Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI YANG SIBUK
Pagi datang lagi.
HP berdering. Eng Sok meraihnya tanpa membuka mata — tapi tangannya hanya menyentuh kepala Ah Ti.
Ia kaget. Membuka mata. Di sampingnya, Ah Ti sudah berguling, satu tangan di dadanya, satu kaki di perutnya.
"Ko, aku kangen. Aku mau jaga Koko." Suara Ah Ti masih ngantuk. Tangannya memeluk Eng Sok — pelan, tidak kencang-kencang amat.
Eng Sok menghela napas. "Ho (baik). Peluk jangan kenceng. Itu bokong masih lecet-lecet."
Ah Ti terkekeh. Tidak melepas pelukan.
---
Mereka beranjak dari kasur. Cuci muka. Sikat gigi. Eng Sok masih menguap-nguap — sampai Ah Ti mencolek pipinya.
"Ko, meditasi dulu, yuk. Biar badan kita enteng."
Eng Sok menatap Ah Ti. Anak ini... ngajak gua meditasi.
"Baik."
Duduk bersila di ruang tengah. Pejamkan mata. Tarik napas. Buang napas. Sepuluh menit berlalu.
Ah Ti buka mata. "Ko, bulan ini tukeran. Aku yang masak. Koko nyapu dan ngelap."
Eng Sok mengangguk. "Baik."
---
Ah Ti masuk dapur. Eng Sok mengambil robo vacum dari pojokan. Ia duduk di lantai, membuka YouTube, mengetik: "cara menggunakan robo vacum"
Video berdurasi tiga menit. Ia tonton sampai habis. Setelah isi air dan pembersih lantai sesuai takaran ia menutup rapai. Lalu menekan tombol start di HP.
Robot bundar itu bergerak — menyusuri lantai, menghindari kaki meja, masuk ke bawah sofa.
"Sihir," bisik Eng Sok.
Lalu ia melipat cucian kering. Kaus kaki. Kaos oblong. Handuk. Satu per satu dilipat rapi — seperti tentara yang sedang melipat bendera.
---
Tring!
Ada endorse produk. Bahannya ia cek. “Hmmm, bahan ga normal ini. Ogah ah!”, katanya sambil mengirim pesan minta maaf belum dapat menerima produk itu.
Gak semua produk endorse dia terima. Sioh Bu awalnya ngomel. “Sioh Bu, kita ini dilihat masyarakat. Kalo endorse sembarang, terus orang sakit, yakin gue: kita duluan dihabisi. Tauke? Ngilang!”, gitu nasehat Eng Sok.
Makanya Eng Sok jarang endorse produk kecantikan kecuali 100% bahan dari tanaman atau hewan. Sampai dijuluki “Cia’s Natural Prince”. Beberapa hari ini dia ditawari endorse klinik kecantikan dan prosedur operasi. Semua ditolak sampai ditanya Ah Me. Bahkan kalo tumbuhan itu punya efek Im dan Yong gak seimbang, ditolak!
Jadinya dia punya palet make up natural yang waterproof tapi natural. Sabun pun juga pake natural dari buah klerakndan shampo dari lempuyang.
Keputusan dia dibela sama Lao Ma. “Operasi sekarang sering palsu. Nanti sakit. Udahlah biar aja dia dan kosmetik tumbuhan dia. Nanti sakit operasi aneh”, omel Lao Ma.
HP Ah Me berdering. Ah Me di dapur menengok ke ruang tengah.
"Ti, lihat WA grup orang tua!"
Ah Ti mencuci tangan, lalu mengambil HP dia. WA grup "Orang Tua Lan Liong" — notifikasi baru.
"Diberitahukan kepada seluruh orang tua/wali murid. Hari ini kegiatan belajar mengajar diliburkan karena jalan di sekitar gedung pemerintahan ditutup. Ada demo dari beberapa organisasi masyarakat. Demi keselamatan siswa, sekolah meliburkan hari ini."
Sejak Ah Pa meninggal, Sioh Bu pegang WA grup orang tua. Ah Me sering sakit. Dan Ah Ti gak keurus kalo WA dipegang Ah Me.
Ah Ti menatap layar. Lalu menoleh ke arah TV yang menyala.
Demo. Ratusan orang. Spanduk. Teriakan.
"Baunya libur gua, ni, Ko?" tanya Ah Ti.
Eng Sok melongo. "Libur."
Ah Ti mengacungkan jempol.
---
Ah Me muncul dari balik pintu dapur. Matanya menyipit ke arah Ah Ti.
"Amsyong! Ini lu, orang! Awas ganggu-ganggu Koko ya!"
Ah Ti cengengesan. "Oh, pasti hamba akan menggoda Yang Mulia Pangeran Sioh Bu sampe kering!"
Ah Me menjewer kuping Ah Ti — pelan, tapi tegas.
