NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Senin pagi di SMA 1 Nusa Bangsa tidak pernah terasa sedingin ini bagi Cinta. Meskipun matahari pagi bersinar cukup terik, atmosfer di dalam ruang kelas XI MIPA 1 justru terasa membeku. Cinta duduk di bangkunya dengan kepala menunduk, sengaja mengeratkan pegangannya pada tali tas ranselnya agar tidak perlu menatap ke arah pintu masuk.

Langkah kaki siswa-siswi lain yang mulai berdatangan terasa begitu bising di telinga Cinta. Di kepalanya, isi pesan singkat dari Rian semalam masih tercetak dengan sangat jelas.

"Aku tidak pernah melakukan hal serendah itu di masa laluku... Tolong, beri aku satu kesempatan."

Pernyataan tertulis Rian yang begitu lugas sempat membuat pertahanan Cinta goyah sepanjang malam. Namun, rasa trauma akan pengkhianatan dan ketakutan menjadi perempuan bodoh yang mudah dikelabui kembali menarik ego Cinta untuk tetap waspada. Baginya, kata-kata manis sangat mudah dirangkai, tetapi luka yang digoreskan oleh cerita Clarissa telanjur menancap terlalu dalam di lubuk hatinya.

"Cin! Kamu tidak apa-apa, kan?"

Suara cemas Sarah memecah lamunan Cinta. Sahabatnya itu baru saja datang dan langsung duduk di kursinya, menatap wajah Cinta dengan pandangan menyelidik yang penuh rasa khawatir. "Semalam aku telepon berkali-kali tapi ponselmu tidak aktif. Aku cemas setengah mati tahu!"

Cinta memaksakan senyum tipis, mencoba meyakinkan sahabatnya. "Aku tidak apa-apa, Sar. Semalam aku hanya terlalu lelah setelah Persami, jadi aku mematikan ponsel lebih awal agar bisa tidur nyenyak."

Sarah menghela napas panjang, jelas tidak langsung percaya. Sebagai orang yang melihat bagaimana tegangnya situasi di parkiran kemarin siang, ia tahu ada sesuatu yang sangat besar sedang disembunyikan. "Jangan bohong padaku, Cin. Rio bilang, kemarin siang Rian ribut besar dengan Clarissa sebelum pergi mengejarmu. Ada masalah apa sebenarnya?"

Mendengar nama Rian disebut, dada Cinta kembali berdenyut perih. Belum sempat ia menjawab pertanyaan Sarah, suasana di ambang pintu kelas mendadak senyap.

Rian melangkah masuk.

Cowok itu mengenakan seragam putih abu-abu yang tampak rapi, namun wajahnya terlihat begitu kusut. Lingkar hitam samar di bawah matanya menunjukkan dengan jelas bahwa ia menghabiskan malam tanpa tidur sama sekali. Rian mengabaikan kasak-kusuk teman-sekelasnya, pandangannya langsung lurus mengunci sosok Cinta.

Jantung Cinta berdegup kencang secara instan. Menyadari posisi mereka yang sekelas berarti ia harus bersiap menghadapi kehadiran cowok itu sepanjang hari, dan itu terasa seperti siksaan tersendiri. Rian berjalan melewati deretan meja, lalu alih-alih langsung duduk di bangkunya sendiri, ia berbelok dan berhenti tepat di samping meja Cinta.

Rian mengabaikan kehadiran Sarah yang menatapnya dengan pandangan waswas.

"Cinta," panggil Rian pelan. Suaranya yang serak dan berat terdengar begitu lelah, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya selalu terdengar tegas. "Tolong, ikut aku ke luar kelas sebentar saja. Kita perlu bicara sebelum bel masuk."

Cinta tetap bergeming, matanya tertuju lurus pada halaman buku matematika di depannya, meskipun tidak ada satu pun baris rumus yang berhasil ia cerna. "Tidak bisa, Rian. Sebentar lagi bel masuk, dan hari ini ada kuis matematika di jam pertama."

"Aku tidak peduli dengan kuis itu, Cinta. Yang aku pedulikan adalah kita," desak Rian, suaranya sedikit meninggi akibat rasa frustrasi yang tertahan, membuat beberapa anak di barisan depan menoleh penasaran.

Rian mencondongkan tubuhnya, meletakkan satu tangannya di atas meja Cinta. "Pesan semalam... kamu membacanya, kan? Aku bersumpah demi apa pun, semua yang dikatakan Clarissa itu palsu. Jangan menghukumku atas kebohongan orang lain."

Mendengar penuturan Rian yang terkesan menyudutkannya seolah ia adalah pihak yang egois, Cinta akhirnya mendongak. Sepasang mata indahnya menatap langsung ke dalam manik mata Rian dengan kilat kekecewaan yang sangat pekat.

