Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kael Menyerang
Kael pergi. Tapi tidak pulang.
Theron datang ke istana Aequoria keesokan paginya dengan wajah pucat.
"Kael tidak kembali ke Utara," katanya. "Mata-mataku melaporkan dia berenang ke selatan. Bukan ke kerajaannya. Tapi ke... Palung Hitam."
Nana merasakan darahnya membeku. "Palung Hitam? Tempat Aramis dulu berkuasa?"
"Ya," jawab Theron. "Dan dia tidak sendirian. Dia membawa serta pasukan setianya — sekitar lima puluh Siren."
Jeno yang berdiri di samping Nana langsung menegang. "Dia mau apa di Palung Hitam?"
"Palung Hitam adalah tempat penuh sihir hitam sisa-sisa kekuasaan Aramis. Sisa-sisa senjata, jimat, mungkin juga... kekuatan kuno yang ditinggalkan."
Zara yang ikut mendengarkan menghela napas. "Dia mau merebut kekuatan itu untuk melawan kita."
"Tapi kenapa?" tanya Nana. "Aku sudah menawarkan perdamaian. Theron sudah mengakui klaim takhtanya. Apa yang masih dia perjuangkan?"
"Dendam, Yang Mulia," kata Zara. "Dendam dan kehormatan yang terluka. Kael tidak akan pernah bisa menerima kekalahannya."
Istana Aequoria bersiap siaga.
Pasukan dikerahkan ke perbatasan selatan — tempat terdekat dengan Palung Hitam. Para Siren yang bisa bernyanyi lagu perang dilatih intensif oleh Lira. Zara mengirim mata-mata ke Palung Hitam untuk memantau pergerakan Kael.
Nana tidak banyak bicara. Ia menghabiskan waktunya di ruang singgasana, mempelajari peta, membaca laporan, dan merencanakan strategi.
Jeno jarang meninggalkan sisinya.
"Kau harus istirahat," kata Jeno suatu malam, setelah Nana jatuh tertidur di atas meja peta.
"Aku tidak tidur," bantah Nana sambil mengucek matanya. "Aku hanya merenung."
"Merenung dengan mata tertutup dan mulut mendengkur?"
"Aku tidak mendengkur."
"Kau mendengkur. Tapi lucu."
Nana melempar gulungan peta ke arah Jeno. Jeno menangkapnya dengan mudah — refleks Siren penjaga.
"Kau keras kepala," kata Jeno.
"Aku ratu."
"Sama saja."
Dua hari kemudian, serangan dimulai.
Bukan di perbatasan selatan seperti yang mereka perkirakan. Tapi di gerbang utama Aequoria.
Kael dan pasukannya muncul dari balik bukit karang timur — rute yang tidak dijaga karena dianggap tidak mungkin dilewati. Tapi Kael dan pasukannya berubah.
Mata mereka merah — merah seperti Aramis dulu. Sisik mereka hitam — hitam seperti Siren Hitam. Dan mereka tidak bisa bernyanyi, tapi mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih mengerikan.
Mereka bisa menghilang.
Satu detik mereka ada di kejauhan. Detik berikutnya, mereka sudah di depan gerbang.
"LAGU PERTAHANAN!" teriak Lira.
Para Siren Aequoria mulai bernyanyi — lagu perang kuno yang menciptakan perisai tak terlihat di sekeliling kota.
Tapi Kael dan pasukannya tembus.
Perisai itu tidak berpengaruh pada mereka. Seolah-olah mereka bukan Siren sungguhan — tapi bayangan.
"Zara!" teriak Jeno. "Apa yang terjadi pada mereka?!"
Zara — yang bertarung di barisan depan — berteriak balik, "Mereka sudah tidak utuh! Kael memberi mereka sihir hitam Palung Hitam! Mereka bukan Siren lagi!"
Nana berdiri di atas gerbang kota, jantung Aequoria berdebar kencang di dadanya.
Ia bisa bernyanyi. Suaranya sudah pulih. Tapi apakah lagunya akan berpengaruh pada makhluk-makhluk itu?
Hanya satu cara untuk mengetahuinya.
Nana membuka mulutnya dan bernyanyi.
Lagu kerajaan Aequoria — lagu yang sama yang dulu ia gunakan untuk mengalahkan Aramis — keluar dari mulutnya dengan kekuatan penuh. Getarannya memecahkan karang di sekitarnya. Air laut berputar membentuk pusaran raksasa.
Pasukan Kael — makhluk bayangan itu — berteriak.
Mereka terpental. Terlempar ke belakang. Beberapa jatuh pingsan, beberapa hancur berkeping-keping seperti bayangan yang terkena cahaya.
Tapi Kael sendiri tidak terpengaruh.
Ia berdiri di tengah pusaran, matanya merah menyala, senyumnya lebar.
"Lagu kerajaan," bisik Kael, suaranya menggema di tengah kekacauan. "Indah. Tapi tidak cukup."
Ia mengangkat tangannya.
Dari telapak tangannya, cahaya hitam keluar — melesat ke arah Nana.
Jeno melompat.
Ia mendorong Nana ke samping, dan cahaya hitam itu mengenai dia.
Jeno jatuh.
Tidak terlempar. Tidak terpental. Tapi jatuh — seperti boneka yang talinya dipotong. Tubuhnya mengambang lemas di air, matanya terpejam.
"JENO!" teriak Nana.
Dia berenang ke arah Jeno, meraih tubuh pemuda itu, menepuk pipinya. "Jeno! Jeno, buka mata!"
Jeno tidak bergerak.
Dadanya masih naik turun — masih hidup. Tapi matanya... matanya tidak terbuka.
Kael tertawa.
"Kau lihat, Nanara? Sihir Palung Hitam tidak membunuh. Tapi ia menidurkan. Dan selama ia tidur, ia tidak bisa melindungimu. Tidak ada yang bisa melindungimu."
Nana menatap Kael.
Jantung Aequoria di dadanya berdenyut — bukan takut. Tapi marah.
Marah karena Jeno terluka.
Marah karena Kael merusak ketenangan.
Marah karena semua orang ingin mengambil sesuatu darinya.
Cukup.
Nana meletakkan tubuh Jeno dengan lembut di atas pasir. Ia berbalik menghadap Kael.
Matanya tidak lagi hitam. Matanya biru — biru terang, biru seperti jantung Aequoria saat sedang marah.
"Kau bilang tidak ada yang bisa melindungiku?"
Nana mengangkat tangannya. Cahaya biru menyala di telapak tangannya — lebih terang dari sebelumnya.
"Aku bisa melindungi diriku sendiri."