NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Ibu yang Tidak Pernah Hilang

“Aku ibumu.”

Kalimat itu menghantam Nayra lebih keras daripada suara tembakan.

Tubuhnya langsung membeku di tempat.

Lorong dingin.

Mayat Hunter.

Alarm merah.

Semuanya mendadak terasa jauh.

Yang tersisa cuma wanita bergaun putih di ujung ruangan itu.

Wajahnya lembut.

Matanya hangat.

Dan… memang mirip dengannya.

Sangat mirip.

Nayra bahkan bisa melihat bentuk mata yang sama di cermin setiap pagi.

“T-tidak…”

Suara Nayra nyaris hilang.

Wanita itu tersenyum pelan.

“Suaramu masih sama.”

Napas Nayra mulai tidak beraturan.

“Enggak… Mama aku bukan kamu…”

Wanita itu melangkah maju perlahan.

“Hei.”

Nada suaranya lembut sekali.

Seperti seseorang yang sudah lama merindukan anaknya.

“Kamu masih suka gugup kalau takut.”

Deg.

Kalimat sederhana itu membuat dada Nayra sesak.

Karena benar.

Dan itu kebiasaan yang bahkan orang lain jarang sadar.

Zavian langsung berdiri di depan Nayra.

“Jangan dekat-dekat.”

Wanita itu menatap Zavian datar.

“Player 03.”

“Jangan panggil aku begitu.”

“Masih emosional seperti dulu.”

Tatapan Zavian langsung berubah tajam.

Arsen memperhatikan wanita itu tanpa ekspresi.

Tapi Nayra sadar satu hal—

bahkan Arsen terlihat waspada.

Artinya wanita ini berbahaya.

Sangat berbahaya.

Ruangan putih itu terlalu bersih.

Terlalu tenang.

Seperti laboratorium.

Dinding kaca berdiri di mana-mana.

Lampu putih terang menusuk mata.

Dan di balik beberapa kaca…

ada manusia.

Nayra langsung menahan napas.

Orang-orang duduk diam di kursi logam.

Sebagian memakai alat di kepala.

Sebagian terlihat tertidur.

Sebagian lagi… hanya menatap kosong ke depan.

“Apa itu…” bisik Nayra.

Wanita itu menjawab dengan tenang.

“Batch baru.”

Darah Nayra langsung dingin.

“Batch?”

“Calon pemain.”

Nayra menatap wanita itu tidak percaya.

“Kalian nyulik orang?!”

“Kami memilih.”

“Itu sama aja!”

Wanita itu malah tersenyum kecil.

“Tidak semua orang cocok untuk permainan.”

Cara bicaranya tenang.

Terlalu tenang.

Dan justru itu yang membuat Nayra merinding.

“Aku nggak percaya kamu ibuku.”

Wanita itu memandang Nayra lama.

Lalu berkata pelan,

“Kamu punya tanda lahir kecil di belakang bahu kanan.”

Tubuh Nayra langsung kaku.

“Waktu kecil kamu takut suara petir.”

Nayra menelan ludah.

“Dan setiap kali mimpi buruk, kamu selalu tidur sambil pegang ujung bajuku.”

Mata Nayra mulai panas.

Tidak.

Tidak mungkin.

Hal-hal itu terlalu spesifik.

Terlalu pribadi.

Arsen langsung bicara dingin.

“Berhenti mainin emosinya.”

Wanita itu menoleh.

“Aku hanya bicara dengan putriku.”

“Dia bukan milik kalian lagi.”

Kalimat Arsen membuat suasana langsung berubah dingin.

Wanita itu tersenyum tipis.

“Aneh mendengar itu dari Subject Alpha.”

Nayra langsung menoleh cepat.

“Subject Alpha itu sebenarnya apa?”

Arsen diam.

Wanita itu justru menjawab.

“Subjek pertama yang berhasil bertahan hidup.”

Deg.

“Eksperimen pertama kami.”

Nayra langsung memandang Arsen.

Cowok itu memalingkan wajah.

Seolah membenci pembicaraan ini.

“Kamu… juga korban?”

Arsen tertawa kecil hambar.

“Korban yang hidup terlalu lama.”

Wanita itu berjalan mendekati layar besar di tengah ruangan.

Sekali sentuh, layar langsung menyala.

Dan yang muncul membuat Nayra membeku lagi.

Foto dirinya.

Sejak kecil.

Puluhan.

Ratusan.

Semua fase hidupnya.

Sekolah.

Rumah sakit.

Kontrakan.

Kampus.

Semua dipantau.

“Kenapa…” suara Nayra bergetar. “Kenapa aku…”

Wanita itu menatap layar dengan bangga.

