. Ada hal penting apa sekarang?"

"Bos, pertemuan dengan PT. SWATHAMA GRUP tinggal tiga puluh menit lagi. Bos ada dimana sekarang?"

"Ya, aku segera ke kantor, Ravian."

Cullinan Hitam itu segera meraung kembali di jalanan Jakarta. Membelah keramaian yang memang menjadi khas kota metropolitan. Sekarang langsung menuju Vorn Aegis Tower.

Rolls-Royce Cullinan hitam itu berhenti tepat di depan lobi.

Tidak ada suara berisik.

Tidak ada yang berani menunjuk.

Tapi langkah-langkah yang tadinya santai, kini melambat.

Tatapan mulai beralih dengan diam-diam, cepat, seolah tidak ingin ketahuan.

Semua orang tahu mobil itu.

Dan lebih dari itu, mereka tahu siapa yang berada di dalamnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Kaelric Vorn. Pemilik  Vorn Aegis Consortium.

Handy Mulyana, pemilik dari PT. SWATHAMA GRUP nampak gelisah. Karena, rumor yang beredar di kalangan pebisnis itulah yang membuat hatinya tidak tenang.

Berita akan Kaelric Vorn yang membuat kuduknya merinding.

Handy Mulyana terdiam cukup lama. Bukan karena yakin, tapi karena sadar satu hal : dalam dunia seperti ini, hasil sering kali lebih berharga daripada cara.

Karena selama ini dia dan pihak Kaelric baik-baik saja. Dan Handy Mulyana bukan termasuk orang yang suka mencari perkara. Dan, dia tahu betul. Kaelric itu seperti apa.

Setelah sampai di kantor...

"Ravian, siapkan pakaian saya untuk meeting hari ini."

"Baik Bos. Nampaknya, Tuan Handy Mulyana tidak sabar ingin bertemu."

Kaelric menganggukkan kepala. Lalu melangkah menuju walk in closet yang ada di area ruangan Kaelric. Disambarnya pakaian dan biasanya hitam yang sudah disiapkan dengan rapi oleh Ravian.

Suasana di ruang meeting agak tegang hari itu.

"Baiklah, Tuan Handy Mulyana. Langsung saja pada pokok persoalan. Bahwa sesuai kesepakatan kita bersama. PT. SWATHAMA GRUP dan perusahaan Vorn Aegis Consortium tetap melanjutkan kerjasama. Tim kami sudah melakukan survey di perusahaan anda. Jadi, apa yang anda pikirkan lagi?".

"Mm maksud saya begini, Tuan Kaelric. Saya percaya dengan usaha anda. Tapi.... "

Handy Mulyana tidak melanjutkan ucapannya. Tapi, dia menatap Kaelric agak lama. Kaelric balas menatap Handy Mulyana tajam.

Dia pun angkat bicara.

“Yang Anda beli dari saya adalah hasil, Pak Handy.”

“Keamanan. Stabilitas. Kepastian.”

Ia menatap lurus pada Handy Mulyana.

“Dan sejauh ini… saya tidak pernah gagal memberikannya.”

"Bukankah selama ini anda merasakannya?"

"Anda bisa saja meninggalkan kerjasama dengan saya. Tapi, jangan harap jaminan keamanan penuh seperti yang diberikan perusahaan saya."

"Saya tahu, anda pasti mendengarkan sesuatu tentang Vorn Aegis Consortium. Atau bahkan diri saya."

Handy Mulyana diam. Nampak berpikir. Ya, benar kata Kaelric. Selama ini, dampak yang diberikan Vorn Aegis Consortium sangat besar. Bahkan bukan hanya jangka pendek tapi juga untuk masa mendatang.

Handy Mulyana menganggukkan kepala berulang kali.  Kelihatan sekali kalau dirinya ragu untuk melangkah. Namun, di detik akhir pertemuan mereka.

"Baiklah, Tuan Kaelric. Kontrak perpanjangan kerjasama ini kita teruskan saja. Dan saya minta maaf atas keraguan saya ini."

"Tidak apa-apa, Tuan Handy. Itu sudah biasa dalam dunia bisnis."

Akhirnya, mereka sepakat untuk menandatangani kontrak perjanjian.