"Kurang ajar!"
Ah Ti tertawa.
Di atas, Sioh Bu melayang. Ia ngakak — tidak bersuara, tapi bahunya naik turun.
Akhirnya Ah Me sehat. Akhirnya adikku ngerasain dimarahin diomelin Ah Me seperti aku dulu kecil.
Ia tersenyum. Tapi senyum itu tidak sampai ke mata.
---
Ah Ti mematikan kompor. Nasi sudah matang. Sayur sudah siap.
"Ah Me, makan!"
Ah Me duduk. Eng Sok meletakkan cucian kering ke tempatnya, membereskan robo vacum, lalu cuci tangan.
Mereka makan bertiga — seperti keluarga normal. Tidak ada yang bicara. Hanya suara sendok dan piring.
Tapi hangat.
---
Setelah makan, mereka gantian mandi.
Pertama, Ah Ti dan Eng Sok. Ah Ti membantu melilitkan plastik di perban Eng Sok — sudah biasa sekarang. Tidak ada yang panik. Tidak ada yang buru-buru.
Kedua, Ah Me.
Setelah semua selesai, mereka memanggil taksi online. Ke RS.
"Cepetan, Ko. Jangan lupa bawa hasil lab," kata Ah Ti.
Eng Sok mengangguk. Tidak banyak bertanya. Beda zaman. Terima saja.
---
Di RS, Ah Ti bertindak seperti asisten pribadi.
"Koko, ambil darah dulu. Nanti Rontgen."
Eng Sok duduk di kursi. Perawat mengambil darah dari lengan kirinya. Jarum kecil. Sakit sedikit. Tapi ia tidak mengeluh.
Ah Me di ruang sebelah — juga ambil darah.
Selesai.
"Ah Me, sekarang Rontgen."
Ah Me masuk ke ruangan besar dengan mesin raksasa. Disuruh berdiri. Disuruh diam. Disuruh tarik napas. Disuruh buang napas.
Ia patuh — seperti prajurit yang menerima perintah.
Ah Ti menunggu di luar. Begitu Ah Me keluar, ia bertanya, "Sakit, Ko?"
"Enggak. Cuma... beda."
Ah Ti tersenyum.
---
"Sioh Bu, mau besuk Nona Chio" kata Eng Sok ke Ah Me.
Ah Me mengangguk. "Ya, jangan lama-lama."
Ah Ti dan Ah Me menunggu di kantin.
Eng Sok berjalan ke ruang rawat inap psikiatri. Dari kaca, ia melihat Ah Chio — sudah tidak diikat. Tangan bebas. Bahu tidak lagi terbungkus jaket pengaman.
Tapi pintu masih terkunci. Belum boleh masuk.
Hanya bisa lihat dari kaca.
Eng Sok menatap Ah Chio. Tersenyum.
Ah Chio melihatnya. Tersenyum balik.
"Ngapain?" tanya Ah Chio dari balik kaca.
Eng Sok mengangkat bahu. "Antar Ah Me periksa... apa'an itu!"
Ia tidak tahu nama pemeriksaan itu. Rontgen? Lab darah? CT scan? Semua istilah masih bikin bingung.
Tau konsep. Tapi nama? Hadeh.
Ah Chio tertawa.
Beberapa petugas medis memeriksanya — tensi, suhu, luka-luka kecil di tangan diobati. Ah Chio tampak tenang. Tidak seperti kemarin.
Eng Sok melambaikan tangan. Lalu pamit.
---
Di kantin, Ah Ti menghabiskan es krim. Ah Me memegang gelas kopi.
"Sudah, Ko?" tanya Ah Ti.
"Sudah. Ayo pulang."
Mereka memanggil taksi online.
---
Tring!
Ponsel Eng Sok berdering. WA dari Toian Ayung.
"Ya, Toian?" tanya Eng Sok.
"Kokoh. Adek lu apa sekolah di Sekolah Lan Liong kaya anak gua?" suara Toian Ayung langsung, tanpa basa-basi.
"He'eh," jawab Eng Sok.
"Boleh video call liat adek lu?"
Sioh Bu — yang melayang di samping — langsung memberi instruksi. "Pangeran, ini caranya alihkan panggilan biasa jadi video call. Pencet ini. Lalu ini."
Eng Sok menekan tombol. Layar berubah. Wajah Toian Ayung muncul — kumis tebal, kacamata tebal.
"Toian, ini adek gua. Ah Ti."
Ah Ti melambai. "Selamat siang, Toian."
Toian Ayung melongo. "Ihh... gemes! Boleh dibawa syuting ga? Pemeran anak di film. Sakit demam berdarah. Cuma satu adegan. Pasien RS."
Ah Me menyahut dari samping. "Boleh, Toian. Bawa aja. Daripada drama di rumah."