"Rian, tolong hargai posisiku di sini," ucap Cinta dengan suara bergetar namun penuh dengan penekanan yang dingin. "Kita ini sekelas, dan aku tidak mau setiap hari kita jadi pusat perhatian atau bahan gosip baru lagi setelah apa yang terjadi kemarin. Aku butuh waktu untuk berpikir, dan desakanmu sekarang sama sekali tidak membantu."

Rian tersentak. Tatapan dingin dan berjarak dari Cinta terasa seperti hantaman fisik yang telak di dadanya. Melihat bagaimana Cinta justru membangun tembok yang semakin tinggi di antara mereka membuat Rian merasakan keputusasaan yang teramat sangat.

Sebelum Rian sempat membalas, suara bel sekolah berbunyi dengan nyaring, disusul oleh langkah kaki Pak Gunawan, guru matematika mereka, yang memasuki ruang kelas dengan menentang sebotol spidol dan tumpukan kertas kuis.

"Rian, kenapa kamu masih berdiri? Bel sudah berbunyi, segera duduk ke bangkumu. Hari ini kita langsung kuis," tegur Pak Gunawan dengan suara tegas dari depan kelas.

Rian mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuh. Ia menatap Cinta untuk terakhir kalinya pagi itu, berharap ada sedikit pelunakan dari ekspresi gadis itu, namun Cinta memilih untuk kembali menundukkan kepala. Rian akhirnya berbalik dan berjalan menuju bangkunya sendiri dengan langkah besar yang sarat akan amarah dan kekecewaan yang bergejolak di dadanya.

...****************...

Jam pelajaran demi jam pelajaran berlalu seperti siksaan yang lambat bagi Cinta. Berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Rian membuat fokusnya benar-benar pecah. Setiap kali ia tidak sengaja menoleh, ia bisa merasakan tatapan intens dan terluka dari Rian yang tertuju padanya. Kertas kuis matematikanya bahkan hanya terisi setengah karena pikirannya terus-menerus melayang pada raut wajah putus asa Rian tadi pagi.

Saat bel istirahat pertama berbunyi, suasana kelas mulai lengang karena sebagian besar siswa berhamburan ke kantin. Cinta memilih untuk tetap tinggal di kelas, menolak ajakan Sarah. Rian sendiri tampak berjalan keluar kelas dengan langkah gusar.

Beberapa menit setelah Rian keluar, Rio tiba-tiba melangkah masuk ke kelas XI MIPA 1 dan langsung berdiri di depan meja Cinta dengan wajah yang sangat serius.

"Cinta, bisa bicara sebentar di koridor samping?" ajak Rio tanpa basa-basi.

Cinta menatap Rio dengan dahi berkerut, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia berdiri dan mengikuti Rio keluar menuju koridor samping yang agak sepi.

"Ada apa, Yo?" tanya Cinta, merapatkan sweternya.

Rio menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya pada dinding koridor. "Ini soal Rian. Tadi sebelum masuk kelas, di depan ruang guru, dia benar-benar hampir lepas kendali. Dia nyaris menghajar salah satu anak kelas lain yang berani membicarakan namamu secara negatif. Beruntung aku dan beberapa pengurus OSIS langsung menahannya sebelum situasi jadi lebih parah."

Jantung Cinta mencelos mendengar kabar tersebut. "Kenapa dia harus sampai seperti itu? Masalah ini harusnya diselesaikan dengan kepala dingin."

"Kepala dingin?" Rio terkekeh hambar, menatap Cinta dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Cinta, kamu mungkin belum tahu bagaimana Rian yang sebenarnya saat di Jakarta dulu. Dia adalah orang yang tidak akan pernah peduli pada pendapat orang lain, dan dia punya seribu cara kejam untuk membungkam orang yang mengusiknya. Tapi lihat dia sekarang di sini, di kelas yang sama denganmu? Dia menahan semua insting liarnya itu hanya karena dia menghargai aturan mainmu di kota ini."

Rio melangkah satu langkah lebih dekat. "Aku tidak tahu apa yang dikatakan Clarissa padamu kemarin sampai membuatmu pergi meninggalkannya begitu saja. Tapi asal kamu tahu, kemarin sore Rian melabrak Clarissa habis-habisan di pusat kota. Dia mengancam akan menghancurkan reputasi keluarga Clarissa di Jakarta kalau gadis itu tidak segera pergi dari sini. Dan hari ini, Clarissa resmi mengajukan surat pindah kembali ke Jakarta atas desakan keluarganya sendiri yang ketakutan karena ancaman Rian."

Cinta tertegun mendengarnya. Mulutnya sedikit terbuka, tidak menyangka bahwa Rian akan bertindak sejauh dan seberani itu demi membuktikan ucapannya.

1
Restu Siti Aisyah
mampir kak👍
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!