Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 17
Mungkin karena terbawa emosi, Ella tak sadar bahwa ia terpisah dari Tante Rosa dan lelaki yang mengawal mereka tadi. Kini Ella berada di antara kerumunan orang-orang yang tengah menyantap makan malam. Untung saja Ella cepat menyadari, tak jauh darinya ada Sisil yang tengah sibuk dengan piringnya, makanya Ella cepat-cepat mengendap, berbalik arah, sayangnya arahnya malah menuju lantai dansa.
"Bruk" tiba-tiba saja Ella menabrak seseorang. Lelaki dengan postur badan cukup tinggi. Ella hanya sampai dadanya. Ia menatap Ella. Meski mereka sama-sama mengenakan topeng, tapi Ella bisa melihat ketampanan lelaki dibalik topeng tersebut.
"Maaf!" Ella begitu panik, ia takut dimarahi lalu jadi keributan yang mengundang perhatian banyak orang. Ella tidak mau identitasnya terungkap. Masih ada yang harus diselidikinya. Termasuk ibu tirinya, kenapa ada di sini juga? Apa hubungannya.
Belum sempat lelaki itu menjawab, musik telah berbunyi. Ia langsung mengulurkan tangannya pada Ella. "Kalau mau saya maafkan, maka berdansa lah dengan saya." ujarnya.
Ella tak bisa menolak. Ia menurut saja. Menyambut uluran tangan itu, lalu menari mengikuti irama lagu.
Ella tersentak pelan, tapi tidak bisa langsung melepaskan diri tanpa menarik perhatian. Tangannya kini berada dalam genggaman pria itu, tubuhnya dituntun mengikuti langkah yang teratur, seolah mereka memang pasangan yang sudah direncanakan. Ia tidak punya pilihan selain mengikuti.
Untuk saat ini. Mereka mulai berdansa. Dekat. Terlalu dekat untuk sekadar kebetulan.
“Aku lihat dari tadi,” suara pria itu kembali terdengar, lebih pelan, nyaris seperti bisikan di antara alunan musik, “kamu bukan bagian dari mereka.”
Jantung Ella berdetak lebih cepat. Ia memaksa dirinya tetap tenang. “Aku… cuma ikut tanteku,” jawabnya, berusaha terdengar biasa. “Pertama kali ke acara seperti ini.”
Pria itu tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap stabil, tangannya di punggung Ella menjaga jarak yang tidak bisa dengan mudah dilepaskan. “Under age,” katanya tiba-tiba. “Aku lihat usiamu… sekitar itu.” Nada suaranya datar, tapi jelas menguji.
Ella panik sesaat, tapi wajahnya tetap ia jaga. “Aku nggak tahu maksudnya apa,” jawabnya cepat, mencoba mengalihkan.
“Artinya kamu belum boleh ikut pesta ini karena usia kamu masih muda,” balas pria itu ringan. “Cara kamu melihat ruangan ini… bukan seperti mereka yang sudah sering.”
Ella tidak menjawab. Ia tahu setiap kata sekarang bisa jadi kesalahan.
“Siapa kamu sebenarnya?” lanjut pria itu. Tidak ada lagi nada santai. Tangannya sedikit mengencang, cukup untuk menahan ketika Ella mencoba menggeser jarak.
“Lepas,” bisik Ella pelan, mencoba menarik diri.
Tapi pria itu lebih cepat. Dengan satu gerakan halus, ia menyibak topeng yang menutupi wajah Ella.
Ella mencoba menghindar, memalingkan wajah, tapi jaraknya terlalu dekat, posisinya terlalu terkunci dalam dekapan itu. Ia kalah tenaga dan momen itu cukup.
Topeng itu terangkat. Wajahnya terlihat. Dan untuk pertama kalinya, ekspresi pria itu berubah. Bukan kaget. Bukan marah. Tapi mengenali. “…Ella.” Nama itu keluar pelan, tapi jelas.
Deg. Tubuh Ella menegang. Ia menatap pria itu, dan dalam jarak sedekat ini, ia akhirnya melihat lebih jelas mata itu, cara berbicaranya, ketenangan yang terlalu terlatih untuk orang biasa.
Dalam keterkejutan itu, Ella pun cepat-cepat bertindak, ia menginjak kaki lelaki itu hingga lelaki itu membungkuk lalu dengan sigap Ella mencopot balik topengnya.
