Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : Anak Panti Yang Takut
Salah satu penjaga panti asuhan merasa terharu dengan sikap Naja pada anak-anak di sana. Dia merasa setelah lama terjadi kerusuhan, baru ini mereka benar-benar tenang. Namun, kehadiran Naja yang tampak asing di mata mereka membuat penjaga panti asuhan merasa sedikit waspada.
"Maaf, Kak. Saya mau tanya, anda siapa ya? Kenapa tiba-tiba ada di sini?" tegur penjaga itu sambil memandang Naja dengan tatapan selidik. Dia merasa Naja sengaja ramah pada anak-anak untuk tidak takut saat ada pengusiran, alias berpikir Naja bagian petugas project.
Naja tersenyum menghela napas. "Saya Naja. Naja yang cantik," ucapnya memperkenalkan diri, dia mengulurkan tangan tapi malah ditepis oleh penjaga itu. Penjaga itu masih menatapnya sinis.
"Saya merasa kamu ke sini untuk mengambil anak-anak kami paksa seperti mereka," ujar penjaga panti itu dengan suara gemetar dan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia mendekat pada salah satu anak panti dan merangkul erat. Mereka menjaga jarak dari Naja.
Naja mengerutkan kening. Dia memandang semua orang yang ada di sana dengan senyum sambil mengangkat bahu. Gadis itu berjalan mendekat secara perlahan agar tidak dijauhi.
"Oh enggak dong. Aku tidak akan mengusik kalian seperti petugas jelek tadi. Aku cuma berusaha untuk menghilangkan rasa takut pada anak-anak," jelas Naja sambil menunjuk salah satu anak yang sedang bermain bola.
Penjaga panti itu memicingkan mata. "Untuk apa?"
"Aku perempuan berhati lembut yang ingin semua orang di panti aman—" ucapan Naja terpotong saat Satria sudah kembali dengan membawa beberapa kantong kresek berisi nasi kotak.
"Makanan datang! Ayo adik-adik, kita makan dulu," ucap Satria santai sambil berjalan maju menaiki tangga mini yang ada di teras panti asuhan.
Kehadiran Satria disambut hangat oleh Naja. Gadis itu membantu Satria merapikan makanan dan membagikan pada anak-anak. Semua anak panti menerima makanan itu hingga tersisa beberapa. Naja melirik pada penjaga panti asuhan itu, termasuk pemilik panti yang masih kelihatan shock.
"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian takut jika kami macam-macam?" tanya Naja sambil menaikan salah satu alisnya. Gadis itu tersenyum, seolah berusaha menenangkan kekhawatiran yang ada di pikiran mereka.
Penjaga panti asuhan itu terdiam. Mereka awalnya ragu dengan sikap baik Naja dan Satria. Namun, setelah perlakuan baik mereka pada anak-anak membuat mereka tenang. Apalagi, anak-anak juga terlihat tidak lagi panik seperti tadi bahkan bisa ceria.
Penjaga itu menarik napas dalam-dalam, sebelum kembali memandang Naja dan berkata, "Iya, kami percaya sekarang."
Satria menatap penjaga panti itu dengan senyum ramah. Lelaki itu berdiri, menghampiri penjaga itu. Dia mengulurkan kotak makan itu padanya.
"Lebih baik kalian makan dulu," tegur Satria sambil memberikan kotak makan itu pada penjaga panti.
Penjaga panti itu menerima makanan dari Satria. "Terimakasih," ucapnya pelan.
Dia pun memanggil teman-temannya untuk ikut makan bersama. Setelah mendapat kotak makan itu, penjaga panti tidak langsung makan. Wanita itu menghampiri pemilik panti dan memilih menyuapinya terlebih dulu.
Penjaga panti asuhan yang lain lahap makan makanan yang dibelikan oleh Satria. Dia merasa penasaran dengan kehadiran mereka berdua pun bertanya dengan khawatir, "Atas dasar apa kalian tiba-tiba baik menolong kami?"
"Kami hanya ingin kalian bisa hidup tenang tanpa diganggu oleh rasa takut," jawab Satria sambil mengunyah makanannya. Dia menjawab itu dengan suara santai, diangguki oleh Naja.
Anak-anak panti asuhan tersenyum melihat Satria dan Naja. Mereka bahagia dengan kehadiran keduanya yang membawa keceriaan di panti.
