NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Dinginnya Angkasa

"Bentar-bentar. Jadi, Angkasa itu diasuh oleh ownernya Mahendra Group? Mahendra Group yang suka jualan unit apartemen mewah dan bangun resort bintang lima dimana-mana itu?" tanya Rasi memastikan bahwa dia tidak salah paham dengan cerita Nia. Nia mengangguk.

"Wow!! Beruntung banget dia! Trus, trus? Lo dijodohin gitu sama dia? Mau dong. Mauin aja," kata Rasi excited sendiri.

"Rasi, kita masih dibawah dua puluh tahun. Masih banyak yang mau aku lakuin, begitu juga Aang. Dia pasti juga punya satu dua hal yang pengen dia lakuin," kata Nia. Rasi menghela napas panjang.

"Kalian kan bisa lakuin bareng-bareng setelah nikah," kata Rasi. Sekarang giliran Nia yang menghela napas panjang.

"Kamu pikir, menikah itu enak? Apalagi dengan penerus Keluarga Mahendra," kata Nia. Rasi terlihat mulai berpikir.

"Iya juga sih. Lo pasti disuruh dateng ke acara-acara perjamuan membosankan, dengan obrolan yang membosankan juga," kata Rasi. Nia mengangguk setuju.

"Makanya, aku minta Nyonya Mahendra buat ngomongin hal-hal terkait pernikahan sama mama. Aku yakin mama punya sejuta cara untuk menolak, atau paling tidak, membuat Nyonya Mahendra menundanya sedikit lebih lama," kata Nia.

"Menunda?" tanya Rasi. Nia mengangguk.

Nia jadi teringat setelah acara makan siang kemarin, Nyonya Mahendra mengajak Bayu untuk melihat miniatur pembangunan unit apartemen baru di kota sebelah. Angkasa berjalan di samping Nia mengekor di belakang Bayu dan Nyonya Mahendra yang sibuk membicarakan soal bisnis.

"Kenapa kamu meminta mama membicarakan perjodohan dengan mama kamu?" tanya Angkasa dingin.

"Karena, mama pasti punya cara buat nolak Nyonya," kata Nia. Angkasa tersenyum meremehkan.

"Nggak ada yang bisa menghentikan keinginan mama kecuali mama sendiri," kata Angkasa. Nia mengerutkan alisnya, bingung.

"Yaaah... Kalaupun mama kamu bisa melakukan sesuatu tentang itu, aku rasa... mama kamu mungkin bisa membuat mama menunda perjodohan itu, bukan menghentikannya," kata Angkasa. Nia menatap Angkasa yang bicara tanpa menatapnya.

"Kita liat saja," kata Nia percaya diri.

"Jadi..." kata Rasi.

"Bisa dibilang Nyonya Mahendra itu, wanita berkemauan keras gitu?" lanjut Rasi saat mendengar penjelasan Nia.

"Atau keras kepala?" tanya Rasi lagi sebelum Nia mengatakan apapun. Nia hanya menaikkan kedua bahunya.

"Orang kaya itu rumit ya? Harus banget gitu jodohin anaknya sama anak orang kaya lain. Kenapa nggak sama orang biasa-biasa aja kek gue? Biar kekayaan itu merata ke seluruh negeri," komentar Rasi. Nia hanya tersenyum kecut.

Nia bahkan tidak merasa sebagai anak orang kaya. Dia hanya anak asuh. Bukan anak kandung. Dia bahkan merasa tak pantas jika harus menjadi pendamping Angkasa yang digadang-gadang akan meneruskan bisnis papanya.

'Meskipun kita sama-sama anak asuh, tapi, nasib kita berbeda. Aku... nggak sesempurna yang orang bayangkan,'

***

Angkasa masih terbayang-bayang bagaimana sikap Bayu kepada Nia. Dia selalu merasakan nyeri ketika teringat hal itu.

Angkasa menatap lukisan hasil karya Nia yang terpampang di ruang tamu. Dia benar-benar tak menyangka takdirnya akan serumit ini. Diasuh oleh keluarga kaya raya yang hanya memintanya satu hal: menuruti apa saja kemauan Nyonya Besar. Karena hal itu, Angkasa membuang jauh-jauh semua keinginan, cita-cita, bahkan emosi yang ada pada dirinya.

Semua berawal sejak delapan tahun lalu. Kala itu, Angkasa mencoba pergi mengunjungi panti tanpa pamit pada Nyonya Mahendra. Dia tahu, kalau dia mengatakan ingin mengunjungi panti, Nyonya tak akan pernah mengijinkannya. Nyonya Mahendra terlalu takut Angkasa tak kembali ke rumahnya lagi jika mengunjungi panti. Meskipun Angkasa sudah berjanji pasti akan kembali, Nyonya Mahendra tak pernah mengijinkannya.

