NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUDAH NEKAT SAJA

Suasana di jalan setapak itu seketika berubah menjadi mencekam. Angin yang tadinya sejuk kini terasa menusuk tulang. Cahaya matahari sore yang menyelinap di celah pepohonan memantul pada permukaan Giok Zamrud raksasa itu, memancarkan aura hijau misterius yang seolah hidup.

Deon Key berdiri terpaku di hadapan harta karun alam terbesar yang pernah dilihat matanya. Jantungnya berdegup bukan karena takut, tapi karena antusiasme yang meledak-ledak. Logikanya bekerja jauh lebih cepat daripada rasa takutnya.

Ini bukan kebetulan. Batu sebesar ini tidak mungkin jatuh begitu saja. Simbol Beringin ada di sana... berarti ini takdir. Ini milik kita. Milik kuil.

"Deon! Ayo pergi! Jangan dilihat lagi!" seru Kakek Genpo panik, tangannya menarik lengan Deon sekuat tenaga.

Tapi Deon tidak bergeming. Kakinya seolah terpaku di tanah. Matanya menyala penuh tekad.

"Tidak Kek," suara Deon rendah namun tegas. "Kita tidak bisa pergi begitu saja."

"Kenapa?! Kamu mau mati muda hah?! Kalau ada orang lewat dan lihat ini, nyawa kita nggak bakal cukup bayar dosa!" Genpo mulai berkeringat dingin.

"Justru karena itu kita harus bawa ini pergi!" Deon menoleh, wajahnya serius tak seperti biasanya. "Kakek pikir batu ini jatuh karena longsor? Tidak! Lihat posisinya, lihat caranya menutupi jalan. Ini sengaja ditaruh di sini. Seolah-olah... sedang menunggu seseorang datang mengambilnya."

"Omong kosong! Itu batu seberat satu ton lebih! Kamu mau bawa pakai apa? Pakai angin?!"

"Pakai otak Kek," jawab Deon dingin. Ia melepaskan tangan Kakeknya, lalu berjalan mengelilingi batu raksasa itu dengan langkah cepat. Matanya memindai setiap inci permukaan batu, menghitung garis retakan, menganalisis titik berat, dan struktur kristalnya.

"Kakek bilang ini simbol Beringin. Simbol tempat kita tinggal. Berarti ada maksud kenapa batu ini muncul tepat setelah kita bicara soal Giok Zamrud 3 kg di kota. Alam tidak pernah melakukan kesalahan, Kek. Hanya manusia yang tidak paham bahasanya."

Deon berhenti di satu titik, lalu menepuk batu itu keras-keras. Bugh! Bugh!

"Dan lihat ini! Kulit luarnya sudah rapuh. Ini bukan batu utuh, ini seperti cangkang pelindung. Di dalamnya adalah Zamrud murni. Dan aku yakin... bentuknya tidak sembarangan."

"Terus kamu mau apa?! Mau panggil tentara? Mau beli truk besar?!" Genpo mulai putus asa.

"Aku mau hancurkan cangkangnya," kata Deon pelan tapi jelas.

BRUK!

Jantung Genpo seakan copot.

"APA?! KAMU GILA YA NAK?! Itu barang berharga miliaran! Kamu mau hancurkan?! Kamu benar-benar Ahli Merusak tingkat dewa ya?!" Genpo hampir menjerit histeris.

"Bukan hancurkan isinya, tapi hancurkan pembungkusnya!" Deon memotong omelan kakeknya. "Aku akan membelahnya menjadi beberapa bagian besar yang masih bisa diangkut. Kalau dibiarkan utuh sebesar ini, mustahil dibawa. Tapi kalau kupotong jadi 4 atau 5 bagian... beratnya jadi terbagi."

"Terus angkat pakai apa?! Bahkan kakek nggak sanggup angkat satu potong kuku jari nya saja!"

"Kita tidak pakai tenaga otot, Kek. Kita pakai hukum fisika. Tuas, bidang miring, dan tali," Deon tersenyum licik, senyum jenius yang penuh rencana gila. "Kita tarik ke dalam hutan, kita sembunyikan sementara di dekat gua dekat kuil. Nanti perlahan kita bawa masuk."

"Dan kalau ketahuan? Klan Awan bisa habisi kita!"

"Kalau dibiarkan di sini, 100% ketahuan dan diambil orang. Kalau kita bawa... setidaknya kita punya kesempatan tahu apa hubungannya batu ini dengan kuil kita!" Deon menatap tajam mata Kakeknya. "Kakek kan yang bilang, kekuatan sejati itu apa yang bisa kita bangun dan pertahankan. Nah, sekarang saatnya pertahankan ini. Ini milik kita Kek!"

