" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Di Ruang Tamu
Siang itu, udara terasa sangat pengap. Banyu menangis kencang karena hawa panas, sementara listrik kembali padam akibat pulsa yang habis. Arumi sedang berusaha menenangkan bayinya dengan kipas anyaman bambu, wajahnya tampak sangat kuyu.
Tante Sari datang membawa dua liter beras dan beberapa butir telur. Begitu masuk dan melihat kegelapan serta tangis bayi yang menyayat hati, meledaklah kesabarannya. Ia melihat Baskara sedang berbaring di kursi panjang, asyik mengipas diri sendiri dengan koran bekas.
"Heh, Baskara! Kamu punya telinga tidak?!" Tante Sari membanting plastik beras ke meja hingga suaranya berdentum.
Baskara hanya menoleh malas, matanya yang berusia tiga puluh sembilan tahun itu tidak menunjukkan riak apa pun. "Ada apa, Tante? Berisik sekali."
"Berisik kamu bilang?!" Tante Sari berkacak pinggang, napasnya memburu. "Anakmu menangis kehausan, istrimu mandi keringat, lampu mati, dan kamu... kamu enak-enakan rebahan seperti raja tanpa mahkota? Kamu ini laki-laki atau cuma pajangan dinding?!"
"Tante, sudah... jangan ribut di depan Kinan." bisik Arumi mencoba melerai, meski hatinya setuju dengan setiap kata tantenya.
"Tidak, Rum! Dia harus dikasih paham!" Tante Sari mendekat ke arah Baskara, telunjuknya hampir mengenai hidung pria itu. "Kamu tahu tidak? Kakakku—ibunya Arumi—tiap malam menangis mikirin nasib anaknya yang dikasih makan janji-janji busukmu! Kamu sarjana, kan? Tapi otakmu di mana? Gengsi kerja kurir, gengsi jadi kuli, tapi tidak gengsi makan dari belas kasihan orang lain!"
Baskara perlahan bangkit duduk. Ia menghela napas panjang, seolah omelan Tante Sari hanyalah angin lalu yang mengganggu tidurnya. "Tante itu orang luar. Jangan ikut campur urusan dapur kami. Rezeki itu sudah ada yang atur."
"Tuhan memang mengatur rezeki, tapi Tuhan tidak kasih rezeki ke orang yang kerjanya cuma tidur!" Tante Sari berteriak, suaranya sampai terdengar ke tetangga sebelah. "Jangan bawa-bawa takdir untuk menutupi kemalasanmu! Kamu tahu apa yang tetangga bilang tentang kamu? 'Pria parasit'! Itu gelarmu, Bas!"
Ibu Maryam keluar dari dapur dengan mata berkaca-kaca. "Sari, sudah... maafkan anak saya..."
"Jangan dibela terus, Mbak Maryam!" Tante Sari menoleh ke arah mertua Arumi. "Mbak Maryam sudah sepuh, masih harus cuci baju sendiri karena anak laki-laki Mbak ini tidak mau usaha cari uang buat beli mesin cuci atau bayar loundry! Mbak mau lihat Arumi mati pelan-pelan karena stres?"
Baskara berdiri, wajahnya mendadak mengeras. Bukan karena merasa bersalah, tapi karena merasa ketenangannya terganggu. "Kalau Tante cuma datang untuk menghina, lebih baik keluar. Saya tidak butuh bantuan Tante kalau ujung-ujungnya harus dicaci maki."
"Oh, jadi kamu berani mengusir orang yang kasih makan istrimu?" Tante Sari tertawa getir. Ia menarik tangan Arumi yang gemetar. "Rum! Lihat pria ini! Dia tidak punya malu! Dia lebih pilih lapar daripada kehilangan harga dirinya yang sudah tidak ada itu! Ayo pergi dari sini, biarkan dia hidup sendiri dengan kemalasannya!"
Arumi terisak, ia memeluk Kinan erat-erat. Ia menatap Baskara, berharap suaminya akan membela diri dengan cara berjanji untuk berubah, atau setidaknya menunjukkan rasa penyesalan.
Namun, Baskara hanya kembali duduk. "Terserah. Kalau mau pergi, pergi saja. Aku tidak mau pusing."
Kalimat itu—"Aku tidak mau pusing"—menjadi pisau yang menyayat sisa-sisa harapan Arumi. Di tengah amarah Tante Sari yang masih meledak-ledak dan tangis Ibu Maryam yang pecah, Arumi menyadari bahwa suaminya bukan hanya diam. Suaminya memang sudah menyerah pada kemanusiaannya sendiri.
"Mas," suara Arumi terdengar sangat dingin di tengah keributan itu. Semua orang mendadak diam. "Mas benar-benar tidak mau pusing?"
Baskara tidak menjawab. Ia meraih rokoknya yang tinggal sebatang di atas meja.
"Kalau begitu," lanjut Arumi sambil mengusap air matanya dengan kasar, "Aku akan buat Mas tidak perlu pusing lagi selamanya. Besok, aku tidak akan ada di rumah ini untuk Mas abaikan lagi."
Tante Sari tersenyum puas, sementara Ibu Maryam hanya bisa terduduk lemas di lantai. Baskara tetap diam, menyulut rokoknya, membiarkan asap menutupi wajahnya yang datar.
#lanjut ga niii