Leo. Jaksa muda itu. Yang pernah ia lihat ikut memeriksa rumahnya. Yang pernah berbicara tentang hukum dengan keyakinan yang tak bisa digoyahkan.
Ketika mereka sadar melepas topeng terlalu berbahaya, akhirnya keduanya serentak menutup kembali wajah mereka agar tidak memancing kecurigaan.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Leo, suaranya kini lebih rendah, lebih tajam. Bukan lagi sekadar penasaran. Tapi menuntut jawaban.
Ella tidak langsung menjawab. Napasnya sedikit tidak teratur, tapi matanya tetap menatap balik. Di sekeliling mereka, musik masih mengalun. Orang-orang masih bergerak. Seolah tidak ada yang berubah. Tapi di antara mereka berdua semuanya sudah berubah. Karena sekarang mereka tidak lagi berada di sisi yang sama dari cerita ini.
***
Nama itu masih menggantung di antara mereka .“...Ella.” Dan dalam satu detik itu, semua kemungkinan runtuh. Tidak ada lagi ruang untuk berpura-pura. Tidak ada lagi topeng.
Ella merasakan dadanya sesak, bukan hanya karena tertangkap, tapi karena satu hal yang jauh lebih menakutkan apa yang mungkin Leo pikirkan tentangnya sekarang. Jika Leo tahu siapa dia, jika Leo menghubungkan semuanya dengan kasus ayahnya, maka yang terlihat di matanya bukan lagi seorang gadis yang mencari kebenaran, melainkan seseorang yang mungkin melanjutkan sesuatu yang kotor.
Ia tidak bisa membiarkan itu. Tidak di sini. Tidak sekarang.
Ella tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya bergerak cepat, mencari celah, mencari jalan keluar dari posisi yang semakin menekan. Dan di sudut pandangannya ia melihat mereka.
Tante Rosa. Dan laki-laki bertopeng yang tadi membawa mereka masuk.
Mereka berdiri tidak jauh, memperhatikan, sadar bahwa situasi sudah berubah. Itu cukup jadi kesempatan yang harus dimanfaatkan Ella. Sekecil apa pun.
Ella menarik napas, lalu dalam satu gerakan cepat yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi, ia mendorong tubuhnya menjauh dari Leo. Tidak keras, tapi cukup untuk menciptakan jarak satu langkah.
Lalu dua. Lalu ia berbalik. Dan berlari.
“Ella!” suara Leo memanggil, kali ini tidak lagi tenang. Langkah kaki terdengar di belakangnya. Ia mengejar.
Ella menembus kerumunan, gaun panjangnya menyulitkan langkah, sepatu hak tinggi menghantam lantai marmer dengan ritme yang tidak lagi teratur. Orang-orang mulai menoleh, beberapa mundur, tapi tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.
Ia tidak peduli. Yang penting keluar. Lorong. Pintu samping. Tangga darurat. Semua menjadi kemungkinan dalam hitungan detik. Tapi Leo lebih cepat dari yang ia kira. Tangannya hampir berhasil meraih pergelangan Ella dan kali ini ia mendapatkannya.
Jari-jarinya mengait kuat, menghentikan langkah Ella sejenak. “Berhenti!” suaranya tegas.
Ella tersentak, tubuhnya tertarik sedikit ke belakang, tapi instingnya lebih kuat dari rasa takut. Ia berbalik setengah, berusaha melepaskan diri, mendorong tangan Leo dengan sisa tenaga yang ia punya.
“Lepasin aku!”
Tarikan itu terlalu cepat dan kasar. Dan sesuatu terlepas. Bukan tangannya. Bukan gaunnya. Tapi kalung kecil yang sejak tadi tersembunyi di lehernya. Miniatur sepatu kaca itu. Tertarik. Terlepas separuh. Dan tertinggal di tangan Leo.
Ella tidak sempat menyadarinya sepenuhnya. Ia hanya tahu ia berhasil lepas. Berhasil berlari lagi. Menuruni tangga darurat tanpa menoleh ke belakang.
Keluar dari bangunan itu dengan napas terengah, jantung yang hampir meledak, dan satu kesadaran yang baru datang beberapa detik kemudian sesuatu hilang. Kalung itu. Sepatu kaca itu
Deg. Tapi sudah terlambat. Di dalam Leo berdiri diam beberapa saat, tidak lagi mengejar. Tangannya terbuka perlahan. Di sana tergenggam benda kecil itu.