Genpo terdiam. Napasnya memburu. Ia menatap cucunya yang penuh semangat, lalu menatap batu hijau raksasa yang memancarkan cahaya memikat itu. Logika tua dan pengalamannya berteriak untuk lari. Tapi hatinya... hatinya setuju dengan Deon.

Benar juga. Simbol Beringin ada di sana. Ini milik tanah itu.

"Aduh... Gusti Allah, ampuni hamba," gumam Genpo sambil memegangi kepalanya yang pusing. "Kamu ini benar-benar membawa masalah besar buat kakek, Deon!"

"Berarti Kakek mau bantu?!" mata Deon berbinar cerah.

"MAU GIMANA LAGI! Kakek sudah terlanjur sayang sama kamu!" Genpo mendengus kesal tapi akhirnya menyerah. "Kalau sampai kita mati muda karena hal ini, kakek kejar terus kamu di alam baka!"

 

Tanpa membuang waktu, Deon langsung membagi tugas.

"Kakek, tolong carikan kayu-kayu panjang yang kuat buat jadi tuas! Semakin panjang semakin bagus! Dan cari tali-tali rotan yang kuat di gudang belakang gubuk, lari ambil sekarang!"

"Terus kamu mau ngapain?!"

"Aku akan cari titik lemahnya. Aku akan pecahkan cangkang ini tanpa merusak isi Zamrudnya!"

Deon mengambil palu kecil dan pahat tajam yang kebetulan ia bawa di tasnya (kebiasaan kutu buku yang selalu bawa alat). Ia tidak memukul sembarangan. Ia mengamati garis-garis alami pada batu itu.

Klik... klik...

Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pelan.

Suaranya kosong di sini. Struktur kristalnya berhenti di sini. Ini garis pemisah alami.

"Disini!"

Dengan presisi tinggi, Deon meletakkan mata pahat pada satu garis tipis yang hampir tak terlihat mata biasa.

"Kek! Pukul sini! Pakai tenaga penuh tapi tepat!"

Genpo yang sudah kembali membawa kayu dan tali, melongo. "Kamu yakin? Nanti pecah isinya gimana?"

"Percaya sama aku! Ini bukan batu biasa, ini kristal yang punya jalur sendiri!"

Dengan ragu-ragu, Genpo mengangkat palu godam besarnya. Napas diatur dalam-dalam.

WUSH! DORRR!!!

Palu menghantam pahat dengan keras.

Tidak ada suara batu hancur yang berantakan. Yang terdengar justru suara nyaring dan bersih, seperti senar gitar yang dipetik sangat keras.

TRANGGG!!!

Dan ajaibnya...

Retakan panjang dan lurus terbentuk tepat di garis yang ditunjuk Deon! Tidak ada serpihan berterbangan, hanya belahan yang rapi dan bersih!

"Wahai Bapakku... ini nyata..." Genpo ternganga.

"Gitu dong! Lanjut Kek! Di sini lagi!" Deon menunjuk titik lain.

DOR! DOR! TRANG!

Satu per satu cangkang batu keras itu terlepas, memperlihatkan permata hijau yang megah di dalamnya. Suasana menjadi semakin mencekam karena suara dentuman yang bergema di sepanjang lembah, tapi mereka tidak peduli. Adrenalin memuncak.

Dalam waktu singkat, batu raksasa itu terbelah menjadi beberapa blok besar yang masih sangat berat, namun kini terlihat lebih "manusiawi" untuk diangkut. Warnanya hijau zamrud yang begitu pekat dan indah, memancarkan cahaya sendiri di tengah hutan yang mulai gelap.

"Oke! Tahap satu selesai!" Deon mengusap keringat, wajahnya berseri-seri. "Sekarang tahap dua... angkut!"

Genpo memandangi tumpukan harta karun itu dengan kepala geleng-geleng.

"Kamu ini bukan jenius, kamu ini setan kecil yang beruntung," gumam Genpo. "Ayo kerja! Sebelum bulan naik tinggi!"

Mereka berdua, kakek dan cucu, mulai bekerja keras memanfaatkan kayu sebagai roda dan tuas, mendorong dan menarik blok-blok Zamrud raksasa itu perlahan namun pasti menjauh dari jalan raya, menuju kedalaman hutan... menuju Reruntuhan Kuil Beringin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!