Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JATUH BERUJUNG KERETAKAN
Malam itu menjadi malam terpanjang dan paling canggung dalam hidup Maheer Arasyid. Di atas ranjang rumah sakit yang sempit, ia terpaksa menyerah pada keadaan. Assel sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya. Berkali-kali Maheer berbisik bahwa dirinya bukan Muzammil, namun setiap kali suara itu terdengar, Assel justru terisak lebih kencang seolah takut kehilangan pegangannya.
"Jangan pergi lagi Mas, jangan tinggalkan aku,"Isak Assel dengan mata yang terpejam.
Maheer tak kuasa lagi, melihat air mata yang keluar dari sudut matanya Assel."Tidurlah, Assel. Tidurlah," bisik Maheer dengan lembut. "Aku tidak akan pergi, jadi sekarang bermimpilah yang indah."
Ia mengalah, ikut naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di sisi luar. Jemarinya dengan ragu mengelus puncak kepala Assel yang masih tertutup hijab instan. Sentuhan itu perlahan membuat napas Assel menjadi teratur hingga akhirnya wanita itu terlelap dengan nyenyak. Maheer menunggu satu jam, mencoba melepaskan tangan Assel yang melingkar erat di dadanya dengan gerakan selembut mungkin.
Namun, setiap kali jemari Maheer bergerak, Assel justru mendengus kesal dalam tidurnya. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, melingkarkan kaki di atas lutut Maheer seolah pria itu adalah bantal guling kesayangannya. Maheer hanya bisa menghela napas pasrah. Kelelahan yang luar biasa setelah drama seharian akhirnya membuat pertahanannya runtuh. Ia pun hanyut dalam mimpi di samping wanita yang selama ini ia benci, namun kini terasa begitu rapuh di pelukannya.
Keesokan paginya, cahaya matahari yang menembus jendela kamar rawat membangunkan Assel lebih dulu. Ia mengerjap, merasakan kehangatan yang asing. Saat matanya terbuka sempurna, pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Maheer yang sangat dekat. Hidung mereka bahkan hampir bersentuhan.
"Aaaaa!" teriak Assel seketika.
Tanpa berpikir panjang, refleks pertahanannya bekerja. Ia mendorong dada Maheer dengan kekuatan penuh. Karena ukuran ranjang rumah sakit yang standar, Maheer yang masih setengah sadar tidak punya ruang untuk bertahan.
Bugh!
"Aakh... Aduh! Astaga!" pekik Maheer.
Pria itu mendarat dengan posisi duduk tepat di atas lantai keramik yang keras. Bunyinya terdengar cukup ngeri. Maheer meringis hebat, wajahnya memerah menahan sakit yang luar biasa pada bagian bokong dan tulang ekornya.
"Kau... Kau mau membuat suamimu lumpuh, hah?" protes Maheer sambil memegangi pinggangnya.
"Kenapa... kenapa kau bisa tidur di sampingku?" tanya Assel dengan wajah yang memerah padam antara marah dan bingung. "Kau sengaja mengambil kesempatan ya?"
Maheer tidak terima dituduh begitu. Ia berusaha bangkit namun rasa nyeri di bagian bawah punggungnya membuat ia terduduk kembali. "Bukankah tadi malam kau sendiri yang tidak mau melepaskan Aku, Assel? Kau menangis sesenggukan, memohon agar aku tidak pergi. Aku ini korban, Assel!"
"Bohong! Aku tidak mungkin begitu!" bantah Assel keras, meski jantungnya mulai berdegup tidak karuan.
Maheer sudah belajar dari peristiwa tujuh tahun lalu bahwa bukti adalah segalanya. Ia merogoh ponselnya dan segera menghubungi Hans yang ternyata sedang berjaga di depan pintu. "Hans, masuk! Bawa tabletmu."
Tak lama kemudian, Hans masuk dengan wajah tanpa ekspresi, lalu menunjukkan rekaman CCTV ruangan itu pada Assel. Di layar terlihat jelas bagaimana Assel yang menarik baju Maheer dan memeluknya erat-erat semalaman. Disana juga terlihat Maheer yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Assel. Namun lagi-lagi Assel kembali memeluknya semakin erat. Wajah Assel yang tadinya memerah karena marah, kini berubah menjadi merah karena malu yang teramat sangat. Ia tertunduk, tidak berani menatap mata Maheer yang sedang menyeringai puas meski sedang kesakitan.
"Maaf... aku benar-benar tidak sadar," bisik Assel pelan.
Maheer melihat kesempatan untuk menggoda. "Hanya minta maaf? Lalu bagaimana dengan bokongku? Aku jadi tidak bisa berdiri. Kalau sampai aku lumpuh, kau harus bertanggung jawab seumur hidup."
