NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 30: Melanjutkan Perjalanan

Kabar tentang kekuatan selalu bergerak cepat.

Lebih cepat dari langkah kaki.

Lebih cepat dari roda karavan.

Bahkan terkadang lebih cepat dari kebenaran itu sendiri.

Setelah pertarungan di Kota Baldr, cerita tentang pemuda berambut putih mulai menyebar dari mulut ke mulut. Awalnya hanya obrolan kecil di bar milik Helga.

“Dia menghantam Theros sampai gerobak hancur.”

“Bukan cuma itu. Kairos juga dibuat tidak bisa berdiri.”

“Darios? Dilempar seperti karung gandum.”

“Dan kau dengar? Dia menutup Meridian mereka.”

Kalimat terakhir selalu membuat suara tawa menjadi pelan.

Para dwarf mungkin senang bercerita berlebihan sambil minum, namun petarung mana pun tahu arti hukuman itu.

Meridian yang tertutup.

Jalur kultivasi yang diputus.

Bagi mereka yang hidup dengan kekuatan, itu bukan sekadar kekalahan.

Itu akhir.

Di sudut-sudut bar, pelanggan Helga mulai membandingkan tinju Grachius dengan palu Ferrum. Para pedagang yang singgah di Baldr membawa cerita itu bersama barang dagangan mereka. Para petualang yang kebetulan menyaksikan pertarungan mulai menuturkannya di kota lain, menambahkan detail yang kadang benar, kadang tidak.

“Tresaders dihancurkan seorang diri.”

“Pria itu bisa terbang.”

“Rambutnya putih seperti salju, matanya seperti matahari.”

“Dia yang menghancurkan patung Sagitta di Heimdall.”

“Dia bukan manusia biasa.”

Rumor itu bergerak ke timur.

Di Kota Frigg, orang-orang mulai mendengar kabar tentang seorang pemuda berambut putih yang melesat di udara seperti bintang jatuh.

Di Kota Njord, para pelaut menghubungkan kisah itu dengan orang yang menantang kuil Sagitta di Heimdall.

Di Kota Freya, para pedagang mulai menurunkan suara ketika menyebutnya.

Lalu satu nama muncul.

Bukan nama yang diberikan oleh Grachius.

Bukan nama yang ia minta.

Namun nama yang lahir dari ketakutan, harapan, dan bisikan orang-orang bawah.

Pemburu Dewa.

Di kalangan lain menyebut Grachius, Iblis Putih.

Kabar itu akhirnya kembali ke Heimdall.

Di dalam kuil Sagitta, Sebastian berdiri di hadapan laporan terbaru dengan wajah suram. Cahaya lilin memantul di matanya yang dingin, namun kali ini ada sesuatu yang lebih dalam di balik ketenangan itu.

Seorang Hiereus berdiri di dekatnya.

“High Hiereus… apakah kita harus mengirim lebih banyak Ksatria Templar?”

Sebastian tidak langsung menjawab.

Ia menatap tulisan di gulungan.

Baldr.

Tresaders.

Meridian.

Pemuda berambut putih.

“Tidak.”

Hiereus itu sedikit terkejut.

“Tapi—”

Sebastian memotong.

“Empat Ksatria Templar sudah mati.”

Suara Sebastian rendah.

“Kita tidak lagi menghadapi manusia biasa.”

Ruangan menjadi hening.

Di tempat yang jauh lebih tinggi, di Sky Kingdom, rumor itu juga mulai sampai ke telinga para dewa.

Namun di aula emas yang dipenuhi musik, anggur surgawi, dan tawa, sebagian besar hanya menganggapnya hiburan.

“Iblis Putih?”

“Manusia memang selalu dramatis dalam hal memberi julukan.”

“Biarkan Sagitta mengurusnya.”

Tawa kembali terdengar.

Mereka masih belum mengerti.

Nama Grachius mulai bergerak lebih cepat daripada langkahnya sendiri.

Dan setiap kali nama itu disebut—

dunia sedikit berubah.

...LIMA HARI SEBELUMNYA...

Lima hari sebelum rumor itu menyebar luas, pagi dingin menyelimuti Kota Baldr.

Kabut tipis menggantung di jalan batu. Tungku-tungku belum seluruhnya menyala, namun bau besi dan arang sudah mulai memenuhi udara. Para dwarf berjalan dengan mantel tebal, membawa alat kerja, sementara cahaya pagi memantul lemah di atap-atap batu rendah.

Di depan Thorgar Skáli, Grachius dan Daji bersiap pergi.

