NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terluka untuk Kesekian Kalinya

POV Fatan

“Maafkan aku…”

Suara Fatan pecah.

Tangannya gemetar saat ia menekan dahinya pada dahi Kanaya yang dingin. Napasnya tidak teratur, seolah dadanya terlalu sempit untuk menampung semua rasa yang selama ini ia abaikan.

“Aku tidak pantas…” bisiknya lirih.

“Aku benar-benar tidak pantas.”

Kanaya menggeleng pelan.

Gerakannya lemah.

Napasnya berat.

Namun suaranya… tetap tenang.

“Berhentilah…” ucapnya lirih,

“…menyalahkan dirimu dengan cara menyakiti diri sendiri.”

Kalimat itu sederhana.

Namun menghantam Fatan lebih keras dari apa pun malam itu.

Air matanya jatuh

tepat di pipi Kanaya.

Dan di tengah jalanan yang dingin dan keras, di antara kekacauan yang ia ciptakan sendiri…

satu kebenaran berdiri telanjang di hadapannya

Dalam semua kebimbangan dan kesalahannya,

Kanaya selalu Kanaya

adalah satu-satunya yang memilih melindunginya.

Bahkan saat ia sendiri tidak tahu

bagaimana cara melindungi hati perempuan itu.

Sirene ambulans memecah malam.

Fatan duduk kaku di dalamnya.

Tangannya menggenggam jemari Kanaya yang dingin, seolah jika ia melepaskannya perempuan itu akan benar-benar pergi.

Wajah Kanaya pucat.

Perban melingkar di kepalanya.

Infus menggantung di sisi ranjang dorong.

Setiap detik terasa seperti hukuman.

Hukuman atas kelalaiannya.

Hukuman atas egonya.

Hukuman atas semua kebohongan yang ia biarkan tumbuh.

Di rumah sakit, Kanaya langsung dibawa masuk ke ruang perawatan.

Pintu tertutup.

Dan Fatan… ditinggalkan sendiri.

Lorong itu terasa panjang.

Terlalu sunyi.

Terlalu dingin.

Langkah tergesa terdengar.

Ibunya datang.

Wajahnya tegang. Matanya merah.

Namun saat melihat Fatan

tidak ada pelukan.

Yang ada hanya…

kekecewaan.

“Apa lagi yang kamu lakukan, Fatan?”

Fatan menunduk.

“Bu… aku—”

“Diam.”

Satu kata itu memotong.

“Ibu tidak ingin mendengar pembelaanmu.”

Ia menunjuk ke arah ruang perawatan.

“Perempuan di dalam sana… terluka lagi karena kamu.”

Fatan mengangkat wajah.

Matanya basah.

“Aku tidak pernah memintanya,,”

“Justru itu!”

Suara ibunya meninggi.

Namun bergetar.

“Kamu tidak pernah meminta… tapi dia selalu memberi!”

“Kamu tidak pernah melindungi… tapi dia selalu menjadi perisai!”

Fatan terdiam.

Tidak ada yang bisa ia bantah.

“Bagaimana mungkin,” lanjut ibunya dengan suara pecah,

“kamu mengatakan tidak mencintainya… sementara perempuan itu mempertaruhkan nyawanya demi dirimu?”

Kalimat itu…

menancap dalam.

“Ibu tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu,” katanya lirih.

“Kanaya adalah wanita istimewa.”

“Ibu melihat bagaimana dia menahan diri… bagaimana dia menghormati… bagaimana dia bertahan tanpa mengeluh.”

Air mata itu jatuh lagi.

“Ibu menghormatinya… lebih dari yang bisa kamu bayangkan.”

Fatan menutup wajahnya.

Bahunya bergetar.

“Dan kamu?” lanjut ibunya.

“Kamu sibuk memperjuangkan perasaanmu sendiri…”

“…tanpa peduli berapa banyak hati yang kamu hancurkan.”

“Aku kacau, Bu…” suara Fatan lirih.

“Aku tidak tahu lagi mana yang benar.”

Ibunya mendekat.

Namun tetap tegas.

“Kamu tahu mana yang benar.”

Hening.

