Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : PEWARIS TINGKAT NOL
Gua itu lebih besar dari yang terlihat dari luar.
Mulut gua yang sempit itu menipu. Begitu mereka melewati lorong masuk yang gelap dan sedikit membungkuk, ruangan di dalamnya terbuka menjadi sesuatu yang lebih menyerupai aula batu daripada gua biasa. Langit-langitnya tinggi, dua kali tinggi orang dewasa yang mengangkat tangannya, dengan stalaktit yang menggantung dalam jarak yang cukup jauh satu sama lain. Ada pula di beberapa titik di dinding, ada celah-celah kecil yang membiarkan udara luar masuk dan menciptakan semacam sirkulasi yang membuat gua ini tidak sesak seperti yang seharusnya.
Yang paling tidak biasa adalah cahaya di bagian belakang ruangan. Cahaya itu terlihat seperti cahaya yang keluar dari lapisan batu itu sendiri, biru kehijauan, sangat redup, tapi cukup untuk membuat batas-batas ruangan terbaca tanpa perlu obor.
Qinghan segera mengangkat pedangnya setengah jalan saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat dari lorong yang bercabang ke sisi kiri ruangan utama.
Semua orang di belakangnya pun berhenti, sampai langkah itu semakin dekat. Lebih dari satu orang, tapi tidak berlari. Kemudian dari mulut lorong itu muncullah cahaya obor, dan di belakang obor itu, wajah-wajah yang sangat familiar juga muncul.
Pria di paling depan berhenti ketika melihat Qinghan, dan langsung membungkuk hormat begitu dalam. Sepuluh orang lainnya juga melakukan hal yang sama dalam hitungan detik.
Dan di antara mereka, sedikit lebih ke belakang, berdiri seorang pria dengan baju besi yang sudah kehilangan sebagian lempengan peraknya, rambutnya berantakan, tapi postur tubuhnya tetap tegak dengan cara yang hanya bisa tumbuh dari kebiasaan bertahun-tahun.
Itulah Chen Mo.
Karena itu Qinghan menyarungkan pedangnya. Bagi siapa pun yang sudah cukup lama mengenalnya, menyarungkan pedang sebelum situasi sepenuhnya jelas adalah sesuatu yang Qinghan tidak pernah lakukan. Artinya dia tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Kehadiran Chen Mo sudah cukup.
Tidak terasa malam tiba dengan cepat di pulau yang hutannya terlalu rapat untuk membiarkan senja berlangsung lama.
Api unggun di tengah ruangan gua sudah menyala, dan lima belas orang yang berhasil berkumpul duduk dalam lingkaran yang tidak sepenuhnya rapi tapi cukup hangat untuk ukuran ruangan batu. Kru-kru dari kapal lain yang selamat membawa perbekalan yang tersisa, beberapa masih dalam kondisi yang bisa digunakan, dan Hua Ling membantu mendistribusikan ramuan penghangat yang kakeknya siapkan dari bahan-bahan yang dikumpulkan di hutan tadi.
Kru senior yang dipanggil Paman Dao oleh yang lain memulai ceritanya dengan cara orang yang sudah menelan terlalu banyak hal besar dalam waktu terlalu singkat.
"Kapal kami adalah yang kedua kena sambaran petir merah itu," katanya sembari menatap api. "Aku masih bisa melihat kapten kami berteriak perintah sebelum tiang utama roboh ke atas dek. Setelah itu kami semua di air. Enam dari delapan kapal sudah terkonfirmasi hancur, dan kami bertemu beberapa yang terdampar di pantai timur pulau ini. Tapi dari perkiraan kami, lebih dari seratus orang sudah terombang-ambing di laut yang sama dan tidak ada yang tahu berapa yang berhasil sampai ke daratan mana pun."
Ruangan itu menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
"Ada yang lebih buruk," timpal suara lain dari sisi kanan lingkaran. Seorang pemuda dengan goresan di wajahnya yang belum sepenuhnya mengering. Matanya tidak sepenuhnya tenang ketika dia berbicara. "Waktu saya di laut, sebelum bisa berenang ke pantai, saya melihat sesuatu di bawah permukaan air."
"Seberapa besar?" tanya Tianbao.
"Lima kali ukuran kapal kami." Pria itu mengangkat tangannya seperti mengukur sesuatu yang tidak bisa diukur dengan cara biasa. "Sisiknya seperti batu gunung yang tumbuh di atas sesuatu yang hidup. Lalu ukurannya... saya bersumpah, saya tidak mengada-ada."
Tidak ada yang menertawakannya pula.
Lantas Haifeng mengangkat tangannya sedikit sebelum berbicara, cara yang tidak dia rencanakan tapi sudah jadi kebiasaan. "Ada catatan tentang makhluk seperti itu. Catatan itu tertulis di salah satu gulungan yang saya bawa dari perpustakaan klan." Matanya bergerak ke seluruh lingkaran. "Makhluk laut dengan sisik berbatu itu disebut Gui Ao dalam catatan lama. Mereka tidak tinggal di satu tempat. Mereka bermigrasi mengikuti jalur arus bawah laut tertentu, dan jalur arus itu biasanya melewati titik-titik dengan konsentrasi qi paling tinggi di laut terdalam."
"Titik seperti Xuanyuan," kata seorang pria dari sisi lain lingkaran.
