Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka untuk Kesekian Kalinya
POV Fatan
“Maafkan aku…”
Suara Fatan pecah.
Tangannya gemetar saat ia menekan dahinya pada dahi Kanaya yang dingin. Napasnya tidak teratur, seolah dadanya terlalu sempit untuk menampung semua rasa yang selama ini ia abaikan.
“Aku tidak pantas…” bisiknya lirih.
“Aku benar-benar tidak pantas.”
Kanaya menggeleng pelan.
Gerakannya lemah.
Napasnya berat.
Namun suaranya… tetap tenang.
“Berhentilah…” ucapnya lirih,
“…menyalahkan dirimu dengan cara menyakiti diri sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun menghantam Fatan lebih keras dari apa pun malam itu.
Air matanya jatuh
tepat di pipi Kanaya.
Dan di tengah jalanan yang dingin dan keras, di antara kekacauan yang ia ciptakan sendiri…
satu kebenaran berdiri telanjang di hadapannya
Dalam semua kebimbangan dan kesalahannya,
Kanaya selalu Kanaya
adalah satu-satunya yang memilih melindunginya.
Bahkan saat ia sendiri tidak tahu
bagaimana cara melindungi hati perempuan itu.
Sirene ambulans memecah malam.
Fatan duduk kaku di dalamnya.
Tangannya menggenggam jemari Kanaya yang dingin, seolah jika ia melepaskannya perempuan itu akan benar-benar pergi.
Wajah Kanaya pucat.
Perban melingkar di kepalanya.
Infus menggantung di sisi ranjang dorong.
Setiap detik terasa seperti hukuman.
Hukuman atas kelalaiannya.
Hukuman atas egonya.
Hukuman atas semua kebohongan yang ia biarkan tumbuh.
Di rumah sakit, Kanaya langsung dibawa masuk ke ruang perawatan.
Pintu tertutup.
Dan Fatan… ditinggalkan sendiri.
Lorong itu terasa panjang.
Terlalu sunyi.
Terlalu dingin.
Langkah tergesa terdengar.
Ibunya datang.
Wajahnya tegang. Matanya merah.
Namun saat melihat Fatan
tidak ada pelukan.
Yang ada hanya…
kekecewaan.
“Apa lagi yang kamu lakukan, Fatan?”
Fatan menunduk.
“Bu… aku—”
“Diam.”
Satu kata itu memotong.
“Ibu tidak ingin mendengar pembelaanmu.”
Ia menunjuk ke arah ruang perawatan.
“Perempuan di dalam sana… terluka lagi karena kamu.”
Fatan mengangkat wajah.
Matanya basah.
“Aku tidak pernah memintanya,,”
“Justru itu!”
Suara ibunya meninggi.
Namun bergetar.
“Kamu tidak pernah meminta… tapi dia selalu memberi!”
“Kamu tidak pernah melindungi… tapi dia selalu menjadi perisai!”
Fatan terdiam.
Tidak ada yang bisa ia bantah.
“Bagaimana mungkin,” lanjut ibunya dengan suara pecah,
“kamu mengatakan tidak mencintainya… sementara perempuan itu mempertaruhkan nyawanya demi dirimu?”
Kalimat itu…
menancap dalam.
“Ibu tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu,” katanya lirih.
“Kanaya adalah wanita istimewa.”
“Ibu melihat bagaimana dia menahan diri… bagaimana dia menghormati… bagaimana dia bertahan tanpa mengeluh.”
Air mata itu jatuh lagi.
“Ibu menghormatinya… lebih dari yang bisa kamu bayangkan.”
Fatan menutup wajahnya.
Bahunya bergetar.
“Dan kamu?” lanjut ibunya.
“Kamu sibuk memperjuangkan perasaanmu sendiri…”
“…tanpa peduli berapa banyak hati yang kamu hancurkan.”
“Aku kacau, Bu…” suara Fatan lirih.
“Aku tidak tahu lagi mana yang benar.”
Ibunya mendekat.
Namun tetap tegas.
“Kamu tahu mana yang benar.”
Hening.
