NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12.Melepaskan Reno.

Suasana di halaman belakang itu hening, hanya terdengar suara desiran angin dan isak tangis yang tertahan. Rani berdiri mematung, matanya menatap kosong ke arah udara di samping Salsa. Ia ingin percaya, tapi logikanya menolak. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mati enam tahun bisa bicara dan berdiri di sana?

"Sal..." suara Rani bergetar. "Kau... kau benar-benar bisa dengar dia? Kau benar-benar bisa lihat Kak Reno?"

Salsa mengangguk mantap. "Iya, Ran. Dia ada di sana. Dia berdiri tepat di sebelahku. Dia menangis, Ran. Dia sangat sedih karena merasa sudah memalukan keluarga."

"Kalau begitu... sampaikan padanya," pinta Rani pelan, air matanya kembali jatuh membasahi pipi. "Sampaikan padanya... aku tidak pernah merasa malu. Aku tidak pernah jijik sama sekali. Aku cuma... kaget. Itu saja."

Salsa menoleh ke arah Reno yang masih menunduk, bahunya terguncang menahan tangis yang tak terdengar.

"Mas Reno..." panggil Salsa lembut. "Rani bilang dia tidak jijik. Dia cuma kaget. Dia mau dengar apa yang Kakak mau katakan."

Reno mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah dan basah. Ia menatap adik perempuannya yang kini sudah tumbuh besar, lalu mulai berbicara dengan suara parau.

"Sampaikan sama dia, Sal... Kakaknya minta maaf. Maaf karena jadi kakak yang aneh, yang punya kebiasaan aneh. Maaf kalau dia merasa malu punya kakak kayak aku. Aku tahu ini memalukan, aku tahu orang-orang akan menertawakan kita. Kalau dia mau marah, mau benci, atau mau jijik... aku terima. Tapi tolong... satu hal yang aku minta..."

Reno berhenti sejenak, menarik napas panjang yang tak ada udaranya.

"Jangan benci dirimu sendiri, Ran. Tolong... jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi di pantai dulu. Itu bukan salahmu. Itu takdirku."

Salsa dengan setia menerjemahkan setiap kata-kata itu ke telinga Rani. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Salsa, membuat dada Rani terasa semakin sesak dan perih.

"Tapi... bagaimana aku bisa yakin ini benar-benar Kak Reno?" Rani menggeleng kuat, tangannya mencengkeram lengan bajunya sendiri. "Banyak orang bisa menebak atau berkhayal! Aku butuh bukti! Aku butuh sesuatu yang cuma aku dan Kakak yang tahu!"

Rani menatap tajam ke arah Salsa, lalu ke arah hampa tempat Reno berdiri. "Katakan padanya... katakan padanya untuk memberitahu sesuatu yang cuma kita berdua yang tahu! Kalau dia benar Kakakku, dia pasti tahu!"

Salsa segera menoleh ke Reno. "Mas, Rani minta bukti. Dia mau dengar rahasia kecil kalian berdua."

Reno tertegun sejenak, lalu seketika wajahnya berubah lega. Ia mengangguk cepat, lalu mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan bagian dalam pergelangan tangannya kepada Salsa.

"Katakan padanya... di pergelangan tangan kananku, ada tato kecil bentuk bunga anggrek. Aku buat sendiri pakai tinta dan jarum saat kita masih kecil. Aku sembunyikan karena takut dimarahi Ayah. Cuma kamu yang tahu soal itu, Ran. Ingat kan? Kamu yang jaga aku saat aku demam karena infeksi luka itu."

Salsa tanpa menunggu lama langsung menyampaikannya dengan semangat.

"Rani! Dia bilang! Di pergelangan tangan kanan Mas Reno ada tato kecil bentuk bunga anggrek! Dia buat sendiri waktu kecil pakai jarum dan tinta! Dan kamu yang jagain dia waktu dia demam! Itu bener kan?!"

BRUK!

Seolah ada palu besar yang menghantam dada Rani. Wajahnya pucat pasi, lalu air matanya meledak keluar lebih deras dari sebelumnya.

"Benar... itu benar..." isak Rani sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tidak ada yang tahu soal itu... bahkan Ayah dan Ibu tidak tahu... Hanya aku dan Kakak..."

Keyakinan itu akhirnya datang. Gadis itu tidak ragu lagi. Orang di hadapannya, atau lebih tepatnya, roh yang ada di hadapannya itu, benar-benar kakaknya sendiri.

"Kakakkkk!!!" teriak Rani histeris. Ia melangkah maju, ingin memeluk sosok yang tak terlihat itu. "Maafkan aku Kak! Maafkan Rani!!!"

Rani jatuh berlutut di atas rumput, menangis sejadi-jadinya.

"Rani salah... Rani yang salah! Kalau saja Rani nggak berenang terlalu jauh... Kalau saja Rani nurut sama Kakak... Kakak nggak akan pergi! Rani pembunuh! Rani yang bikin Kakak mati!!" jerit Rani penuh rasa bersalah yang selama ini ia pendam selama enam tahun.

Reno panik melihat adiknya menyalahkan diri sendiri sedemikian rupa. Ia bergerak cepat mendekati Rani, tangannya terulur ingin menenangkan adiknya tapi menembus tubuh Rani.