Hingga suatu hari, dia sangat ingin bertemu Nia dan memutuskan untuk menyelinap dan pergi ke panti tanpa pamit. Namun, aksinya gagal seketika saat mencoba memanjat pagar samping rumah yang tinggi. Nyonya Mahendra yang menangkap basah dirinya akan kabur, berteriak histeris seketika, membuat seisi rumah panik.

Angkasa yang mencoba kabur, langung diam seketika. Dia tidak menyangka, Nyonya Mahendra akan berteriak sehisteris itu. Bahkan saat Angkasa sudah kembali masuk ke rumah, raungan dan teriakan itu tak berhenti. Baru saat itu Angkasa mengetahui satu fakta. Nyonya Mahendra menjadi seperti itu karena penyesalannya yang amat mendalam atas kematian putera semata wayangnya.

Bukan kematian yang wajar. Melainkan karena sebuah tragedi yang tragis yang membuat Angkasa bergidik. Tuan Mahendra menceritakannya dengan suara tertahan yang tak dapat Angkasa lupakan.

"Kejadiannya begitu cepat," kata Tuan Mahendra saat itu.

"Mama dan Awang, putera kami saat itu, tengah bermain bersama di rumah berdua. Papa pergi meeting dengan klien saat itu. Padahal itu hari Minggu," Tuan Mahendra mulai bercerita.

"Mereka berdua bermain petak umpet. Awalnya semua berjalan baik. Hingga akhirnya, tiba giliran Mama yang mencari dan Awang yang bersembunyi. Saat Mama sedang menghitung, Mama mendengar teriakan dan tak lama kemudian sesuatu terjatuh," lanjut Tuan Mahendra.

"Mama segera menuju sumber suara. Tapi, Mama segera berteriak setelah menemukan Awang bersimbah darah di halaman belakang," Tuan Mahendra menghela napas panjang, seolah mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan ceritanya.

"Awang terjatuh dari lantai dua. Kepalanya terbentur cukup keras pada batu besar hiasan halaman belakang. Polisi memperkirakan Awang ingin bersembunyi di balik pagar balkon namun kakinya terpeleset dan tangannya kehilangan pegangan," lanjut Tuan Mahendra.

"Awang sempat kritis. Tapi, beberapa hari setelah itu... Awang meninggal,"

Angkasa masih ingat bagaimana wajah Tuan Mahendra saat menceritakan kejadian itu. Tak berdaya. Benar-benar jauh berbeda dari yang selama ini terlihat —tegas dan berkarisma.

Sejak saat itu, Nyonya Mahendra terus menyalahkan dirinya atas meninggalnya Awang. Selama dua tahun Nyonya Mahendra mengalami depresi karena kejadian itu.

Bukan tanpa sebab. Nyonya Mahendra sudah menunggu empat tahun untuk mendapatkan momongan. Dan begitu Awang lahir, Nyonya Mahendra sangat menyayanginya. Wajar saja, begitu Nyonya Mahendra kehilangan Awang dengan cara yang sangat tragis, Nyonya Mahendra mengalami depresi yang sangat lama.

Karena kondisi rahim Nyonya Mahendra yang tak memungkinkan untuk hamil lagi, Tuan Mahendra mengajak Nyonya Mahendra mengunjungi beberapa panti asuhan untuk mengadopsi seorang anak. Namun, hal itu sia-sia.

Sampai pada akhirnya Tuan Mahendra mengajak isterinya ke Panti Asuhan Welas Asih. Disana, Nyonya Mahendra langsung tertarik dengan Angkasa saat pertama kali melihatnya.

"Jadi... Papa nggak akan meminta apapun dari kamu. Papa cuma minta, tolong turuti kemauan Mama, agar dia tidak teringat tragedi itu lagi," pesan Tuan Mahendra setelah selesai menceritakan apa yang terjadi pada isterinya kepada Angkasa saat Angkasa mencoba kabur.

Sejak saat itu, Angkasa membuang semuanya, termasuk keinginannya untuk bertemu dengan Nia. Demi wanita yang sudah mau merawat dan menyayanginya jauh melebihi ibunya yang telah menelantarkannya di panti asuhan.

'Demi Mama, aku menghempas mu jauh. Tapi kini, justru Mama yang ingin mendekatkan mu pada ku. Lucu,'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!