Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 Tiga hunter tingkat S
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Voltra ketus, jarinya menunjuk tepat ke arah Raven yang baru saja turun dari pesawat angkut militer kedua yang mendarat di zona aman tak jauh dari sana.
"Tutup mulutmu. Dia juga berpartisipasi dalam ekspedisi ini. Asosiasi tidak mungkin hanya mengirim dua Rank S untuk menangani Labyrinth of Death yang luasnya ribuan hektar ini," balas Alina sambil memberikan tatapan peringatan.
Alina menyikut voltra untuk tidak membuat masalah. Raven, yang mendengar percakapan itu, hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berjalan mendekat dengan senyum canggungnya yang khas
"Ahahaha... Aku jadi malu kalau disambut begitu hangat olehmu, Voltra," gumam Raven.
"Hangat? Aku baru saja berpikir untuk menjadikannya umpan pohon pemakan manusia tadi" gumam Voltra pelan, namun cukup keras untuk didengar semua orang.
"Ah jahat sekali" ucap Raven sambil tertawa.
Raven hanya tertawa kecil, meskipun dahinya sedikit berkeringat. Sebagai penyihir tingkat S, ia bisa merasakan aura Voltra yang jauh lebih mendominasi daripada saat di sekolah kemarin.
"Ayo kawan-kawan, jangan terlalu tegang. Aku membawa suplai Mana tambahan dan beberapa kristal pelindung spora dari markas pusat. Hutan ini terlihat sangat tidak ramah, ya?" Tanya Raven mencoba bercanda.
"Ramah atau tidak, itu tidak penting" potong Voltra. Ia berbalik dan menatap barisan 'parasit' manusia yang mulai mengepung mereka dari balik bayang-bayang pohon raksasa. "Yang penting adalah seberapa cepat kalian bisa bergerak. Aku tidak mau menghabiskan waktu seminggu di tempat yang baunya seperti kompos ini" Lanjutnya mendengus karena bau.
"Raven, kau fokus pada sihir area untuk menahan pergerakan akar-akar itu. Voltra, kau..." ucap Alina terpotong.
"Aku akan melakukan apa yang kuinginkan" ucap Voltra memotong instruksi Alina, ia mulai berjalan maju dengan santai menuju kerumunan monster parasit. "Penyihir, jangan sampai sihirmu mengenai rambutku. Naga betina, tetaplah di dekat Raven jika kau tidak mau terseret ke dalam tanah" Lanjutnya berlari.
"Dia benar-benar tidak punya rasa takut, ya? Padahal di depan sana ada banyak musuh" ujar Raven berdecak kagum.
"Dia tidak takut karena dia merasa dirinya adalah puncak rantai makanan di sini. Ayo bergerak, sebelum bocah itu menghancurkan seluruh hutan dan membuat kita pulang tanpa data apa pun!" Balas Alina memberikan komando.
Sekumpulan manusia parasit hancur ketika voltra menerobos kedalam barisan mereka. Alina memberikan aba-aba pada para Swordsman untuk menyerang, ia melancarkan tebasan terukur yang membelah tiga manusia parasit hanya dalam sekali tebasan saja.
"Sword dance" ucap Alina pelan.
Tubuhnya bergerak sangat cepat layaknya kilatan petir, tebasan demi tebasan dilancarkan membunuh banyak manusia parasit. Setiap ayunan tubuhnya membelah para manusia parasit, meskipun dasarnya manusia parasit itu adalah manusia sebelumnya, mereka sudah kehilangan akal dan bisa dibilang layaknya seorang zombie. Memberikan kematian adalah cara untuk membebaskan mereka dari penderitaan.
"Para mage tipe penyembuhan, langsung sembuhkan jika ada yang mulai terinfeksi" Perintah Raven mengeluarkan sihir petir.
Dalam satu arahan, sihir penyembuhan dilancarkan untuk mengantisipasi siapapun yang bisa saja terinfeksi. Voltra memegang sebuah pedang, karena lawannya adalah manusia yang terinfeksi, maka tidak sama sekali menghasilkan magic stone, hanya ada mayat yang begitu banyak.
"Kurasa aku rugi" Gumam voltra.
"Diam..." Balas Alina di sampingnya.
"Memangnya kenapa bisa ada manusia yang bisa terinfeksi? Bukankah hutan ini jauh dari pemukiman terdekat?" Tanya voltra heran.
