Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di luar kamar perawatan, Pak Gunawan berdiri mematung di samping pintu kaca yang sedikit terbuka.
Melalui celah kecil itu, ia menyaksikan bagaimana sang CEO yang biasanya sedingin es kini sedang menangis sambil mendekap erat wanita yang dicintainya.
Pak Gunawan, yang telah mengabdi pada keluarga Aditama selama puluhan tahun dan menganggap Jati seperti putranya sendiri, tidak mampu lagi membendung emosinya.
Setitik air mata lolos dan menetes membasahi pipi tegas pria paruh baya itu.
Ia menyeka air matanya dengan cepat, lalu tersenyum lega.
Tugasnya menjaga sang naga kini terasa lengkap, karena sang naga telah menemukan rumah untuk hatinya yang selama ini kesepian.
Sementara itu, kontras dengan suasana penuh haru di rumah sakit, atmosfer di sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan lama terasa sangat mencekam dan dingin.
Udara malam yang lembap bercampur dengan bau karat dan garam laut yang menyengat.
Di tengah ruangan yang remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu bohlam yang menggantung bergoyang-goyang, Tryas Adiguna terikat kuat di sebuah kursi besi.
Gaun mahalnya kini telah kotor dan robek di beberapa bagian.
Rambutnya berantakan, dan masker hitam yang ia gunakan saat menyerang Gayuh kini tergeletak di lantai, penuh noda tanah.
"LEPASKAN AKU!! KALIAN TAHU SIAPA AKU?! AKU TRYAS ADIGUNA! PAPAKU BISA MEMBELI TEMPAT BUSUK INI DAN MEMBUAT KALIAN SEMUA MEMBUSUK DI PENJARA!!" teriak Tryas histeris, suaranya menggema parau di langit-langit gudang yang tinggi.
Ia meronta-ronta dengan sekuat tenaga, membuat kaki kursi besi itu bergesekkan dengan lantai semen dan menimbulkan suara berdecit yang ngilu. Namun, dua orang pria berbadan tegap berpakaian hitam yang menjaganya sama sekali tidak bergeming.
Mereka berdiri tegak bak patung, menatap Tryas dengan pandangan kosong tanpa emisi seolah wanita di depan mereka hanyalah seonggok barang mati.
Tryas terengah-engah, napasnya memburu karena kelelahan dan rasa takut yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Di dalam kegelapan gudang itu, ia baru menyadari satu hal: tidak akan ada satu orang pun yang datang menyelamatkannya, karena orang yang telah ia usik adalah penguasa tertinggi yang bisa melenyapkan nama keluarganya dari negeri ini dalam sekejap mata
Di dalam ruang perawatan yang tenang dan harum oleh aroma anggrek bulan, Gayuh perlahan melepaskan pelukannya dari dada Jati.
Kesadarannya kini telah pulih sepenuhnya, dan bersamaan dengan itu, ingatan tentang kejadian mengerikan sebelum ia tidak sadarkan diri kembali berputar di kepalanya.
Rasa panas dan perih di punggungnya seolah menjadi pengingat nyata akan ujung pisau yang tajam.
Gayuh menatap mata Jati dengan tatapan yang sedikit bergetar.
"Jati, wanita yang memakai masker dan masuk ke kamarku... itu Tryas. Tryas yang menusukku," ucap Gayuh, suaranya terdengar parau dan ada ketakutan yang tersisa di sana.
Jati tidak tampak terkejut sama sekali. Ekspresi wajahnya yang semula begitu lembut saat menatap Gayuh, seketika berubah menjadi sedingin es saat nama itu disebut.
Rahangnya mengeras sejenak sebelum ia kembali melembutkan tatapannya demi menenangkan wanita di depannya.
Jati menganggukkan kepalanya perlahan, mengusap pipi Gayuh dengan ibu jarinya.
"Aku tahu, Gayuh. Aku sudah melihat semuanya melalui rekaman CCTV rumah sakit."
"Lalu, di mana dia sekarang? Apakah dia mengejarmu?" tanya Gayuh cemas, mencoba melihat ke arah pintu seolah takut Tryas akan muncul lagi dari sana.
Jati menggenggam erat tangan Gayuh, memberikan rasa aman yang mutlak.
"Kamu tidak perlu takut lagi. Dia tidak akan bisa menyentuhmu ataupun mendekatimu lagi seumur hidupnya. Aku sudah menyuruh Pak Gunawan untuk membawanya ke tempat lain."
"Tempat lain?" Gayuh mengernyitkan keningnya, tidak mengerti arti dari tatapan mata Jati yang mendadak sangat gelap dan penuh misteri.
"Ya," jawab Jati dengan suara rendah yang terdengar begitu mutlak.
"Sebuah tempat di mana dia harus membayar setiap tetes darah yang keluar dari tubuhmu. Fokuslah pada kesembuhanmu, Gayuh. Urusan Tryas Adiguna, serahkan semuanya kepadaku."
Gayuh menganggukkan kepalanya perlahan. Kehadiran Jati di sisinya memberikan rasa aman yang begitu mutlak, membuat rasa takut yang sempat tersisa di hatinya perlahan menguap.
Ia memilih untuk memercayakan semuanya pada pria itu dan fokus pada pemulihan tubuhnya.
