NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: ENTITAS DI BALIK LAYAR

​Ujian Nasional tinggal menghitung minggu. Bagi siswa-siswi SMA Tunas Bangsa, koridor sekolah kini dipenuhi oleh aroma kertas soal, kepanikan tentang masuk perguruan tinggi, dan diskusi mengenai masa depan. Namun bagi Nata, suasana ini terasa seperti melihat sebuah film lama yang diputar ulang. Ia duduk di bangku belakang kelas, bukan sedang mengerjakan latihan soal fisika, melainkan sedang meninjau dokumen legal pembentukan Prawira Global Holdings.

​Entitas ini adalah benteng pertahanan terakhirnya. Semua aset—mulai dari ribuan unit BitCore, saham di Nusa-Trans, ruko di Jakarta Barat, hingga lahan strategis di Desa Sidomulyo—kini bernaung di bawah payung perusahaan ini. Nata adalah pemilik tunggal, namun di atas kertas, namanya tersembunyi di balik firma hukum Ibu Sari untuk menjaga kerahasiaan identitasnya dari publik.

​"Nata, kamu tidak ikut bimbingan belajar sore ini?" tanya Pak Broto, yang kebetulan lewat di depan kelasnya.

​Nata mendongak, lalu menyelipkan dokumennya ke dalam tas. "Saya belajar mandiri di rumah, Pak. Ada beberapa hal yang sedang saya dalami di luar kurikulum."

​Pak Broto tersenyum penuh arti. Ia tahu "pendalaman" Nata bukan sekadar soal akademik. "Ingat, Nata, ijazah mungkin hanya selembar kertas bagimu sekarang, tapi itu adalah simbol penyelesaian sebuah tahap. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai dengan baik."

​"Tentu, Pak. Saya tidak suka meninggalkan pekerjaan yang belum tuntas," jawab Nata dengan nada yang sangat tenang.

​Sepulang sekolah, Nata tidak menuju apartemen. Ia meminta sopir perusahaan untuk mengantarnya ke ruko tiga lantai yang baru saja ia beli di Jakarta Barat. Ruko itu kini tidak lagi terlihat usang. Bagian dalamnya telah direnovasi total dengan konsep minimalis industrial. Lantai satu digunakan sebagai gudang logistik kecil, sementara lantai dua disulap menjadi ruang kerja berteknologi tinggi dengan deretan server pribadi yang ia gunakan untuk mengelola transaksi aset digitalnya tanpa bergantung pada pihak ketiga.

​Di sana, Ibu Sari sudah menunggu bersama seorang pria muda berkacamata yang tampak sangat gugup.

​"Nata, perkenalkan, ini Yuda. Dia adalah lulusan terbaik teknik informatika yang baru saja mengundurkan diri dari bank nasional karena merasa sistem mereka terlalu lambat," Ibu Sari memperkenalkan.

​Nata menjabat tangan Yuda. "Saya butuh seseorang yang bisa membangun sistem keamanan data yang tidak bisa ditembus oleh peretas manapun. Saya tidak membayar untuk jam kerja, saya membayar untuk hasil. Kamu sanggup?"

​Yuda menelan ludah, menatap deretan monitor di ruko itu. "Sanggup, Pak. Tapi... saya dengar Anda ingin membangun sistem pembayaran berbasis blockchain sendiri?"

​"Bukan hanya pembayaran," Nata berjalan menuju jendela ruko, menatap ke arah lahan kosong di depan ruko yang sebentar lagi akan menjadi stasiun besar. "Saya ingin membangun ekosistem di mana setiap transaksi properti dan logistik di bawah Prawira Global menggunakan enkripsi digital. Masa depan adalah tentang efisiensi data, Yuda. Dan ruko ini akan menjadi jantung dari sistem itu."

​Yuda mengangguk mantap. Ia tidak menyangka bahwa bos barunya adalah seorang remaja berseragam SMA, namun setelah mendengar visi Nata selama sepuluh menit, ia merasa sedang berbicara dengan seorang visioner tingkat dunia.

​Malam harinya, sebuah berita besar muncul di televisi nasional.

​"Seorang pengusaha mebel ternama, Danu Prawira, dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga setelah gagal membayar hutang yang menumpuk akibat kegagalan investasi lahan di Jawa Tengah. Selain itu, kepolisian mulai menyelidiki dugaan penipuan klaim asuransi yang melibatkan perusahaan milik Danu beberapa tahun lalu..."

​Nata mematikan televisi. Ia melihat Kirana yang sedang menyiapkan makan malam. Adik perempuannya itu tampak lebih tenang sekarang. Ia tidak lagi bertanya tentang Paman Danu. Baginya, Paman Danu hanyalah bagian dari masa lalu yang menyakitkan yang sudah terkubur.

