Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Beberapa jam berlalu dengan suasana menegangkan.
Lampu ruang operasi akhirnya padam.
Tak lama kemudian, dokter keluar sambil melepas masker di wajahnya.
“Kondisi ibu dan bayinya berhasil diselamatkan,” ucap dokter lega.
Mike langsung mengembuskan napas panjang. Wajah pria tua itu akhirnya sedikit tenang.
Lucien yang sejak tadi berdiri diam perlahan mengendurkan rahangnya.
“Pasien melahirkan seorang bayi laki-laki,” lanjut dokter sambil tersenyum tipis. “Kondisinya sehat.”
Jean dan Darius langsung terlihat senang mendengar kata “bayi laki-laki”.
“Anak laki-laki?” tanya Jean cepat.
Dokter mengangguk. “Ya. Bayinya sangat tampan.”
Tak lama kemudian seorang suster keluar sambil menggendong bayi kecil yang dibungkus selimut biru muda.
Tangisan kecil bayi itu langsung terdengar di lorong rumah sakit.
Jean buru-buru melangkah maju dengan wajah penuh kegembiraan.
“Biar aku gendong cucuku!” katanya cepat sambil mengulurkan tangan.
Namun sebelum suster menyerahkan bayi itu...
“Berhenti.”
Suara Mike terdengar dingin.
Jean langsung membeku.
Mike melangkah maju perlahan sambil menatap tajam pada menantunya itu.
“Barusan kalian memilih menyelamatkan anak itu dibanding ibunya,” ucap Mike dingin. “Sekarang kalian ingin berebut menggendongnya?”
Wajah Jean langsung berubah buruk.
Darius pun terdiam.
Mike kemudian menatap bayi kecil itu dengan sorot mata yang perlahan melembut.
“Kalau Alyssa tidak selamat tadi…” suara pria tua itu terdengar berat, “anak ini tidak akan pernah merasakan kasih sayang ibunya.”
Lucien berdiri tidak jauh dari sana sambil menatap bayi itu beberapa detik. Tatapannya yang dingin perlahan berubah lebih dalam.
Suster kemudian menyerahkan bayi laki-laki itu kepada Mike dengan hati-hati.
Pria tua itu menggendong cicitnya perlahan. Wajah kerasnya akhirnya memperlihatkan senyum tipis untuk pertama kalinya malam itu.
“Anak yang kuat,” gumam Mike pelan.
Sementara di dalam ruang rawat— Alyssa masih terbaring lemah setelah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan putranya.
Mike menggendong bayi laki-laki itu dengan hati-hati. Tangisan kecil bayi tersebut perlahan mereda di dalam pelukannya.
“Kakek buyut akan memberimu kehidupan terbaik,” gumam Mike pelan sambil menatap wajah mungil cucu buyutnya.
Jean yang berdiri di samping hanya bisa menahan diri. Tatapannya masih tertuju pada bayi laki-laki itu.
“Anak ini harus segera diberi nama,” ucap Jean akhirnya.
Darius ikut mengangguk pelan. Namun pria itu terlihat bingung.
Lucien yang sejak tadi berdiri diam perlahan melangkah mendekat.
Tatapannya jatuh pada bayi kecil itu. Sorot matanya yang dingin tampak sedikit melembut.
“Namanya… Kael.”
Semua orang langsung menoleh ke arahnya.
“Kael Fan,” lanjut Lucien tenang.
Mike perlahan mengangguk. “Kael…” gumamnya pelan. “Nama yang bagus.”
Jean mengernyit tipis. “Apa artinya?”
Lucien memasukkan satu tangan ke dalam saku celananya. Tatapannya tetap tertuju pada bayi itu.
“Pria yang kuat dan bertanggung jawab,” jawabnya rendah. “Seorang pria yang tahu cara melindungi keluarganya.”
Kalimat itu langsung membuat wajah Darius berubah kaku.
Sindiran itu jelas ditujukan padanya.
Lucien kemudian menatap bayi kecil tersebut beberapa saat sebelum kembali berkata,
“Aku tidak ingin dia tumbuh menjadi pria lemah yang menyakiti wanitanya sendiri.”