Namun, ketenangan di dalam kamar VVIP itu tidak bertahan lama.
Pintu ruangan tiba-tiba diketuk dengan terburu-buru sebelum akhirnya terbuka.
Pak Gunawan melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang menegang, diikuti oleh seorang pria paruh baya yang tampak sangat berantakan. Itu adalah Papa Yudha.
Pria yang biasanya selalu tampil necis dan berwibawa sebagai pengusaha itu kini terlihat sangat rapuh.
Guratan kesedihan dan keputusasaan tercetak jelas di wajahnya yang pucat.
Begitu melihat Gayuh yang terbaring di atas ranjang, Papa Yudha langsung menerobos masuk dan berlutut di sisi tempat tidur.
"Gayuh... Papa mohon, Nak... tolong maafkan Tryas," ratap Papa Yudha dengan suara bergetar dan air mata yang mengalir deras.
Ia mencoba meraih ujung selimut Gayuh. "Papa tahu Tryas sudah keterlaluan. Dia sudah gila karena kehilangan segalanya dalam semalam. Tapi Papa mohon, cabut laporanmu, bicaralah pada Tuan Jati agar melepaskan Tryas. Dia putri Papa satu-satunya, Gayuh..."
Gayuh tertegun melihat pria yang selama ini menjadi sosok paman yang dihormatinya kini bersimpuh tak berdaya di depannya.
Hatinya yang lembut merasa iba, namun ingatan akan rasa sakit saat pisau Tryas menghujam punggungnya membuat kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Sebelum Gayuh sempat merespons, Jati perlahan berdiri dari kursinya.
Langkah kakinya yang tegap sengaja bergeser, memblokir pandangan Papa Yudha dari Gayuh. Aura dingin dan menekan seketika memenuhi seisi ruangan.
Jati tertawa kecil. Suara tawa yang pendek, hambar, dan terdengar sangat mengerikan di telinga siapa pun yang mendengarnya.
"Tuan Yudha," panggil Jati dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk.
"Orang tua saya memang menjodohkan saya dengan putri Anda, tapi..." Jati sengaja menggantung kalimatnya, menatap lurus ke arah pria paruh baya yang kini mendongak menatapnya dengan tubuh gemetar.
"...tapi perjodohan itu sudah mati sejak putri Anda membuang saya karena mengira saya hanya seorang tukang ojek miskin," lanjut Jati,
matanya berkilat tajam seperti bilah pedang.
"Dan sekarang, putri Anda bukan hanya menipu saya, tapi dia juga mencoba melenyapkan wanita yang paling berharga dalam hidup saya. Anda datang ke sini meminta pengampunan setelah darah wanita yang saya cintai nyaris habis karena perbuatan putri Anda?"
Papa Yudha membeku, lidahnya kelu tak mampu membantah sepatah kata pun di hadapan sang penguasa J-Corp yang sedang diselimuti amarah yang terpendam.
Melihat situasi yang semakin menegang dan tidak ingin kondisi psikologis Gayuh terganggu, Pak Gunawan segera mengambil tindakan.
Ia melangkah maju dengan tegas, lalu memegang pundak Papa Yudha dengan cekatan namun tetap sopan.
"Tuan Yudha, mari ikut saya keluar. Tolong jangan ganggu waktu istirahat pasien," ucap Pak Gunawan dengan suara rendah yang tidak menerima penolakan.
Papa Yudha yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi hanya bisa pasrah.
Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk dalam, ia membiarkan Pak Gunawan menuntunnya keluar dari kamar perawatan VVIP tersebut, meninggalkan ruangan yang kini kembali diselimuti ketenangan.
Pintu kamar tertutup rapat. Jati mengembuskan napas panjang, mengusir sisa-sisa amarah dari wajahnya sebelum ia kembali berbalik menghadap Gayuh.
Seketika itu juga, tatapan matanya yang tadinya sedingin es langsung mencair, berganti dengan binar kehangatan yang teramat lembut.
Jati berjalan mendekati ranjang, lalu duduk kembali di posisinya semula.
Ia merapikan letak selimut Gayuh dengan sangat telaten.
"Nah, sekarang pengganggu sudah pergi," ujar Jati sambil menopang dagunya dengan satu tangan, menatap lekat ke dalam manik mata wanita di depannya.
"Sekarang waktunya Nyonya Jati untuk istirahat, atau aku harus panggilkan perawat ke sini untuk memberikanmu obat penenang, hmm?"
Mendengar panggilan baru yang disematkan Jati untuknya, pipi Gayuh yang tadinya pucat mendadak merona merah muda.
Rasa geli sekaligus bahagia membuncah di dalam dadanya.
Gayuh tertawa kecil, sebuah tawa merdu yang membuat seluruh keletihan di wajah Jati sirna seketika.
"Nyonya Jati? Sejak kapan aku berubah marga menjadi Aditama?" goda Gayuh dengan suara yang masih agak lemah.
Jati ikut tersenyum tipis, lalu menggenggam jemari Gayuh dan mengecupnya pelan.
"Sejak kamu memutuskan untuk bertahan hidup demi aku semalam. Jadi, tidurlah, Sayang. Aku akan tetap di sini, menjagamu sampai kamu terbangun lagi nanti."