"Kalian berdua memang penyelamat! Kalian hebat!" ucap salah satu anak laki-laki panti yang sedikit gemuk. Dia mengangkat ayam goreng di tangannya cukup tinggi seolah menunjukkan piala.
Naja tertawa kecil melihat tingkah anak itu tanpa sadar menepuk pundak Satria. Lelaki itu melirik Naja sambil mengerutkan kening. Naja seketika sadar dan menjaga jarak dari Satria agar tidak terlalu asyik sendiri.
Setelah makan, anak-anak disuruh penjaga panti untuk istirahat di kamar. Sementara mereka berbicara hal penting dengan Naja dan Satria di depan. Pemilik panti asuhan ikut nimbrung sesekali tapi suaranya terdengar terbata-bata sehingga Naja dan Satria tidak begitu jelas mendengarkan ucapan mereka.
"Setelah ini kami tidak tahu bisa tinggal di mana lagi, kami sudah tidak ada harapan untuk hidup," ujar pemilik panti asuhan dengan wajah yang sedikit pucat, tatapannya kosong seperti tidak ada harapan.
Satria mengusap air mata yang menetes di wajah pemilik panti asuhan itu. Dia tersenyum kecil, berusaha menenangkan keresahan di hati pria itu.
"Kalian jangan khawatir soal makan atau tempat tinggal, kami akan mencoba membantu kalian," ujar Satria sambil melirik Naja yang berdiri di belakangnya.
Naja tersenyum mengangguk. "Satria benar, kalian tidak perlu takut soal itu. Aku akan melindungi kalian bersama… pesuruh eh, teman saya," timpal gadis itu.
Satria sempat memincingkan mata saat Naja bilang pesuruh barusan.
Semua masih diam saja, mereka tidak tersenyum sama sekali dan sibuk merenung. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini. Saat menatap Naja maupun Satria, ada rasa sedikit tenang tapi di sisi lain masih ada sedikit rasa kewaspadaan. Seberapa banyak Naja dan Satria berusaha menjelaskan niat baik mereka, tidak bisa meluluhkan hati penjaga panti asuhan ini.
Tak terasa, hari sudah mulai sore, Naja tersenyum menatap semua orang yang ada di sana.
"Sorry yah. Mungkin kami baru bisa membantu kalian begini doang sementara ini," ucap Naja sambil melihat sekeliling.
"Tapi, kami akan segera mencari tempat tinggal layak untuk kalian!" timpal Satria sambil tersenyum.
Penjaga panti asuhan itu tidak berkata apa-apa. Mereka masih terdiam, meragukan ucapan keduanya. Naja pun menghela napas sambil melirik langit sore.
"Kami pamit dulu ya, Kak. Jaga diri baik-baik! Kami akan segera kembali besok atau lusa," ucap Naja sambil melambaikan tangan, berpamitan pada semua orang yang ada di sana.
Penjaga panti itu membalas lambaian Naja. Mereka tersenyum simpul. "Iya, hati-hati di jalan. Terimakasih banyak, Naja," ucap salah satu penjaga.
Satria mengerutkan keningnya. Dia merasa kesal karena namanya tidak ikut disebut. "Cih… Kenapa namaku tidak disebut? Aku kan juga menolong mereka seperti kamu," bisik Satria di telinga Naja.
Naja membalas itu dengan memukul pelan perut Satria sambil tertawa mengejek. "Mungkin mereka masih takut karena muka kamu jelek. Lagian tadi kan kamu sibuk beli makanan," jawab Naja.
Satria mengangkat bahu acuh. Dia menunjuk kotak makan yang ada di sana. "Aku kan tadi disuruh kamu nyari ini," tegasnya.
"Sudah nggak usah ngambek, kan selagi niat kita tulus menolong, tidak perlu hawatir soal berkat. Tidak akan tertukar kok, handsome boy," tegur Naja.
Naja menyeret Satria dengan menggenggam bahu pemuda tersebut. Mereka berjalan menjauh dari panti asuhan itu. Keduanya pulang ke rumah masing-masing. Sementara di hati mereka masih berpikir tentang tempat tinggal yang nyaman, untuk orang-orang di panti asuhan yang mulai terlantar.