​Tiba-tiba, ponsel Nata berdering. Sebuah panggilan dari rumah sakit jiwa di pusat kota.

​"Halo, dengan saudara Nata Prawira? Kami memiliki pasien bernama Danu Prawira yang terus-menerus memanggil nama Anda. Kondisi mentalnya sangat tidak stabil setelah penyitaan asetnya hari ini. Apakah Anda bersedia datang?"

​Nata terdiam sejenak. "Tidak. Saya tidak punya hubungan keluarga dengan pria itu. Silakan urus sesuai prosedur rumah sakit."

​Nata menutup teleponnya tanpa ekspresi. Kejam? Mungkin. Tapi bagi Nata, ini adalah keadilan yang tertunda. Di garis waktu aslinya, Danu membiarkan Nata dan adik-adiknya menderita tanpa sedikitpun rasa kasihan. Sekarang, dunia hanya mengembalikan apa yang pernah Danu tanam.

​Keesokan harinya, Nata diundang ke kantor pusat Nusa-Capital. Hendra Wijaya tampak sangat antusias.

​"Nata, valuasi Nusa-Trans naik 500% pagi ini setelah pengumuman integrasi logistik yang kamu usulkan tempo hari! Investor dari Jepang mulai mengantre. Mereka bertanya-tanya siapa 'konsultan misterius' yang memberikan ide top-up lewat pengemudi itu," Hendra tertawa lebar sambil menepuk pundak Nata.

​"Biarkan mereka bertanya-tanya, Pak Hendra. Saya lebih suka menjadi hantu di dalam mesin daripada wajah di sampul majalah," balas Nata.

​"Hahaha, kamu benar-benar unik. Oh, bicara soal masa depan, apa rencanamu setelah lulus SMA? Saya bisa memberimu posisi Direktur Strategi di sini jika kamu mau."

​Nata menggeleng perlahan. "Terima kasih, Pak Hendra. Tapi saya punya jalan sendiri. Saya akan melanjutkan studi ke luar negeri, mungkin ke London atau Singapura, tapi bukan untuk gelar. Saya butuh jaringan internasional untuk mengembangkan Prawira Global."

​Hendra tertegun. Ia baru sadar bahwa Nata bukan lagi sekadar asistennya. Remaja ini sudah membangun kekaisarannya sendiri di bawah hidung semua orang.

​"Prawira Global... nama yang bagus. Jadi, kita sekarang resmi menjadi mitra sejajar?" tanya Hendra dengan nada penuh hormat.

​"Selalu, Pak Hendra. Selama visi kita masih searah," jawab Nata dengan senyum tipis.

​Minggu kelulusan tiba. Nata berdiri di podium sekolah sebagai lulusan terbaik dengan nilai sempurna di hampir seluruh mata pelajaran. Saat ia menerima ijazah, ia melihat Kirana dan Arya yang bersorak di barisan depan. Di sudut lain, ia melihat Pak Broto dan Ibu Sari yang mengangguk bangga.

​Raka Dirgantara mendekatinya setelah acara selesai. "Selamat, Nata. Aku... aku akan lanjut ke akademi militer. Ayahku bilang itu satu-satunya cara agar aku punya disiplin sepertimu."

​"Sukses buatmu, Raka. Gunakan kekuatanmu untuk melindungi, bukan untuk menindas," pesan Nata.

​Setelah semua keramaian itu mereda, Nata berjalan pulang menuju apartemennya. Ia tidak lagi menggunakan ojek pangkalan. Sebuah mobil sedan mewah dengan sopir pribadi sudah menunggunya di depan gerbang sekolah.

​Ia duduk di kursi belakang, membuka laptopnya, dan melihat harga BitCore yang kini sudah menembus angka 600 dolar AS. Total kekayaannya kini sudah mencapai angka yang sulit dibayangkan oleh anak seusianya. Namun bagi Nata, angka-angka itu hanyalah alat.

​Ia membuka sebuah folder baru di komputernya bertuliskan: Fase 2 - Ekspansi Internasional.

​Nata menatap keluar jendela, ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Masa remajanya sudah berakhir secara formal, tapi permainannya di panggung dunia baru saja dimulai. Ia bukan lagi anak yatim piatu yang tertindas. Ia adalah arsitek dari nasibnya sendiri, perencana masa depan yang tidak akan pernah membiarkan sejarah pahit terulang kembali.

​"Kirana, Arya... perjalanan kita yang sebenarnya dimulai hari ini," gumam Nata saat mobilnya membelah kemacetan Jakarta menuju cakrawala yang lebih luas.

​Garis takdir baru yang ia lukis telah menjadi peta yang sempurna. Dan Nata Prawira, sang perencana ulung, siap untuk menaklukkan setiap jengkal tanah di masa depan yang sudah ia ketahui hasilnya.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjutkan Thor, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!