Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamulah takdirku
"Kok murah?"
Refleks Ikhram melirik Rinjani yang tampak kegirangan saat berada di penjual sayuran juga buah. Seolah mendapatkan harta karung yang tidak akan habis tujuh turunan.
Dari yang awalnya ogah-ogahan, wanita itu tampak bersemangat belanja. Selalu bergumam bahwa barang di pasar tradisional tersebut sangat murah.
Ikhram sampai kewalahan membawa barang belanjaan Rinjani yang melebihi keinginan orang tua mereka.
"Ini sudah cukup Jani."
"Belum, kita harus beli semua mumpung lagi di pasar."
"Pengantin baruki di?" Seorang pedangan bertanya ketika Rinjani sibuk memilih ikan segar, sedangkan Ikhram dengan setia berdiri di belakang. Kadang melindungi Rinjani dari senggolan orang lain tanpa wanita itu sadari.
"Iye Bu."
"Serasiki saya lihat Nak. Tapi istrimu kayak bukan orang di sini."
"Besar di jakarta Bu, jadi tidak terlalu mengerti biar di gosip." Ikhram mengulum senyum, melirik Rinjani yang tidak terganggu meski dibicarakan olehnya.
"Cantik sekali istriku toh Bu? Beruntung sekalika bisa menikah sama dia," lanjut Ikhram.
"Saya mau ini 50 ekor."
"Rinjani?"
"Nggak apa-apa, kalau nggak habis bagikan sama orang yang kerja di sawah. Banyak lebihnya uang dari ibu."
Rinjani memang wanita keras kepala dan sulit mengendalikan emosi saat marah, tetapi perihal berbagi jangan ragukan dia, apalagi jika bukan uangnya.
"Sudah cantik, baik pula."
"Istri saya bu."
"Apa sih." Rinjani mendelik mendengar pengakuan Ikhram. Tidak tahu saja bahwa suaminya itu sudah membanggakan diri sejak tadi.
Dan tibalah di parkiran motor, akibat berbelanja gila-gilaan Ikhram kebingungan harus membawa barangnya seperti apa. Sedangkan penyebab kebingungan itu sedang duduk di depan toko menikmati telur gulung di tangan kanan dan pop ice di tangan kiri. Belum lagi kantongan di pergelangan tangan berisi beberapa kue tradisional makassar dan sekitarnya.
"Ikhram coba deh, ini enak banget." Rinjani menghampiri Ikhram dan menyuapi telur gulung.
"Enak." Tentu saja senyum manis Ikhram kembali terlihat.
"Udah belum? Panas ini."
"Nggak muat motornya." Akhirnya Ikhram menyerah, berkacak pinggang memperhatikan lalu lalang kendaraan.
Hal itu tidak luput dari perhatian Rinjani. Bagaimana Ikhram sangat ramah pada tukang parkir atau ibu-ibu yang mengenalinya di jalan. Dan satu yang pasti Ikhram sama sekali tidak tersenyum jika seorang wanita menyapanya meski itu satu kampung sekalipun.
Tidak sadar Rinjani tersenyum ketika Ikhram hampir terjatuh akibat sibuk menaikkan barang belanjaan ke angkot yang baru di tahannya. Angkot yang pernah Rinjani tumpangi ketika baru tiba di desa ini.
"Ayo." Ikhram menghampiri Rinjani yang berteduh.
"Minum dulu." Menyerahkan pop ice sisa setengah. Siapa menyangka Ikhram langsung meneguknya tanpa jijik sedikit pun. Duduk di samping Rinjani, mengusap peluh di keningnya.
"Hadap sini." Pinta Rinjani.
Dan yap jantung Ikhram langsung mengila saat sebuah tisu ditempelkan ke keningnya sangat pelan. Ia hampir lupa caranya bernapas mendapati wajah Rinjani begitu dekat dengannya. Sungguh ini tidak aman bagi kesehatan jantung dan hatinya.
"Sa-saya bisa sendiri, terimakasih." Langsung berpaling karena salah tingkah.
Harusnya tidak begini, aturannya Ikhram yang membuat Rinjani baper bukan malah sebaliknya. Mana kuat hatinya.
Menguasai hati dan pikirannya, Ikhram pun membawa Rinjani meninggalkan pasar stradisional, tetapi bukan pulang-melainkan menuju toko emas.
"Pilih yang menurutmu bagus."
"Kenapa saya harus memilih?" Kening Rinjani mengerut.
"Kita menikah dadakan, bahkan cincin pernikahan pun nggak ada."
"Ouh cincin pernikahan." Rinjani mengangguk-anggukkan kepalnya. Menyingsing etalase demi mencari bentuk cincin menarik untuk hatinya.
Rezeki tidak bisa ditolak kan? Apalagi dari suami dadakan yang tampan dan manis eh ....
"Serius nih saya yang milih?"
"Pilih saja."
"Dua?"
"Huh?" Kening Ikhram mengerut.
"Buat kamu sama saya. Kan cincin pernikahan. Kata ayah harus mendalami soalnya nggak bisa cerai."
Sungguh rasanya Ikhram ingin mengulung bumi sekarang juga. Ia seolah enggang hari ini berakhir begitu cepat. Rinjani yang galak entah hilang kemana sehingga ia mendapatkan Rinjani dengan sikap manisnya.
Keluar dari toko emas, Rinjani terus memperhatikan cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Bentar-bentar harus di abadikan." Menahan Ikhram melangkah. Mengenggam tangan pria itu dan memotret ala-ala pegangan tangan.
Dan saat itulah Ikhram mengambil kesempatan beralih mengenggam tangan Rinjani. Berjalan pelan menuju motor yang lumayan jauh.
"Kamu mau kita memulai dari awal? Terlepas pernikahan kita."
"Kenapa nggak? Seperti katamu, takdir nggak bisa diubah sekeras apapun kita berusaha," jawab Rinjani.
"Benar, karena kamulah takdirku."
Ikhram semakin erat mengenggam tangan Rinjani, dan sesekali meliriknya hanya untuk melihat cincin yang tersemat di jari manis.
Keinginannya terwujud meski dari cara yang salah.
Katanya, aturlah rencanamu sebaik mungkin dan terus berusaha. Hasil akhirnya berikan pada sang pencipta. Karena pada dasarnya sang pencipta tidak akan menghianati kerja kerasmu jika itu terbaik untukmu.
.
.
.
Cinta mah belakangan, yang penting diberi kesempatan dulu.
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,
plis ka jangan bikin heboh deeh aah