NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

"Kapan aku bisa kembali ke sekolah?" tanyanya pelan namun tegas.

"Sudah tiga hari aku tidak masuk. Pelajaran pasti sudah tertinggal banyak kan? Nanti aku kesulitan mengejarnya," lanjutnya dengan logika yang sangat sederhana dan dewasa.

Baginya, sakit dan istirahat itu wajar, tapi membolos terlalu lama adalah hal yang tidak boleh dilakukan.

Mendengar pertanyaan itu, wajah ketiga orang di hadapannya langsung berubah menjadi tegang serentak.

Xin Yuning langsung meletakkan laptopnya dengan kasar di atas meja, seolah mendengar hal yang paling mustahil.

"Sekolah?! Kau gila?!" serunya tak percaya."Kepalamu baru saja terbentur dan mengalami perdarahan kemarin sore! Belum sembuh total sudah mau pergi!"

Xin Fuyang pun langsung menimpali dengan wajah pucat.

"Tidak bisa! Tidak boleh! Sekolah itu bisa ditinggal dulu! Nilai bisa diperbaiki nanti! Tapi kalau kesehatanmu memburuk atau kepalamu pusing lagi, siapa yang tanggung jawab?!"

Huo Feilin yang duduk di sofa hanya menggelengkan kepala sambil memijat pelipisnya.

"Dengar, Yi Yi. Dokter sudah melarang keras kau melakukan aktivitas berat atau mengalami stres dulu."

Xin Yi menatap mereka dengan tatapan bingung. Mereka bertiga tampak sangat protektif hingga batas yang berlebihan.

Bagaimana mungkin mereka membiarkan gadis itu kembali ke tempat di mana ia dipermalukan, difitnah, dan akhirnya stres sampai pingsan?

Tidak akan pernah! Selama mereka masih bernapas, Xin Yi harus diam di rumah dan dimanja sampai benar-benar sembuh!

Xin Yi benar-benar merasa orang-orang di depannya ini sudah keterlaluan.

"Kalian terlalu berlebihan," ucapnya datar.

Tanpa menunggu izin atau persetujuan siapa pun, gadis itu perlahan menggeser selimut dan turun dari ranjang. Infus sudah dilepas, luka di kepala sudah diperban rapi, dan tubuhnya sudah terasa jauh lebih kuat daripada kemarin.

Ia berdiri tegak di lantai, menunjukkan bahwa ia benar-benar sudah bisa bergerak bebas dan mandiri.

Sebelum Xin Yuning sempat melompat untuk menahannya atau Ayahnya sempat berteriak, Xin Yi sudah berjalan cepat menuju pintu kamar.

KREK.

Ia membuka pintu itu lebar-lebar, lalu berdiri di ambang pintu sambil menatap ketiga orang dewasa yang kaget setengah mati itu satu per satu.

"Ayah, Ibu, Kakak..." panggilnya dengan nada tenang namun memiliki wibawa yang tak tertahankan.

"Silakan keluar. Aku butuh ketenangan untuk berpikir. Jangan kerumuni aku seperti ini," ucapnya tegas.

"......"

Wajah Xin Fuyang, Huo Feilin, dan Xin Yuning seketika membeku.

Mereka saling tatap, mulut terbuka tapi tidak bisa mengeluarkan suara.

Gadis ini... baru sembuh dari pingsan sudah berani mengusir mereka seenaknya?!

Tapi entah kenapa, melihat tatapan mata gelap itu yang begitu serius, kaki mereka seakan memiliki akal sendiri dan perlahan melangkah mundur keluar dari kamar.

Pintu ditutup rapat tepat di depan hidung mereka.

DUK!

Mereka bertiga kini berdiri mematung di koridor, diusir oleh anak gadis yang baru sembuh sakit.

Melihat situasi yang canggung setelah diusir, Huo Feilin segera merapikan gaunnya dan bersuara pelan untuk memecah keheningan.

