NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deru Kuda Besi di Jalanan Kota

Suara nada sambung di ponsel Davika berbunyi monoton, terdengar putus-putus di sela-sela langkah kakinya yang berlari kencang menuju rumah kembali. Tepat sebelum ia mencapai ambang pintu gerbang, panggilan itu terputus sepihak. Sebuah pesan otomatis masuk ke layar ponselnya: “Flight Crew Mode On. Destination: Shanghai Pudong International Airport. Current Altitude: 35,000 feet.”

Davika mendengus kasar, memasukkan ponselnya ke saku jaket oversized hitam dengan gusar. Mas Gara masih berada di langit, mengemudikan burung besi raksasa membelah awan malam menuju Tiongkok. Di saat-saat kritis seperti ini, sang "Tom" andalannya sedang berada di ketinggian ribuan kaki, tidak terjangkau oleh frekuensi bumi.

"Kalau nunggu Mas Gara mendarat, rumah ini bisa-bisa sudah rata sama tanah," gumam Davika, rahangnya yang biasa memamerkan tawa kini mengetat rapi.

Mengabaikan Ibu Rahayu yang masih berada di area dapur bersih, Davika menyelinap lewat pintu samping menuju ruang bagasi—sebuah gudang semi-terbuka di samping rumah tempat penyimpanan perkakas Bapak dan koleksi otomotif Mas Gara. Di bawah temaram lampu bohlam kuning lima watt, sebuah objek tertutup kain terpal abu-abu tebal berdiri dengan kokoh.

Davika menyentak terpal itu hingga debu beterbangan. Di baliknya, meliuk bodi kekar sebuah motor balap sport 250cc berwarna hitam pekat, milik Sagara yang dirawat bagai anak emas. Kunci kontaknya tergantung rapi di dinding kayu dekat rak obeng. Tanpa ragu, tangan mungil Davika menyambar kunci tersebut. Sifat random-nya kali ini berubah menjadi keberanian nekat yang ekstrem. Meskipun bertubuh mungil, Davika sudah sering diajari Mas Gara menunggangi monster besi ini di sirkuit kosong, walau tujuannya saat itu hanya untuk menjahilinya.

Brummm! Oonggg!

Mesin dua silinder itu menderu garang, memecah kesunyian gang sempit dan mengejutkan beberapa ekor kucing liar. Dengan postur tubuhnya yang semok dan padat dibalut jaket oversized, Davika menapakkan kakinya yang jenjang dengan mantap, menarik tuas kopling, dan melesat keluar dari bagasi menembus kegelapan malam.

Davika membelah keheningan jalanan kota yang masih ramai oleh sisa-sisa kepadatan jam pulang kerja. Ia berkendara dengan gesit, meliuk-liuk di antara sela-sela mobil dan bus kota bagai pembalap profesional. Rambut bergelombangnya yang mencuat dari balik helm hitam milik Gara bergoyang tertiup angin senja yang dingin. Fokusnya hanya satu: melacak titik lokasi hotel mewah tempat Mbak Nara bertemu Gus Zayyad, menggunakan sisa pelacakan nomor telepon yang sempat dikirimkan lewat pesan misterius tadi.

Sementara itu, di area pelataran parkir terbuka bagian belakang hotel bintang lima, suasananya jauh dari kata mewah. Area ini sepi, hanya digunakan untuk bongkar muat dekorasi dan dibatasi oleh dinding beton tinggi serta tumpukan palet kayu.

Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari berdiri tegak di bawah siraman lampu merkuri yang temaram. Kemeja hitam formalnya kini tampak sedikit kusut, dengan beberapa kancing atas yang sudah terbuka, menampilkan urat-urat leher dan otot dadanya yang menegang. Di sekelilingnya, lima orang pria berjaket kulit hitam—anak buah Kamil—telah mengepungnya dalam formasi lingkaran yang rapat.

Rupanya, setelah memastikan Bapak Handoko dan Mbak Nara aman di dalam SUV logistik yang bergerak keluar dari pintu rubanah timur, Zayyad memilih untuk kembali ke atas dan memancing sisa komplotan ini ke area luar agar tidak melibatkan pihak keamanan hotel yang bisa memicu skandal media.

"Gus Zayyad, Anda mengorbankan diri demi keluarga sopir taksi itu? Sungguh tidak logis untuk ukuran seorang CEO," cibir salah satu pria bertubuh gempal yang memegang sebatang balok kayu sisa palet.

Zayyad tidak menjawab. Wajah tampannya yang luar biasa itu tetap sedingin es, tanpa ekspresi ketakutan sedikit pun. Tubuh kekarnya sedikit merendah, memasang kuda-kuda pertahanan taktis yang rapat. Keheningan malam di tempat itu mendadak begitu menegangkan, bersiap pecah oleh benturan fisik yang tidak seimbang.

Ckiiiiiit!

Suara derit ban yang bergesekan ekstrem dengan aspal menggema nyaring, memotong atmosfer mencekam tersebut. Sebuah motor balap hitam melesat masuk ke area pelataran terbuka, berputar horizontal sembilan puluh derajat hingga menciptakan kepulan asap tipis dari ban belakangnya.

Davika membuka kaca helm hitamnya, menampilkan mata green-gray langka miliknya yang menatap tajam ke arah kerumunan.

"Hei, om-om baju hitam!" teriak Davika dengan nada ceriwis namun penuh penekanan, memecah kepungan. "

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Suara raungan mesin motor balap 250cc milik Mas Gara perlahan turun ke putaran statis, meninggalkan dengung berat yang menggetarkan udara pengap di pelataran belakang hotel. Kepulan asap tipis berbau karet terbakar mengepul di sekitar ban belakang, perlahan naik dan mengaburkan sorot lampu merkuri kekuningan di atas mereka.

Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari menoleh sekilas. Untuk pertama kalinya dalam sepanjang hari yang panjang ini, topeng sedingin es di wajah tampannya retak. Sepasang alisnya yang tebal bertaut rapat, menampilkan kilat keterkejutan yang nyata saat melihat sosok mungil dengan jaket oversized hitam dan helm balap longgar itu bertengger di atas kuda besi paling bertenaga di keluarga Mwohan.

"Davika? Kenapa kamu ada di sini?!" suara bariton Zayyad menggelegar rendah, sarat akan otoritas yang bercampur baur dengan rasa tidak percaya. "Pulang! Ini bukan tempat bermainmu!"

"Siapa yang sedang bermain, Gus kaku?" sahut Davika ceriwis. Ia menurunkan standar samping motor dengan sentakan kakinya yang jenjang, lalu melompat turun dari jok yang tinggi dengan gerakan yang sangat gesit. Proporsi tubuhnya yang padat dan berisi membuat jaket kain hitam milik kakaknya itu tampak menggembung. Ia melepas helm balapnya, membiarkan rambut hitam lebat bergelombangnya terurai indah dengan poni see-through yang sedikit basah oleh keringat. Wajah bak boneka hidupnya kini sama sekali tidak menampilkan unsur komedi. Matanya yang berwarna green-gray langka memancarkan keseriusan yang dingin.

Lima pria berjaket kulit hitam yang mengepung Zayyad sempat tertegun sejenak. Namun, sedetik kemudian, tawa meremehkan pecah dari pria bertubuh gempal yang memegang balok kayu.

"Kamil bilang keluarga Handoko itu cuma sekumpulan orang lemah. Ternyata mereka malah mengirim bocah ingusan yang kecentilan untuk jadi pahlawan," cibir pria gempal itu. Ia mengayunkan balok kayunya rendah, melangkah maju menggeser fokusnya dari Zayyad menuju Davika. "Heh, Bocah. Lebih baik kamu pulang dan bantu ibumu memotong sayur daripada tubuh mungilmu ini harus patah di sini."

"Mulutmu perlu diajari tata bahasa yang sopan ya, Om Gempal," balas Davika tanpa rasa takut sedikit pun. Sifat random-nya mendadak berpadu dengan kenekatan luar biasa. Tangan mungilnya meraba kompartemen di bawah jok motor Gara tempat peralatan darurat disimpan, lalu menarik keluar sebuah kunci pas besi berukuran besar yang berat. "Mas Gara selalu bilang, kalau menghadapi anjing galak yang suka menggonggong, jangan kasih daging, tapi kasih besi!"

"Davika, mundur ke belakang saya!" bentak Zayyad tegas. Tubuh tegapnya langsung melesat maju, memotong jalur pergerakan pria gempal sebelum orang itu sempat mendekati Davika. Di balik kemeja hitamnya yang kini makin kusut, otot-otot lengan Zayyad yang kekar mengencang sempurna.

Benturan fisik tidak dapat dihindarkan lagi. Pria gempal itu mengayunkan balok kayu dengan kasar ke arah kepala Zayyad. Namun, dengan refleks taktis yang luar biasa terlatih, Zayyad merunduk satu langkah, membiarkan balok kayu itu menebas angin hampa. Dalam pecahan detik yang sama, kepalan tangan kanan Zayyad menghantam ulu hati pria gempal itu dengan kekuatan penuh, menciptakan bunyi pukulan tumpul yang telak.

Bugh!

Pria gempal itu mengerang keras, tubuh besarnya terhuyung ke belakang menabrak tumpukan palet kayu hingga hancur berantakan.

Melihat rekan mereka tumbang dalam satu gerakan, empat pria lainnya langsung bergerak serentak. Dua orang menyerang Zayyad dari sisi kiri, sementara dua orang lainnya mengincar Davika untuk menjadikannya sandera.

"Jangan sentuh motor Mas Gara, kotor!" pekik Davika acak saat salah satu pria mencoba menerjangnya.

Dengan kelincahan tubuh mungilnya yang tak terduga, Davika berputar menghindari tangkapan tangan pria itu. Kain jaket oversized-nya mengibas tajam, dan dengan momentum putaran tubuhnya, ia mengayunkan kunci pas besi tebal itu tepat ke arah tulang kering lawan.

Plak!

"Arghhh!" Pria itu berteriak kesakitan, langsung ambruk di atas aspal sembari memegangi kakinya yang cedera parah. Davika tidak memberikan ruang napas; ia menggunakan ujung helm balap berat di tangan kirinya untuk menghantam punggung pria tersebut hingga orang itu terkapar tak bergerak.

Di sisi lain pelataran, Gus Zayyad bertarung dengan efisiensi tingkat tinggi seorang praktisi bela diri profesional. Meskipun dikeroyok, tubuh kekarnya bergerak stabil, menepis setiap pukulan dan membalas dengan bantingan-bantingan pendek yang mematikan di atas permukaan aspal yang keras.

Namun, di tengah kemelut pertarungan yang menegangkan itu, lampu sorot dari pintu keluar rubanah tiba-tiba menyala terang, menyinari seluruh pelataran belakang. Sebuah mobil sedan hitam mewah lainnya—bukan milik Zayyad maupun Kamil—perlahan meluncur masuk dengan kecepatan rendah, memotong kegelapan malam dengan keanggunan yang mengancam. Kehadiran pihak ketiga ini mendadak membuat sisa-sisa komplotan Kamil menahan diri dan mundur dengan tergesa-gesa, meninggalkan atmosfer pelataran yang kian mendingin dan sarat akan misteri baru yang siap meledak.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!