NovelToon NovelToon
Rekah Rasa Di Ambang Senja

Rekah Rasa Di Ambang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:135.3k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.

Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.

***

Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.

Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?

~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"

"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Yakinkah?

_Alika_

Begitu penasarannya ia, sampai-sampai pagi ini, ia berangkat lebih awal ke sekolah.

Demi apa?

Tentu saja. Padahal ia sangat tau jika Lova itu selalu datang di waktu mepet-mepet menuju jam masuk.

Ada ratusan, oh bukan-bukan, lebih tepatnya ribuan pertanyaan yang kini sudah menumpuk di ujung lidahnya, terutama, kok bisa kepikiran buat nikah, kelulusan juga belum?!

Setelah menunggu dan celingukan beberapa belas menit di luar kelas, ia temukan sosok teman yang membuatnya tak enak jajan sejak kemarin itu, ia langsung beranjak dari duduknya memangkas jarak lebih cepat dan menyeret Lova demi mencari tempat nyaman untuk bercerita.

"Va!" Terlalu pagi untuk teriak-teriak di koridor yang sedikit menggema. Bahkan ayam jantan saja baru check sound.

Senyum Lova nampak seperti biasanya, merekah--cerah dan segar, normal. Tak ada seperti bukti-bukti jika ia berbohong atau tanda-tanda kekerasan atau paksaan terhadapnya.

"Ceritaaa! Semuanya tanpa ada yang kamu skip." Perintahnya tanpa ampun.

Lova justru tertawa renyah, "oke...oke. Aku cerita, tapi mulai dari mana ya? Ditodong begini bikin kaget tau ngga, Lika!" jawabnya berakhir menggerutu, Lova meringis dengan air muka yang bingung sekaligus terkejut karena todongannya, "say hello dulu dong buat pengantin baru nih..." kikiknya berkata lirih sambil mencolek ujung hidungnya sendiri lalu gerakan lainnya adalah, Lova yang menunjukan sebuah benda berkilau di jemari lentiknya, "tadaaa!"

Ia sempat terdiam melihat itu, syok? Mencerna dan memperhatikannya untuk kemudian terkekeh garing, "sorry-sorry, aku terlalu excited. Hello istri newbie!" serunya membuat Lova terkekeh. Oke...ia mulai percaya sekarang dengan pesan Lova kemarin.

Sambil menunggu bel masuk, Lova benar-benar ditahannya untuk tetap bercerita di depan kelas, bahkan tas yang digendongnya saja masih setia nemplok di pundak. Pokoknya rasa penasarannya harus tertuntaskan sekarang juga.

"Oke, jadi begini ceritanya." Tatap Lova jatuh ke arah koridor kelas yang panjang, bersama aktivitas lalu lalang siswanya. Namun ia tau, jauh dari itu temannya ini tengah menerawang masa-masa yang baru saja dilalui kemarin.

Bagaimana hidupnya bisa semengejutkan itu, bagaimana hidupnya bisa jungkir balik begini hanya karena satu keputusan-yang entah ini benar atau salah. Yang semuanya ia serahkan pada ayah--bunda dan Afif.

Mulai dari awal ia dikhitbah sampai detik ia diantar Afif pagi ini ke depan gerbang sekolah, Lova menceritakan padanya benar-benar tanpa ada yang ia lewatkan. Dan Alika memperhatikan itu dengan khusyuk termasuk ekspresi Lova.

Sesekali ia berseru terkejut, menutup mulutnya agar tak mengundang atensi, tentu saja dan terutama di bagian---jika kenyataannya Afnan adalah adik Afif dan Afif yang merupakan guru mengaji Lova selama ini, nyatanya dunia hanya selebar daun telinga saja.

Dari sana benang merah diurai menjadi sebuah ketakutan dan kekhawatiran. Dirinya berubah jadi seorang detektif yang menganalisa baik berdasarkan cerita ataupun dari ekspresi Lova. Begitupula dengan foto yang kini Lova tunjukan padanya.

"Oh iya! Mau liat foto wedding aku ngga?" mata Lova berbinar nakal untuk kemudian ia mengeluarkan ponsel dengan casing pink itu dari dalam tas dan menunjukannya.

"Mau dong! Nikah dimana sih?" tanya nya.

"Pesantrennya keluarga umi sama Abi."

"Oh, pantes aja Afnan begitu...keluarganya punya pesantren."

Dilatari suasana merah dan cream diantara megahnya sebuah masjid, Lova nampak cantik dan lebih dewasa dari biasanya, mungkin efek make up, tapi ia yakin itu Lova dalam balutan baju pengantin serba panjang dan sopannya, berdampingan dengan sosok lelaki yang---ya ampun! Matanya membeliak.

Afnan versi dewasa?! Seriusan? Alika sampai menoleh demi menyakinkan dirinya sendiri dan Lova tentu saja. Wajah blasteran Jawa--Sunda, garis tegasnya, manisnya, tapi berkharisma, "sumpahhh ini Afnan banget, Va."

Namun Lova menggeleng, "engga banget ah. Lebih cakep ini kayanya..."

Tampan itu relatif, bagaimana orang yang memandang dan kadar ketampanan itu tidak bisa diukur oleh rupa meskipun---yaaa...Alika akui, mas-mas, akang-akang ganteng sihh ini!

"Mukanya adem, kaya ubin masjid. Enak dipandang sih..." Lirihnya memancing Lova untuk tersenyum tipis, "tapi kalo lagi mode galak nyeremin juga sih."

