NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Kepasrahan Jiwa yang Retak

​Deru halus mesin Rolls-Royce hitam itu membelah jalanan antarkota yang mulai diselimuti kabut sore. Di dalam kabin mobil yang senyap dan kedap suara, atmosfer terasa begitu berat, seolah udara di dalamnya membeku.

​Mireya duduk bersandar di kursi kulit mewah. Wajahnya begitu tenang, terlalu tenang hingga menyerupai patung lilin tanpa ekspresi sedikit pun. Sepasang matanya yang sembap menatap kosong ke arah rintik hujan yang membasahi kaca jendela. Kedua tangannya mendekap teramat erat selendang hijau pudar dan selembar foto usang berbingkai kayu kecil—foto dirinya saat masih kecil, tersenyum lebar dipeluk oleh sang Nenek di depan rumah kayu mereka. Jiwa gadis itu seolah telah menguap bersama tanah makam yang baru saja ia tinggalkan.

​Calix yang duduk di sampingnya sejak tadi tidak sedetik pun mengalihkan pandangan. Rasa tidak nyaman yang terus menggerogoti dadanya membuat pria itu akhirnya mengulurkan tangan. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, Calix menarik bahu ringkih Mireya, membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang.

​Biasanya, Mireya akan memberontak, mengomel, atau setidaknya ketakutan. Namun sore ini, tidak ada penolakan sama sekali. Mireya membiarkan tubuhnya ditarik. Ia hanya diam, pasrah, dan malah melosotkan kepalanya untuk bersandar di dada kokoh Calix, tepat di atas detak jantung pria itu. Ia seakan sudah benar-benar menyerah dan menyerahkan seluruh sisa hidupnya pada takdir kejam yang tertulis di atas kertas kontrak mereka.

​Ada guratan kelegaan yang samar di wajah Calix saat merasakan kehangatan tubuh Mireya yang kini melekat padanya. Namun, di balik kelegaan itu, kilatan amarah di matanya masih menyala pekat. Di dalam benaknya, Calix sedang menyusun rencana pembalasan yang teramat kejam untuk menjatuhkan Ardan dan Fiona ke titik nadir terendah dalam hidup mereka.

​Calix menundukkan kepalanya sedikit, mengusap puncak kepala Mireya dengan gerakan lambat yang asing. "Mireya," panggilnya, suaranya baritonnya terdengar lebih rendah dan lembut dari biasanya.

​"Ya?" jawab Mireya lirih, nyaris berupa bisikan angin.

​"Jika aku menghancurkan perusahaan papamu hingga mereka merangkak di jalanan... apa yang akan kamu lakukan?" tanya Calix lekat-lekat, menguji batas toleransi gadis di pelukannya. "Apa kamu akan memohon padaku lagi untuk menyelamatkan mereka?"

​Mireya terdiam sesaat. Detak jantung Calix yang konstan di bawah pipinya menjadi satu-satunya suara yang menemaninya. Senyum getir yang teramat tipis terukir di bibirnya yang pucat.

​"Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan pada mereka, Calix," jawab Mireya dengan suara lemahnya yang terdengar begitu hancur. "Hancurkan mereka, miskinkan mereka, aku sudah tidak peduli lagi. Aku sudah menyerah."

​Calix mengernyitkan dahi, mempererat dekapannya. "Kamu serius? Mereka orang tua kandungmu."

​Mireya terkekeh pelan, sebuah tawa tanpa nada yang terdengar begitu menyayat hati. "Orang tua? Orang tua mana yang tega membiarkan jasad ibunya sendiri dikubur tanpa dihadiri? Mereka bahkan tidak menanyakan apakah prosesi pemakamannya berjalan lancar atau tidak. Mereka tidak peduli Nenek sudah menyatu dengan tanah atau belum." Mireya menjeda kalimatnya, menghirup napas yang terasa mencekik dadanya. "Hatiku terlalu sakit, Calix. Rasa sakit yang mereka beri sudah membunuh seluruh rasa hormatku sebagai seorang anak."

​Mireya mendongak sedikit, menatap rahang tegas Calix dengan mata bulatnya yang kini tak lagi memiliki binar kehidupan. "Lagi pula... kamu pasti sudah membaca pesan dari Mamaku di ponselku tadi, kan? Itu alasanmu membatalkan suntikan modal untuk Papa?"

​Calix tertegun. Pria itu tidak menyangka Mireya secerdas dan sepeka itu meskipun dalam kondisi berduka. "Ya. Aku membacanya. Dan aku benci melihat mereka memperlakukanmu seperti mesin pencetak uang."