Toian Ayung tertawa. "Sip! Sioh Bu, lu hebat punya adek."
Eng Sok tidak menjawab. Hanya tersenyum tipis.
"Sioh Bu, syuting hari ini setengah hari. Sampai jam 3. Bonus 25%." Suara Toian Ayung tegas. "Bisa?"
Eng Sok menatap Ah Ti. Ah Ti mengacungkan jempol.
"Bisa, Toian."
---
Mereka berangkat naik taksi online. Ah Ti duduk di samping Eng Sok, kepala menempel di bahu kakaknya.
"Ko, aku ikut syuting ya."
"Enggak takut?"
"Takut apa? Aku mau lihat Koko akting."
Eng Sok tidak menjawab. Tapi tangannya — yang sehat — mengelus rambut Ah Ti.
---
Syuting selesai tepat jam 3 sore.
Ah Ti membantu — mengambil air minum, mengipasi Eng Sok dengan kipas lipat (yang ia pinjam tanpa izin), dan sesekali berbisik, "Koko, ganteng banget."
Eng Sok hanya diam. Tapi dadanya — sedikit — membusung.
Bayaran masuk. Bonus 25% masuk.
Mereka pulang naik taksi online. Eng Sok merebahkan diri di sofa begitu sampai rumah. Matanya terpejam.
Dari jam 4 sore sampai senja — ia tidur. Seperti orang pingsan.
---
"Koh Sioh Bu... bangun."
Suara Ah Me. Pelan. Tapi tegas.
Eng Sok membuka mata. Lampu ruangan sudah menyala. Di luar, langit berwarna jingga gelap.
Ah Me menunjuk HP. "Hasil pemeriksaan... udah keluar."
Ia membacakan.
"Kanker dinyatakan remisi, tidak terdeteksi. Kemoterapi dihentikan untuk evaluasi."
Eng Sok menatap Ah Me. Lalu ke layar HP. Lalu ke Ah Me lagi.
"Benar, Ah Me?"
"Benar."
Ah Me memeluk Eng Sok — erat. Tangannya yang dulu gemetar, sekarang tidak.
Ah Ti, yang dari tadi di dapur, berlari — ikut memeluk.
Tiga manusia. Dan satu arwah — Sioh Bu, yang melayang di atas, tangan menutup mulut, bahu gemetar.
Mereka berpelukan lama.
Seperti lazimnya orang kuno, Eng Sok menuju Altar di ruang tamu. Menyalakan lilin teratai merah sepasang dan membakar dupa. Lima untuk dirinya. Dan masing-masing 3 untuk Ah Ti dan Ah Me. Lalu sembah 100 kali.
Ia mengumpulkan dupa dan menancapkan itu di tempat dupa. Ah Me kaget.
“Kapan altar kita dibersihkan?”, kata Ah Me.
“Sejak Koko Fosil datang. Sekitar 3-4 hari ini. Yang pertama dia lakukan sesudah mandi adalah bersih-bersih altar, pasang lilin, pasang tempat dupa dan setok dupa. Tiap pagi nyala 1 dupa.”, jawab Ah Ti mengingat kelakuan Koko anehnya.
---
Setelah selesai, mereka duduk. Ah Me mau mengatakan sesuatu sambil membuka HP.
Ah Me menunjuk YouTube. "Tadi, Ah Me mau liat resep puding... eh nemu ini."
Eng Sok melihat layar.
Video syutingnya — dengan wig kuning garis ungu — sudah dilihat 2,3 juta kali.
Komentar:
"SIAPA INI? GANTENG BANGET!"
"CEO kultivator. Gila."
"Rambutnya kuning, matanya tajam. Aku meleleh."
"Ini Sioh Bu, dulu figuran naik jadi Male Leads gara-gara ketawa pas jadi Raja Gila Leng Tiat. Gue kenal tuh. Sekarang udah terkenal."
Eng Sok menghela napas.
"Emang kudu viral, Ah Me. Ga viral ga jajan."
Ah Me tertawa. Ah Ti cengar-cengir.
---
Makan malam: ikan bakar dan tumis sayur.
Eng Sok makan dua porsi. Ah Ti satu setengah. Ah Me satu.
Habis makan, Eng Sok sikat gigi. Cuci muka. Ganti baju.
Langsung tidur.
Besok, syuting jam 10 pagi sampai Maghrib. Bersama Toian Steve.
Ia tidak ingin telat.
Belum lagi dia punya rencana: daftar pelatihan membuat kosmetik dan sabun natural secara online.
---
BERSAMBUNG
---
Libur sekolah karena demo.
Video viral 2,3 juta tayangan.
Kanker Ah Me hilang.
Dan Ah Chio — sudah tersenyum lagi.
Hari yang sibuk.
Tapi... hangat.
🪷👩❤️👨💐