Setelah selesai penandatanganan kontrak. Handy Mulyana berniat untuk mengajak Kaelric makan siang di sebuah resto mewah di bilangan Jakarta. Tapi, Kaelric menolaknya. Karena, dia ingin segera pulang.

Selepas Handy Mulyana meninggalkan ruang meeting. Ravian segera mendekati Kaelric.

"Bos, lalu bagaimana dengan Adiwinata Corporation?"

"Iya, aku tahu Ravian."

"Kau mengincar anak gadis Adiwinata bukan?"

"Bukan hanya mengincar Bos. Tapi, anaknya yang mengejar saya. Saya kan bingung, Bos?"

"Apa yang kamu bingungkan?"

"Kan tinggal datang ke rumahnya. Bilang ke orang tuanya. Saya akan menikah dengan anakmu, Tuan Adiwinata. Begitu saja, kan beres?".

" Diiih, si Bos. Nah si Bos calon mertuanya sudah almarhum. Coba aja kalau calon mertuanya masih ada. Pasti baku tembak!"

Kaelric melirik kearah Ravian. Tapi, memang benar apa yang dikatakan Ravian. Kalau Kaeden masih ada, pasti dia tidak akan mendapatkan ijin darinya.

"Sekarang, yang ada cuma Maminya. Cukup kasih black card ke Maminya aja plus diajak shoping atau jalan-jalan ke seluruh dunia, nah udah!. Beres urusan!. Nah saya??. Panjang Bos!".

Kaelric hanya melirik kearah Ravian sebentar. Kemudian, matanya kembali ke lembaran kertas di atas meja.

"Kenapa kerjaan kamu hari ini tidak beres?"

"Pusing Bos!"

Jawab Ravian singkat. Dia pun kembali ke meja di sebelah Kaelric.

"Banci kamu!"

"Suka anak gadis orang sampai begitu?"

"Bos, tolong bantu saya."

Kaelric diam.

"Apa yang mesti aku bantu?. Aku sendiri saja belum menikah. Suka sama anak gadis orang,  harus aku buat bapaknya tewas. Meski aku sebenarnya tidak berharap begitu."

Bayangan Kaelric kembali beberapa waktu lalu. Meski itu bukan karena kesengajaan. Tapi, faktor kebetulan.

“Dia bukan targetnya, Bos.”

Ravian diam sejenak.

“Tapi tetap saja terjadi.”

Kaelric tidak menjawab. Karena mereka berdua tahu dan itu sudah cukup.

"Sudah lupakan saja yang sudah terjadi. Sekarang, fokus saja kamu ke anak perempuan Adiwinata. Siapa tahu jodoh kamu. Terus kamu jadi CEO disana menggantikan Adiwinata yang sudah banyak pikun itu."

"Maka dari itu, Bos. Tolong bantu saya."

"Oke, aku akan bantu kamu. Tapi, aku tidak mau gratis. Aku mau imbalan yang pantas dari kamu."

Ravian terdiam. Gini amat punya Bos. Apa-apa minta imbalan. Seperti beberapa bulan lalu. Dia pulang kampung. Karena, bapaknya sakit dan harus operasi. Si Bos menawarkan diri mengantar sampai rumah. Tapi, minta imbalan makan nasi pecel lele di kampungnya.

Astaga!!!. Nah, sekarang?. Ah, sama saja!.

"Imbalan seperti apa yang Bos maksudkan?"

“Aku hanya ingin satu hal, Ravian. Yaitu Prioritas.”

“Saat kau memegang kendali disana, kau tahu harus menghubungi siapa lebih dulu.”

Kata Kaelric. Ravian menganggukkan kepala berkali-kali.

"Tapi, Bos bisa kan membuat urusan kami berdua lancar?"

"Aku jamin itu. Kalau kamu tidak percaya, potong lidahku!".

Ravian mengangguk-angguk. Nampaknya dia harus yakin seratus persen pada Bosnya itu.

Suasana hening menyelimuti ruang meeting. Di dalam ruangan hanya ada mereka berdua. Sedangkan, Handy Mulyana sudah beberapa waktu lalu meninggalkan ruangan dengan hati yang lega.

Ya, karena kesepakatan kerjasama mereka masih terus berlanjut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!