"Ehm... sepertinya ada urusan mendesak di kantor yang harus aku selesaikan. Aku pergi dulu," ucapnya cepat, seolah-olah dia memang orang paling sibuk di dunia padahal tadi siap duduk seharian di situ.

Xin Fuyang pun langsung mengangguk setuju.

"Benar! Ayah juga harus mengecek laporan keuangan! Kalau begitu Ayah pergi dulu!" serunya, lalu berjalan cepat mengikuti istrinya meninggalkan koridor.

Mereka kabur satu per satu demi menjaga gengsi sebagai orang dewasa yang baru saja diperintah oleh anak gadis.

Tinggalah Xin Yuning di depan pintu. Ia tidak langsung pergi. Pria itu mengetuk pelan pintu kayu itu.

"Hei... Jangan menguncinya. Jangan dikunci dari dalam," pesannya lembut melalui celah pintu. "Kalau butuh apa-apa teriak saja, aku masih di bawah sebentar."

Setelah memastikan tidak ada bahaya, barulah ia turun dan berangkat ke kampus serta tempat magangnya dengan hati yang sedikit lebih tenang.

Kini, di dalam kamar, kedatangan penyelamat sejati datang.

Nenek Xin dan Kakek Xin masuk dengan membawa nampan berisi sup hangat dan buah-buahan potong. Mereka berdua duduk di sisi kiri dan kanan tempat tidur cucunya, mengobrol santai, menceritakan hal-hal lucu, dan memastikan Xin Yi makan dengan lahap.

Mereka menemani gadis itu seharian penuh, bermain catur, membaca buku, atau sekadar duduk diam menemani.

Hanya dengan kehadiran Kakek dan Nenek, suasana hati Xin Yi yang tadinya masam kembali membaik dan tenang. Mereka tidak banyak bertanya atau menasihati, hanya memberikan kasih sayang tulus yang sangat ia butuhkan.

Dan begitu dokter memastikan kondisi fisik dan mental Xin Yi sudah 100% pulih dan stabil... barulah mereka mengizinkan gadis itu kembali ke sekolah.

Tentu saja... dengan pengawalan ketat!

Hari ini, Xin Yi kembali bersekolah setelah absen selama satu minggu penuh.

Sesuai perintah keras dari Kakek Xin, kali ini ia tidak diperbolehkan berjalan kaki atau naik transportasi umum. Ia diantar langsung oleh sopir pribadi dengan mobil mewah yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah.

Xin Yi hanya bisa pasrah. Ia tahu, menolak perintah kakeknya sama saja seperti menentang tembok batu—sia-sia.

Saat melangkah masuk ke area sekolah, ia langsung merasakan perubahan suasana.

Pandangan mata para siswa yang tadinya biasa saja, kini tertuju padanya dengan berbagai ekspresi aneh.

Ada yang memandang dengan rasa penasaran yang memuncak, ada yang menatap curiga seolah ia adalah orang asing, dan tentu saja... ada juga tatapan sinis, mengejek, dan meremehkan dari kelompok-kelompok tertentu yang mendengar gosip kemarin.

"Itu kan Xin Yi... yang pingsan karena stres gara-gara dituduh merebut pacar orang lain..."

"Katanya anak dari keluarga besar ya? Tapi kok baru saja dikenal sekarang?"

"Hush, lihat saja nanti, pasti dia perlu waktu untuk menyesuaikan diri."

Bisikan-bisikan itu terdengar samar, namun cukup jelas sampai ke telinga Xin Yi.

Tapi... Xin Yi tetaplah Xin Yi.

Wajahnya datar tanpa ekspresi, bahunya tegap, dan ia berjalan melewati kerumunan itu seolah-olah mereka hanyalah tiang listrik atau pajangan jalan. Ia tidak peduli apa yang orang lain pikirkan atau katakan.

Baginya, hal-hal itu tidak ada nilainya dan hanya membuang waktu.