"Dua bulan lalu sejak gate ini pertama kali muncul. Hunter rank S lain sangat percaya diri, ia sendirian bersama lebih dari dua ratus orang mencobanya menyelesaikan" Jawab Alina menebas manusia parasit didekatnya. "Hanya hunter rank S itu yang selamat, sisanya terinfeksi secara keseluruhan" Lanjutnya memberitahu.
Voltra terhenti sejenak, pedang di tangannya meneteskan cairan hijau pekat milik para parasit. Ia menatap tumpukan mayat di sekelilingnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Satu Rank S dan dua ratus nyawa?" ucap Voltra mendengus sinis. "Pemimpin yang tidak kompeten adalah bencana yang lebih besar daripada monster mana pun. Siapa nama pengecut yang membiarkan pasukannya membusuk menjadi pupuk ini?" Lanjutnya bertanya.
"Namanya Bara, Hunter Rank S tipe api," jawab Alina dengan nada getir. "Dia terlalu sombong, mengira apinya bisa menghanguskan spora ini dalam sekejap. Tapi dia tidak tahu bahwa spora di sini justru bermutasi saat terkena panas ekstrem. Akibatnya, pasukannya terjebak di dalam kabut beracun sementara dia melarikan diri menggunakan kemampuannya."
"Bara, ya? Akan kuingat namanya agar aku bisa mematahkan kakinya nanti jika bertemu," gumam Voltra.
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar hebat. Raven yang berada di barisan belakang segera berteriak.
"Semuanya, menjauh dari akar-akar besar! Ada lonjakan mana yang sangat masif di bawah tanah!" Teriak Raven memperingati.
Akar raksasa setebal batang pohon beringin mencuat dari tanah, menghancurkan formasi para Hunter kelas menengah. Raven dengan sigap merapal mantra, menciptakan perisai cahaya untuk melindungi para tabib.
"Alina, Voltra! Spora ini... mereka tidak hanya menginfeksi tubuh, mereka sedang mengumpulkan kesadaran kolektif!" teriak Raven sambil menahan tekanan dari atas.
Dari kejauhan, di pusat labirin, sebuah bayangan raksasa mulai bangkit. Itu bukan lagi sekadar pohon, melainkan perpaduan mengerikan antara daging manusia yang membeku dan kayu purba. Ribuan wajah manusia yang tampak menderita tertanam di kulit pohon tersebut, mengeluarkan suara rintihan yang menyakitkan telinga.
"Itu adalah Great Heart of the Forest" bisik Alina ngeri. "Semua Hunter yang terinfeksi tadi... mereka hanya pion untuk memberi makan benda itu" Lanjutnya menunjuk menggunakan pedangnya.
Voltra justru menyeringai lebar, aura ungu kegelapan mulai meluap dari tubuhnya, menekan balik aura hijau busuk dari hutan tersebut.
"Bagus. Aku bosan menebas sampah-sampah kecil. Akhirnya, ada sesuatu yang layak untuk dihancurkan" Seru voltra sedikit bersemangat.
"Raven! Berikan dukungannya sekarang!" perintah Alina.
"Siap! Great Thunder Blessing!" ucap Raven.
Kilatan petir menyambar dari langit yang tertutup pohon, masuk ke dalam tubuh Voltra dan Alina sebagai tambahan kecepatan dan kekuatan. Voltra melirik Raven sebentar.
"Tetap jaga belakang bocah" ucap voltra melesat dan Alina mengikutinya.
"Yang lain bantu kami dengan serangan jarak jauh. Para Swordsman juga lakukan serangan jarak menegah" Perintah Alina.
Akar-akar tajam melesat ke arah mereka, voltra dan Alina berlari menghindari sambil sesekali menebas akar itu hingga terpotong. Alina menggunakan punggung voltra untuk melompat ke udara, dengusan kesal terdengar dari voltra karena itu sangat tidak sopan.
"Resonansi sword skill: phantom" ucap Alina memusatkan mana pada pedangnya.
"Sok Inggris sekali namanya" Batin voltra datar.
Tebasan dengan serangan kejut dilancarkan, Great Heart of the Forest terhantam serangan itu mulai meledak berkeping-keping hanya menyisakan sebagian tubuhnya saja. Alina mendarat disamping voltra.