"Tepat sekali," kata Haifeng. "Kalau Gui Ao ada di area ini, itu berarti kita sedang berada di jalur migrasi yang mengarah ke konsentrasi qi paling besar di lautan ini. Kita mungkin jauh lebih dekat dari yang kita kira."
Paman Dao menatap Haifeng dengan cara yang berbeda dari tadi, lebih seperti orang yang sedang merevisi penilaian awalnya.
Sementara Haifeng mengeluarkan benda itu dari dalam saku bajunya.
Potongan bilah biru gelap, seukuran telapak tangan, dengan ukiran ombak yang sudah aus di satu sisinya. Dia meletakkannya di lantai batu di depannya sehingga cahaya api menyentuh permukaannya.
Logam itu berkilat dengan cara yang tidak seperti logam biasa.
"Saya menemukan ini di hutan tadi," kata Haifeng. "Logamnya sama dengan Pedang Samudera, dan ukiran ini adalah penanda klan Wei." Dia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Semua orang yang cukup lama melayani Long Yuan tahu apa artinya.
Wei Changsong pernah sampai di pulau ini.
Kru-kru yang mengenal nama itu langsung mengubah postur duduknya. Paman Dao menjulurkan tangannya meminta izin untuk memegang, dan Haifeng menyerahkannya. Pria tua itu membalik-baliknya di antara jari-jarinya dengan hati-hati, seperti memegang sesuatu yang bisa pecah meskipun jelas tidak.
"Ini bukan barang yang dibawa dari Long Yuan," katanya. "Logam ini sudah terpapar udara laut dalam waktu yang sangat lama. Dan tentu saja ini asli."
Bai Mei yang duduk di sisi lingkaran yang paling jauh dari Haifeng menunduk sedikit, cukup untuk membiarkan rambutnya menyembunyikan sudut bibirnya ketika berbicara dengan sangat lirih kepada dirinya sendiri. "Cih, palingan juga dia sudah membawa itu sejak berangkat dari Long Yuan dan baru sekarang mengeluarkannya. Tidak ada yang bisa membuktikan dari mana asalnya."
Setelah malam mulai larut, Qinghan akhirnya memutuskan untuk mengatur jaga malam dengan efisiensi yang tidak menyisakan ruang untuk diskusi. Chen Mo mengambil giliran pertama tanpa diminta, dan empat kru lain bergabung dengannya di mulut gua dan lorong-lorong bercabang. Sisanya disuruh beristirahat.
Haifeng sedang menggeser posisi duduknya untuk ikut ketika tangan kakaknya mendarat di pundaknya.
"Tidur."
"Aku tidak mengantuk."
"Jangan ngeyel."
Haifeng menatap kakaknya. Qinghan menatap balik dengan cara yang tidak meninggalkan banyak pilihan. Lantas pewaris itu berbaring di atas gulungan kain yang sudah disiapkan Hua Ling di sudut ruangan yang paling jauh dari angin, dan dalam waktu yang lebih singkat dari yang dia perkirakan, matanya mulai terasa berat.
Pantai itu ada lagi di dalam tidurnya.
Tapi berbeda dari sebelumnya. Lebih terang. Langitnya berwarna putih keperakan yang tidak cocok disebut siang dan tidak bisa disebut malam, dan pasirnya terasa padat di bawah kakinya ketika dia berdiri dan mulai berjalan.
Sampai kemudian dirinya berlari.
Haifeng berlari di pantai itu tanpa tahu ke mana dan tanpa bisa berhenti. Ombak di sisinya naik lebih tinggi dari ombak yang pernah dia lihat di dunia nyata tapi tidak jatuh, hanya berdiri seperti dinding air yang hidup. Sementara kakinya semakin berat. Napasnya mulai tidak teratur. Lalu di suatu titik yang tidak bisa dia ukur jaraknya, lututnya memutuskan bahwa sudah cukup, dan dia bertekuk lutut di atas pasir dengan napas yang tidak beraturan.
Kepalanya menunduk. Tangannya menyangga tubuhnya di atas pasir.
Kemudian dia melihat kaki.
Tepat di depannya. Kaki yang tidak meninggalkan jejak di pasir meskipun berdiri di atasnya.
Alhasil Haifeng mendongak perlahan.
Wanita itu berdiri di depannya dengan cara sesuatu yang sudah ada di tempat itu jauh sebelum dia datang dan akan masih ada di sana jauh setelah dia pergi. Rambutnya berwarna biru kehijauan seperti laut dalam yang tidak pernah tersentuh sinar matahari, dan matanya adalah biru yang lebih tua dari laut mana pun yang pernah Haifeng bayangkan. Wajahnya tidak seperti wajah yang digambar di gulungan atau diukir di batu. Lebih nyata dari itu, tapi juga lebih dari nyata dalam cara yang tidak bisa dijelaskan dengan kalimat biasa. Yang jelas begitu cantik.
Satu kata akhirnya keluar dari mulut Haifeng sebelum pikirannya sempat memfilternya.
"Samudera?"
Wanita itu langsung tersenyum. Senyuman yang memiliki banyak lapisan di dalamnya, dan lapisan paling luarnya adalah sesuatu yang sangat dekat dengan geli.
"Pewaris tingkat nol?" balas wanita itu seraya melebarkan senyumnya.