Grachius berdiri dengan Enjin kembali di pinggangnya. Rambut putih panjangnya diikat rapi, sebagian helainya yang berwarna kuning kemerahan bergerak pelan tertiup angin dingin.

Daji berdiri di sampingnya dengan dua ekor yang sesekali bergerak gelisah.

Di hadapan mereka, Thorgar dan Varkun berdiri untuk berpamitan.

Varkun menatap Grachius dengan tenang.

“Kau benar-benar akan melanjutkan perjalanan?”

Grachius mengangguk.

“Aku tidak bisa berhenti terlalu lama di satu tempat.”

Thorgar menyilangkan tangan.

“Itu jawaban orang yang selalu membawa masalah ke tempat yang ia singgahi.”

Daji langsung menunjuk Grachius.

“Itu benar.”

Grachius meliriknya.

“Kau ikut membuat masalah.”

“Aku beradaptasi.”

Thorgar mendengus.

Varkun tersenyum kecil, lalu berkata lebih pelan.

“Tentang Ferrum.”

Grachius menoleh padanya.

“Dewa Ferrum tidak akan ikut campur dalam balas dendammu terhadap para dewa.”

Angin pagi bergerak di antara mereka.

Grachius diam sesaat, lalu menjawab.

“Aku tahu.”

Tatapan Varkun sedikit melembut.

“Sejak aku melihat persembahan di Kuil Ferrum, aku sudah memutuskan.”

Grachius menatap ke arah kota yang mulai hidup.

“Ferrum bukan targetku.”

Tidak ada emosi besar dalam suaranya.

Namun kata-kata itu membuat Varkun terlihat lega.

Ia mengangguk perlahan.

“Bagus.”

Thorgar menatap Grachius dari bawah alis tebalnya.

“Kau benar-benar tidak membenci semua dewa?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Grachius menatapnya.

“Karena tidak semua dewa seperti Sagitta.”

Varkun tersenyum tipis.

“Mungkin suatu hari Ferrum sendiri akan membuatkan senjata untukmu.”

Mata Thorgar langsung menyala.

“Apa?”

Grachius menoleh padanya.

“Jika itu terjadi, aku akan senang.”

Thorgar menunjuknya cepat.

“Kalau benar terjadi, kau harus kembali ke Baldr.”

“Aku akan kembali.”

Thorgar mencoba terlihat biasa saja.

“Bagus. Aku hanya ingin melihat senjatanya.”

Daji menyeringai.

“Bukan karena kau ingin Grachius kembali?”

“Diam, rubah.”

Varkun tertawa pelan.

Thorgar memalingkan wajah, namun janggut tebalnya tidak cukup menyembunyikan senyum kecil di bibirnya.

...MALAM SEBELUMNYA...

Malam sebelumnya, setelah makan malam terakhir mereka, Grachius dan Daji kembali ke penginapan.

Namun sebelum mereka naik ke kamar, Varkun memanggil mereka ke ruang bawah yang hangat oleh perapian. Ruangan itu lebih tenang dari lantai utama. Dinding batu memantulkan cahaya api, sementara aroma roti panggang dan kayu terbakar memenuhi udara.

Thorgar duduk di salah satu kursi kayu besar, tangannya memegang cangkir, namun wajahnya jauh lebih serius dari biasanya.

Varkun duduk di hadapan Grachius.

Daji duduk di samping, awalnya tampak santai, namun perlahan menyadari suasana ruangan tidak seperti obrolan biasa.

Varkun menatap Grachius lama.

Lalu bertanya dengan tenang.

“Apa sebenarnya tujuanmu?”

Api perapian berderak kecil.

Grachius menatap nyala api beberapa saat.

Lalu, untuk pertama kalinya di Baldr, ia berbicara panjang.

“Aku anak Sonne.”

Ruangan langsung sunyi.

Thorgar yang biasanya cepat bereaksi kini diam sepenuhnya.

Varkun menatap Grachius tanpa berkedip.

“Dewa Matahari…” gumam Thorgar pelan.

Grachius mengangguk.

Nama itu membuat Varkun menegang sedikit.

Daji menoleh cepat pada Grachius.

Ia sudah tahu sebagian.

Namun belum pernah mendengar semuanya.

Tidak seperti ini.

“Sonne dijatuhkan.” lanjut Grachius.

“Dibunuh oleh para dewa.”

Suara Grachius tetap datar.

Namun justru karena itu, kata-katanya terasa lebih berat.

“Ibuku juga dibunuh. Dextra yang membunuhnya."

Api berderak.

“Vita membawaku pada Purus.”

Daji perlahan memahami.