Di dalam kelas, guru wali kelas memberikan pengumuman penting.

"Anak-anak, ingat baik-baik. Ujian pertengahan tahun akan segera dilaksanakan minggu depan. Setelah ujian selesai, kalian akan mendapatkan masa libur singkat, dan setelah itu... kegiatan wajib outbound atau kemah kelas akan segera digelar!"

Berita itu membuat sebagian siswa bersorak senang memikirkan liburan dan kemah, namun membuat sebagian lainnya mengeluh karena harus belajar keras untuk ujian.

Xin Yi tidak bersorak dan tidak mengeluh.

Ia tahu dirinya sudah tertinggal satu minggu pelajaran. Jadi, demi mengejar ketertinggalan itu dan mendapatkan nilai yang bagus, Xin Yi memutuskan untuk tidak main-main.

Sepulang sekolah dan di waktu luang, ia tidak bergaul atau berkumpul sembarangan. Ia memilih menyibukkan diri.

Kadang ia menghabiskan waktu berjam-jam di sudut sunyi perpustakaan sekolah, menumpuk buku-buku tebal di depannya.

Dan saat sekolah usai, ia akan langsung pergi ke gedung perusahaan ayahnya, duduk diam di ruang kerja khusus yang disiapkan untuknya, dan belajar dengan serius sambil menunggu keluarga lainnya pulang bekerja.

Hanya dengan belajar dan membaca, ia bisa merasa tenang dan jauh dari keributan omong kosong orang lain.

Xin Fuyang pulang dengan wajah ceria dan tangan membawa kotak kue cantik dari toko terkenal. Ia sengaja membelikan kue stroberi favorit yang manis dan lembut, berniat memanjakan putrinya yang sedang dalam masa pemulihan.

"Lihat apa yang Ayah bawa..." serunya saat masuk ruang tamu.

Namun, di sana hanya ada Kakek dan Nenek yang sedang menonton TV. Putrinya, Xin Yi, tidak terlihat.

"Di mana Yi Yi?" tanyanya bingung.

Belum sempat kakek menjawab, terdengar langkah kaki pelan menuruni tangga. Xin Yi muncul dengan pakaian santai, tangan kanannya membawa gelas berisi air putih. Ia tampak tenang dan segar.

Tak lama berselang, Huo Feilin dan Xin Yuning juga baru saja tiba. Suasana ruang tamu seketika menjadi ramai dan hangat. Seluruh anggota keluarga berkumpul lengkap di sana.

"Wah, pas sekali. Ada kue stroberi," ucap Huo Feilin tersenyum anggun sambil duduk di sofa.

Xin Yuning langsung merebut satu potong besar, sementara Xin Yi duduk di sudut yang agak jauh namun tetap dalam lingkaran keluarga.

Mereka makan kue bersama-sama, tertawa kecil, dan berbincang santai. Tidak ada pembicaraan soal bisnis, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada gosip jahat. Hanya kehangatan keluarga yang sederhana namun sangat berharga bagi Xin Yi.

Gadis itu memakan kuenya perlahan, menikmati rasa manis yang meleleh di lidah, dan diam-diam merasa... rumah ini mulai terasa seperti rumah yang sesungguhnya.

Saat makan kue bersama, Xin Yi dengan santai menceritakan rencana ujian dan kegiatan kemah sekolah nanti.

Mendengar kata "ujian", wajah Ayah dan Kakaknya langsung berubah tegang. Mereka berulang kali mengingatkan agar Xin Yi tidak terlalu memaksakan diri atau stres memikirkan nilai.

"Tidak apa-apa kalau nilainya cukup baik saja, yang penting sehat," begitu kira-kira pesan mereka.

Namun kekhawatiran itu ternyata tidak berdasar.

Saat hari ujian tiba, mereka melihat Xin Yi justru tampak sangat tenang dan normal. Tidak ada wajah cemas, tidak ada tidur larut malam, dan tidak ada sikap aneh.

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!