NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUNANGAN PALSU - Chapter 22

Happy Reading Guys!

____

"Di mana dia?"

Begitu tiba di tempat yang telah mereka sepakati, Sophia langsung mengedarkan pandangan ke segala arah.

Jalanan malam itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa kendaraan yang sesekali melintas dengan suara mesin yang memecah kesunyian. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kekuningan yang membuat suasana terasa semakin sepi.

Namun, Arkan tidak ada di sana.

Sophia berjalan ke kiri dan ke kanan, berusaha mencari sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Semakin lama ia mencari, semakin tidak tenang perasaannya.

Jangan bilang ....

Tidak.

Arkan pasti datang.

Dengan jemari yang mulai gemetar, Sophia segera mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomor lelaki itu.

Nada sambung terdengar cukup lama.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Sampai akhirnya telepon itu terhubung.

"Halo?" suara Arkan terdengar terburu-buru dari seberang sana.

Sophia langsung memejamkan mata sejenak.

"Di mana kau?"

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

Seolah Arkan tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini.

"Aku ..." lelaki itu terdengar ragu. "Pembantu di rumah meneleponku. Sintia tiba-tiba kram perut."

Jantung Sophia langsung mencelos.

"Dia sendirian di rumah. Tidak ada siapa-siapa selain pembantu. Tidak ada yang bisa mengantarnya ke rumah sakit, dia tidak bisa mengendarai mobil."

Sophia menggenggam ponselnya semakin erat.

"Jadi?"

"Aku sedang dalam perjalanan ke sana."

Dunia Sophia terasa runtuh. Ia langsung mengingat janjinya pada Damian.

"Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja."

Suara Arkan terdengar lembut, seolah sedang menenangkan anak kecil yang ketakutan.

"Tunggu aku, Sophia."

"Tunggu?"

Sophia tertawa pelan.

Namun tawa itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Kau bilang akan pergi bersamaku."

Arkan terdiam.

"Kau bilang akan meninggalkan semuanya dan pergi bersamaku."

Suara Sophia mulai bergetar.

"Jadi kau berbohong?"

"Bukan begitu."

Jawaban Arkan terdengar cepat.

"Kau tahu dia tidak bisa mengendarai mobil."

"Kenapa tidak?"

Sophia memotong.

"Aku pernah melihatnya datang ke tokoku sendirian dengan mobil."

"Kau salah lihat."

"Tidak."

Sophia menggeleng meski Arkan tidak bisa melihatnya.

"Aku tak buta."

Keheningan kembali muncul di antara mereka.

Beberapa saat kemudian Arkan mengembuskan napas panjang.

"Sophia, tenanglah, aku hanya khawatir terjadi sesuatu pada bayinya."

Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menusuk dada Sophia.

"Bayi itu keluarga satu-satunya yang ditinggalkan kakakku."

Suara Arkan terdengar semakin pelan.

"Kalau sesuatu terjadi padanya, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."

Sophia tersenyum miris.

Jadi begini akhirnya.

Arkan memang mencintainya.

Ia tidak pernah meragukan itu.

Tetapi sebesar apa pun cinta Arkan padanya, lelaki itu tetap tidak pernah bisa benar-benar melepaskan Sintia.

Mereka seperti diikat oleh benang yang tidak terlihat.

Benang yang selalu menarik Arkan kembali kepada wanita itu.

Walaupun Sophia berhasil menggenggam tangannya, sebagian diri Arkan akan selalu berada di sisi Sintia.

Kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada penolakan apa pun.

"Aku ingin ikut."

Suara Sophia terdengar sangat pelan.

"Apa?"

"Aku ingin ikut bersamamu."

"Tidak perlu."

Arkan langsung menolak.

"Aku hampir sampai di rumah."

Sophia memejamkan mata.

Air mata mulai menggenang di pelupuknya.

"Kalau kau tidak kembali..."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"...aku akan pergi."

Untuk pertama kalinya kepanikan terdengar jelas dalam suara Arkan.

"Sophia, dengarkan aku."

"Aku serius."

"Aku akan kembali."

Arkan hampir memohon.

"Percayalah padaku. Aku akan kembali secepat mungkin."

Sophia menggigit bibirnya kuat-kuat.

"Lalu siapa yang lebih kau pilih?"

Arkan terdiam.

Keheningan itu terasa begitu panjang.

Sampai akhirnya lelaki itu berbicara.

"Untuk kali ini..."

Suaranya terdengar berat.

"...percaya padaku."

Sophia tidak menjawab.

"Aku akan kembali."

Arkan mengembuskan napas panjang.

"Sekarang Sintia masih membutuhkanku."

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri Sophia perlahan runtuh.

Namun, Arkan belum selesai.

"Aku tidak bisa meninggalkan bayi Julian."

Klik.

Sambungan telepon terputus.

Sophia menatap layar ponselnya kosong.

Beberapa detik.

Beberapa detik lagi.

Lalu tiba-tiba ia tertawa.

Tawa yang terdengar begitu rapuh.

Begitu menyedihkan.

Brak!

Ponsel itu terlepas dari tangannya dan jatuh menghantam trotoar.

Sophia berjongkok di samping halte bus.

Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.

Tubuhnya gemetar hebat.

Dadanya terasa sesak.

Pada akhirnya Arkan tetap memilih kembali.

Bukan kepadanya.

Melainkan kepada kehidupan yang tidak pernah benar-benar bisa ia tinggalkan.

Entah berapa lama Sophia menangis.

Sampai terdengar suara langkah kaki mendekat.

Tap.

Tap.

Tap.

Seseorang berhenti tepat di hadapannya.

Sophia perlahan mengangkat kepala.

Napasnya langsung tertahan.

Damian.

Pria itu berjongkok di depannya tanpa mengatakan apa-apa.

Tatapannya jatuh pada mata Sophia yang merah dan bengkak karena menangis.

Kemudian dengan tenang ia mengangkat tangannya dan menghapus air mata yang masih mengalir di pipi wanita itu.

"Aku datang menjemputmu."

Sophia menatapnya.

Untuk sesaat, seluruh pertahanannya runtuh.

Tangisnya kembali pecah.

Damian hanya tersenyum tipis.

Tidak mengejek.

Tidak pula merasa menang.

Seolah semua ini memang sudah ia duga sejak awal.

"Kau tidak ingin menepati janjimu?"

Sophia terisak.

Damian mengusap rambut wanita itu perlahan.

"Kalau begitu ...."

Tatapannya melembut.

"... biarkan aku yang menepatinya untukmu."

 

"Untung Nyonya Sintia segera dibawa ke rumah sakit."

Dokter menutup map hasil pemeriksaan sebelum kembali menatap Arkan.

"Janinnya masih bisa diselamatkan."

Arkan yang sejak tadi berdiri di samping ranjang langsung mengembuskan napas lega.

"Pasien mengonsumsi makanan yang memicu kontraksi rahim."

Dokter melanjutkan penjelasannya.

"Untuk sementara waktu, pola makan harus benar-benar dijaga. Kondisinya masih cukup sensitif."

Arkan mengangguk pelan. Ia mengerti, kenapa Sintia melakukan itu. Sebelum ia pergi, mereka sempat berdebat cukup lama. Berujung wanita itu kembali mengancam bunuh diri. Dia khawatir kalau dirinya tak akan menginginkan anak mereka.

Waktu itu, ia tak memikirkan apapun. Kepalanya hanya dipenuhi Sophia yang akan bertunangan. Memikirkan mereka akan bertukar cincin di hadapan umum saja membuatnya hampir gila.

Namun, kalimat berikutnya membuat tubuhnya membeku.

"Apalagi usia kandungannya baru tiga bulan."

"Tiga bulan?"

Arkan langsung menoleh.

Wajahnya berubah.

"Dokter yakin?"

"Tentu."

Dokter tampak heran.

"Usia kandungannya memang sekitar tiga bulan."

Arkan menatap Sintia yang terbaring lemah di atas ranjang.

Pikirannya mendadak kosong.

"Tidak mungkin."

Suara itu keluar hampir seperti bisikan.

"Seharusnya lima bulan."

Dokter mengernyit.

"Lima bulan? Anda pasti jarang menanyakan kehamilan Istri Anda."

Arkan membeku.

Namun, dokter segera menunjukkan hasil pemeriksaan dan foto USG.

"Ukuran janin, perkembangan organ, dan hasil pengukuran semuanya menunjukkan usia sekitar tiga bulan."

Arkan menatap foto itu tanpa berkedip.

Tiga bulan.

Tiga bulan.

Kakaknya sudah meninggal lebih dari empat bulan lalu.

Lalu...

Bagaimana mungkin?

B e r s a m b u n g ....

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Makasih 。⁠◕⁠‿⁠◕⁠。

1
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!