Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21
Namun, suara rendah Aragon yang tiba-tiba memecah kesunyian membuat Aurora membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, bahkan kini ia nyaris takut hanya untuk sekadar bernapas. Namun, Aurora tak boleh terlihat lemah. Semakin lemah ia akan semakin di telan. Begitulah pikirnya.
“Panti asuhan itu akan dibangun kembali mulai besok pagi.”
Aurora menoleh cepat ke arah pria itu, ia hampir tak percaya dengan telinganya. “Tapi kenapa?” tanyanya.
Aragon mengangkat sebelah alis. “Kenapa apanya?”
Aurora menatap Aragon penuh kebingungan. “Kenapa Anda menolong saya? Padahal saat saya datang, anda bahkan tidak sudi keluar dari mobil anda?”
“Kata siapa aku menolongmu?” Kata Aragon masih duduk menyilangkan kaki dan tak melihat ke arah Aurora dan menyandarkan punggungnya dengan santai.
“Anda mengusir Bulldog dan memberi pelajaran padanya. Membawa para suster dan anak-anak ke tempat aman, meski saya tidak tahu, dimana itu? Lalu anda mengatakan akan membangun kembali panti asuhan.” Aurora menghitung dengan jarinya. Seolah sedang menghitung kebaikan Aragon.
“Ya. Tentu. Jadi hutang mu semakin menumpuk padaku. Kau seharusnya bangga bisa menimbun pundi-pundi hutang dengan sangat cepat.”
“Sifat manusia memang sulit berubah.” Kata Aurora lirih.
“Tapi terlepas dari itu semua, semata-mata karena aku tidak suka ada orang yang mengganggu saat aku sedang memiliki urusan dengan seseorang.” Aragon yang menyandarkan tubuhnya dengan santai, kemudian melihat ke arah jendela seolah sedang menikmati perjalannya. “Dan jangan lupa, aku datang ke sana untuk menagih ganti rugi.” Pandangan Aragon pun kemudian beralih pada Aurora.
“Ganti rugi?” Aurora mengerutkan kening.“Ganti rugi yang mungkin sampai seumur hidup saya tidak bisa melunasinya, namun bagi Anda, kerugian itu bahkan tidak lebih dari seupil.”
“Uhuk!” Aragon berdeham pelan, sementara di kursi depan, Hank terbatuk kecil “ehem..”
Meski Aurora mengatakan hal yang sebenarnya, Hank tetap menahan diri untuk tidak berkomentar, karena Hank masoh memerlukan nyawanya untuk hidup, dan Aragon tidak akan sungkan menebas kepalanya. Walaupun Hank tahu, jika Aragon benar-benar bertindak serius, maka Aurora bahkan tak bisa melihat hari esok lagi.
Setelah bekerja untuk Aragon selama lebih dari separuh hidupnya, saat inilah Hank tidak mampu memahami jalan pikiran tuannya itu.
Aragon biasanya lebih rela kehilangan miliaran rupiah daripada harus berurusan dengan seorang wanita.
“Aku seorang pebisnis,” ujar Aragon datar. “Bagiku, uang sekecil apa pun tetaplah berharga.”
Mata Hank langsung menyipit. Dari pantulan kaca spion, Aragon menangkap ekspresi asistennya itu, tatapan yang seolah berkata bahwa kalimat barusan adalah kebohongan terbesar yang pernah keluar dari mulut sang tuan.
“Lagi pula,” lanjut Aragon tanpa memedulikan reaksi Hank, “semua itu tidak gratis. Kau harus membayarnya.”
Aurora menelan ludah. “Dengan uang?”
“Bukan. Dengan kebebasanmu.” Tangkas Aragon dengan cepat dan santai.
Aurora langsung terdiam. Suasana di dalam mobil kembali hening mencengkam, bercampur rasa tak mengerti di kepala Aurora.
“Hank.”
“Ya, Tuan. Saya mengerti.” Hank segera mengambil sebuah iPad dan menyerahkannya kepada Aurora.
Di layar perangkat itu sudah tertera sebuah dokumen perjanjian lengkap dengan berbagai klausul yang membuat Aurora mengernyit.
“Sebelum Anda memutuskan untuk menyetujui atau menolaknya, izinkan saya menjelaskan isi perjanjian ini terlebih dahulu, Nona Aurora,” ujar Hank seraya memutar sedikit tubuhnya ke belakang untuk menatap Aurora.
“Karena setelah mendengar seluruh syaratnya, saya yakin Anda akan memahami mengapa Tuan Aragon menyebut harga yang harus Anda bayar adalah, kebebasan Anda.”
