NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Orang-Orang yang Tidak Pernah Benar-Benar Bersih

Hujan mulai turun pelan.

Membasahi halaman rumah tua yang kini berubah seperti medan perang.

Damar masih terduduk sambil menahan darah di bahunya.

Nayla panik setengah mati di sampingnya.

Sedangkan Nadira membeku menatap pria tua yang diseret Adrian.

Wajah pria itu penuh lebam.

Bibirnya berdarah.

Namun yang paling membuat suasana semakin dingin—

Papanya terlihat ketakutan.

Benar-benar takut.

“Pak Rudi…”

Suara papanya melemah.

Pria tua itu mengangkat kepala perlahan.

Matanya sayu.

Lelah.

Dan penuh penyesalan.

“Sudah lama ya…”

Tatapannya jatuh ke arah keluarga Maheswara.

Nadira langsung merinding.

Karena orang ini terlihat seperti seseorang yang menyimpan terlalu banyak dosa.

“Lepasin dia.”

Suara Arsen dingin.

Tangannya masih menggenggam erat tangan Nadira.

Seolah takut gadis itu hilang kalau dilepas sedikit saja.

Namun Adrian hanya tersenyum kecil.

“Tenang.”

Pria itu mendorong tubuh Pak Rudi hingga jatuh berlutut di tanah basah.

“Dia nggak bakal lari.”

Pak Rudi batuk pelan.

Darah keluar dari sudut bibirnya.

Nayla langsung memalingkan wajah tidak tahan melihatnya.

“Kenapa dia dibawa ke sini?” tanya Arsen tajam.

Adrian menatap mereka satu per satu.

Lalu berkata santai,

“Karena kalian semua pantas dengar kebenaran.”

Deg.

Nadira langsung tidak suka kalimat itu.

Karena setiap kali seseorang bicara soal “kebenaran” akhir-akhir ini…

Selalu ada sesuatu yang menghancurkan hidupnya setelahnya.

“Pak Rudi dulu orang kepercayaan dua keluarga.”

Adrian mulai berjalan perlahan di tengah hujan.

“Maheswara dan Wijaya.”

Tatapan Arsen langsung berubah dingin.

Sedangkan papanya menunduk diam.

“Dia yang ngurus transfer uang.”

“Dia yang hapus bukti.”

“Dan dia juga yang bantu nutup kasus kecelakaan.”

Jantung Nadira langsung berdegup pelan.

“Apa maksudnya nutup kasus?”

Tak ada yang langsung menjawab.

Pak Rudi justru tertawa kecil pahit.

“Karena kalau kasus itu dibuka…”

Tatapannya perlahan naik ke arah Arsen.

“…ayahmu masuk penjara duluan.”

Deg.

Arsen langsung melangkah maju.

“Jangan ngomong sembarangan.”

Namun Pak Rudi terlihat lelah untuk berbohong lagi.

“Semua bukti ada di ayahmu.”

Nadira langsung menoleh ke Arsen.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia melihat keraguan di mata pria itu.

Sedikit.

Namun cukup untuk membuat dadanya sakit.

“Kenapa kalian semua baru ngomong sekarang?”

Suara Nayla pecah.

Ia masih berlutut di samping Damar sambil menahan tangis.

“Kenapa nggak dari dulu?!”

Papanya memejamkan mata.

“Karena kami pikir semuanya bisa dikubur.”

“Kubur?”

Nadira tertawa kecil hambar.

“Adik kita mati dan Papa bilang itu bisa dikubur?”

Suasana langsung sunyi.

Mamannya mulai menangis lagi.

Namun kali ini Nadira tidak langsung merasa iba.

Ia terlalu lelah.

Terlalu hancur.

“Kalian bikin aku hidup dengan kebohongan bertahun-tahun…”

Tatapannya mulai memerah.

“Dan sekarang semuanya jatuh sekaligus.”

“Nadira…”

“Aku bahkan lupa wajah adikku sendiri.”

Suara Nadira bergetar hebat.

“Setiap hari aku pikir hidupku normal.”

Air matanya jatuh lagi.

“Padahal semuanya palsu.”

Arsen menggenggam tangannya lebih erat.

Diam-diam.

Tanpa bicara.

Namun cukup membuat Nadira tetap berdiri.

Tiba-tiba Pak Rudi tertawa kecil lagi.

Semua langsung menoleh.

“Lucu ya…”

Pria tua itu menggeleng pelan.

“Kalian masih mikir masalahnya cuma soal uang.”

Tatapan Adrian langsung berubah.

“Diam.”

Namun Pak Rudi justru menatap Nadira.

Dan bulu kuduk gadis itu langsung berdiri.

“Dia belum tahu?”

Deg.

Adrian melangkah cepat.

“Pak Rudi.”

“Terlambat buat nutupin sekarang.”

Tatapan pria tua itu tetap ke arah Nadira.

“Adikmu nggak mati karena kecelakaan.”

Dunia Nadira langsung berhenti.

Apa?

Tubuhnya membeku total.

Sedangkan mamanya langsung menjerit.

“JANGAN!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Pak Rudi tersenyum pahit.

“Mobil itu belum terbakar waktu dia dikeluarin.”

Deg.

Napas Nadira tercekat.

“Kamu bohong…”

“Dia masih hidup.”

Air mata pria tua itu jatuh.

“Dan seseorang ninggalin dia.”

Sunyi.

Tidak ada suara.

Tidak ada napas.

Tidak ada apa pun selain detak

jantung Nadira yang mulai kacau.

“Siapa…”

Suara itu nyaris tidak terdengar.

Pak Rudi menutup mata.

Lalu menjawab pelan,

“Ayahmu.”

BRAKK!

Papanya langsung menghantam wajah Pak Rudi hingga pria tua itu jatuh ke tanah.

