NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Nurul langsung menangis.

Namun Amira akhirnya berdiri. Tatapannya kini benar-benar lelah. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan, Nurul?”

Nurul menatapnya dengan mata basah.

“Aku kehilangan bayiku…” suara Amira pecah, “…dan sahabatku di waktu yang bersamaan.”

Ruangan langsung hening total. Dan untuk pertama kalinya sejak datang Nurul benar-benar tidak mampu membalas apa pun.

Nurul menangis semakin keras. Tangannya gemetar memegang ujung jilbabnya sendiri. “Lalu bagaimana dengan taubat aku dan Mas Mirza?” Suaranya pecah penuh putus asa. “Apakah kamu enggak melihat itu, Mir?”

Amira diam. Dadanya terasa sesak mendengar semua itu. Namun luka dalam dirinya masih terlalu hidup.

Nurul melangkah mendekat sedikit. “Aku tahu kami berdosa…” air matanya jatuh tanpa henti. “Aku tahu kami salah besar.” Ia menunduk sambil menangis. “Tapi kami mau memperbaiki semuanya.”

Amira memalingkan wajah pelan. Karena mendengar nama Mirza saja sudah cukup membuat dadanya sakit.

“Aku enggak mau kehilangan kamu, Mir…”

Kalimat itu justru membuat Amira menatapnya lagi dengan mata penuh luka. “Kehilangan aku?” Senyumnya tipis. Namun begitu pahit. “Rul…” suara Amira lirih, “kamu kehilangan aku sejak pertama kali kamu menyentuh suamiku.”

Tangis Nurul langsung pecah lagi. “Aku khilaf…”

“Khilaf itu sekali.” jawab Amira pelan. “Bukan berkali-kali sampai hamil.”

Nurul langsung menutup mulutnya sambil menangis tersedu.

Amira memejamkan mata sebentar. Ia juga ikut sakit. Karena bagaimanapun dulu Nurul benar-benar sahabatnya. Mereka pernah makan sepiring berdua. Pernah tidur sambil bercerita semalaman. Pernah saling meminjam baju dan saling menjaga rahasia. Tetapi sekarang semuanya hancur.

“Aku percaya Allah bisa menerima taubat kalian.” Suara Amira akhirnya terdengar lagi. Tenang. Pelan.

Dan membuat Nurul langsung mengangkat wajah penuh harap.

“Tapi…” lanjut Amira dengan mata berkaca-kaca, “aku bukan Allah.”

Tangis Nurul langsung melemah.

“Aku manusia biasa.” Amira menggenggam jemarinya sendiri kuat-kuat agar tidak kembali runtuh. “Aku masih sakit.” Air matanya jatuh lagi. “Dan sampai sekarang…” suaranya pecah, “aku masih enggak sanggup membayangkan kalian bersama.” Ruangan kembali hening.

Nurul menangis tanpa suara sekarang.

Sementara Amira terlihat begitu lelah. “Aku enggak mendoakan keburukan buat kalian.” Tatapannya turun pelan. “Tapi aku juga enggak bisa memaksa hati aku untuk tetap tinggal.” Kalimat itu terasa seperti penutup yang pelan namun sangat jelas.

Dan untuk pertama kalinya Nurul mulai sadar bahwa ada luka yang mungkin tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.

Nurul menatap Amira dengan wajah basah oleh air mata. Bibirnya gemetar menahan tangis. “Apakah… enggak ada kesempatan lagi, Mir?" Suara itu lirih sekali. Nyaris seperti anak kecil yang takut ditinggalkan.

Amira terdiam. Pertanyaan itu terasa begitu berat. Karena jauh di dalam hatinya ia juga berduka kehilangan sahabatnya. Kalau saja Nurul hanya perempuan asing, mungkin rasa sakitnya tidak akan sedalam ini. Tetapi Nurul adalah orang yang dulu paling ia percaya. Dan justru itu yang membuat pengkhianatan ini terasa begitu menghancurkan.

Amira perlahan mengangkat wajah. Matanya merah. “Aku pernah menganggap kamu saudara sendiri, Rul.”

Tangis Nurul kembali jatuh.

“Aku percaya sama kamu.” Suara Amira mulai bergetar. “Aku bahkan enggak pernah curiga sedikit pun.” Ia tertawa kecil. Namun penuh luka. “Waktu aku cerita soal kandunganku lemah…” air matanya turun lagi, “…waktu aku nangis karena takut kehilangan bayi aku…” Napasnya memburu. “Kamu ada di samping aku, Nul.”