Aragon tersenyum tipis, sebelum Hank menjelaskannya lebih lanjut. Aragon menatap Aurora dengan pandangan meremehkan. “Memangnya kau punya uang untuk membayarnya?”
Mendengar nada penghinaan itu, Aurora sontak merengut kesal. Keberaniannya mendadak bangkit. Harga dirinya benar-benar terluka. “Semua harta yang Anda miliki ini juga hanya titipan dari Tuhan. Kenapa harus sesombong itu?” ketusnya.
Aragon tidak marah. Ia justru menyandarkan punggungnya lagi dengan seringai yang semakin lebar.
Hank melihat Aragon yang tanpa sadar bahkan kini menyeringai.
“Kenapa? Apakah perkataanku melukai harga dirimu? Jika seandainya apa yang kau katakan itu benar, bahwa jika ini semua hanya titipan dari Tuhan, setidaknya, kau yang tidak punya apa-apa ini rela datang ke perusahaanku hanya untuk memohon pinjaman dari ‘titipan’ yang kau maksud itu.”
Aurora tak bisa lagi menangkis bantahan Aragon. Tenggorokannya mendadak kering, mulutnya kelu terkunci oleh kebenaran brutal yang baru saja dihantamkan pria itu tepat di wajahnya.
Kata-kata Aragon barusan bukan sekadar pembelaan diri, melainkan sebuah penegasan mutlak tentang siapa yang memegang kendali di sini.
“Aku hanya percaya pada kerja keras. Aku mendapatkan semua ini bukan karena begitu saja dititipi oleh Tuhan,” ujar Aragon, suaranya merendah, sedingin es yang memotong keheningan malam. “Tuhan tak pernah ada sejak aku dilahirkan.”
Keheningan seketika menyergap kabin mobil.
Pernyataan yang keluar dari mulut Aragon terasa begitu kelam dan hampa, membuat bulu kuduk Aurora meremang. Ia menatap pria di sampingnya dengan kilat ngeri yang tidak bisa disembunyikan.
Di mata Aurora, kini Aragon bukan lagi sekadar pengusaha kaya yang angkuh, melainkan sosok yang telah melewati sesuatu yang begitu gelap hingga mampu membuang keyakinannya terhadap Tuhan tanpa beban.
Di depan, Hank tetap mempertahankan ekspresi datarnya, fokus menatap jalanan. Namun, rahangnya mengetat. Ia tahu persis dari mana kalimat itu berasal, dan ia tahu Aragon tidak pernah bercanda jika sudah menyangkut hal tersebut.
Aragon menoleh, menatap Aurora yang kini mematung dengan wajah kian pucat. Seringai tipis kembali muncul di bibir pria itu, tampak begitu puas melihat lawannya kehabisan kata-kata.
“Jadi, Aurora,” Aragon memajukan sedikit tubuhnya, mempersempit jarak di antara mereka hingga Aurora bisa mencium aroma parfum maskulin yang mengintimidasi.
“Berhenti mengkhotbahiku tentang moral atau agama. Sekarang, fokuslah pada kontrak di tanganmu.”
Aragon menunjuk iPad yang masih dipegang Aurora dengan dagunya.
“Pilihannya ada di tanganmu. Tolak kontrak itu, maka panti asuhanmu akan rata dengan tanah karena aku tidak akan ikut campur lagi. Setelah itu, kau tetap harus membayar uang ganti rugi beserta bunganya yang tinggi dan aku yakin, kau sudah tahu persis siapa aku sebelum kau datang mencariku. Kau seharusnya sudah tahu resiko berurusan dengan ku. Atau, kau setujui kontrak tersebut dan lihat panti asuhanmu menjadi jauh lebih baik. Jadi, tanda tangani, dan serahkan kebebasanmu padaku.”
Hank berdeham pelan, memecah ketegangan yang nyaris membekukan udara di dalam kabin mobil.
“Baik, Nona Aurora. Mari kita mulai dari poin paling mendasar tentang makna 'kebebasan' yang dimaksud oleh Tuan Aragon,” ujar Hank dengan nada suara bariton yang profesional namun terasa dingin.
“Dalam kontrak kebebasan Anda tidak lagi diukur berdasarkan keinginan pribadi Anda. Mulai detik ini, setelah Anda menandatanganinya, seluruh hidup Anda berada di bawah kendali penuh Tuan Aragon. Secara harfiah.”
Aurora menahan napas, matanya bergerak gelisah menatap baris-baris kalimat hukum yang tampak begitu mengikat.
Bersambung