"Oh ya? Sering ngambek?"

Lova memutar bola matanya, "jutek tepatnya, sebelum nikah. Waktu masih jadi guru ngaji. Kaya anti perempuan gitu, apalagi kayanya perempuannya yang gagal paham, sama minus akhlak..." tawa Lova menggema.

"Kualat kamu, Va." Keduanya tertawa bersama.

Setelah membolak-balikkan, memperbesar foto di ponsel Lova, dan meyakinkan diri jika nyatanya seorang Afif itu cukup mirip dengan Afnan, Alika kembali mendaratkan tatapan meringis, menelan salivanya sulit sebelum akhirnya memberi tanggapan dan kesimpulan, "jadi, dengan kata lain kamu terima pinangan mas Afif gara-gara Afnan?"

Lova menggeleng dengan gestur tersentak cukup kaget atas pertanyaan yang lebih bisa disebut pernyataan Alika.

"Iya kan, tadi kamu yang cerita..." tunjuk Alika seolah menyeret kembali ucapan Lova tadi.

"Kamu ngga mikir dua kali, buat ta'aruf sama mas Afif karena ngga sengaja, pas Afnan masuk?" lagi, Alika begitu tepat sasaran.

Kini gelengan Lova melemah, meski kemudian ia berkata menegaskan, "engga juga. Tolong garis bawahi Lika, karena Allah, aku terima pinangan ustadz Afif juga karena ayah bunda."

Sungguh Alika sudah mendengus sambil menggelengkan kepalanya, "ini gila sih, menurut aku, Va. Ya aku tau kamu memang modelan manusia gila..." Lova membelikan matanya, "heh!" hampir menggeplak temannya itu.

"Tapi...yang bener aja? Jika kita bicara tentang iman, jangan terlalu jauh Va...untuk ukuran kita, remaja yang---imannya setipis tisu dibagi 9, yang kalo puasa ramadhan aja banyak mokelnya..mengucap ibadah karena Allah itu apa sedalam itu artinya? Apa yakin, berat loh itu..." Jelasnya membuat sorot mata sewot penuh keyakinan itu akhirnya sedikit meredup.

Lova, dengan mata bulatnya menatap Alika dengan sorot gamang, ucapan Alika itu mencolek keyakinan di hatinya yang sudah ia pupuk sejak beberapa hari lalu.

Bukan, Alika menggeleng bukan ia tak suka hanya saja, "kamu oke? Aku harap keputusan kamu yang memilih mengiyakan ta'aruf di usia muda, sangat--sangat muda, Va!" tegas Alika, "dengan mas Afif ini bukan karena kamu dendam sama Afnan, tapi emang kamu beneran yakin, kalo menikah muda dengan mas Afif ini adalah keputusan tepat."

"Tapi terlepas dari semua itu, aku langitkan doa untuk kebaikan kalian berdua, aku mau ngucapin---congrats...samawa until jannah sayangkuhhh, bahagia selalu. Sekarang kalo mau kemana-mana berdua harus minta ijin mas Afif dulu dong?" Alika bahkan sudah merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Lova dengan senyuman yang ia berikan tulus terhadap sang kawan.

"Iya." Meski ragu Lova kini turut menghambur menyambut pelukan Alika, mencoba mencari keyakinannya. Ucapan Alika cukup mengusiknya kini.

Hingga, langkah dan seruan beberapa orang membuat mereka menghentikan aktivitas pelukan hangat ini, "masuk-masukkkk oeyyy! Malah pada pelukan disini, ikutan lah gueee!" Kiki yang berjalan tergesa dengan tas yang masih dipunggungnya.

"Mau Lo!"sewot Lova diangguki Alika.

Ia mengusap punggung Lova lembut, "masuk yuk...udah bel. Guru sebentar lagi masuk."

.

.

.

1
Icka Soesan
cukup bikin geregetan
Siti
good the best lah pokoknya
Ney Maniez
enknya pacaran halal...
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
Ney Maniez
alhamdulilah,, bersyukur ya Va
Ney Maniez
ihhh soo sweett 🥰🫰
Ney Maniez
nahh gituuu va,,CPT move-on karna ad yg halal...
jujur kpn va tentang Afnan ny
Ney Maniez
KLO tau BKN buat Afif gmn,nyesekkk GK sihhh
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny
Trituwani
asikk bener kalian nonton,berasa abg lagi ya mas...tp ya tahan nafas jg klo depan belakang samping kiri kanan ad yg slonong boy gitu berasa milik berdua..... berasa pengen bilang "woee halalin dululah sebelum kecap kecup kemat kemut"jiwa meronta ya va pengen nyakar 😅
Trituwani
cupidnya baru dateng dikala kamu patah, diwaktu yg tepat bgt va
Trituwani
yahhh bunga biasa va...q kira bunga bank sekalian va 😂😂
Trituwani
cieeeeeeeeeeeeee q nganan va ihh 😄
Trituwani
lebih lebihh mantabsnya va... lebihh yahudh pula
Trituwani
jatuh cinta berjuta rasanya...
Rita
Va aduhhh bs dilepas dulu ngga kertas minyaknya pgn romantis buyar gr2 kertas nempel di mukamu😂
Rita
berasa jadul😂
Rita
😂😂😂😂😂😂😂i fell u Va
Rita
😍😍😍
Rita
terAfif Afif skrg🥰
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
wehh😂😂😂😂sklian praktek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!