NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Akhir dari Kupu-Kupu Hitam

Beberapa detik setelah tubuh Victor Wijaya terkapar tak berdaya di ujung patahan dermaga, suara gemuruh baling-baling helikopter kepolisian memecah kesunyian langit malam Tanjung Priok. Lampu sorot raksasa dari atas udara seketika menyala, mengunci posisi Victor yang mengerang kesakitan sambil memegangi rusuknya yang patah.

​Baskara bersama belasan pasukan taktis bersenjata lengkap langsung merangsek maju. Dalam hitungan detik, kedua tangan sang buronan internasional itu dipaksa ke belakang dan diborgol dengan sangat ketat. Pelarian dan kekuasaan Kupu-Kupu Hitam yang selama bertahun-tahun menelan banyak korban tak bersalah resmi berakhir di atas kayu dermaga yang basah.

​Adrian membalikkan tubuhnya perlahan. Napasnya masih memburu berat, memicu naik-turunnya dada bidang yang terbalut kemeja hitam yang kini telah robek di beberapa bagian. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung menyapu sekitar, dan seketika meredup lembut begitu menangkap sosok Renata yang berdiri beberapa meter darinya, masih memegang senter taktis dengan tangan yang sedikit bergetar.

​Tanpa memedulikan hiruk-pikuk petugas polisi yang sedang mengevakuasi Victor, Adrian melangkah lebar mendekati Renata. Ia langsung menarik tubuh ramping istrinya ke dalam dekapan yang luar biasa erat, seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita itu akan menghilang.

​"Sudah kukatakan untuk tetap di dalam, Renata," bisik Adrian, suaranya terdengar serak, rendah, dan sarat akan emosi yang tertahan di ceruk leher Renata.

​Renata memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Adrian yang bercampur dengan bau maskulin, keringat, dan mesiu. Ia melingkarkan lengannya di pinggang kokoh Adrian. "Jika aku tidak keluar, pisau itu sudah menembus dadamu, Adrian. Jangan harap aku akan menjadi istri yang hanya diam menunggu."

​Adrian terkekeh rendah, sebuah getaran yang terasa langsung di dada Renata. Ia merenggangkan pelukan mereka, menangkup wajah cantik Renata dengan kedua telapak tangannya yang hangat, lalu mengecup keningnya lama dan penuh rasa syukur. Kabut hitam masa lalu telah sirna. Dendam atas kematian Maya telah terbayar tuntas seiring dengan diseretnya Victor ke balik jeruji besi.

​"Mari kita pulang," bisik Adrian, tatapannya mendadak berubah menjadi lebih gelap, dalam, dan dipenuhi binar yang membuat debaran di dada Renata berpacu dua kali lebih cepat. "Urusan kita di luar sudah selesai. Sekarang... saatnya menyelesaikan urusan kita sendiri."

​Begitu pintu penthouse mewah mereka tertutup berlapis dan terkunci otomatis, keheningan malam yang intens langsung menyelimuti atmosfer ruangan. Tidak ada lampu yang dinyalakan, hanya pendar cahaya dari gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menembus dinding kaca besar, memberikan nuansa remang-remang yang sangat intim.

​Ketegangan yang sejak tadi menumpuk di medan perang mendadak bertransformasi menjadi gelombang gairah yang meletup-letup di antara mereka berdua. Adrian berbalik, menatap Renata yang sedang bersandar di pintu. Jas hitam Adrian sudah terlempar entah ke mana, menyisakan kemeja hitamnya yang robek di bagian bahu kanan, memperlihatkan sedikit guratan ototnya yang kokoh.

​Adrian melangkah mendekat, mengurung tubuh Renata di antara kedua lengannya yang bertumpu pada pintu besi. Jarak di antara mereka terkikis habis hingga Renata bisa merasakan deru napas Adrian yang hangat menyapu permukaan kulit wajahnya.

​"Adrian... bahumu harus diobati," bisik Renata lirih, mencoba mempertahankan akal sehatnya, meskipun tatapan intens Adrian seolah sedang menguliti setiap jengkal pertahanannya.

​"Luka ini bisa menunggu, Renata," sahut Adrian, suaranya terdengar sangat rendah, serak, dan penuh tuntutan yang dalam. "Tapi hasratku untuk memilikimu seutuhnya malam ini tidak bisa menunggu satu detik pun lagi."

​Tanpa memberi kesempatan bagi Renata untuk membalas, Adrian menundukkan kepalanya dan mengklaim bibir ranum Renata dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, menuntut, dan membakar. Ciuman itu bukan lagi sekadar kecupan lembut seperti sebelumnya, melainkan sebuah pergulatan emosi, pelepasan rasa takut kehilangan, dan deklarasi kepemilikan yang absolut.

​Renata melenguh pelan di dalam ciuman itu, tangannya yang semula berada di dada Adrian perlahan merayap naik, mencengkeram rambut tebal suaminya saat tautan bibir mereka semakin intens dan menuntut balasan. Sentuhan jemari Adrian di pinggangnya terasa begitu panas, merayap naik ke balik jaket kulit yang dikenakan Renata, mengirimkan sengatan listrik yang membuat seluruh tubuh gadis itu bergetar hebat.

​Dengan gerakan yang mendominasi namun penuh kelembutan, Adrian mengangkat tubuh Renata, membuat Renata secara refleks melingkarkan kedua kaki jenjangnya di pinggang kokoh sang CEO. Tanpa memutuskan pautan bibir mereka yang semakin memanas dan memabukkan, Adrian membawa Renata melangkah menuju kamar utama mereka yang luas.

​Tubuh Renata perlahan mendarat di atas ranjang berukuran king-size yang empuk, dengan Adrian yang langsung mengungkungnya dari atas. Di bawah pendar cahaya kota yang temaram, sepasang mata elang Adrian menatap Renata dengan binar gairah yang menyala-nyala, menatap bibir istrinya yang kini sedikit bengkak dan memerah akibat ciuman intens tadi.

​Satu per satu pakaian yang menjadi penghalang di antara mereka mulai terlepas, jatuh berserakan di atas lantai marmer yang dingin, kontras dengan suhu di atas ranjang yang merayap naik hingga ke titik tertinggi. Sentuhan kulit bertemu kulit memberikan sensasi terbakar yang luar biasa. Setiap sentuhan jemari Adrian di lekuk tubuh Renata menyulut desahan demi desahan lembut yang lolos dari bibir manis gadis itu, memenuhi keheningan kamar.

​Adrian mengecup rahang Renata, turun ke leher jenjangnya, memberikan gigitan-gigitan kecil yang sensual, sebelum kembali mengunci bibir Renata saat pergulatan panas di antara mereka mencapai puncaknya. Di dalam kamar yang kedap suara itu, dalam keheningan malam yang menjadi saksi, mereka berdua menyatu dalam pusaran gairah yang tak terbendung—bukan lagi sebagai sekadar sekutu dalam aliansi kegelapan, melainkan sebagai sepasang suami istri yang saling menyerahkan jiwa dan raga mereka seutuhnya.

​Malam itu, di bawah kehangatan selimut sutra dan debaran jantung yang berpacu selaras, sang Kupu-Kupu malam dan sang CEO penakluk akhirnya benar-benar melebur menjadi satu, mengukir akhir dari penderitaan masa lalu dan menyambut fajar baru yang penuh dengan cinta yang membara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!