“Kamu hanya terlalu pengecut untuk mengakuinya.”
Pintu ruang perawatan terbuka.
Seorang perawat keluar.
“Pasien tidak dalam bahaya besar,” katanya.
“Namun harus dirawat dan diobservasi karena benturan di kepalanya”
Fatan menghela napas.
Lega.
Namun rasa bersalah itu… tidak berkurang.
Justru semakin berat.
Ibunya menatapnya lama.
“Jika suatu hari Kanaya pergi,” katanya pelan,
“bukan karena dia tidak mencintaimu…”
“…tapi karena kamu tidak pernah belajar menghargai perempuan sepertinya.”
Kalimat itu menjadi vonis.
Fatan menoleh ke arah ruang perawatan.
Membayangkan Kanaya terbaring di sana.
Lemah.
Diam.
Dan tetap… memilihnya.
Untuk pertama kalinya
ia merasa takut.
Bukan kehilangan Amira.
Namun kehilangan…
perempuan yang diam-diam selalu ada.
Dan malam itu, di lorong rumah sakit yang dingin,
Fatan mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah ia benar-benar tidak mencintai Kanaya
atau ia hanya terlalu egois
untuk menyadari cinta yang tumbuh
dalam diam dan pengorbanan?
Ponselnya bergetar.
Nama itu muncul di layar.
Amira.
Dada Fatan mengeras.
Lorong itu tiba-tiba terasa sempit.
Ia melirik ke arah ruang perawatan.
Lalu melangkah menjauh.
Menjawab panggilan itu.
“Halo…”
Di seberang sana, suara Amira terdengar hangat.
“Kamu di mana? Aku sudah mencoba menghubungimu sejak kemarin.”
Fatan menelan ludah.
“Ada urusan pekerjaan.”
Kebohongan.
Yang kini terasa semakin mudah… dan semakin menyakitkan.
“Aku ingin bicara tentang pernikahan kita.”
Jantung Fatan berhenti sejenak.
“Bulan depan sudah dekat,” lanjut Amira.
“Aku berpikir… bagaimana kalau akadnya kita lakukan di bali?”
Langkah Fatan terhenti.
Satu tempat.
Satu ruang.
Dua perempuan.
“Keluargaku di sana,” lanjutnya.
“Aku ingin semuanya hadir.”
Pikiran Fatan kacau.
Jika Amira datang…
Jika pernikahan itu terjadi…
Maka
Kanaya dan Amira akan berada di tempat yang sama.
Dan semua kebohongan…
akan runtuh.
“Amira…” napasnya tertahan.
“sesuai yang kita rencana saja, pernikahan hanya keluarga inti”ucap fatan
“baiklah Aku ingin semuanya jelas… dan utuh.itu saja”ucap Amira dari sebrang sana
Utuh.
Kata itu terasa ironis.
“Kamu keberatan?” tanya Amira pelan.
“Bukan begitu,” jawab Fatan cepat.
“Aku hanya… perlu waktu.”
Hening.
“Kamu terdengar berbeda…” katanya lirih.
“Kamu baik-baik saja?”
Fatan memejamkan mata.
“Aku baik.”
Kebohongan lagi.
“Aku hanya ingin kita memulai semuanya dengan jujur,” lanjut Amira.
“Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita.”
Kalimat itu
seperti palu.
Panggilan berakhir.
Fatan berdiri terpaku.
Tangannya gemetar.
Wajah Kanaya muncul di benaknya.
Darah di pelipisnya.
Senyum lemahnya.
Kalimatnya
“Aku tidak ingin kamu terluka.”
Dua dunia.
Dua kehidupan.
Dua perempuan…
yang sama-sama percaya padanya.
Dan kini—
takdir mulai menyempitkan ruangnya.
Fatan menutup wajahnya.
Napasnya tercekat.
“Bagaimana caraku keluar dari ini…”
Untuk pertama kalinya
ia benar-benar takut.
Bukan pada ayahnya.
Bukan pada ibunya.
Namun pada kebenaran.
Kebenaran yang akan segera mempertemukan
Kanaya…
dan Amira…
dalam satu kenyataan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?