Nurul langsung menutup wajahnya sambil menangis keras.

Sementara Amira memejamkan mata menahan sesak. “Dan ternyata…” suaranya pecah pelan, “di saat yang sama kamu juga tidur sama suami aku.”

Kalimat itu membuat Nurul seolah kehilangan tenaga. Ia terduduk lemas sambil menangis. “Aku jijik pada diri aku sendiri, Mir…” isaknya patah-patah. “Aku benar-benar menyesal…”

Amira percaya penyesalan itu ada. Ia bisa melihatnya. Tetapi sayangnya penyesalan tidak selalu mampu memperbaiki hati yang sudah hancur. “Aku enggak benci kamu, Rul.”

Nurul langsung menatapnya dengan mata penuh harap.

Namun harapan itu perlahan runtuh saat Amira melanjutkan, “Tapi aku juga enggak bisa kembali seperti dulu. Ada hal-hal yang kalau sudah rusak…” Amira tersenyum tipis penuh kepedihan, “meski diperbaiki, retaknya tetap ada.”

Tangis Nurul kembali pecah.

Sementara Amira berdiri perlahan. Tubuhnya masih lemah. Namun kali ini sorot matanya jauh lebih tegas. “Aku sudah terlalu lelah.” Ia mengusap air matanya sendiri. “Dan untuk pertama kalinya dalam hidup aku…” tatapannya lurus pada Nurul, “…aku mau memilih diri aku sendiri.”

"Mir," Nurul nyaris sujud di kaki sahabatnya.

Tetapi Amira mundur ia menjauh. "Aku memaafkan kamu, tapi aku tidak ingin melihat kamu lagi. Pergilah, berbahagialah dengan Mas Mirza, toh, kamulah perempuan yang dicintainya sejak awal. Assalamualaikum!" Amira berlalu meninggalkan Nurul yang menangis semakin jadi sendiri di ruang tamu.

***

Selepas kepergian Nurul, Amira duduk sendirian di kamar. Suasana mendadak terasa sunyi. Terlalu sunyi. Tangannya masih dingin, sementara dadanya terasa penuh oleh kenangan yang sejak tadi berusaha ia tahan.

Perlahan Amira menyandarkan tubuhnya ke kursi. Lalu memejamkan mata. Dan tanpa diminta ingatan tentang Nurul kembali bermunculan satu per satu.

Dulu saat Amira pertama kali pindah ke kampung itu, hidupnya sedang hancur. Tidak ada yang tahu luka apa yang dibawanya dari masa lalu. Tidak ada yang tahu kenapa seorang gadis kecil yang dahulu aktif tiba-tiba berubah menjadi begitu pendiam.

Trauma itu membuat Amira seperti kehilangan cahaya dalam dirinya sendiri. Ia takut bicara terlalu banyak. Takut dekat dengan orang lain. Takut kembali terluka. Dan di tengah masa paling gelap itu Nurul datang. Seperti matahari. Cantik. Ceria. Berisik. Dan disukai semua orang.

Nurul yang pertama kali mengajak Amira bicara di pengajian kampung. Nurul juga yang menarik tangan Amira supaya ikut duduk bersama gadis-gadis lain. “Sendirian terus nanti cepat tua,” katanya dulu sambil tertawa.

Amira yang awalnya hanya diam akhirnya perlahan mulai membuka diri. Sedikit demi sedikit. Karena Nurul tidak pernah menyerah mendekatinya. Kalau Amira diam, Nurul yang cerewet. Kalau Amira takut tampil, Nurul yang berdiri paling depan sambil menariknya ikut.

Dan tanpa sadar Amira mulai hidup tetapi tetap di balik cahaya Nurul. Ia nyaman berdiri di belakang sahabatnya itu. Membiarkan Nurul menjadi pusat perhatian. Sementara dirinya cukup menjadi bayangan yang mengikuti dari belakang.

Karena setelah trauma yang pernah ia alami Amira tidak lagi ingin terlihat terlalu terang. Bahkan kalau perlu tak ada yang tau dia ada. Ia hanya ingin hidup tenang.

Dan Nurul memahami itu. Setidaknya dulu Amira percaya begitu. Air mata perlahan jatuh dari mata Amira. Karena kenangan baik tetaplah kenangan baik.

Sebesar apa pun luka hari ini, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa Nurul pernah menjadi tempat ia bertahan hidup. Pernah menjadi alasan ia mau membuka hati pada dunia lagi. Dan mungkin itulah yang paling menyakitkan. Bukan karena Mirza diambil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!