Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Tanpa Cinta
POV Kanaya
Aku selalu membayangkan hari pernikahanku akan hangat.
Bukan meriah
Bukan juga penuh kemewahan yang berlebihan.
Cukup sederhana
dengan seseorang yang menatapku seolah aku adalah pilihannya.
Bukan kewajibannya.
Namun hari ini…
aku berdiri di depan cermin dengan gaun putih yang indah,
dan hati yang kosong.
“Anak ibu cantik sekali,ibu berharap kamu baik baik saja nak.”
Suara Ibu terdengar dari belakang.
Aku menatap bayanganku sendiri.
Cantik, kata orang.
Sempurna, kata mereka.
Tapi aku tidak melihat kebahagiaan di sana.
Aku hanya melihat seorang perempuan
yang sedang bersiap masuk ke dalam kehidupan
yang bahkan tidak pernah ia pilih sendiri.
“Aku akan baik-baik saja, Bu,” jawabku pelan.
Aku tidak tahu apakah itu janji…
atau hanya kebohongan pertama yang aku ucapkan hari ini.
Aku bertemu Fatan pertama kali tiga bulan lalu.
Di ruang tamu rumahku.
Dengan dua keluarga yang sudah saling mengenal sejak lama,
dan percakapan yang lebih terasa seperti kesepakatan…
daripada perkenalan.
“Ini Fatan,” kata Ayah waktu itu.
Aku menoleh.
Dan di sanalah ia berdiri.
Tinggi. Tenang. Berwibawa.
Wajahnya sulit dibaca.
Tidak dingin.
Tapi juga tidak hangat.
Seperti seseorang yang hadir…
hanya karena harus.
“Kanaya,” ucapnya singkat saat kami diperkenalkan.
Aku mengangguk kecil.
Senyumku sopan.
Kami berbicara.
Tentang hal-hal ringan.
Pekerjaan. Keluarga.
Hal-hal yang aman.
Namun tidak sekali pun aku merasakan sesuatu.
Tidak ada getaran.
Tidak ada rasa penasaran.
Dan yang paling aneh
Tidak ada usaha darinya untuk mengenalku lebih jauh.
Seolah-olah…
keputusan itu sudah dibuat
bahkan sebelum kami benar-benar bertemu.
“Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku
saat lamaran itu datang.
Aku tahu Ayah tidak memaksaku.
Tidak secara langsung.
Namun aku juga tahu
penolakan dariku akan menjadi luka
yang tidak ingin aku lihat di wajahnya.
Dan aku…
terlalu mencintai keluargaku
untuk mengatakan tidak.
“Kalau kamu tidak siap, kita bisa bicara lagi,” kata Ayah waktu itu.
Aku tersenyum.
“Tidak apa-apa, AYah.”
Dan saat aku mengatakan itu
aku tahu hidupku berubah.
Hari ini adalah hari pernikahanku tetapi tanpa kehadiran sosok ayah yang wafat 1 bulan yang lalu karena serangan jantung , ayah tidak menghadiri pernikahan yang menjadi keinginannya
Aku duduk di pelaminan.
Di samping seorang laki-laki
yang secara hukum… adalah suamiku.
Fatan Adrian Mahendra
Aku mencuri pandang.
Ia terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Seolah-olah ini hanyalah satu agenda
yang harus ia jalani.
Bukan sesuatu yang ia rasakan.
Tamu datang silih berganti.
Ucapan selamat mengalir.
Doa-doa dilangitkan.
Semua orang tersenyum.
Semua orang bahagia.
Kecuali…
aku tidak tahu apakah aku termasuk di dalamnya.
“Capek?”
Suara Fatan membuatku menoleh.
Aku sedikit terkejut.
Ini pertama kalinya ia berbicara sejak tadi.
“Sedikit,” jawabku jujur.
Ia mengangguk.
“Kalau lelah, bilang saja. Kita bisa istirahat sebentar.”
Kalimat itu sederhana.
Biasa saja.
Namun entah kenapa
aku merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing.
Tidak ada kehangatan.
Tidak ada kedekatan.
Hanya… kewajiban.
“Terima kasih,” jawabku pelan.
Dan percakapan itu… selesai.
Secepat itu.
Seolah memang tidak pernah dimulai.
Malam itu
aku resmi menjadi istrinya.
Istri Fatan.
Aku duduk di tepi ranjang.
Masih dengan gaun yang belum sepenuhnya aku lepaskan.
Tanganku saling menggenggam.
Dingin.
Gugup.
Bukan karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tapi karena aku tidak tahu…
apa yang seharusnya aku rasakan.
Pintu kamar terbuka.
Fatan masuk.
Ia melepas jasnya dengan tenang,
seolah ini malam yang biasa saja.
Bukan awal dari kehidupan baru.
Ia melirik ke arahku.
“Hari ini melelahkan.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Hening.
Aku menunggu.
Mungkin ia akan mengatakan sesuatu.
Sesuatu yang membuat semuanya terasa… lebih nyata.
Namun tidak ada.
Ia hanya berjalan ke arah lemari,
mengambil pakaian ganti.
“jika kamu membutuhkan sesuatu,katakan saja,” katanya tanpa menoleh.
Aku terdiam.
membutuhkan sesuatu?
Aku ingin tertawa.
Aku butuh banyak hal.
Aku butuh kehangatan.
Aku butuh kepastian.
Aku butuh diyakinkan bahwa ini bukan kesalahan.
Namun yang keluar dari mulutku hanya
“Iya.”
Malam itu berlalu tanpa cerita.
Tanpa sentuhan yang berarti.
Tanpa percakapan yang menghubungkan dua orang
yang baru saja disatukan dalam satu ikatan.
Aku berbaring membelakanginya.
Menatap langit-langit.
Dan untuk pertama kalinya
aku menyadari sesuatu.
Aku tidak menikah dengan seseorang yang mencintaiku.
Dan mungkin…
tidak akan pernah.
Hari-hari setelah itu berjalan… datar.
Fatan adalah suami yang baik
dalam definisi yang paling sederhana.
Ia bekerja.
Ia menafkahi.
Ia pulang.
Ia tidak kasar.
Tidak juga menyakitiku secara langsung.
Namun,,ia juga tidak pernah benar-benar hadir.
Kami seperti dua orang
yang tinggal di rumah yang sama
tanpa benar-benar hidup bersama.
Aku mencoba.
Sungguh.
Aku belajar memasak makanan favoritnya.
Aku mengingat jadwalnya.
Aku menunggu kepulangannya setiap malam.
Aku tersenyum.
Selalu.
Meski sering kali…
yang aku tunggu tidak pernah benar-benar datang.
“Jangan menunggu aku makan,” katanya suatu malam.
“Kerjaku kadang tidak tentu.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Namun aku tetap menunggu.
Bukan karena aku harus.
Tapi karena aku ingin.
Aku ingin menjadi seseorang
yang ia cari saat pulang.
Namun perlahan
aku mulai mengerti.
Ia tidak pernah mencariku.
Dan di suatu malam yang sunyi
saat aku duduk sendiri di meja makan
dengan makanan yang sudah dingin
aku bertanya pada diriku sendiri:
Apakah cinta benar-benar bisa tumbuh…
jika hanya satu orang yang menanamnya?
Aku menikah.
Namun aku merasa sendirian.
Aku punya suami.
Namun aku tidak merasa dipilih.
Dan tanpa aku sadari,hari itu bukanlah awal dari kebahagiaan.
Melainkan awal dari luka
yang pelan-pelan akan mengajarkanku…
bahwa tidak semua pernikahan
dimulai dengan cinta.
Dan tidak semua cinta
akan pernah datang.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?