"Sal! Cepat! Peluk dia! Tenangin dia!" perintah Reno panik. "Jangan biarkan dia mikir kayak gitu! Itu menyiksa aku!"

Salsa segera berjongkok dan langsung menarik tubuh Rani ke dalam pelukannya. Rani yang rapuh pun langsung membalas pelukan itu erat-erat, menangis tersedu-sedu di bahu Salsa, seolah Salsa adalah sandaran terakhirnya.

"Sssst... udah ya... udah..." bisik Salsa sambil mengelus punggung Rani perlahan. "Dengerin apa kata Mas Reno ya..."

Salsa menatap Reno yang berdiri di depan mereka dengan wajah penuh kasih sayang dan kesedihan.

"Katakan padanya, Sal... Kakaknya tidak pernah menyalahkan dia. Tidak sedikitpun. Aku rela mati demi dia. Aku bahagia bisa menyelamatkan nyawanya. Kalau harus diulang seribu kali, aku akan tetap melakukan hal yang sama."

Reno menunduk menatap adiknya yang menangis dalam pelukan Salsa.

"Aku tidak ingin melihat dia menyiksa diri sendiri karena rasa bersalah bodoh ini. Hidupnya harus terus jalan. Dia harus bahagia, dia harus tertawa lagi seperti dulu. Itu satu-satunya permintaanku sebelum aku pergi selamanya."

Salsa mengulang semua kata-kata itu dengan lembut ke telinga Rani. Setiap kalimat itu seperti balsem yang menyembuhkan luka lama di hati gadis itu.

"Kakak nggak benci aku...?" tanya Rani terisak.

"Enggak, sayang. Kakak sayang banget sama kamu," jawab Salsa mewakili Reno.

Rani menangis semakin kencang, tapi kali ini tangisan itu adalah pelepasan beban yang berat. Selama enam tahun ia hidup dalam neraka rasa bersalah, dan hari ini, di halaman belakang ini, ia akhirnya mendapatkan pengampunan dari orang yang paling ia cintai dan takuti untuk dimintai maaf.

Beberapa menit berlalu, tangisan Rani perlahan mereda menjadi isak tangis halus. Salsa masih memeluknya dengan sabar.

"Sal..." panggil Reno pelan. "Sudah waktunya. Beban di hatiku sudah hilang. Rahasiaku sudah dia tahu, dan dia menerimanya. Aku sudah tenang sekarang."

Salsa mengangguk mengerti. Ia melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap tumpukan foto-foto yang masih berserakan di tanah.

"Ran..." panggil Salsa lembut. "Rahasia Mas Reno... biar jadi rahasia kita berdua aja ya? Nggak usah ada orang lain tahu. Supaya nama baik Mas Reno tetap terjaga."

Rani mengangkat wajahnya yang bengkak. Ia menatap foto-foto kakaknya yang berpakaian wanita itu. Tidak ada rasa jijik lagi di hatinya, hanya ada rasa haru dan sedih melihat betapa bahagianya kakaknya saat mengenakan pakaian itu.

"Iya..." jawab Rani pelan. Ia mengambil kotak kayu yang rusak dan mengumpulkan foto-foto itu satu per satu ke dalam tungku pembakaran. "Ini cuma milik Kakak dan kita. Nggak ada yang boleh lihat."

Dengan tangan gemetar, Rani mengambil korek api dari tangan Salsa.

Kret!

Api menyala dan menjilat tumpukan foto dan kertas itu. Api itu membesar, memakan habis semua kenangan yang tersimpan rapi. Asapnya mengepul ke langit sore, membawa serta rahasia itu pergi bersama angin.

Salsa dan Rani duduk bersila menyaksikan foto-foto itu berubah menjadi abu hitam.

Di depan mereka, Reno berdiri dengan senyum damai di wajahnya. Bebannya sudah lepas. Ia menatap Rani untuk terakhir kalinya, lalu menatap Salsa dengan penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih, Sal. Terima kasih sudah menjadi jembatan kami. Terima kasih sudah mau mengerti aku. Jaga Rani ya... dan jaga Rian juga."

"Sama-sama, Mas... Hati-hati di jalan ya," ucap Salsa lirih.

Perlahan, tubuh Reno mulai memudar, bersinar terang seperti debu halus, lalu perlahan-lahan lenyap ditelan cahaya sore, menghilang bersama dengan asap pembakaran itu.

Rani yang melihat perubahan suasana, menoleh ke arah Salsa dengan wajah penuh harap.

"Sal... Kakak... Kakak sudah pergi ya?"

Salsa tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan.

"Iya, Ran. Dia sudah pergi. Dia pergi dengan senyum yang sangat lebar. Dia bilang... dia sekarang sudah tenang dan bahagia."

Rani menunduk, menyentuh abu sisa pembakaran di tungku itu dengan jari telunjuknya.

"Selamat jalan, Kak... Terima kasih," bisik Rani lembut.

Mereka berdua menatap langit sore yang mulai menghitam, dan Rani dengan ramah mengajak Salsa masuk kedalam rumah keluarga Wijaya.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!