Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sementara itu, di rumah Humaira.
Humaira berdiri di hadapan Reynanda, jarak mereka dekat, namun terasa asing seperti dua orang yang berdiri di ruang yang sama, tapi tidak lagi saling mengenal.
“Kamu masih mencintai dia?” suaranya keluar pelan, tapi tajam.
Reynanda tidak menjawab. Ia hanya diam. Dan diam itu lebih keras dari jawaban apa pun.
Sesuatu di dalam diri Humaira runtuh, tidak sekaligus, tapi perlahan cukup untuk membuat napasnya berubah jadi sesak, cukup untuk membuat tangannya gemetar.
“Katakan.” Kali ini suaranya naik. Tangannya mendorong dada Reynanda. Sekali. Lalu lagi. “Kamu masih mencintai dia, kan?”
Reynanda tidak bergeming. Tubuhnya menerima setiap dorongan itu tanpa perlawanan, seolah ia tahu ini bukan sesuatu yang bisa dihentikan dengan menahan.
“Humaira…”
“Jawab!” bentaknya, suaranya pecah di ujung. Tangannya kembali memukul dada lelaki itu, tidak kuat, tapi penuh dengan sisa-sisa luka yang selama ini ia simpan sendiri. “Aku cuma minta kamu jujur…”
Reynanda menutup mata sejenak, seperti mencari sesuatu yang tidak akan pernah ia temukan.
“Aku… minta maaf.”
Kata itu jatuh pelan. Humaira tertawa pendek, rapuh, nyaris tanpa suara.
“Maaf?” ulangnya lirih. “Aku tanya kamu masih mencintai dia atau tidak… dan yang kamu punya cuma itu?”
Reynanda tetap menunduk.
“Aku minta maaf…” katanya lagi, lebih pelan, hampir hilang.
Dan kali ini, tidak ada lagi yang perlu ditanyakan. Tangan Humaira perlahan turun dari dada Reynanda. Bukan karena amarahnya hilang, tapi karena akhirnya ia berhenti berharap.
Karena dalam diam itu, ia sudah mendapat jawaban yang tidak pernah ingin ia dengar.
Humaira tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia berbalik pelan. Langkahnya tidak tergesa, tapi tegas seperti seseorang yang akhirnya berhenti menunggu.
Reynanda tetap di tempatnya. Tidak menahan. Tidak memanggil.
Humaira masuk ke kamar. Membuka lemari, menarik koper dari sudut yang jarang ia sentuh. Tangannya bergerak cepat, melipat pakaian, memasukkan seperlunya. Tidak ada yang ia pilih terlalu lama. Seolah semuanya sudah selesai sejak tadi.
Di sisi ranjang, anak mereka masih terlelap. Wajah kecil itu tenang, tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang runtuh di sekelilingnya.
Humaira berhenti sejenak. Menatap lalu menahan tangis pilunya. Ia mengusap rambut anaknya pelan, hati-hati, seperti takut membangunkannya sebelum waktunya.
“Maaf…” bisiknya, hampir tidak terdengar.
Ia mengangkat anak itu ke dalam pelukannya. Tubuh kecil itu bergerak sedikit, lalu kembali tenang di bahunya.
Humaira meraih tasnya. Keluar dari kamar. Langkahnya melewati Reynanda tanpa berhenti. Tanpa menoleh. Karena sudah tidak ada yang tersisa lagi di antara mereka.
“Urus perceraian kita,” katanya pelan, datar. “Secepatnya.”
Pintu terbuka. Udara malam masuk sebentar dingin, kosong.
Lalu tertutup kembali. Dan di dalam rumah itu, yang tersisa hanya diam.
Reynanda masih berdiri di tempat yang sama. Dengan sesuatu yang akhirnya benar-benar pergi bukan karena diambil, tapi karena ia sendiri tidak pernah benar-benar menggenggamnya.
Ia akhirnya menangis tanpa suara. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus menyembunyikan apa lagi.
Di balik diamnya, ada penyesalan yang terlambat, ada kehilangan yang ia ciptakan sendiri, dan ada satu hal yang akhirnya ia sadari bahwa tidak semua yang ia tinggalkan akan tetap menunggu di tempat yang sama.
Malam itu tidak pecah di satu tempat. Ia retak di empat sudut yang berbeda, masing-masing menyimpan sunyi yang terlalu penuh untuk ditahan sendiri.
Di rumah yang baru saja ditinggalkan Yuda, Carisa akhirnya runtuh. Ia tidak lagi duduk tegak, tidak lagi berusaha terlihat kuat. Tubuhnya membungkuk pelan, seperti sesuatu di dalamnya benar-benar patah.
Tangannya menutup wajahnya, tapi tidak cukup untuk menahan semuanya.
Tangisnya pecah. Ia menangis sejadi-jadinya memukul hatinya yang terasa sesak seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ia kunci, lalu akhirnya menemukan jalan keluar.
Ia menangis untuk semua yang tidak sempat ia genggam. Untuk anak yang bahkan tidak ia kenal wajahnya. Untuk dirinya sendiri yang terus bertahan seolah tidak pernah kehilangan.
Dan untuk Yuda yang kali ini benar-benar ia rasakan menjauh.
“Kenapa…” suaranya hancur di antara isak. "Aku merasa kehilangan lagi." Tangis yang terus jatuh, tanpa jeda.
Di dalam mobil yang terus melaju, Yuda tidak benar-benar tahu ia sedang menuju ke mana.
Jalanan terbuka di depannya, tapi pikirannya seperti tertutup.
Semua yang ia dengar hanya potongan suara yang pecah, tidak utuh. Kata-kata yang terlambat. Kejujuran yang datang di saat yang salah.
Ia menahan napas lebih lama dari yang seharusnya, lalu melepasnya perlahan. Tidak ada yang berubah.
Ada sesuatu yang retak di dalam dirinya perlahan. Ia tidak marah seperti yang ia kira. Ia hanya kehilangan pegangan dan arah.
Di rumah yang kini kosong, Reynanda akhirnya bergerak.
Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.
Tangannya naik ke wajahnya sendiri, menekan pelipis, seolah mencoba menahan sesuatu yang berputar di kepalanya.
Dan di tengah sunyi itu, ia akhirnya jatuh terduduk. Tubuhnya melemah begitu saja.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Dan kesadaran itu menghancurkannya lebih dari apa pun.
Di dalam mobil yang lain, Humaira duduk di sebuah taksi.
Anaknya masih dalam pelukan. Ia menatap lurus ke depan, lama sekali. Sampai akhirnya matanya berkaca.
Ia memeluk anaknya lebih erat, wajahnya menunduk ke bahu kecil itu. Air matanya akhrinya jatuh.
Malam itu terasa seperti sesuatu yang datang pelan, tapi pasti, mengambil apa yang masih tersisa tanpa banyak suara.
Empat hati yang selama ini terikat dalam simpul yang rumit dan tak pernah benar-benar terurai akhirnya runtuh di tempatnya masing-masing.
Tidak saling melihat. Tidak saling menjangkau. Hanya runtuh sendiri-sendiri.
Tangis pun pecah. Bukan sebagai tanda lemah, bukan pula untuk meminta dikasihani. Melainkan karena untuk pertama kalinya, mereka kehabisan cara untuk bertahan.
Dan saat tidak ada lagi yang bisa disembunyikan, tidak ada lagi yang mampu ditahan yang tersisa hanyalah luka yang bicara, melalui air mata yang tak lagi bisa dibendung.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak