Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Pelangi Setelah Badai
Matahari pagi menembus celah gorden sutra di kamar utama, memberikan semburat keemasan yang hangat di atas ranjang king size tempat dua insan itu masih terlelap.
Namun, Arlan sudah terjaga sejak sejam yang lalu. Ia tidak bergerak sedikit pun, membiarkan Kinara menjadikan lengan kekarnya sebagai bantal.
Ia hanya terus menatap wajah tidur istrinya yang tampak jauh lebih damai, meskipun sisa-sisa bengkak di mata Kinara masih terlihat akibat tangisan hebat kemarin.
Arlan mengusap lembut puncak kepala Kinara, menghirup aroma sampo melati yang menenangkan.
Rasa bersalah itu masih ada, namun kini tertutup oleh rasa syukur yang luar biasa karena Kinara masih mau memberinya kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
"Eungh..." Kinara melenguh kecil, perlahan membuka matanya.
Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata tajam Arlan yang menatapnya dengan penuh cinta.
Kinara sempat tertegun sesaat, teringat akan bentakannya yang kasar kemarin, dan seketika semburat merah muncul di pipinya.
"Pagi, Sayang," bisik Arlan dengan suara serak yang seksi. Ia mengecup kening Kinara dengan sangat lama.
"Pagi, Arlan..." Kinara menyembunyikan wajahnya di dada Arlan.
"Maaf, aku bangun kesiangan. Aku akan siapkan sarapan sekarang."
Saat Kinara hendak beranjak, tangan Arlan menahannya dengan lembut namun pasti. Ia menarik kembali tubuh Kinara ke dalam dekapannya.
"Tidak ada dapur hari ini. Tidak ada pekerjaan rumah hari ini. Dan tidak ada jarak di antara kita hari ini," ucap Arlan mutlak.
"Aku sudah membatalkan semua jadwalku. Aku akan di sini, bersamamu, sepanjang hari."
Kinara mendongak kaget.
"Tapi Arlan, perusahaan—"
"Perusahaan bisa berjalan tanpa aku, tapi aku tidak bisa berfungsi tanpa kamu, Kin. Kemarin adalah peringatan keras bagiku bahwa aku hampir kehilangan duniaku. Jadi hari ini, duniaku adalah kamu," Arlan mencium jemari Kinara satu per satu.
Tak lama kemudian, ketukan pintu terdengar pelan.
Beberapa pelayan masuk membawa meja dorong yang dipenuhi dengan berbagai hidangan sarapan mewah—mulai dari bubur ayam pesanan khusus, buah-buahan segar, hingga susu kehamilan yang masih hangat.
Arlan mengambil mangkuk bubur itu, meniupnya perlahan, lalu menyuapkannya ke mulut Kinara.
"Aku bisa makan sendiri, Arlan. Aku tidak lumpuh," protes Kinara sambil tertawa kecil.
"Aku tahu. Tapi biarkan aku melakukannya. Ini adalah caraku menebus luka yang aku buat kemarin," Arlan menatap mata Kinara dengan sangat dalam, membuat Kinara tidak bisa membantah lagi.
Siang harinya, Arlan mengajak Kinara ke halaman belakang.
Di sana, Arlan telah menyiapkan kejutan kecil. Sebuah ayunan kayu besar yang dihiasi dengan bunga-bunga segar dan bantal-bantal empuk.
Arlan duduk di sana, memangku Kinara sambil membacakan naskah novel terbaru yang sedang Kinara tulis.
"Bagian ini terlalu sedih, Kin. Kenapa tokoh laki-lakinya sangat bodoh sampai menyakiti wanitanya?" komentar Arlan saat membaca salah satu paragraf.
Kinara tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu Arlan.
"Mungkin karena dia manusia, Arlan. Manusia sering kali baru sadar betapa berharganya sesuatu setelah hampir kehilangannya. Sama sepertimu, kan?"
Arlan terdiam.
Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Kinara, tangannya mengelus perut buncit istrinya yang sesekali memberikan tendangan kecil.
"Ya. Aku adalah pria bodoh itu. Tapi pria bodoh ini sekarang tahu, bahwa hartanya yang paling berharga bukan saham di bursa efek, tapi detak jantung di bawah telapak tanganku ini."
Arlan kemudian mengambil sebuah kotak perhiasan kecil dari saku celananya. Di dalamnya terdapat sebuah gelang emas putih dengan liontin berbentuk bunga melati kecil yang sangat indah.
"Ini bukan permintaan maaf, karena maafku tidak akan pernah cukup. Ini adalah pengikat," Arlan memakaikan gelang itu di pergelangan tangan Kinara.
"Agar setiap kali kamu melihat tanganmu, kamu ingat bahwa ada seorang pria bernama Arlan yang hidup hanya untuk menjagamu dan anak kita."
Kinara menatap gelang itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia memutar tubuhnya, memeluk leher Arlan dan mencium bibir suaminya dengan penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih, Arlan. Terima kasih sudah bersabar menghadapi sikap egoku kemarin."
"Itu bukan ego, Kin. Itu cinta. Dan aku bersyukur kamu masih mencintaiku sebesar itu sampai kamu bisa semarah itu," bisik Arlan di sela ciuman mereka.
Sore itu ditutup dengan keheningan yang indah. Mereka hanya duduk diam, menikmati angin sepoi-sepoi dan aroma bunga di taman.
Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi salah paham.
Hanya ada Arlan yang kini benar-benar menjadi "pelindung" dan Kinara yang kini benar-benar menjadi "pusat" dari semesta Arlan.
Malam harinya, sebelum mereka tidur, Arlan berlutut di depan perut Kinara, membisikkan sesuatu yang membuat Kinara menangis haru.
"Nak, maafkan Ayah karena kemarin membuat Ibumu menangis. Ayah janji, itu yang terakhir. Mulai sekarang, kita akan menjaga Ibu bersama-sama, ya? Ayah tidak sabar melihatmu lahir ke dunia ini."
Badai telah berlalu, dan pelangi yang muncul kali ini jauh lebih indah dan kuat. Penyesalan Arlan telah bermuara pada kebahagiaan yang sempurna, sebuah babak baru yang kini mereka jalani dengan penuh kepastian.
Catatan Penulis Bab 32:
Suasana "Healing": Bab ini berfungsi untuk memberikan nafas lega kepada pembaca setelah dua bab penuh konflik. Gunakan bahasa yang lebih puitis dan lembut.
Karakter Arlan: Tunjukkan sisi "Manja tapi Protektif". Pembaca sangat suka melihat pria kuat yang takluk hanya pada satu wanita.
Simbolisme Gelang Melati: Gelang ini menjadi pengingat permanen tentang kejadian melati di Yogyakarta dan rekonsiliasi mereka.
Kedekatan dengan Janin: Momen Arlan bicara pada perut Kinara selalu sukses membuat pembaca baper.
heyy gayss gimana?? sukaaa ngak??? btww maaf yah aku telat bangat uploadnya soalnya aku banyak bangat tugasnya ih😭
maka dari itu kamu semuanya dukung aku yah xixixixi🤍
iloveyouyyyy 💐