Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.Anak Langit dan Bocah Bertongkat Besi
Langkah kaki Xiao Xuan melangkah mantap di atas jalanan berbatu yang berdebu di luar gerbang aula. Di sampingnya, Lang Xi masih terus bercerita dengan mata berbinar-binar, seolah-olah dialah yang baru saja menerima anugerah terbesar dari langit. Anak laki-laki itu menggambarkan masa depan yang penuh kemegahan, kekayaan, dan kehormatan—mimpi-mimpi sederhana yang tumbuh subur dan naif di kepala anak-anak desa yang belum pernah mencicipi asinnya garam kehidupan di dunia luar.
Xiao Xuan hanya mendengarkan dengan senyum tipis. Sebuah lengkungan bibir yang tenang namun menyimpan kedalaman pemikiran yang jauh melampaui usianya yang baru menginjak enam tahun. Di balik tatapannya yang tampak santai dan acuh tak acuh itu, ada kilatan kecerdasan dingin serta kematangan emosi seorang pria dewasa yang tak selaras dengan tubuh kecilnya.
"Sudahlah, Lang Xi," potong Xiao Xuan pelan namun sarat akan ketegasan, memadamkan angan-angan temannya sebelum melambung terlalu tinggi dan berakhir dengan kejatuhan yang menyakitkan. "Aku hanya memiliki kekuatan roh bawaan tingkat satu. Di dunia para Master Roh yang keras dan berdarah ini, bakat seperti itu ibarat setetes air yang jatuh ke gurun pasir yang gersang—hanya cukup untuk membasahi debu sesaat, lalu menguap hilang tak berbekas."
Ia menjeda langkahnya sejenak, membiarkan angin pegunungan yang kering dan dingin menyapu wajahnya, membawa serta aroma tanah kering dan rumput liar yang khas.
"Jika beruntung dan selamat dari konflik, mungkin suatu hari nanti aku bisa menyentuh ambang batas Tetua Roh melalui latihan yang menguras darah dan air mata. Untuk menjadi seorang Orang Suci Roh? Itu hanya lelucon di siang bolong bagiku."
Suaranya rendah, padat, dan realistis, tanpa distorsi fantasi apa pun.
"Bagi mereka yang terlahir dengan kekuatan roh tingkat enam atau tujuh, barulah gerbang menuju Orang Suci Roh terbuka lebar. Mereka yang memiliki tingkat delapan atau sembilan, masa depan besar mereka sudah digaransi oleh hukum alam sejak lahir. Dan tingkat sepuluh... Kekuatan Roh Penuh Bawaan... mereka adalah monster yang ditakdirkan untuk menyentuh takhta Douluo Bergelar, berdiri di puncak piramida dunia ini sambil memandang rendah kita semua."
Mata Lang Xi terbelalak lebar, langkah kakinya terhenti seketika karena terkejut. Mulutnya sedikit menganga, menatap Xiao Xuan seolah-olah baru saja mendengar rahasia mutlak yang tabu dari langit.
"Ah?! Begitu hebat bedanya, Kak Xuan? Kalau begitu... Tang San yang tadi memiliki kekuatan roh penuh itu... bukankah berarti dia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi sosok legendaris seperti Douluo Bergelar di masa depan?!"
Xiao Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya melemparkan pandangannya lurus ke depan, menatap punggung kurus namun tegap dari bocah berambut gelap yang berjalan beberapa meter di depan mereka. Senyum tipis di wajah Xiao Xuan perlahan memudar, digantikan oleh tatapan analitis yang tajam, dingin, dan penuh kalkulasi matang.
*Douluo Bergelar?* batinnya bergumam, terselip nada ironi yang pahit. *Bagi Tang San, gelar penguasa benua itu bahkan terlalu sempit dan kecil. Masa depannya bukan sekadar menjadi penguasa di benua fana ini, melainkan menembus batas langit dan menjelma menjadi penguasa tertinggi di Alam Dewa, entitas absolut yang menggabungkan dua otoritas ketuhanan sekaligus.*
Di kehidupan masa lalunya, sebelum truk sialan itu merenggut nyawanya, ia sering mendengar orang mencemooh dunia ini sebagai tempat yang rapuh, di mana hukum kekuatannya tampak mudah ditembus jika seseorang memiliki pengetahuan modern. Namun, setelah benar-benar bereinkarnasi ke dalam daging dan darah, merasakan dinginnya angin yang menusuk tulang, dan merasakan bobot dingin dari gagang besi yang berat di tangannya sendiri, Xiao Xuan telah membuang jauh-jauh kesombongan kosong para pembaca itu.