Jean terlihat tidak nyaman. Sementara Darius mengepalkan tangannya erat tetapi tidak berani membalas.
Mike justru tersenyum tipis sambil menggendong cucu buyutnya lebih dekat.
“Kael Fan,” ucap pria tua itu penuh wibawa. “Mulai hari ini… kau adalah tuan muda kecil keluarga Fan.”
Mike masih menggendong Kael dengan hati-hati sambil menatap wajah mungil bayi laki-laki itu.
Tangisan kecil Kael perlahan mereda di dalam pelukannya.
Jean yang berdiri di samping terlihat tidak sabar. Tatapannya terus tertuju pada bayi pewaris keluarga Fan tersebut.
Darius akhirnya melangkah maju. “Aku ingin menggendong anakku,” ucapnya pelan.
Mike menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menyerahkan Kael dengan hati-hati.
Darius langsung menggendong bayi laki-laki itu dengan gerakan kaku. Wajahnya terlihat canggung karena belum pernah menggendong bayi sebelumnya.
Beberapa detik awal— Kael masih diam.
Namun tiba-tiba...
Waaahhh!!
Tangisan keras langsung pecah.
Tubuh kecil Kael bergerak gelisah di dalam pelukan Darius.
Darius langsung panik. “Apa yang terjadi?” tanyanya cepat.
Tangisan Kael justru semakin keras.
Jean buru-buru mendekat.
“Kau bahkan tidak tahu cara menggendong bayi,” omelnya sambil merebut Kael dari tangan Darius. “Biar Mama saja.”
Jean kemudian mencoba mengayun bayi itu perlahan.
“Sayang… jangan menangis…” bujuknya lembut.
Namun...
Waaahhh!!
Kael tetap menangis keras.
Bahkan tangisannya semakin menjadi-jadi sampai wajah kecilnya memerah.
Jean mulai terlihat gugup.
“Kenapa dia masih menangis?” tanyanya panik.
Darius ikut mengernyit. “Apa dia lapar?”
Lucien yang sejak tadi berdiri diam akhirnya mengangkat wajahnya perlahan.
Tatapannya jatuh pada Kael yang menangis di pelukan Jean.
“Berikan padaku.”
Suara Lucien terdengar rendah dan dingin.
Jean sedikit terdiam sebelum menoleh ke arahnya.
“Paman belum pernah punya anak, mana mungkin tahu cara membujuknya,” ujar Darius sambil mengernyit.
Tangisan Kael masih terdengar keras di pelukan Jean.
Jean juga mulai terlihat kewalahan. Ia mencoba mengayun bayi itu perlahan, tetapi Kael tetap menangis tanpa berhenti.
Mike langsung menatap Darius tajam.
“Semasa kau kecil,” ucap pria tua itu dingin, “pamanmu justru lebih sering menggendongmu dibanding ibumu sendiri.
Lucien tidak mengatakan apa-apa lagi. Pria itu langsung melangkah maju.
Tanpa menunggu izin— Lucien merebut Kael dari tangan Jean dengan gerakan cepat tetapi hati-hati.
Jean langsung membeku.
Semua mata tertuju pada Lucien.
Aura pria itu tetap dingin seperti biasa. Sulit membayangkan seorang pria seperti Lucien bisa menggendong bayi kecil.
Namun anehnya...
Baru beberapa detik berada di pelukan Lucien…
Tangisan Kael perlahan mengecil.
Lalu benar-benar berhenti.
Darius dan Jean langsung membulatkan mata tidak percaya.
Kael bahkan tampak nyaman di dalam pelukan pria itu. Tubuh kecilnya bergerak pelan sebelum akhirnya tertidur lelap sambil menempel di dada Lucien.
Lucien menunduk menatap bayi kecil yang tertidur di pelukannya. Tatapannya yang dingin perlahan berubah lebih lembut.
“Anak yang pintar,” gumamnya rendah.
Mike sampai tersenyum tipis melihat pemandangan itu.
“Sampai bayi saja lebih nyaman denganmu dibanding ayah kandungnya sendiri,” sindirnya pelan pada Darius.
Wajah Darius langsung berubah buruk.
"Sepertinya Kael juga tahu siapa yang selalu menjahati ibunya," sindir Lucien.
ayooooo