Bayi itu.

Grachius.

“Purus membesarkan dan melatihku di hutan. Aku tidak tahu siapa diriku sampai aku dewasa.”

Grachius menatap tangannya sendiri.

“Setelah mengetahui kebenaran, aku memilih jalan balas dendam.”

Tidak ada yang berbicara.

Grachius melanjutkan.

“Tapi Purus dan Vita membuatku memahami sesuatu.”

Ia mengangkat pandangan.

“Aku tidak membenci semua dewa.”

Varkun diam.

Thorgar menunggu.

“Targetku adalah dewa-dewa busuk. Mereka yang terlibat dalam kematian ayah dan ibuku. Mereka yang merusak dunia dan memperlakukan yang lemah seperti alat.”

Daji menatap Grachius dalam diam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat luka Grachius sebagai luka yang sangat dalam dan kemarahannya mengisi ruang kosong yang telah ia bawa sejak bayi.

Grachius juga menceritakan Enjin.

Heimdall.

Patung Sagitta yang ia penggal.

Pertemuannya dengan Daji.

Skullcrack.

Alfheim.

Ketika ia selesai, ruangan menjadi hening panjang.

Varkun akhirnya menundukkan kepala.

“Aku turut berduka.”

Thorgar tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat.

Lalu ia menunduk sedikit.

“Tidak ada anak yang pantas membawa beban seperti itu.”

Grachius tidak menjawab.

Namun Daji melihat tangannya sedikit mengepal.

Hanya sesaat.

Lalu rileks kembali.

Daji sendiri diam sejak awal.

Bukan karena tidak memiliki komentar.

Melainkan karena untuk pertama kalinya—

ia merasa komentar tidak diperlukan.

...KEMBALI KE PAGI...

Pagi kepergian kembali bergerak.

Setelah berpamitan dengan Thorgar dan Varkun, Grachius mulai melangkah menuju gerbang kota.

Namun Daji tiba-tiba berhenti.

“Tunggu.”

Grachius menoleh.

“Ada satu tempat lagi.”

“Di mana?”

Daji sedikit memalingkan wajah.

“Bar Helga.”

Grachius mengangguk.

Mereka berjalan melewati jalan batu Baldr yang mulai ramai. Ketika pintu bar Helga terbuka, beberapa pelanggan langsung menoleh.

Lalu suara-suara muncul.

“Rubah berekor dua!”

“Daji datang!”

“Pria berambut putih itu juga!”

Grachius memperhatikan itu dalam diam.

Daji sudah diterima di tempat itu.

Bukan sebagai monster.

Bukan sebagai siluman yang harus ditakuti.

Melainkan sebagai Daji.

Pelayan galak.

Peminum tak terkalahkan.

Penghajar pembuat masalah.

Dan entah kenapa, itu membuat suasana terasa hangat.

Helga keluar dari balik meja bar.

Ia membawa kain lap di bahunya dan ekspresi seperti biasa—keras, tajam, dan tampak siap memaki siapa pun.

Daji mendekat.

“Aku datang untuk berpamitan.”

Helga diam.

Daji berkedip.

“Helga?”

Tiba-tiba mata Helga berkaca-kaca.

Daji mundur setengah langkah.

“Eh?”

Helga mengusap wajah kasar.

“Kau karyawan terbaikku.”

Seluruh bar langsung tertawa.

Daji panik.

“Tunggu, kenapa kau menangis?! Kau Helga!”

Helga langsung membentak.

“Dwarf juga punya air mata, rubah bodoh!”

Tawa semakin keras.

Daji terlihat benar-benar kebingungan, jauh lebih panik daripada saat melawan Tresaders.

Helga menarik Daji dan memeluknya erat.

Terlalu erat.

“Kalau kembali ke Baldr, kau harus datang ke barku lagi.”

Daji terdiam.

Lalu perlahan tersenyum.

Hangat.

Bukan senyum licik.

Bukan senyum menggoda.

“Tentu saja.”

Suaranya lebih lembut.

“Aku akan kembali.”

Helga menangis lebih keras.

Daji menatap Grachius dari balik bahu Helga dengan wajah meminta bantuan.

Grachius hanya menatap datar.

“Ini urusanmu.”

Daji melotot.

Para dwarf tertawa sampai meja bergetar.

...—...

Setelah keluar dari bar, Grachius dan Daji berdiri di jalan pagi Baldr.

Kabut mulai menipis.

Matahari perlahan menyentuh atap batu.

Daji menatap langit cukup lama.

“Itu pertama kalinya…”

Ia berhenti sebentar.