Dunia ini nyata. Darah yang mengalir di sini hangat, merah, dan bau amis. Dan kematian di dunia ini adalah akhir yang mutlak, tanpa ada tombol untuk mengulang kembali.
*Setidaknya aku sudah memiliki modal awal yang paling berharga untuk bertahan hidup,* pikir Xiao Xuan sembari matanya melirik samar ke arah lembaran cahaya keperakan yang berkedip halus di retinanya. Pengetahuan tentang masa depan dan sistem penempaan sifat ini adalah senjatanya. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu serakah yang menuntun pada kehancuran. Cukup melangkah selangkah demi selangkah dengan pijakan yang kokoh. Suatu hari nanti, langit yang paling keras pun bisa runtuh jika dipukul dengan momentum dan sudut yang tepat.
Saat ia memusatkan fokus pikirannya lebih dalam ke arah sosok Tang San, lembaran cahaya di depan matanya tiba-tiba bergetar hebat. Riak keperakan menyebar cepat, menyelimuti punggung bocah berambut gelap itu seolah sedang memindai setiap lapis keberadaannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Segera setelah itu, sebuah panel informasi baru terbentang—jauh lebih megah, berwarna-warni, dan memancarkan tekanan spiritual yang mengintimidasi dibandingkan miliknya sendiri.
[ (ง ◉ _ ◉)ง *Ding! Analisis Riak Takdir Berhasil! Mengunci Target Utama Dunia: Tang San!* ]
Garis Takdir: Putra Surga ✨ (Diberkati sepenuhnya oleh kehendak dunia, setiap langkahnya dituntun keberuntungan besar, kesulitan hanyalah batu loncatan yang manis).
Roh Inti: Rumput Perak Biru (Tertidur), Palu Langit Cerah (Jiwa Kembar ⚔️).
Kekuatan Roh Bawaan: Tingkat 10 (Sempurna ✯✯✯✯✯).
[ *Sifat Kehidupan yang Dimiliki* ]
🟦 **Fisik Awet Muda** (Peringkat: Biru)
*Tubuh yang memiliki kemampuan regenerasi luar biasa, daya tahan otot, dan adaptasi di atas rata-rata manusia fana. Sebuah wadah yang sangat kokoh untuk menampung kekuatan besar tanpa takut hancur.*
🟪 **Warisan Sekte Rahasia** (Peringkat: Ungu)
*Menguasai teknik bertarung mematikan, ilmu pemurnian racun, dan metode latihan jiwa tingkat tinggi yang berasal dari dunia lain. (Hak milik eksklusif dan absolut dari keturunan Sekte Tang).*
🟥 **Jiwa Kembar** (Peringkat: Merah)
*Anugerah langka yang melampaui akal sehat master roh biasa, memungkinkannya memiliki dua kekuatan jiwa yang berbeda sekaligus. Potensi masa depan berlipat ganda tanpa batas atas.*
🟨 **Lentera Sang Tokoh** (Peringkat: Emas)
*Aura tak terlihat yang menarik peluang emas dari segala penjuru, mengubah marabahaya menjadi berkah, dan secara halus memanipulasi nasib orang-orang di sekitarnya demi tujuannya sendiri. Kemenangan sudah tertulis di akhir ceritanya, Tuan Sistem saja sampai malas melihatnya!* 🙄💅
🔹 Sifat yang Dapat Direplikasi Saat Ini: [Warisan Sekte Rahasia (Ungu)]
🔹 Biaya Penempaan: 1 Poin
Jantung Xiao Xuan berdenyut sedikit lebih kencang di balik dadanya yang tenang. Bukan karena rasa takut yang melumpuhkan, melainkan karena rasa takjub seorang pria dewasa yang bercampur dengan sedikit rasa iri yang realistis. Sudut matanya menyempit, menatap hamparan warna ungu, merah, hingga emas yang berkilauan mewah di panel sistem tersebut.
Perbandingan antara dirinya dan bocah itu terasa seperti jurang pemisah yang tak berdasar antara langit kekaisaran dan kerikil jalanan. Seperti membandingkan istana megah di Ibu Kota Kekaisaran Heaven Dou dengan gubuk bambu lapuk di pinggir sungai Desa Roh Suci.