“Karena kamu sempurna.”

Nayra langsung merasa mual.

“Apa?”

“Kamu punya respons emosi paling stabil.”

“STABIL KATAMU?! AKU HAMPIR GILA!”

“Dan kamu masih bertahan sampai sekarang.”

Wanita itu tersenyum lagi.

“Itulah kenapa kamu spesial.”

Zavian langsung maju selangkah.

“Cukup.”

Tatapannya dingin sekali sekarang.

“Kalian bikin hidup orang jadi permainan.”

Wanita itu melirik Zavian.

“Kamu juga bagian dari permainan, Player 03.”

“Aku nggak pernah milih.”

“Semua orang selalu punya pilihan.”

“Omong kosong.”

Suara Zavian rendah.

Marah.

Nayra jarang melihat emosi sejelas itu di wajahnya.

Dan entah kenapa…

itu membuat dadanya terasa aneh.

Wanita itu akhirnya menatap Nayra lagi.

“Datang ke sini.”

Nayra langsung mundur.

“Aku nggak mau.”

“Kamu takut?”

“Tentu aja aku takut!”

Wanita itu tersenyum lembut.

“Takut itu normal.”

Lalu nada suaranya berubah sedikit lebih dingin.

“Tapi kamu tetap akan kembali ke sini.”

Nayra mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

Wanita itu menyentuh layar lagi.

Video muncul.

Rekaman rumah sakit.

Dan Nayra langsung pucat.

Karena di sana ada ayahnya.

Sedang terbaring lemah.

“Mereka—”

“Masih hidup,” potong wanita itu tenang. “Untuk sekarang.”

Nayra langsung bergerak maju.

“Jangan sentuh keluargaku!”

“Lucu.”

Wanita itu tersenyum kecil.

“Kamu masih menyebut mereka keluarga.”

Deg.

“Apa maksudmu?”

Hening beberapa detik.

Lalu wanita itu berkata pelan—

“Mereka bukan orang tua kandungmu.”

Dunia Nayra runtuh lagi.

“Apa…?”

“Mereka hanya keluarga pengganti.”

Nayra menggeleng cepat.

“Bohong…”

“Kami memberikanmu kehidupan normal setelah fase eksperimen selesai.”

Napas Nayra mulai kacau.

“Tidak…”

“Kamu terlalu kecil untuk mengingat semuanya.”

Air mata mulai jatuh.

“Aku nggak percaya…”

“Tapi tubuhmu percaya.”

Wanita itu melangkah mendekat lagi.

Dan untuk pertama kalinya…

tatapannya terlihat benar-benar seperti seorang ibu.

Sedih.

Lelah.

Tapi juga menyeramkan.

“Kamu anakku, Nayra.”

“Dia bohong.”

Suara Zavian memotong semuanya.

Nayra langsung menoleh.

Cowok itu menatap wanita itu dingin.

“Kalian nggak punya arti keluarga.”

Wanita itu tersenyum tipis.

“Kamu iri?”

Tatapan Zavian berubah tajam.

“Aku jijik.”

Hening.

Lalu wanita itu berkata pelan,

“Kakakmu dulu juga bicara begitu.”

Tubuh Zavian langsung membeku sesaat.

Nayra melihat jelas perubahan ekspresinya.

“Kamu…” suara Zavian rendah. “Kamu kenal kakakku?”

Wanita itu tidak langsung menjawab.

Dan itu cukup.

Zavian langsung berjalan maju.

“Apa yang kalian lakukan ke dia?!”

Arsen langsung menahan lengannya.

“Zavian.”

“Lepas.”

“Tenang.”

“Aku bilang LEPAS!”

Suara Zavian menggema di ruangan putih itu.

Dan untuk pertama kalinya…

Nayra benar-benar melihat sisi lain dirinya.

Bukan cowok dingin yang selalu tenang.

Tapi seseorang yang menyimpan kemarahan besar.

Sangat besar.

Wanita itu menatapnya tanpa takut sedikit pun.

“Kakakmu pemain berbakat.”

“KALIAN BUNUH DIA!”

“Tidak.”

Jawaban itu membuat semua diam.

Wanita itu tersenyum tipis.

“Dia memilih mati sendiri.”

Hening.

Nayra melihat tangan Zavian mengepal keras.

Sampai bergetar.

“Apa maksudmu…”

Wanita itu menatap lurus ke matanya.

“Dia gagal melindungi seseorang.”

Deg.

Nayra langsung merasa ada sesuatu yang salah.

Tatapan Zavian berubah kosong sesaat.

Dan untuk pertama kalinya…

cowok itu terlihat rapuh.

