NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:936
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Pertemuan di Batas Tirai

​"Aisya hanya ingin terbang menuju masa depannya di Kanada. Ia tidak tahu bahwa pria yang duduk di sebelahnya adalah kegelapan yang akan mengubah seluruh garis takdirnya. Di ketinggian 30.000 kaki, rahasia itu dimulai."

​Penerbangan dari Jakarta menuju Kanada akan memakan waktu belasan jam, dan bagi Aisya, tantangan terbesarnya bukanlah durasi terbangnya, melainkan sifat cerobohnya yang sering muncul di waktu yang salah.

​Gadis berusia 19 tahun itu berjalan hati-hati di lorong kabin First Class yang mewah, mengekor di belakang Paman Hamdan dan Bibi Salma. Tangannya mendekap erat tas kecil berisi paspor dan dokumen kuliahnya di Toronto. Karena terlalu fokus menjaga langkah agar tidak tersandung karpet tebal, Aisya tidak menyadari ada sebuah koper kecil yang sedikit menonjol ke lorong dari salah satu bilik privat.

​Brukk!

​"Astagfirullah..." gumam Aisya pelan. Kaki kecilnya tersangkut, tubuhnya oleng, dan tas yang ia dekap terlepas begitu saja dari pelukannya.

​Tas itu meluncur tepat masuk ke dalam bilik privat milik seorang pria dan mendarat tepat di atas sepatu kulit yang sangat mengilap.

​Aisya membeku. Dengan canggung, ia segera membungkuk di depan pintu bilik tersebut untuk mengambil tasnya. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh tas itu, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol sudah lebih dulu memungutnya.

​Aisya mendongak.

​Ia langsung berhadapan dengan Cassian Noir. Pria itu duduk dengan posisi sangat dominan, dan yang paling membuat Aisya terpaku adalah matanya. Pria itu memiliki bola mata biru abu-abu yang sangat dingin, seperti warna langit sebelum badai salju. Tatapannya begitu tajam, membuat suasana di sekitar mereka seolah membeku seketika.

​"Ini milikmu?" tanya Cassian dengan suara berat yang rendah. Matanya yang biru abu-abu itu menelusuri sosok gadis di hadapannya—dari jilbab panjangnya hingga niqab hitam yang menutupi wajahnya, menyisakan sepasang mata hitam pekat yang jernih dan kini tampak sangat bulat karena terkejut.

​"I--iya, Tuan. Maafkan saya, saya kurang memperhatikan jalan," jawab Aisya gugup. Suaranya halus, namun terdengar gemetar.

​Cassian tidak segera memberikan tas itu. Ia justru menatap dalam ke arah mata hitam Aisya. Hitam yang sangat gelap, sangat kontras dengan miliknya yang pucat dan dingin. Bagi Cassian, mata gadis itu seperti lubang hitam yang siap menyedot siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.

​"Kau sangat ceroboh, Little One," desis Cassian, memberikan tas itu kembali.

​Aisya dengan cepat menyambar tasnya, jemari kecilnya sempat bersentuhan dengan kulit tangan Cassian yang hangat, memberikan sensasi aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Terima kasih, Tuan. Sekali lagi maaf."

​Aisya segera bangkit dan setengah berlari menyusul paman dan bibinya yang sudah hampir sampai di balik tirai pembatas kelas ekonomi. Ia tidak berani menoleh lagi.

​Di kursinya yang mewah, Cassian Noir masih merasakan sisa sentuhan di ujung jarinya. Ia menyandarkan punggungnya, menatap tirai yang tertutup rapat. Matanya yang biru abu-abu itu kini berkilat penuh minat. Seorang gadis kecil dengan mata hitam yang ceroboh baru saja mengusik ketenangannya di ketinggian 30.000 kaki.

​"Menarik," gumam Cassian sambil tersenyum tipis—sebuah senyum yang jarang sekali terlihat di wajah sang CEO dingin itu.

​Enam jam telah berlalu. Lampu kabin kelas ekonomi mulai diredupkan. Paman Hamdan dan Bibi Salma sudah tertidur lelap.

​Aisya merasa gelisah, ia butuh membasuh wajah. Dengan sifat cerobohnya, ia berjalan dalam kondisi setengah mengantuk. Saat melewati tirai pembatas, ia tidak sadar telah masuk ke area First Class yang mewah. Ia berhenti di depan sebuah pintu yang ia kira toilet, lalu menariknya.

​Klik.

​Pintu itu terbuka sedikit. Di dalamnya, Cassian Noir baru saja membasuh wajah. Kemeja hitamnya terbuka di dua kancing teratas.

​"Kau lagi?" suara berat Cassian bergema.

​Aisya tersentak, mata hitamnya membulat sempurna saat bertemu mata biru abu-abu pria itu.

"A-astagfirullah! Maaf, Tuan! Saya tersasar."

​Aisya segera menarik pintu, namun botol kecil parfum minyak zaitun miliknya terjatuh dan menggelinding masuk ke ruangan Cassian. Cassian memungutnya dan melangkah keluar, membuat Aisya terdesak ke dinding lorong yang sempit.

​"Kau penumpang yang tadi," gumam Cassian, menatap tajam ke arah mata hitam Aisya. "Kabin ekonomi ada di balik tirai itu, Little One. Kau tahu ini area terlarang?"

​Aisya menunduk dalam. "Saya benar-benar minta maaf... Tuan Noir."

​Cassian menyipitkan mata biru abu-abunya. "Bagaimana kau tahu namaku?"

​Aisya menjawab pelan tanpa berani mendongak, "Di kursi Anda tadi... saya melihat majalah bisnis dengan wajah Anda di sampulnya. Cassian Noir, CEO Noir Enterprises. Sulit untuk tidak mengenalinya."

​Cassian tersenyum tipis, merasa sedikit geli. Ia mengangkat botol parfum milik Aisya. "Dan aku tahu namamu adalah Aisya. Pamanku memanggilmu berulang kali saat kalian berjalan di lorong tadi. Suaranya cukup keras untuk menembus kabin ini."

​Wajah Aisya di balik niqab terasa panas. Ia merasa sangat malu karena kecerobohannya dan fakta bahwa pria asing ini sempat memperhatikannya.

​"Berikan parfum saya, Tuan. Saya harus kembali," pinta Aisya dengan suara bergetar.

​Cassian mengulurkan botol itu, namun saat Aisya hendak mengambilnya, Cassian menahan botol itu sejenak. "Dengar, Aisya. Jangan tersasar lagi. Karena di tempat tujuanku nanti, tidak ada tempat untuk gadis sepertimu yang bahkan tidak bisa membedakan pintu toilet."

​Aisya menyambar botolnya, mengangguk cepat, dan langsung lari menuju kabin ekonomi. ​Cassian berdiri diam, menatap tirai yang tertutup. Ia baru saja menyadari sesuatu: ia baru saja menyebutkan nama gadis itu dengan sangat lancar, seolah nama "Aisya" sudah lama ada di ingatannya. Padahal, ia adalah pria yang tidak pernah peduli pada nama orang asing yang lewat di depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!