*Benar-benar kemewahan yang tidak masuk akal,* batin Xiao Xuan, menarik napas dalam-dalam agar detak jantungnya tetap teratur dan tak memancarkan riak emosi. *Tapi... opsi replikasi itu nyata. Aku bisa mengambil sedikit saja esensi dari teknik Sekte Tang miliknya? Sifat ungu itu sudah lebih dari cukup untuk mengubah titik awal nasibku yang suram ini.*
Namun, tepat di detik ketika fokus pikiran dan intuisi Xiao Xuan menajam pada kata 'Warisan Sekte Rahasia', sebuah kejadian tak terduga terjadi.
Tang San yang berjalan beberapa meter di depan itu mendadak menghentikan langkah kakinya seketika, seolah-olah tubuhnya baru saja tersengat aliran listrik. Otot-otot punggungnya yang kurus namun padat menegang dalam sekejap, siap meledak dan meluncurkan serangan balasan kapan saja.
Dengan gerakan yang sangat halus, cepat, namun terukur penuh kewaspadaan tingkat tinggi, Tang San menolehkan kepalanya ke belakang. Sepasang matanya yang berwarna ungu pudar menyapu sekeliling kerumunan anak-anak dengan ketajaman yang terlampau dingin dan menusuk untuk anak berusia enam tahun.
*Sebuah ilusi?* Tang San bergumam dalam hati, sepasang alisnya bertaut rapat, membentuk garis lurus yang tegang.
Beberapa detik yang lalu, intuisi pembunuhnya merasakan sesuatu yang sangat asing dan mengerikan. Itu bukan sekadar tatapan kagum atau iri yang biasa ia terima dari anak-anak desa lainnya. Itu adalah tatapan yang terasa sangat dingin, tajam, dan penuh perhitungan yang matang, seolah ada mata tak terlihat dari kegelapan yang sedang menguliti setiap inci kulitnya, membaca setiap rahasia yang tersembunyi di dalam darah, tulang, dan jiwanya.
Rasa tidak nyaman itu begitu nyata hingga bulu kuduk di tengkuknya berdiri tegak.
Namun, saat ia menatap ke belakang dengan cermat, pemandangan yang terlihat di matanya benar-benar biasa saja. Ada Lang Xi yang sedang mengobrol dengan wajah polos dan ceria, serta Xiao Xuan yang berjalan dengan kepala tertunduk dalam-dalam, bahunya sedikit membungkuk seolah sedang dirundung kesedihan atau kekecewaan berat akibat hasil kebangkitannya yang buruk.
*Mungkin aku terlalu sensitif karena belakangan ini merasa tegang memikirkan hambatan Keterampilan Surga Misterius yang tidak bisa ditembus,* pikir Tang San, mencoba merasionalisasi insting tajamnya yang telah terlatih sejak bayi di dunia sebelumnya. *Sekarang setelah kekuatan roh penuh bawaanku bangkit, aku harus segera pulang ke rumah dan menanyakannya pada Ayah. Ditambah lagi, aku perlu memastikan kondisi Mata Setan Unguku tidak terganggu oleh energi asing dari aula.*
Tanpa membuang waktu lagi untuk mencurigai anak-anak desa yang bodoh, Tang San mempercepat langkah kakinya, menyusul sosok Su Yuntao yang sudah berjalan agak jauh di depan.
Di belakangnya, Xiao Xuan perlahan mengangkat kepalanya kembali. Sebutir keringat dingin sempat muncul di pelipisnya sebelum menguap oleh angin malam, namun ekspresi wajahnya tetap sedatar air di dalam sumur tua yang dalam.
*Kewaspadaan yang luar biasa...* batin Xiao Xuan bergumam. Ada rasa hormat sekaligus kewaspadaan mendalam yang kini tertanam kuat di lubuk hatinya. *Sekte Tang dari dunia lain benar-benar menempa mental anak-anak mereka menjadi mesin pembunuh yang sangat peka terhadap setiap perubahan udara di sekeliling mereka. Untung saja aku memiliki intuisi pria dewasa untuk langsung menarik kembali kesadaranku dan menyembunyikan riak energiku dengan bantuan sifat 'Tersembunyi di Kerumunan'. Jika tidak, dia pasti sudah menaruh curiga padaku sedalam-dalamnya sejak hari pertama.*
Sejak awal terbangun di dunia ini, Xiao Xuan sama sekali tidak pernah memiliki niat untuk mendekati, bersahabat, atau menjadi pengikut setia di bawah kaki Tang San. Sebagai pria yang memiliki akal sehat dan anti-naif, ia tahu betul siapa sosok sejati di balik topeng kesopanan dan kelembutan bocah berambut gelap itu.