“DIAM!”

Mamannya menjerit histeris.

Nayla membeku.

Sedangkan Nadira…

Tidak bisa bergerak sama sekali.

“Papa…”

Suara Nadira hancur.

Tatapannya kosong.

“Apa itu benar?”

Papanya berdiri dengan napas memburu.

Tangannya gemetar.

“Itu nggak seperti yang kalian pikir.”

“JAWAB AKU!”

Bentakan Nadira pecah.

Dan itu membuat semua diam.

“Apa adikku masih hidup waktu itu?!”

Air mata langsung jatuh deras dari mata papanya.

Pria itu akhirnya terlihat benar-benar runtuh.

“Aku…”

Tubuhnya melemah perlahan.

“…aku nggak sempat nyelametin dia.”

Deg.

Jawaban itu menghancurkan segalanya.

Mamannya langsung terduduk sambil menangis histeris.

Nayla menutup mulutnya shock.

Sedangkan Nadira…

Ia merasa seperti tidak bisa bernapas lagi.

“Papa ninggalin dia…”

Suara itu keluar kecil sekali.

Namun cukup membuat suasana semakin hancur.

“Aku harus milih.”

Tangisan papanya pecah.

“Mobil mulai terbakar…”

“Aku harus bawa Mama kalian keluar…”

“Dan aku nggak bisa balik lagi.”

Namun Nadira hanya menangis tanpa suara sekarang.

Karena bagian paling menyakitkan bukan kenyataan bahwa adiknya meninggal.

Melainkan fakta bahwa—

Adiknya meninggal sendirian.

Ketakutan.

Memanggil kakaknya.

Memanggil ayahnya.

Dan tidak ada yang kembali untuknya.

Arsen langsung menarik Nadira ke pelukannya saat tubuh gadis itu mulai limbung.

Namun Nadira justru mendorongnya pelan.

“Aku nggak kuat…”

Suara itu benar-benar patah.

Dan Arsen merasa dadanya ikut sakit mendengarnya.

“Nadira.”

“Aku capek…”

Air mata Nadira terus jatuh.

“Aku benci semua orang.”

Kalimat itu terdengar sangat kecil.

Namun penuh luka.

Arsen tidak tahu harus berkata apa lagi.

Karena kenyataannya…

Semua orang di sini memang bersalah.

Dengan cara masing-masing.

Tiba-tiba Adrian tertawa kecil.

Semua langsung menoleh tajam.

“Kalian akhirnya tahu rasanya.”

Tatapannya merah sekarang.

Penuh kebencian.

“Aku kehilangan semuanya gara-gara keluarga ini.”

“Kamu juga penyebabnya!” bentak Nayla.

“Aku tahu.”

Senyumnya perlahan hilang.

“Aku monster.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa emosi.

Dan justru itu yang menyeramkan.

“Tapi ayah kalian juga sama.”

Papanya langsung memalingkan wajah.

Tak mampu membantah.

Hujan turun makin deras.

Suasana berubah dingin dan kacau.

Namun tiba-tiba—

Suara mobil terdengar mendekat cepat.

Semua langsung waspada.

Arsen refleks menarik Nadira ke belakang tubuhnya lagi.

Tiga mobil hitam berhenti di depan gerbang rumah.

Pintu terbuka bersamaan.

Dan beberapa pria bersenjata turun cepat.

Damar langsung mengumpat pelan.

“Sial…”

Adrian justru tersenyum tipis.

“Mereka datang juga.”

Arsen menyipitkan mata.

“Siapa mereka?”

Namun jawaban datang dari Pak Rudi.

Dengan suara gemetar.

“Orang-orang Wijaya Group.”

Deg.

Tatapan Arsen langsung berubah total.

Karena di tengah para pria itu…

Seseorang turun perlahan dari mobil tengah.

Pria paruh baya.

Tinggi.

Rapi.

Dan wajahnya sangat mirip Arsen.

Jantung Nadira langsung jatuh.

Karena ia tahu siapa pria itu.

Ayah Arsen.

Pria itu berjalan santai menembus hujan.

Tatapannya dingin.

Tidak ada panik.

Tidak ada takut.

Seolah semua kekacauan ini hanyalah urusan kecil.

“Arsen.”

Suara pria itu berat.

Tenang.

Namun entah kenapa membuat suasana makin mencekam.

“Ayah…”

Tatapan Arsen berubah rumit.

Pria itu akhirnya berhenti beberapa langkah dari mereka.

Lalu matanya perlahan jatuh ke arah Nadira.

Dan senyum tipis muncul di bibirnya.

“Jadi ini gadis yang bikin kamu lupa diri.”

Deg.

Nadira langsung merinding.

Karena cara pria itu bicara…

Tidak hangat sama sekali.

Tidak seperti seorang ayah.

Lebih seperti seseorang yang sedang menilai ancaman.

“Ayah ngapain ke sini?” tanya Arsen dingin.

Pria itu melepas sarung tangannya pelan.

“Aku harus beresin masalah.”

Tatapannya bergeser ke Adrian.

“Dan kamu…”

Senyumnya menghilang.

“…udah bikin terlalu banyak kekacauan.”

Adrian tertawa kecil.

“Bilang aja takut rahasia lama kebuka.”

Tatapan pria itu berubah tajam.

Dan suasana langsung terasa berbahaya.

Namun yang paling membuat Nadira takut—

Adalah ketika ayah Arsen akhirnya berkata pelan,

“Kalau perlu…”

Tatapannya dingin sekali.

“…semua saksi di sini bisa hilang malam ini.”

Deg.

Tubuh Nadira langsung dingin total.

Karena ia sadar sekarang—

Musuh mereka yang sebenarnya…

Baru saja datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!