“Kamu hanya terlalu pengecut untuk mengakuinya.”

Pintu ruang perawatan terbuka.

Seorang perawat keluar.

“Pasien tidak dalam bahaya besar,” katanya.

“Namun harus dirawat dan diobservasi karena benturan di kepalanya”

Fatan menghela napas.

Lega.

Namun rasa bersalah itu… tidak berkurang.

Justru semakin berat.

Ibunya menatapnya lama.

“Jika suatu hari Kanaya pergi,” katanya pelan,

“bukan karena dia tidak mencintaimu…”

“…tapi karena kamu tidak pernah belajar menghargai perempuan sepertinya.”

Kalimat itu menjadi vonis.

Fatan menoleh ke arah ruang perawatan.

Membayangkan Kanaya terbaring di sana.

Lemah.

Diam.

Dan tetap… memilihnya.

Untuk pertama kalinya

ia merasa takut.

Bukan kehilangan Amira.

Namun kehilangan…

perempuan yang diam-diam selalu ada.

Dan malam itu, di lorong rumah sakit yang dingin,

Fatan mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah ia benar-benar tidak mencintai Kanaya

atau ia hanya terlalu egois

untuk menyadari cinta yang tumbuh

dalam diam dan pengorbanan?

Ponselnya bergetar.

Nama itu muncul di layar.

Amira.

Dada Fatan mengeras.

Lorong itu tiba-tiba terasa sempit.

Ia melirik ke arah ruang perawatan.

Lalu melangkah menjauh.

Menjawab panggilan itu.

“Halo…”

Di seberang sana, suara Amira terdengar hangat.

“Kamu di mana? Aku sudah mencoba menghubungimu sejak kemarin.”

Fatan menelan ludah.

“Ada urusan pekerjaan.”

Kebohongan.

Yang kini terasa semakin mudah… dan semakin menyakitkan.

“Aku ingin bicara tentang pernikahan kita.”

Jantung Fatan berhenti sejenak.

“Bulan depan sudah dekat,” lanjut Amira.

“Aku berpikir… bagaimana kalau akadnya kita lakukan di bali?”

Langkah Fatan terhenti.

Satu tempat.

Satu ruang.

Dua perempuan.

“Keluargaku di sana,” lanjutnya.

“Aku ingin semuanya hadir.”

Pikiran Fatan kacau.

Jika Amira datang…

Jika pernikahan itu terjadi…

Maka

Kanaya dan Amira akan berada di tempat yang sama.

Dan semua kebohongan…

akan runtuh.

“Amira…” napasnya tertahan.

“sesuai yang kita rencana saja, pernikahan hanya keluarga inti”ucap fatan

“baiklah Aku ingin semuanya jelas… dan utuh.itu saja”ucap Amira dari sebrang sana

Utuh.

Kata itu terasa ironis.

“Kamu keberatan?” tanya Amira pelan.

“Bukan begitu,” jawab Fatan cepat.

“Aku hanya… perlu waktu.”

Hening.

“Kamu terdengar berbeda…” katanya lirih.

“Kamu baik-baik saja?”

Fatan memejamkan mata.

“Aku baik.”

Kebohongan lagi.

“Aku hanya ingin kita memulai semuanya dengan jujur,” lanjut Amira.

“Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita.”

Kalimat itu

seperti palu.

Panggilan berakhir.

Fatan berdiri terpaku.

Tangannya gemetar.

Wajah Kanaya muncul di benaknya.

Darah di pelipisnya.

Senyum lemahnya.

Kalimatnya

“Aku tidak ingin kamu terluka.”

Dua dunia.

Dua kehidupan.

Dua perempuan…

yang sama-sama percaya padanya.

Dan kini—

takdir mulai menyempitkan ruangnya.

Fatan menutup wajahnya.

Napasnya tercekat.

“Bagaimana caraku keluar dari ini…”

Untuk pertama kalinya

ia benar-benar takut.

Bukan pada ayahnya.

Bukan pada ibunya.

Namun pada kebenaran.

Kebenaran yang akan segera mempertemukan

Kanaya…

dan Amira…

dalam satu kenyataan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!