Maheer berpura-pura kesulitan untuk bangkit, wajahnya dibuat meringis sesedih mungkin. Assel yang merasa bersalah akhirnya mendekat dan mencoba membantu Maheer berdiri. Namun, tubuh Maheer yang tegap dan berat membuat Assel kewalahan.
"Hans, bantu aku," pinta Assel.
Hans yang melihat kode dari kedipan mata Maheer segera berakting. "Maaf, Nyonya. Tuan besar Ridwan memanggil saya di ruangan sebelah. Katanya Den Razka kelaparan dan saya harus segera membeli makanan. Permisi!" Hans langsung melesat keluar sebelum Assel sempat memprotes.
Tinggallah mereka berdua. Maheer tiba-tiba menepis tangan Assel yang memegang lengannya. "Sudahlah, kalau tidak ikhlas tidak usah dipaksa. Pergilah, aku akan menunggu perawat atau siapa pun yang datang menolongku."
Assel menggigit bibir bawahnya. Ia merasa sangat jahat. Tanpa banyak bicara lagi, ia melingkarkan kedua tangannya di bawah ketiak Maheer, sekuat tenaga mengangkat pria itu. Maheer meringis sungguhan saat tubuhnya terangkat, rasa sakit di bokongnya memang tidak main-main karena Ranjang rawat itu lumayan tinggi.
Setelah bersusah payah, akhirnya Maheer bisa berdiri tegak meski badannya bertumpu pada pundak Assel. Assel menuntunnya kembali duduk di tepi tempat tidur. Namun saat pantatnya menyentuh kasur, Maheer kembali berteriak kecil.
"Aakh.,. Sakit sekali, Assel! Rasanya seperti ada yang bergeser," keluh Maheer.
Melihat Maheer yang terus meringis, Assel menjadi panik. Ia segera memanggil dokter jaga. Tim medis pun datang memeriksa Maheer. Karena secara fisik luar tidak terlihat luka namun Maheer terus mengeluh nyeri hebat, dokter memutuskan untuk melakukan rontgen pada bagian tulang belakang dan panggulnya.
Maheer dibawa menggunakan kursi roda ke ruang radiologi, diikuti Assel yang berjalan di sampingnya dengan wajah penuh penyesalan. Tak lama setelah pemeriksaan selesai, seorang suster memanggil Assel untuk masuk ke ruangan dokter spesialis ortopedi.
"Silakan duduk, Nyonya Arasyid," ujar sang dokter sambil memasang lembar film rontgen pada kotak pencahayaan.
Mata Assel terfokus pada gambaran tulang putih di layar hitam itu. Sang dokter menunjuk ke satu titik di bagian bawah tulang belakang.
"Bisa Anda lihat di sini? Ada keretakan halus pada bagian os coccygis atau tulang ekor Tuan Maheer. Benturannya sepertinya cukup keras dengan posisi duduk yang tegak di lantai," jelas dokter itu tenang.
Assel menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. "Retak? Jadi dia benar-benar terluka karena saya dorong, Dok?"
"Ya, ini akan membutuhkan waktu untuk pemulihan. Beliau tidak boleh duduk terlalu lama dan harus menggunakan bantal khusus yang berlubang di tengahnya. Jika dipaksakan, nyerinya bisa menjalar ke saraf," tambah sang dokter.
Assel keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai. Ia melihat Maheer yang duduk di kursi roda sedang menunggu di lorong. Pria itu tampak sedang memijat pinggangnya dengan wajah masam.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Maheer ketus saat melihat Assel.
Assel menatap Maheer dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa kasihan, rasa bersalah, namun juga ingin tertawa karena situasi konyol ini. "Tulang ekormu retak, Maheer."
Maheer terdiam, lalu matanya membelalak. "Retak? Kau benar-benar ingin membunuhku ya? Kau harus bertanggung jawab, Assel! Selama aku belum sembuh, kau tidak boleh jauh-jauh dariku."
Assel hanya bisa mendesah pasrah. Sepertinya, setelah pengakuan dosa Maheer semalam, kini giliran ia yang harus "mengabdi" pada pria arogan ini sebagai penebusan atas dorongan mautnya tadi pagi. Di tengah rasa bersalah itu, tanpa sadar benih-benih interaksi yang jujur mulai tumbuh di antara mereka, jauh lebih nyata daripada tujuh tahun kepahitan yang mereka simpan sebelumnya. Maheer diam-diam tersenyum dalam hati; tulang ekor retak mungkin sakit, tapi menjadi alasan untuk selalu dekat dengan Assel adalah keuntungan yang tidak pernah ia duga.
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah