NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Tanpa Cinta

POV Kanaya

Aku selalu membayangkan hari pernikahanku akan hangat.

Bukan meriah

Bukan juga penuh kemewahan yang berlebihan.

Cukup sederhana

dengan seseorang yang menatapku seolah aku adalah pilihannya.

Bukan kewajibannya.

Namun hari ini…

aku berdiri di depan cermin dengan gaun putih yang indah,

dan hati yang kosong.

“Anak ibu cantik sekali,ibu berharap kamu baik baik saja nak.”

Suara Ibu terdengar dari belakang.

Aku menatap bayanganku sendiri.

Cantik, kata orang.

Sempurna, kata mereka.

Tapi aku tidak melihat kebahagiaan di sana.

Aku hanya melihat seorang perempuan

yang sedang bersiap masuk ke dalam kehidupan

yang bahkan tidak pernah ia pilih sendiri.

“Aku akan baik-baik saja, Bu,” jawabku pelan.

Aku tidak tahu apakah itu janji…

atau hanya kebohongan pertama yang aku ucapkan hari ini.

Aku bertemu Fatan pertama kali tiga bulan lalu.

Di ruang tamu rumahku.

Dengan dua keluarga yang sudah saling mengenal sejak lama,

dan percakapan yang lebih terasa seperti kesepakatan…

daripada perkenalan.

“Ini Fatan,” kata Ayah waktu itu.

Aku menoleh.

Dan di sanalah ia berdiri.

Tinggi. Tenang. Berwibawa.

Wajahnya sulit dibaca.

Tidak dingin.

Tapi juga tidak hangat.

Seperti seseorang yang hadir…

hanya karena harus.

“Kanaya,” ucapnya singkat saat kami diperkenalkan.

Aku mengangguk kecil.

Senyumku sopan.

Kami berbicara.

Tentang hal-hal ringan.

Pekerjaan. Keluarga.

Hal-hal yang aman.

Namun tidak sekali pun aku merasakan sesuatu.

Tidak ada getaran.

Tidak ada rasa penasaran.

Dan yang paling aneh

Tidak ada usaha darinya untuk mengenalku lebih jauh.

Seolah-olah…

keputusan itu sudah dibuat

bahkan sebelum kami benar-benar bertemu.

“Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku

saat lamaran itu datang.

Aku tahu Ayah tidak memaksaku.

Tidak secara langsung.

Namun aku juga tahu

penolakan dariku akan menjadi luka

yang tidak ingin aku lihat di wajahnya.

Dan aku…

terlalu mencintai keluargaku

untuk mengatakan tidak.

“Kalau kamu tidak siap, kita bisa bicara lagi,” kata Ayah waktu itu.

Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa, AYah.”

Dan saat aku mengatakan itu

aku tahu hidupku berubah.

Hari ini adalah hari pernikahanku tetapi tanpa kehadiran sosok ayah yang wafat 1 bulan yang lalu karena serangan jantung , ayah tidak menghadiri pernikahan yang menjadi keinginannya

Aku duduk di pelaminan.

Di samping seorang laki-laki

yang secara hukum… adalah suamiku.

Fatan Adrian Mahendra

Aku mencuri pandang.

Ia terlihat tenang.

Terlalu tenang.

Seolah-olah ini hanyalah satu agenda

yang harus ia jalani.

Bukan sesuatu yang ia rasakan.

Tamu datang silih berganti.

Ucapan selamat mengalir.

Doa-doa dilangitkan.

Semua orang tersenyum.

Semua orang bahagia.

Kecuali…

aku tidak tahu apakah aku termasuk di dalamnya.

“Capek?”

Suara Fatan membuatku menoleh.

Aku sedikit terkejut.

Ini pertama kalinya ia berbicara sejak tadi.

“Sedikit,” jawabku jujur.

Ia mengangguk.

“Kalau lelah, bilang saja. Kita bisa istirahat sebentar.”

Kalimat itu sederhana.

Biasa saja.

Namun entah kenapa

aku merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing.

Tidak ada kehangatan.

Tidak ada kedekatan.

Hanya… kewajiban.

“Terima kasih,” jawabku pelan.

Dan percakapan itu… selesai.

Secepat itu.

Seolah memang tidak pernah dimulai.

Malam itu

aku resmi menjadi istrinya.

Istri Fatan.

Aku duduk di tepi ranjang.

Masih dengan gaun yang belum sepenuhnya aku lepaskan.

Tanganku saling menggenggam.

Dingin.

Gugup.

Bukan karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi.

Tapi karena aku tidak tahu…

apa yang seharusnya aku rasakan.

Pintu kamar terbuka.

Fatan masuk.

Ia melepas jasnya dengan tenang,

seolah ini malam yang biasa saja.

Bukan awal dari kehidupan baru.

Ia melirik ke arahku.

“Hari ini melelahkan.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Hening.

Aku menunggu.

Mungkin ia akan mengatakan sesuatu.

Sesuatu yang membuat semuanya terasa… lebih nyata.

Namun tidak ada.

Ia hanya berjalan ke arah lemari,

mengambil pakaian ganti.

“jika kamu membutuhkan sesuatu,katakan saja,” katanya tanpa menoleh.

Aku terdiam.

membutuhkan sesuatu?

Aku ingin tertawa.

Aku butuh banyak hal.

Aku butuh kehangatan.

Aku butuh kepastian.

Aku butuh diyakinkan bahwa ini bukan kesalahan.

Namun yang keluar dari mulutku hanya

“Iya.”

Malam itu berlalu tanpa cerita.

Tanpa sentuhan yang berarti.

Tanpa percakapan yang menghubungkan dua orang

yang baru saja disatukan dalam satu ikatan.

Aku berbaring membelakanginya.

Menatap langit-langit.

Dan untuk pertama kalinya

aku menyadari sesuatu.

Aku tidak menikah dengan seseorang yang mencintaiku.

Dan mungkin…

tidak akan pernah.

Hari-hari setelah itu berjalan… datar.

Fatan adalah suami yang baik

dalam definisi yang paling sederhana.

Ia bekerja.

Ia menafkahi.

Ia pulang.

Ia tidak kasar.

Tidak juga menyakitiku secara langsung.

Namun,,ia juga tidak pernah benar-benar hadir.

Kami seperti dua orang

yang tinggal di rumah yang sama

tanpa benar-benar hidup bersama.

Aku mencoba.

Sungguh.

Aku belajar memasak makanan favoritnya.

Aku mengingat jadwalnya.

Aku menunggu kepulangannya setiap malam.

Aku tersenyum.

Selalu.

Meski sering kali…

yang aku tunggu tidak pernah benar-benar datang.

“Jangan menunggu aku makan,” katanya suatu malam.

“Kerjaku kadang tidak tentu.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Namun aku tetap menunggu.

Bukan karena aku harus.

Tapi karena aku ingin.

Aku ingin menjadi seseorang

yang ia cari saat pulang.

Namun perlahan

aku mulai mengerti.

Ia tidak pernah mencariku.

Dan di suatu malam yang sunyi

saat aku duduk sendiri di meja makan

dengan makanan yang sudah dingin

aku bertanya pada diriku sendiri:

Apakah cinta benar-benar bisa tumbuh…

jika hanya satu orang yang menanamnya?

Aku menikah.

Namun aku merasa sendirian.

Aku punya suami.

Namun aku tidak merasa dipilih.

Dan tanpa aku sadari,hari itu bukanlah awal dari kebahagiaan.

Melainkan awal dari luka

yang pelan-pelan akan mengajarkanku…

bahwa tidak semua pernikahan

dimulai dengan cinta.

Dan tidak semua cinta

akan pernah datang.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!