​Mireya kembali menyandarkan kepalanya di dada Calix, memejamkan matanya rapat-rapat. "Lucu sekali. Di satu sisi ada orang tua yang memperlakukanku seperti mesin uang, dan di sisi lain ada pria kaya yang memperlakukanku seperti mesin anak. Kalian tidak ada bedanya, Calix."

​Kata-kata Mireya bagai sebilah pisau tak kasat mata yang menghantam tepat di ulu hati Calix. Dadanya mendadak terasa sesak dan nyeri yang teramat sangat. Pria itu ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ada rasa yang berbeda di hatinya sekarang, namun egonya kembali menahan lidahnya.

​"Hanya saja, aku ingin mengingatkanmu satu hal, Suamiku," bisik Mireya lagi, memberikan penekanan getir pada kata 'suamimu'. "Mulai detik ini, aku tidak akan pernah lagi menuntut sepeser pun uang darimu untuk mereka. Kontrak lima puluh miliar yang pertama sudah cukup untuk biaya pengobatan Aiden sampai sembuh. Jadi, ke depannya..."

​Mireya menjeda kalimatnya, tangannya mencengkeram kain jas Calix dengan sisa tenaga yang tipis. "...aku siap memuaskan seluruh hasratmu lagi. Kapan pun kamu mau, berapa kali pun dalam semalam, sepuasnya. Gunakan rahim ini, gunakan tubuh ini sampai kamu mendapatkan ahli waris yang kamu inginkan. Bahkan... bahkan jika tubuh ini harus mati karena menahan rasa perih dari hukumanmu, aku tidak akan meminta ampun lagi. Aku siap, Calix."

​Mendengar kepasrahan yang teramat ekstrem dari bibir Mireya, Calix justru merasa hatinya semakin sakit dan tersiksa. Rasa perih yang menjalar di dadanya kini jauh lebih menyakitkan daripada saat ia dikhianati di masa lalu. Ia tidak menginginkan kepasrahan mayat hidup seperti ini dari Mireya. Ia benci menyadari bahwa gadis yang semula memiliki binar mata yang jujur dan berani melawan semalam, kini telah ia hancurkan sendiri hingga menjadi sekeping kaca yang tak berbentuk.

​Calix mencengkeram kedua bahu Mireya, memaksanya untuk kembali mendongak menatapnya. Napas Calix memburu, dipenuhi emosi berkecamuk yang belum ia pahami namanya.

​"Tutup mulutmu, Mireya!" geram Calix rendah, suaranya bergetar hebat menahan badai di dalam dadanya. "Jangan bicara seolah-olah aku sedang membunuhmu secara perlahan! Aku membelimu bukan untuk melihatmu mati!"

​"Lalu untuk apa?" tatap Mireya datar, sama sekali tidak takut dengan kilatan amarah di mata Calix. "Bukankah dari awal posisiku hanya sebatas kontrakan rahim? Jika barang sewaanmu ini rusak setelah memberikan apa yang kamu mau, bukankah itu hal yang biasa dalam bisnis?"

​Calix terbungkam. Kata-kata dingin itu justru keluar dari bibir manis yang biasanya merintih ketakutan. Pria itu tidak mampu membalas. Dengan emosi yang membakar sekaligus menyiksa hatinya, Calix kembali menarik Mireya ke dalam pelukannya, mendekapnya teramat erat seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, gadis itu akan benar-benar lenyap dari dunianya.

​"Diam, Mireya... Cukup diam dan bersandarlah padaku," bisik Calix serak, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Mireya, menghirup aroma sisa gerimis desa yang menempel di tubuh istrinya.

​Mireya tidak menjawab lagi. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan hangat pria yang telah merenggut segalanya darinya, menutup mata di tengah perjalanan pulang menuju kota yang kini terasa asing dan penuh duri.

1
Aditya Rian
mantap
umie chaby_ba
rasain Lo ... 🤭
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
buruan calix , ilana ngadi-ngadi emang/Panic/
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean banget ilana ....
Ariska Kamisa: emang... ngeselin yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
udah sih lagi asik juga bianca resek banget
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
aditya rian
lanjutkan Thor
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
🤭🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
/Shy//Shy//Shy//Shy/
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
malang sekali mire
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
ceritanya menarik/Good/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣
Aditya Rian: matap👍
total 2 replies
umie chaby_ba
ceritanya bagus,
semangat terus ya Thor...
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih ngeselin banget sumpah si cilox🤣
Ariska Kamisa: calix kak bukan cilox🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
calix aslinya demen nih pasti
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey jangan kasih ampun 👍
Ariska Kamisa: siap👍
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey daripada stres ke hobi aja wis
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!