“…aku merasa dihargai orang lain.”

Grachius menatapnya.

Daji tidak melihat balik.

“Aneh.”

Grachius diam beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

“Aku ikut senang.”

Daji menunduk sedikit.

Pipinya memerah samar.

“Kau harus berhenti mengatakan itu tiba-tiba.”

“Kenapa?”

“Karena...”

Daji memalingkan wajah.

"Bukan apa-apa."

Grachius tidak mengerti.

Namun ia tidak bertanya lagi.

Daji menarik napas pelan.

Baldr telah mengubah sesuatu dalam dirinya.

Ia tidak lagi hanya siluman rubah pemangsa.

Tidak lagi hanya makhluk yang memanfaatkan hasrat orang lain.

Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami rasanya diterima tanpa harus memanipulasi siapa pun.

Dan itu lebih menakutkan daripada yang ia kira.

...—...

Mereka akhirnya meninggalkan Baldr.

Gerbang kota perlahan berada di belakang mereka. Suara palu, tawa dwarf, dan aroma besi panas mulai menjauh bersama angin pegunungan.

Daji berjalan di samping Grachius.

“Dari sini ke timur tidak terlalu banyak rintangan.”

Grachius menatap jalan.

“Kota berikutnya?”

“Frigg.”

Daji mengingat penjelasan Varkun.

“Kota itu dihuni banyak ras campuran. Manusia, elf, dwarf, siluman bahkan beberapa ras lainnya. Katanya mereka hidup akur.”

Grachius sedikit menoleh.

“Itu menarik.”

“Masih ada yang lebih menarik.”

"Dan kau pasti akan sangat tertarik."

Daji meliriknya.

“Kota Frigg menyembah Dewa Matahari.”

Langkah Grachius berhenti.

Daji juga berhenti.

Ia menatap Grachius, lalu berkata lebih pelan.

“Mereka menyembah ayahmu.”

"Dewa Matahari, Sonne."

Hening.

Angin pegunungan bergerak melewati jalan.

Nama itu terasa berbeda ketika diucapkan di bawah langit pagi.

Mata Grachius berubah.

Bukan marah.

Bukan dingin.

Ada keterkejutan di sana.

Rasa penasaran.

Dan sesuatu yang hangat namun rapuh.

“Kota yang menyembah ayahku…”

Daji mengangguk.

“Varkun bilang begitu.”

Grachius menatap ke arah timur.

“Berapa lama?”

“Sekitar lima hari berjalan kaki.”

Grachius diam.

Lalu tiba-tiba tersenyum kecil.

Daji mengerutkan kening.

“Apa?”

“Kau melupakan sesuatu.”

“Apa?”

Grachius melangkah mendekat.

Tanpa aba-aba, ia mengangkat tubuh Daji.

Daji terkejut dan refleks merangkul pundak Grachius.

“G-Grachius?!”

Wajahnya langsung memerah.

Grachius menatap ke depan.

“Sekarang…”

Qi mengalir dari tubuhnya.

Padat.

Terkendali.

Menyelimuti mereka berdua seperti tekanan halus yang mengangkat.

“…aku bisa terbang.”

“Sebaiknya kau jelaskan dulu sebelum—”

Belum sempat Daji selesai bicara, Grachius meluncur ke langit.

Angin menghantam wajah mereka.

Baldr mengecil di bawah.

Daji memegang pundak Grachius erat, jantungnya kacau antara takut, marah, dan sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia akui.

“GRA—CHI—US!”

Grachius tetap tenang.

“Kau berisik.”

“KITA DI LANGIT!”

“Ya.”

“Itu bukan jawaban!”

Di bawah mereka, Kota Baldr perlahan tertinggal.

Tungku-tungku kecilnya tampak seperti bara di antara batu.

Thorgar Skáli menjadi titik kecil.

Bar Helga menghilang di balik jalan berliku.

Di depan mereka, dunia terbuka.

Kota Frigg menunggu.

Jejak Sonne mulai memanggil Grachius dari arah timur.

Daji yang masih berpegangan erat padanya.

Dan sebuah kota yang mungkin menyimpan sesuatu tentang ayah yang tidak pernah ia kenal.

Perjalanan menuju Dataran Tinggi Aetherion masih panjang.

Sagitta masih menunggu di timur.

Sunchaser masih berada di tangan musuh.

Namun sebelum semua itu—

Grachius akan menuju Frigg.

Kota yang masih mengingat Sonne.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, Grachius akan melihat dunia yang tidak hanya mengenal ayahnya sebagai dewa…

tetapi sebagai cahaya.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!