Tang San adalah pria yang dibesarkan di sekte pembunuh yang menganut paham hitam-putih yang sangat kaku, egois, dan mutlak. Dia dewasa sebelum waktunya, sangat protektif terhadap kelompok kecil dan keluarganya sendiri, namun sama sekali dingin, kejam, dan tanpa belas kasihan pada siapa pun yang berada di luar lingkaran kepentingan pribadinya.
Ada pepatah yang dulu sering ia baca di antara catatan masa lalunya: *"Lebih baik menjadi musuh Xiao Yan yang murah hati dan ksatria, daripada menjadi sahabat Tang San yang penuh perhitungan dan mengatasnamakan keadilan."*
Bagi Xiao Xuan, mendekati Tang San dengan status dan bakat tingkat satunya saat ini adalah tindakan bunuh diri yang sangat naif, bodoh, dan merendahkan harga diri.
Karakter jenius dan memiliki garis keturunan istimewa seperti Tang San memiliki keangkuhan yang mengalir di dalam darahnya—sebuah warisan tak terbantahkan dari Sekte Langit Jernih. Di matanya, orang biasa atau Master Roh berbakat rendah hanyalah latar belakang pelengkap, semak belukar di pinggir jalan raya yang tidak perlu diingat namanya atau dipedulikan nasibnya.
Bahkan Bai Chenxiang, yang masih memiliki hubungan darah dekat dan memiliki bakat kultivasi tingkat tujuh yang lumayan, tidak pernah benar-benar dianggap setara di dalam lingkaran inti Tujuh Iblis Shrek. Pada akhirnya, ketika mereka semua naik ke Alam Dewa dengan segala kemegahannya, Tang San membiarkan Bai Chenxiang tertinggal di dunia fana yang kotor hingga menua, keriput, dan mati kesepian sendirian, menyisakan Ma Hongjun dalam duka abadi di surga yang sunyi.
*Jika terhadap kerabat saudaranya sendiri dia bisa sekeras dan sedingin itu demi aturan hukum alam dewa, apa gunanya orang asing dengan kekuatan roh tingkat satu sepertiku mencoba menjilat dan menjadi pengikutnya?* Xiao Xuan tersenyum dingin dalam hati, matanya memancarkan aura sarkasme yang pekat.
*Tang San berjuang sepanjang hidupnya demi dendam pribadinya terhadap Aula Roh dan kejayaan Sekte Tang miliknya, bukan demi kesejahteraan rakyat kecil atau ketertiban benua. Setelah Aula Roh runtuh di tangannya, benua ini justru jatuh ke dalam kekacauan yang jauh lebih gelap di masa depan, di mana para bangsawan bertindak semena-mena tanpa kontrol, dan Master Jiwa Jahat merajalela memangsa warga desa tanpa ada instansi yang menahan mereka. Dia mungkin dewa penyelamat bagi keluarganya, tapi dia adalah bencana jangka panjang bagi orang biasa seperti kami.*
Tak lama kemudian, saat mereka berdua tiba di gerbang luar desa yang terbuat dari kayu kasar, pemandangan lain menyambut mata mereka.
Di sana, Pak Tua Jack sedang membungkuk hormat dengan punggungnya yang kian lama kian bungkuk, berbicara dengan Su Yuntao yang tampak terburu-buru dan gelisah ingin segera pergi dari tempat terpencil ini. Tang San berdiri di samping kepala desa tua itu dengan ekspresi wajah yang tenang, namun pancaran aura ketidaksabaran yang samar tidak bisa disembunyikan dari matanya, seolah setiap detik yang ia habiskan di sini bersama orang tua ini adalah pemborosan waktu yang sia-sia bagi latihannya.
"Grandmaster Su," suara tua Pak Tua Jack bergetar penuh harap yang membubung tinggi. Kedua tangannya yang keriput dan dipenuhi kapalan akibat kerja keras puluhan tahun saling bertautan cemas di depan dada. "Saya ingin tahu... apakah ada anak dari Desa Roh Suci kita yang beruntung memiliki kekuatan roh tahun ini? Siapa pun itu, desa kami akan menganggapnya sebagai harta karun yang paling berharga..."