“Siapa…” suara Zavian nyaris hilang. “Siapa yang gagal dia lindungi…”

Wanita itu melirik Nayra.

Senyumnya perlahan muncul lagi.

Dan Nayra langsung merinding.

Karena ia mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini.

“Subject 07.”

Sunyi.

Dunia seperti berhenti.

Nayra menatap Zavian perlahan.

Sementara Zavian…

membeku total.

“Kakakku…” suaranya berat. “Mati karena…”

Wanita itu mengangguk pelan.

“Karena kamu.”

Nayra langsung merasa napasnya hilang.

“Tidak…”

Potongan ingatan tiba-tiba muncul di kepalanya.

Seorang pria muda.

Senyum hangat.

Tangan yang menggenggam tangannya erat.

Suara seseorang berteriak—

“LARI!”

Lalu darah.

Banyak darah.

“AAAH!”

Nayra jatuh berlutut sambil memegang kepala.

Ingatan itu terlalu sakit.

Terlalu nyata.

Zavian langsung bergerak refleks mendekatinya.

“Nayra!”

Tapi Nayra malah mundur panik.

Air matanya jatuh deras.

“Aku… aku penyebabnya?”

“Nggak.”

“Tapi kakakmu mati karena aku!”

“Itu bukan salahmu!”

“Dia bilang begitu!”

“DENGERIN AKU!”

Zavian memegang bahu Nayra.

Tatapannya serius.

Marah.

Tapi bukan ke Nayra.

“Kamu korban di sini.”

Nayra menatap matanya yang gelap.

Dan untuk pertama kalinya…

ia melihat rasa sakit besar di sana.

Sakit yang selama ini disembunyikan.

“Aku dulu benci kamu,” bisik Zavian pelan.

Nayra langsung membeku.

“Tapi waktu aku tahu semuanya…”

Napasnya berat.

“…aku sadar kita sama-sama dipermainkan.”

Air mata Nayra makin deras.

Ia tidak tahu harus merasa apa sekarang.

Takut.

Sedih.

Bingung.

Semuanya bercampur jadi satu.

Tiba-tiba alarm berubah.

Lampu merah menyala di seluruh ruangan.

Wanita itu menghela napas kecil.

“Sayang sekali.”

Arsen langsung waspada.

“Mereka mulai?”

Wanita itu mengangguk.

“Protocol Zero aktif penuh.”

Layar besar berubah merah total.

Tulisan muncul:

PURGE MODE ACTIVATED

Nayra langsung menoleh panik.

“Apa itu lagi?!”

Arsen memaki pelan.

“Mereka mau bersihin seluruh fasilitas.”

“Artinya?”

Zavian menatap sekeliling.

“Gedung ini bakal dihancurin.”

Deg.

“Apa?!”

Wanita itu tetap tenang.

“Tidak ada saksi.”

Lampu mulai berkedip liar.

Suara ledakan kecil terdengar dari kejauhan.

Orang-orang di balik kaca mulai panik.

Sebagian berteriak.

Sebagian memukul dinding kaca.

Nayra langsung mundur.

“Orang-orang itu…”

“Eksperimen gagal,” kata wanita itu dingin.

“Buat mereka, nyawa itu cuma data.”

Nayra langsung marah.

“Kalian monster.”

Wanita itu menatap Nayra lama.

Dan untuk pertama kalinya…

senyumnya menghilang.

“Monster tidak lahir begitu saja, Nayra.”

Tatapannya turun pelan.

“Mereka diciptakan.”

Kalimat itu menggantung menyeramkan di udara.

Lalu—

DUARRR!

Ledakan besar mengguncang lantai.

Kaca retak.

Lampu mati separuh.

Dan dari speaker terdengar suara otomatis:

SELF-DESTRUCT SYSTEM INITIATED

Nayra langsung panik.

“Kita harus keluar!”

Arsen mengangguk cepat.

“Tapi pusat data dulu.”

“Apa?!”

“Kalau sistem utama dihancurin, semua bukti hilang!”

Zavian langsung paham.

“Kita ambil server inti.”

Nayra menatap mereka tidak percaya.

“Gedung mau meledak dan kalian masih mikirin server?!”

“Kita nggak bisa berhenti sekarang,” kata Zavian.

Tatapannya turun ke Nayra.

“Kalau organisasi ini tetap hidup…”

Napasnya berat.

“…permainannya bakal terus berulang.”

Dan di tengah alarm merah yang makin keras…

Nayra akhirnya sadar.

Ini bukan lagi soal bertahan hidup.

Tapi soal menghentikan sesuatu yang sudah menghancurkan terlalu banyak orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!