Su Yuntao menghentikan langkah kakinya, menatap wajah penuh harap dan kerutan mendalam dari lelaki tua di hadapannya. Ia menghela napas panjang yang berat, sarat akan penyesalan profesional.
"Ada, Pak Tua. Dan tidak tanggung-tanggung, tahun ini desa terpencil kalian melahirkan dua anak yang memiliki kekuatan roh sejati sekaligus," ujar Su Yuntao, membetulkan letak jubah abu-abunya yang sedikit kusut akibat energi spiritual yang tidak stabil.
Ia menatap langit mendung di atas mereka sebentar, ada rasa pahit yang terbit di tenggorokannya sebagai petugas yang bertugas mencari bakat untuk Aula Roh.
"Namun... takdir terkadang suka bercanda dengan cara yang paling kejam dan ironis. Jika saja potensi kekuatan dan jenis roh dari kedua anak ini bisa ditukar oleh dewa, desa kalian mungkin akan melahirkan seorang Douluo Bergelar yang akan menguncang dunia di masa depan. Sayang sekali... sungguh sangat disayangkan."
Wajah Pak Tua Jack yang semula tegang langsung memerah karena luapan emosi yang membuncah. Matanya yang kabur berbinar antusias, sama sekali tidak menyadari kepahitan dan makna tersirat yang tersembunyi di dalam ucapan petugas Aula Roh itu.
"Dua anak?! Grandmaster, maksud Anda... mereka berdua ada di sini?!"
"Ya, mereka berdua yang baru saja berjalan mendekat," kata Su Yuntao sambil mengarahkan dagunya ke arah Xiao Xuan dan Lang Xi yang baru saja tiba di area gerbang.
Jari telunjuk Su Yuntao yang kasar menunjuk lurus ke arah Xiao Xuan yang mengenakan baju abu-abu polos yang bersih namun sederhana.
"Anak itu, Xiao Xuan... dia berhasil membangkitkan sebuah Roh Alat berbentuk Tongkat Besi. Sebuah alat yang kokoh dan memiliki struktur padat, namun pada akhirnya tetaplah besi biasa tanpa atribut elemen atau kekhususan senjata kuno. Kekuatan roh bawaannya... hanya tingkat satu."
Kemudian, jari itu beralih perlahan, menunjuk ke arah Tang San yang berdiri tegak di samping Jack. Suara Su Yuntao sedikit meninggi, dipenuhi perpaduan antara kekaguman yang meluap dan kesedihan yang mendalam sebagai seorang Master Roh.
"Sedangkan anak ini, Tang San... dia membangkitkan Rumput Perak Biru, roh tanaman yang paling umum, lemah, dan tidak berguna di seluruh penjuru benua. Tapi... dia memiliki Kekuatan Roh Penuh Bawaan tingkat sepuluh! Potensi terbesar dan paling murni yang pernah ada di mata dunia ini, terbuang sia-sia pada sehelai rumput liar di pinggir jalan..."
Keheningan mendadak menyelimuti udara di sekitar gerbang desa. Suhu udara seolah turun satu derajat, menyisakan derit ranting pohon yang bergesekan. Wajah Pak Tua Jack yang semula memerah mendadak berubah pucat pasi, menatap bolak-balik antara Xiao Xuan yang berdiri diam dengan ketenangan sedalam lautan, dan Tang San yang menundukkan wajahnya menyembunyikan kilatan matanya.
Di mata lelaki tua yang telah melihat banyak asam garam kehidupan itu, perbedaan ganjil dari nasib kedua anak yang telah dianggapnya sebagai darah daging sendiri itu kini terlihat sejelas siang dan malam di bawah langit Benua Douluo.
[ ╮(︶▽︶)╭ *Ugh... melihat drama melodrama manusia fana ini membuat bulu kuduk sistem spiritualku merinding! Hei, Xiao Xuan, pelayan setiamu ini ingin mengingatkan: Kau masih memiliki 2 poin penempaan yang belum dialokasikan lho. Mau terus melihat ekspresi pucat pak tua itu, atau mau mulai melakukan investasi sifat demi masa depan kita yang penuh kemewahan? Pilihan ada di tanganmu, Tuan Dingin!* 🌟✨ ]